Nako berusaha sekuat tenaga untuk
menghentikan air matanya mengalir. Yunho, kenapa dia bisa berbuat sekejam itu
kepadanya. Nako sadar bahwa yang dia lakukan akan mempermalukan dirinya
sendiri.
Nako tak menghentikan kecepatan
berlarinya, walaupun kakinya masih terasa sedikit sakit akibat luka tempo hari.
Dia tak peduli! Yang di butuhkan saat ini adalah seseorang yang bisa menjadi
tempat dia bersandar mencurahkan semuanya. Perasaannya, kekesalannya,
segalanya.
Beberapa kali Nako hampir jatuh,
kerana tak bisa mengendalikan kecepatannya.. Kemarahannya atas sikap Yunho
membuatnya melupakan rasa lelahnya karena berlari. Dia terus berlari menuju
kelas 2-B, dimana dia bisa menemukan Kim Jaejoong
Dengan nafas terengah-engah Nako
sampai, membuka pintu. Matanya menyapu seluruh ruangan kelas, berharap melihat
sosok yang dicarinya. Anak laki-laki bertubuh ramping dan tinggi. Harapan itu
sirna ketika matanya tak berhasil menemukan sosok itu.
“Dimana dia?” tanya Nako lirih,
di sela-sela tarikan nafas yang berat.
“Kalau yang kau maksud dengan
‘dia’ adalah Kim Jaejoong, dia tak ada.” Jawab seseorang yang memandang rendah
ke arah Nako.
“Kemana dia pergi?”
“Kenapa kau ingin tau?”
“Sudah jawab saja! Kemana dia
pergi?!” Bentak Nako meluapkan emosinya.
“Dia membolos hari ini. Puas?”
Terdengar bel tanda sekolah
berakhir berbunyi, tanpa memperdulikan tatapan merendahkan dari semua orang
Nako berlari pergi, meninggalkan sekolah yang lebih mirip dengan neraka.
Kim Jaejoong? kemana dia pergi.
Kenapa di saat Nako membutuhkan seseorang, seseorang itu tak ada. Kepada siapa
lagi Nako harus meluapkan emosinya?
“Kim Jaejoong?!” Nako berteriak,
memanggil satu-satunya nama yang di butuhkannya. Mencoba menfokuskan
pandangannya. Berharap menemukan si pemilik nama.
“Kim jaejoong, kau dimana?” Nako
kembali berteriak, tidak memperdulikan tatapan sinis yang di lemparkan
kepadanya. “Kim Jaejoong, aku membutuhkanmu.”
Nako kembali berlari, menyusuri
setiap tempat yang dia pikir akan di habiskan oleh jaejoong untuk menyendiri.
Nako memang tidak megenal jaejoong, tapi dia yakin hanya Jaejoong yang
dibutuhkannya saat ini. Bukan Giii, ibunya, ataupun ayahnya. Hanya satu orang
yaitu, Kim Jaejonng!
Air mata Nako kembali mengalir, dia sangat berharap menemukan Jaejoong di saat
seperti ini.
Setetes demi setetes air jatuh
membasahi tubuhnya. Awan ikut menangis, mengerti kesedihannya atau menangisi
kebodohannya. Tidak membutuhkan waktu lama, jalanan sudah tertutupi oleh air
hujan. Nako tak mencari tempat untuk berteduh, dia terus berlari untuk mencari
Jaejoong.
Badan Nako berguncang, entah itu karena dia menangis atau menggigil kedinginan.
Jika dengan menangis dan berlari dia bisa melupakan semuanya maka dia akan
melakukan hal itu, tak peduli itu akan menyebabkannya sakit.
Hujan tak mereda sedikitpun,
hembusan angin memperparah situasi. Dingin! Dingin sekali. Nako membenci
dingin, dia benci harus kedinginan. Nako memeluk tubuhnya sendiri,berharap
dapat mengurangi rasa dinginnya. Dia sudah tidak berlari, kaki dan tubuhnya
tidak mengizinkannya untuk kembali berlari.
Dia hanya berjalan, menyusuri
pinggiran jembatan. Sesekali bibirnya yang pucat menggumamkan sebuah nama,
bulir-bulir air mata tetap menetes melewati pipinya. Dia masih berharap dapat
menemukan si pemilik nama.
Nako mendongakkan kepalanya,
menatap lurus jalanan. Dia memicingkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya
sendiri bahwa dia tidak salah lihat.
Kim Jaejoong? Ya! Dia Kim
Jaejoong. Nako tak berlari mendekat. Dia hanya berjalan menghampiri Jaejoong.
Jaejoong yang melihat Nako dari
kejauhan mencoba menghentikan langkahnya. Menatap tubuh seseorang yang berjalan
menghampirinya.
Dengan langkah gontai, Nako
menghampiri Jaejoong. 5 langkah jauhnya, Nako menghentikan langkahnya,
bulir-bulir air mata kembali mengalir. Jaejoong menatap bingung kepada gadis
yang berdiri di hadapannya.
“Kau menangis?” Tanya Jaejoong
khawatir, dia tahu bahwa Nako telah terluka.
Nako tak menjawab, isakannya
kembali meluap. Kedua tangannya menutupi wajahnya, berusaha menutupi air
matanya yang mengalir. Bahunya berguncang, Tak pernah Jