Welcome

Minggu, 20 Mei 2012

The Gangster (part 4)


Jam dinding besar di koridor sekolah menunjuk pukul 06:50, sepuluh menit lagi sebelum bel masuk dibunyikan. Jaejoong menyeret tasnya melewati lorong yang sepi karena sebagian besar anak sudah berada di kelas masing-masing. Tangan kanannya masuk ke kantong, dan tangan kirinya menyeret tas yang benar-benar bergesekan dengan lantai. Beberapa anak perempuan yang sedang berdiri di depan kelas menatapnya sambil berbisik-bisik. Jaejoong menoleh cepat ke arah anak-anak perempuan itu, dan mereka semua langsung membuang wajah. Jaejoong seperti tidak melihat apa-apa, ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kelas 2-B. 

Tapi, begitu ia sampai dan membuka pintu, sesuatu yang kental dan dingin tumpah ruah di atas kepalanya. Jaejoong menatap ember besar yang kemudian jatuh ke lantai dengan berceceran cat warna merah. Kini seluruh tubuhnya dipenuhi cat dan ia yakin nodanya tidak akan pernah hilang. Semua yang ada di kelas itu mentertawakannya dengan keras. Jaejoong menyentuh rambutnya yang menjadi kaku karena berlumur cat yang begitu kentalnya. Tatapannya sontak tertuju pada satu-satunya orang yang tidak tertawa di kelas itu. Park Yoochun. Tapi Jaejoong justru berkeyakinan, ini adalah ulah Park Yoochun dan ketiga anggota geng sialan itu.

“Ada apa ini? Kenapa kelas kotor begini?” seorang guru wanita berdiri di ambang pintu. Sontak tak ada suara tawa lagi yang terdengar di kelas itu. “Siapa yang melakukan ini?” tanya wanita itu.

“Kim Jaejoong yang melakukannya!” teriak salah seorang anak laki-laki berambut gondrong.
 
Jaejoong tersentak sambil menggeleng refleks. Guru wanita itu memandangi wajahnya yang belepotan oleh cat warna merah yang kental. Menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.

“Siapa yang melakukan ini padamu, Kim Jaejoong?” tanya wanita itu.

“Tadi dia menumpahkan sendiri ember cat itu, lalu dia terpeleset!” seorang anak laki-laki lain menyahut sebelum Jaejoong sempat membuka mulutnya.

“Benar begitu?” tanya guru wanita sambil menatap Jaejoong. Hanya gelengan kepala yang diberikan Jaejoong. “Kalau kau tidak mengaku, hukumanmu akan ditambah!”

“Aku tidak melakukannya.” Ucap Jaejoong tegas. Ia melihat Yoochun tengah menatapnya datar, tanpa rasa senang karena telah berhasil mengerjainya, dan tanpa rasa kebencian juga. Hanya tatapan datar.

“Dia bohong! Sudah jelas-jelas tadi dia menumpahkan kaleng cat di sana! Kami melihatnya sendiri!” seruan itu membuat murid-murid lain ikut bercemooh menyalahkan Jaejoong. Tapi Jaejoong sama sekali tidak terlihat ketakutan, bahkan ia tak terlihat kesal.

“Sebagai hukuman, kau bersihkan lantai ini sampai mengkilap lagi, dan jangan masuk kelas sebelum kau bersih dari noda cat di tubuhmu!” guru wanita yang cukup jangkung itu melangkahkan high hillsnya ke meja tempatnya mengajar. Jaejoong tidak menjawab apa-apa lagi. Dia lantas berjalan ke luar kelas dengan niat untuk membersihkan dirinya dari kotoran cat. Ia tak peduli dengan lantai yang kotor karena itu bukan kesalahannya. Tapi mengenai seragam, ia tak bisa acuh begitu saja. Ibu panti bisa membunuhnya jika ia pulang dalam keadaan sehancur ini.

Jaejoong menyadari sepatunya juga menimbulkan noda cat di lantai. Ia tak ingin membuat masalah semakin bertambah rumit, jadi ia mencopot sepatunya dan menentengnya menuju kamar mandi.

“Kim Jaejoong?” sebuah suara halus membuat Jaejoong menahan langkahnya. Ia menoleh untuk melihat sosok Nako yang sedang berdiri sambil berpegangan pada tembok.

“Misuzawa?” ucap Jaejoong saat ia ingat nama anak itu. “Kau tidak masuk kelas?”

“Aku habis dari ruang kesehatan untuk memeriksakan kakiku, tadi darahnya keluar lagi.” Jawab Nako dengan senyum getir. Ia berjalan tertatih-tatih mendekati Jaejoong. “Ini pasti ulah mereka.”

“Dan luka di kakimu itu, pasti ulah mereka juga.” Jaejoong menebak.

“Tidak, aku sendiri yang membuat luka ini harus ada.” Nako tersenyum sendu, namun Jaejoong hanya menatapnya kosong tanpa menjawab apa-apa. “Ayo sini, biar kubantu membersihkan dirimu.”

“Tapi… kau kan harus ke kelas…”

“Sedang tidak ada guru. Kelasku hanya diberi tugas. Jadi aku bisa membantumu.”

“Hmm, baiklah kalau itu keinginanmu.” Jaejoong membiarkan Nako mengikutinya menuju kamar mandi. Dan karena Nako tak mau masuk ke kamar mandi pria, akhirnya Jaejoong langsung menarik paksa tangan Nako dan membawanya ke dalam sebuah bilik kamar mandi dan mengunci pintu.

“Mau apa kau?!” tanya Nako kaget karena kini ia dan Jaejoong terkunci di bilik kamar mandi yang tidak seberapa luas. Seharusnya bilik itu tidak diisi oleh dua orang.

“Ssst… kalau ada yang masuk ke kamar mandi dan mendengar suaramu, aku bisa dihujat!” Jaejoong memperingatkan sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri. Nako langsung diam, memandangi Jaejoong yang mulai melepas jas. Dan matanya langsung terbelalak saat Jaejoong mulai melepas satu-persatu kancing kemejanya.

“Eeeh, mau apa kau? Kemeja tak usah dilepas!” ucap Nako sambil memasangkan kancing itu lagi.

“Baiklah, terserah kau saja. Yang penting aku bersih dari cat.”

“Tubuhmu kau bersihkan sendiri, aku coba bersihkan jasmu saja.”

Jaejoong tidak menjawab lagi. Dia mulai mengguyur kepalanya dengan air, membiarkan carian kental berwarna merah itu mengucur di lantai bersama air yang membasuh kepalanya. Nako memandangi kegiatan itu dengan mulut ternganga. Anak serampangan yang aneh itu… keren juga kalau sedang basah.

“A, aku bersihkan jas di kamar mandi wanita saja!” ucap Nako sambil bergegas membuka kunci dan melesat pergi dari kamar mandi pria. Wajahnya sudah memerah seperti tomat saat ia keluar dari sana.

“Kenapa anak itu? Kabur tanpa alasan.” Gumam Jaejoong sambil kembali mengunci pintu dan sibuk membilas rambutnya lagi.

***

TING-TONG-TING-TONG!!!

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktunya pulang.

Jaejoong berjalan menuju tempat ia meletakkan sepedanya, dengan bertelanjang dada! Walaupun dia tidak bertelanjang dada sepenuhnya, hanya Jas yang terlihat sedikit lusuh karena tidak di setrika yang melekat pada tubuhnya. Hampir seluruh siswa perempuan menatapnya sambil berbisik-bisik, bukan hanya anak perempuan tapi anak laki-laki-pun menatap Jaejoong dengan tatapan bertanya-tanya.

Walaupun dia memakai jas, tapi dadanya ter-expos jelas. Memperlihatkan dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack bak batangan coklat.

Dengan cuaca yang sedingin ini dia bisa saja terkena flu. Tapi dia tidak peduli bahkan jika dia harus sakit sekalipun. Karena tak satupun orang didunia ini yang peduli terhadapnya.

Mendapat tatapan seperti itu dari anak-anak perempuan, tak membuatnya risih bahkan dia terlihat sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu. Tatapan bertanya-tanya , heran, kasihan, atau mungkin tatapan mencemoh. Dia tetap jalan dengan santainya menuju tempat parkir.

Seharusnya dia bertugas untuk membersihkan lantai yang terkena tumpahan cat. Tapi kenapa dia harus membersihkannya kalau bukan dia yang melakukannya? Jadi dia meninggalkan hukuman itu. Hukuman yang tidak penting.

“Kenapa kau ada di sini? Seharusnya kau membersihkan lantai yang terkena cat!” Tanya Takumi, ketua kelas 2-B dengan intonasi suara yang seperti perintah bukan bertanya.

Jaejoong diam, meneruskan jalannya tanpa melirik sedikitpun kepada Takumi. Kelakuan Jaejoong membuat Takumi merasa tersinggung.

“Hei! Anak baru! Kau harus melaksanakan hukumanmu.” Ancamnya. “Atau kulaporkan kepada kepala sekolah!”

Jaejoong menghentikan langkahnya tapi dia tak menoleh sedikitpun ke arah ketua kelas yang mengancamnya.

“Buat apa aku harus melaksanakan hukuman itu?” Tanya Jaejoong dengan nada yang sangat datar, tanpa ekspresi.

“Karena jika kau tidak membersihkannya maka kami semua yang terkena imbasnya, membersihkan lantai itu.” Kata Takumi, menaikan beberapa oktaf nada bicaranya karena marah.

“Kalau begitu, kau saja yang membersihkannya.”

Takumi mengepalkan tangannya, tak ada yang pernah berani menolak perintah Takumi sang ketua kelas. Tidak! bukan hanya Jaejoong tapi semua anggota gengster Tong Vfang Xien Ki yang berani membantah perintahnya. Tak ada yang berani melawan kelompok itu.

“Beraninya kau berkata seperti itu! Berani menolak perintahku?!” Bentaknya. “Kau tak tau siapa aku?!”

“Kau ketua kelas ‘kan?” Jawab Jaejoong malas. “Kalau kau tak mau membersihkannya maka kau tak perlu melakukannya. Jangan menyuruh orang seenaknya saja.”

Kata-kata Jaejoong berhasil membuat Takumi semakin marah, tapi dia tak peduli. Jaejoong kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

“Sekali lagi! Namaku bukan ‘anak baru’ namaku Kim Jaejoong. Kim Jaejoong! Kau harus mengingatnya!”

Beberapa siswa yang melihat kejadian tadi tercengang, kejadian yang seperti itu jarang terlihat di lingkungan sekolah elit bertaraf international.

Jaejoong kembali berjalan, luasnya lapangan sekolah membuat tempat parkir dan gedung sekolah semakin jauh.

Betapa tercengangnya Jaejoong saat melihat sepeda yang biasa dipakainya untuk pergi kesekolah telah rusak. Sepeda itu telah hancur seperti ditabrak dengan truk bermuatan batu. Jaejoong menatap sepeda miliknya yang telah hancur atau yang lebih tepat di sebut seonggok besi, bahkan sepeda itu tidak lagi terlihat seperti sepeda.

“Siapa yang melakukan ini semua?” Teriak Jaejoong, dia mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju sesuatu. Matanya berkeliaran mencari sang pelaku. “Jika aku mengetahui siapa pelakunya maka aku akan membunuhnya!”

“Kau perlu bantuan?” Tawar sebuah suara, suara itu tidak seperti suara wanita. “Aku bisa mengantarmu pulang.”

“Tak perlu!” Jaejoong membalikan badan untuk melihat siapa yang menawarkan bantuan kepadanya. Yoochun, dialah yang menawarkan tumpangan untuk Jaejoong.

Apa maksudnya ini semua? Apa ini ulah dari kelompok itu, kelompok yang menyebut diri mereka sebagai ‘dewa yang terbit dari timur’. Apa yang mereka sebut dewa? Jika yang mereka maksud adalah dewa kematian atau dewa pembawa sial, Jaejoong akan sepenuhnya setuju.

“Kau yang melakukan ini?” Geram Jaejoong.

“Bukan.” Jawab Yoochun singkat, kemudian melanjutkan. “Kurasa teman-temanku yang melakukan ini.”

“Dimana mereka? aku harus membuat perhitungan!”

“Aku tak tahu, kurasa Yunho hyung sedang latihan Taekwondo, yang lainnya mungkin saja sudah pulang.” Jelasnya panjang lebar, tapi jaejoong tak peduli, amarahnya tetap berkobar. “Lebih baik kita pulang, aku akan mengantarmu pulang.”

“Aku bisa pulang sendiri!”

“Yoochun!!” Teriak seseorang. “Apa yang sedang kau lakukan?! Bersikap manis di depannya?!”

Jaejoong menoleh kearah pemilik suara itu, Yunho dialah pemilik suara itu. Changmin dan Junsu setia berada di samping kanan-kiri Yunho, seperti pelayan.

“Hyung, aku hanya..” Yoochun mulai berbicara, tapi Yunho memberi isyarat kepadanya untuk tutup mulut. Yoochun diam membisu.

“Aku tak butuh penjelasan darimu.” Yunho tersenyum getir. Dia menatap Jaejoong “Kau pemilik sepeda itu?”

“Apa yang telah kau lakukan terhadap sepedaku?” Jaejoong terlihat sangat marah, itu terdengar dari nada bicaranya. Rahangnya mengeras, “Kau pikir kau siapa?! Berani memperlakukanku seperti ini!”
Jaejoong berjalan mendekat dan ….

BUKKKK!!! Sebuah tinju mendarat sempurna tepat di rahang bagian bawah milik Yunho. Tak cukup satu, Jaejoong kembali melayangkan tinju keduanya dan mendarat tepat di pelipis mata. Bibir bawah dan pelipis Yunho robek, dan menyebabkan darah segar mengalir.

“Itu untuk sepedaku dan cat yang kau tumpahkan kepadaku tadi pagi!!”

“Beraninya kau menyentuh wajah yunho hyung!” Teriak si pemilik suara tinggi, Changmin. “Aku akan membuatmu tak bisa berjalan lagi jika kau menyentuhnya!”

“Kalau kau bisa, maka lakukan!!” Tantang Jaejoong.

Yunho menyentuh bibir bawahnya dengan punggung tanganya, membersihkan darah segar yang mengalir keluar. Junsu mencengkram lengan Changmin dengan erat, agar Changmin tak bisa melukai Jaejoong. tapi pegangan Junsu kurang erat sehingga Changmin bisa lepas dari cengkraman Junsu dan berjalan mendekati Jaejoong.

Changmin meraih kerah jas yang dikenakan Jaejoong, mendorong tubuh mungilnya hingga menabrak dinding, menimbulkan bunyi yang cukup keras. Yoochun hanya bisa pasrah melihat kejadian ini. Dia tahu bahwa dia bersalah karena telah menawarkan bantuan kepada Jaejoong.

Changmin menaikan tangannya, dan bersiap untuk memukul wajah Jaejoong. Junsu sudah berteriak-teriak untuk mencegah Changmin memukul wajah Jaejoong, tapi Yunho yang meilihat kejadian itu hanya diam dan ….

BUKKK!!! Suara sesuatu yang di pukul dengan keras, terdengar pula gesekan antar tulang. Jaejoong mengerang kesakitan. Rahangnya bergesekan, sepertinya patah.

Jaejoong yang tidak terima membalas pukulan Changmin, membuat pipi merah Changmin kebiruan karena pembuluh darah yang pecah di dalam. Jaejoong menjatuhkan tubuh Changmin, membentur tanah. Berkali-kali Jaejoong memukul Changmin, seperti orang yang sedang kesurupan. Jaejoong tak dapat mengendalikan emosinya. Changmin terbaring lemah, wajahnya memar dan terluka.

Setelah puas dengan Changmin, Jaejoong berjalan mendekati Yunho. Tapi Yunho bukanlah lawan yang sebanding dengan Jaejoong. Yunho berhasil menangkis pukulan yang di layangkan Jaejoong. Tapi pukulan terakhir meleset, Yunho tak dapat mencegahnya sehingga membentur hidungnya, cairan kental kembali mengalir melewati lubang hidungnya.

Yunho merasa tersinggung karena Jaejoong berhasil menyentuh mukanya untuk yang kedua kalianya, dan berniat membalas pukulan Jaejoong. Dia melayangkan pukulan tepat pada perut Jaejoong dan membuat Jaejoong merintih kesakitan, tak cukup disitu, Yunho membenturkan badan Jaejoong ke lantai. Memukulnya hingga merasa puas. Sesekali Jaejoong melawan tapi perlawanan itu sia-sia.

Semua siswa memperhatikan perkelahian itu, tak seorangpun yang melihat perkelahian itu berani untuk melerai mereka. Tetapi Yoohun berusaha melerai perkelahian itu. Junsu meraih tangan Yunho. Menjauhkannya dari Jaejoong. Begitu pula Yoochun, dia memapah tubuh Jaejoong yang setengah sadar. Jaejoong memberontak, dia ingin membalas perlakuan Yunho, tapi dia tak punya tenaga untuk itu.

Yoochun meletakan tubuh Jaejoong yang sekarat pada dinding, membiarkan Jaejoong bersandar pada dinding. Yoochun berjalan mendekati Changmin, membantunya berdiri dan memapahnya.
 
Yunho memberi isyarat kepada siswa yang menonton perkelahian tadi untuk bubar dan mereka semua menurutinya. Mereka berempat meninggalkan Jaejoong sendirian di sana, lemah dan terluka.

“Jika kau masih berani melawan kami, kau akan mendapatkan yang lebih dari ini.” Yunho memberi peringatan, sebelum dia hilang di dalam kerumuman siswa lainnya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar