Jam dinding besar di koridor
sekolah menunjuk pukul 06:50, sepuluh menit lagi sebelum bel masuk dibunyikan.
Jaejoong menyeret tasnya melewati lorong yang sepi karena sebagian besar anak
sudah berada di kelas masing-masing. Tangan kanannya masuk ke kantong, dan
tangan kirinya menyeret tas yang benar-benar bergesekan dengan lantai. Beberapa
anak perempuan yang sedang berdiri di depan kelas menatapnya sambil
berbisik-bisik. Jaejoong menoleh cepat ke arah anak-anak perempuan itu, dan
mereka semua langsung membuang wajah. Jaejoong seperti tidak melihat apa-apa,
ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kelas 2-B.
Tapi, begitu ia sampai dan
membuka pintu, sesuatu yang kental dan dingin tumpah ruah di atas kepalanya.
Jaejoong menatap ember besar yang kemudian jatuh ke lantai dengan berceceran
cat warna merah. Kini seluruh tubuhnya dipenuhi cat dan ia yakin nodanya tidak
akan pernah hilang. Semua yang ada di kelas itu mentertawakannya dengan keras.
Jaejoong menyentuh rambutnya yang menjadi kaku karena berlumur cat yang begitu
kentalnya. Tatapannya sontak tertuju pada satu-satunya orang yang tidak tertawa
di kelas itu. Park Yoochun. Tapi Jaejoong justru berkeyakinan, ini adalah ulah
Park Yoochun dan ketiga anggota geng sialan itu.
“Ada apa ini? Kenapa kelas kotor
begini?” seorang guru wanita berdiri di ambang pintu. Sontak tak ada suara tawa
lagi yang terdengar di kelas itu. “Siapa yang melakukan ini?” tanya wanita itu.
“Kim Jaejoong yang melakukannya!”
teriak salah seorang anak laki-laki berambut gondrong.
Jaejoong tersentak sambil menggeleng refleks. Guru wanita itu memandangi
wajahnya yang belepotan oleh cat warna merah yang kental. Menutupi hampir
seluruh bagian wajahnya.
“Siapa yang melakukan ini padamu,
Kim Jaejoong?” tanya wanita itu.
“Tadi dia menumpahkan sendiri
ember cat itu, lalu dia terpeleset!” seorang anak laki-laki lain menyahut
sebelum Jaejoong sempat membuka mulutnya.
“Benar begitu?” tanya guru wanita
sambil menatap Jaejoong. Hanya gelengan kepala yang diberikan Jaejoong. “Kalau
kau tidak mengaku, hukumanmu akan ditambah!”
“Aku tidak melakukannya.” Ucap
Jaejoong tegas. Ia melihat Yoochun tengah menatapnya datar, tanpa rasa senang
karena telah berhasil mengerjainya, dan tanpa rasa kebencian juga. Hanya
tatapan datar.
“Dia bohong! Sudah jelas-jelas
tadi dia menumpahkan kaleng cat di sana! Kami melihatnya sendiri!” seruan itu membuat
murid-murid lain ikut bercemooh menyalahkan Jaejoong. Tapi Jaejoong sama sekali
tidak terlihat ketakutan, bahkan ia tak terlihat kesal.
“Sebagai hukuman, kau bersihkan
lantai ini sampai mengkilap lagi, dan jangan masuk kelas sebelum kau bersih
dari noda cat di tubuhmu!” guru wanita yang cukup jangkung itu melangkahkan
high hillsnya ke meja tempatnya mengajar. Jaejoong tidak menjawab apa-apa lagi.
Dia lantas berjalan ke luar kelas dengan niat untuk membersihkan dirinya dari
kotoran cat. Ia tak peduli dengan lantai yang kotor karena itu bukan
kesalahannya. Tapi mengenai seragam, ia tak bisa acuh begitu saja. Ibu panti
bisa membunuhnya jika ia pulang dalam keadaan sehancur ini.
Jaejoong menyadari sepatunya juga
menimbulkan noda cat di lantai. Ia tak ingin membuat masalah semakin bertambah
rumit, jadi ia mencopot sepatunya dan menentengnya menuju kamar mandi.
“Kim Jaejoong?” sebuah suara
halus membuat Jaejoong menahan langkahnya. Ia menoleh untuk melihat sosok Nako
yang sedang berdiri sambil berpegangan pada tembok.
“Misuzawa?” ucap Jaejoong saat ia
ingat nama anak itu. “Kau tidak masuk kelas?”
“Aku habis dari ruang kesehatan
untuk memeriksakan kakiku, tadi darahnya keluar lagi.” Jawab Nako dengan senyum
getir. Ia berjalan tertatih-tatih mendekati Jaejoong. “Ini pasti ulah mereka.”
“Dan luka di kakimu itu, pasti
ulah mereka juga.” Jaejoong menebak.
“Tidak, aku sendiri yang membuat
luka ini harus ada.” Nako tersenyum sendu, namun Jaejoong hanya menatapnya
kosong tanpa menjawab apa-apa. “Ayo sini, biar kubantu membersihkan dirimu.”
“Tapi… kau kan harus ke kelas…”
“Sedang tidak ada guru. Kelasku
hanya diberi tugas. Jadi aku bisa membantumu.”
“Hmm, baiklah kalau itu
keinginanmu.” Jaejoong membiarkan Nako mengikutinya menuju kamar mandi. Dan
karena Nako tak mau masuk ke kamar mandi pria, akhirnya Jaejoong langsung
menarik paksa tangan Nako dan membawanya ke dalam sebuah bilik kamar mandi dan
mengunci pintu.
“Mau apa kau?!” tanya Nako kaget
karena kini ia dan Jaejoong terkunci di bilik kamar mandi yang tidak seberapa
luas. Seharusnya bilik itu tidak diisi oleh dua orang.
“Ssst… kalau ada yang masuk ke
kamar mandi dan mendengar suaramu, aku bisa dihujat!” Jaejoong memperingatkan
sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri. Nako langsung diam, memandangi
Jaejoong yang mulai melepas jas. Dan matanya langsung terbelalak saat Jaejoong
mulai melepas satu-persatu kancing kemejanya.
“Eeeh, mau apa kau? Kemeja tak
usah dilepas!” ucap Nako sambil memasangkan kancing itu lagi.
“Baiklah, terserah kau saja. Yang
penting aku bersih dari cat.”
“Tubuhmu kau bersihkan sendiri,
aku coba bersihkan jasmu saja.”
Jaejoong tidak menjawab lagi. Dia
mulai mengguyur kepalanya dengan air, membiarkan carian kental berwarna merah
itu mengucur di lantai bersama air yang membasuh kepalanya. Nako memandangi
kegiatan itu dengan mulut ternganga. Anak serampangan yang aneh itu… keren juga
kalau sedang basah.
“A, aku bersihkan jas di kamar
mandi wanita saja!” ucap Nako sambil bergegas membuka kunci dan melesat pergi
dari kamar mandi pria. Wajahnya sudah memerah seperti tomat saat ia keluar dari
sana.
“Kenapa anak itu? Kabur tanpa
alasan.” Gumam Jaejoong sambil kembali mengunci pintu dan sibuk membilas
rambutnya lagi.
***
TING-TONG-TING-TONG!!!
Bel sekolah berbunyi, menandakan
waktunya pulang.
Jaejoong berjalan menuju tempat
ia meletakkan sepedanya, dengan bertelanjang dada! Walaupun dia tidak
bertelanjang dada sepenuhnya, hanya Jas yang terlihat sedikit lusuh karena
tidak di setrika yang melekat pada tubuhnya. Hampir seluruh siswa perempuan menatapnya
sambil berbisik-bisik, bukan hanya anak perempuan tapi anak laki-laki-pun
menatap Jaejoong dengan tatapan bertanya-tanya.
Walaupun dia memakai jas, tapi
dadanya ter-expos jelas. Memperlihatkan dadanya yang bidang dan perutnya yang
sixpack bak batangan coklat.
Dengan cuaca yang sedingin ini
dia bisa saja terkena flu. Tapi dia tidak peduli bahkan jika dia harus sakit
sekalipun. Karena tak satupun orang didunia ini yang peduli terhadapnya.
Mendapat tatapan seperti itu dari
anak-anak perempuan, tak membuatnya risih bahkan dia terlihat sudah terbiasa
mendapat tatapan seperti itu. Tatapan bertanya-tanya , heran, kasihan, atau
mungkin tatapan mencemoh. Dia tetap jalan dengan santainya menuju tempat
parkir.
Seharusnya dia bertugas untuk
membersihkan lantai yang terkena tumpahan cat. Tapi kenapa dia harus
membersihkannya kalau bukan dia yang melakukannya? Jadi dia meninggalkan
hukuman itu. Hukuman yang tidak penting.
“Kenapa kau ada di sini?
Seharusnya kau membersihkan lantai yang terkena cat!” Tanya Takumi, ketua kelas
2-B dengan intonasi suara yang seperti perintah bukan bertanya.
Jaejoong diam, meneruskan
jalannya tanpa melirik sedikitpun kepada Takumi. Kelakuan Jaejoong membuat
Takumi merasa tersinggung.
“Hei! Anak baru! Kau harus
melaksanakan hukumanmu.” Ancamnya. “Atau kulaporkan kepada kepala sekolah!”
Jaejoong menghentikan langkahnya
tapi dia tak menoleh sedikitpun ke arah ketua kelas yang mengancamnya.
“Buat apa aku harus melaksanakan
hukuman itu?” Tanya Jaejoong dengan nada yang sangat datar, tanpa ekspresi.
“Karena jika kau tidak
membersihkannya maka kami semua yang terkena imbasnya, membersihkan lantai
itu.” Kata Takumi, menaikan beberapa oktaf nada bicaranya karena marah.
“Kalau begitu, kau saja yang
membersihkannya.”
Takumi mengepalkan tangannya, tak
ada yang pernah berani menolak perintah Takumi sang ketua kelas. Tidak! bukan
hanya Jaejoong tapi semua anggota gengster Tong Vfang Xien Ki yang berani
membantah perintahnya. Tak ada yang berani melawan kelompok itu.
“Beraninya kau berkata seperti
itu! Berani menolak perintahku?!” Bentaknya. “Kau tak tau siapa aku?!”
“Kau ketua kelas ‘kan?” Jawab
Jaejoong malas. “Kalau kau tak mau membersihkannya maka kau tak perlu
melakukannya. Jangan menyuruh orang seenaknya saja.”
Kata-kata Jaejoong berhasil
membuat Takumi semakin marah, tapi dia tak peduli. Jaejoong kembali melanjutkan
perjalanannya yang tertunda.
“Sekali lagi! Namaku bukan ‘anak
baru’ namaku Kim Jaejoong. Kim Jaejoong! Kau harus mengingatnya!”
Beberapa siswa yang melihat
kejadian tadi tercengang, kejadian yang seperti itu jarang terlihat di
lingkungan sekolah elit bertaraf international.
Jaejoong kembali berjalan,
luasnya lapangan sekolah membuat tempat parkir dan gedung sekolah semakin jauh.
Betapa tercengangnya Jaejoong
saat melihat sepeda yang biasa dipakainya untuk pergi kesekolah telah rusak.
Sepeda itu telah hancur seperti ditabrak dengan truk bermuatan batu. Jaejoong
menatap sepeda miliknya yang telah hancur atau yang lebih tepat di sebut
seonggok besi, bahkan sepeda itu tidak lagi terlihat seperti sepeda.
“Siapa yang melakukan ini semua?”
Teriak Jaejoong, dia mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju sesuatu.
Matanya berkeliaran mencari sang pelaku. “Jika aku mengetahui siapa pelakunya
maka aku akan membunuhnya!”
“Kau perlu bantuan?” Tawar sebuah
suara, suara itu tidak seperti suara wanita. “Aku bisa mengantarmu pulang.”
“Tak perlu!” Jaejoong membalikan
badan untuk melihat siapa yang menawarkan bantuan kepadanya. Yoochun, dialah
yang menawarkan tumpangan untuk Jaejoong.
Apa maksudnya ini semua? Apa ini
ulah dari kelompok itu, kelompok yang menyebut diri mereka sebagai ‘dewa yang
terbit dari timur’. Apa yang mereka sebut dewa? Jika yang mereka maksud adalah
dewa kematian atau dewa pembawa sial, Jaejoong akan sepenuhnya setuju.
“Kau yang melakukan ini?” Geram
Jaejoong.
“Bukan.” Jawab Yoochun singkat,
kemudian melanjutkan. “Kurasa teman-temanku yang melakukan ini.”
“Dimana mereka? aku harus membuat
perhitungan!”
“Aku tak tahu, kurasa Yunho hyung
sedang latihan Taekwondo, yang lainnya mungkin saja sudah pulang.” Jelasnya
panjang lebar, tapi jaejoong tak peduli, amarahnya tetap berkobar. “Lebih baik
kita pulang, aku akan mengantarmu pulang.”
“Aku bisa pulang sendiri!”
“Yoochun!!” Teriak seseorang.
“Apa yang sedang kau lakukan?! Bersikap manis di depannya?!”
Jaejoong menoleh kearah pemilik
suara itu, Yunho dialah pemilik suara itu. Changmin dan Junsu setia berada di
samping kanan-kiri Yunho, seperti pelayan.
“Hyung, aku hanya..” Yoochun
mulai berbicara, tapi Yunho memberi isyarat kepadanya untuk tutup mulut.
Yoochun diam membisu.
“Aku tak butuh penjelasan
darimu.” Yunho tersenyum getir. Dia menatap Jaejoong “Kau pemilik sepeda itu?”
“Apa yang telah kau lakukan
terhadap sepedaku?” Jaejoong terlihat sangat marah, itu terdengar dari nada
bicaranya. Rahangnya mengeras, “Kau pikir kau siapa?! Berani memperlakukanku
seperti ini!”
Jaejoong berjalan mendekat dan ….
Jaejoong berjalan mendekat dan ….
BUKKKK!!! Sebuah tinju mendarat
sempurna tepat di rahang bagian bawah milik Yunho. Tak cukup satu, Jaejoong kembali
melayangkan tinju keduanya dan mendarat tepat di pelipis mata. Bibir bawah dan
pelipis Yunho robek, dan menyebabkan darah segar mengalir.
“Itu untuk sepedaku dan cat yang
kau tumpahkan kepadaku tadi pagi!!”
“Beraninya kau menyentuh wajah
yunho hyung!” Teriak si pemilik suara tinggi, Changmin. “Aku akan membuatmu tak
bisa berjalan lagi jika kau menyentuhnya!”
“Kalau kau bisa, maka lakukan!!”
Tantang Jaejoong.
Yunho menyentuh bibir bawahnya
dengan punggung tanganya, membersihkan darah segar yang mengalir keluar. Junsu
mencengkram lengan Changmin dengan erat, agar Changmin tak bisa melukai
Jaejoong. tapi pegangan Junsu kurang erat sehingga Changmin bisa lepas dari
cengkraman Junsu dan berjalan mendekati Jaejoong.
Changmin meraih kerah jas yang
dikenakan Jaejoong, mendorong tubuh mungilnya hingga menabrak dinding,
menimbulkan bunyi yang cukup keras. Yoochun hanya bisa pasrah melihat kejadian
ini. Dia tahu bahwa dia bersalah karena telah menawarkan bantuan kepada
Jaejoong.
Changmin menaikan tangannya, dan
bersiap untuk memukul wajah Jaejoong. Junsu sudah berteriak-teriak untuk
mencegah Changmin memukul wajah Jaejoong, tapi Yunho yang meilihat kejadian itu
hanya diam dan ….
BUKKK!!! Suara sesuatu yang di
pukul dengan keras, terdengar pula gesekan antar tulang. Jaejoong mengerang
kesakitan. Rahangnya bergesekan, sepertinya patah.
Jaejoong yang tidak terima
membalas pukulan Changmin, membuat pipi merah Changmin kebiruan karena pembuluh
darah yang pecah di dalam. Jaejoong menjatuhkan tubuh Changmin, membentur tanah.
Berkali-kali Jaejoong memukul Changmin, seperti orang yang sedang kesurupan.
Jaejoong tak dapat mengendalikan emosinya. Changmin terbaring lemah, wajahnya
memar dan terluka.
Setelah puas dengan Changmin,
Jaejoong berjalan mendekati Yunho. Tapi Yunho bukanlah lawan yang sebanding
dengan Jaejoong. Yunho berhasil menangkis pukulan yang di layangkan Jaejoong. Tapi
pukulan terakhir meleset, Yunho tak dapat mencegahnya sehingga membentur
hidungnya, cairan kental kembali mengalir melewati lubang hidungnya.
Yunho merasa tersinggung karena
Jaejoong berhasil menyentuh mukanya untuk yang kedua kalianya, dan berniat
membalas pukulan Jaejoong. Dia melayangkan pukulan tepat pada perut Jaejoong
dan membuat Jaejoong merintih kesakitan, tak cukup disitu, Yunho membenturkan
badan Jaejoong ke lantai. Memukulnya hingga merasa puas. Sesekali Jaejoong
melawan tapi perlawanan itu sia-sia.
Semua siswa memperhatikan
perkelahian itu, tak seorangpun yang melihat perkelahian itu berani untuk
melerai mereka. Tetapi Yoohun berusaha melerai perkelahian itu. Junsu meraih
tangan Yunho. Menjauhkannya dari Jaejoong. Begitu pula Yoochun, dia memapah
tubuh Jaejoong yang setengah sadar. Jaejoong memberontak, dia ingin membalas
perlakuan Yunho, tapi dia tak punya tenaga untuk itu.
Yoochun meletakan tubuh Jaejoong
yang sekarat pada dinding, membiarkan Jaejoong bersandar pada dinding. Yoochun
berjalan mendekati Changmin, membantunya berdiri dan memapahnya.
Yunho memberi isyarat kepada siswa yang menonton perkelahian tadi untuk bubar
dan mereka semua menurutinya. Mereka berempat meninggalkan Jaejoong sendirian
di sana, lemah dan terluka.
“Jika kau masih berani melawan
kami, kau akan mendapatkan yang lebih dari ini.” Yunho memberi peringatan,
sebelum dia hilang di dalam kerumuman siswa lainnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar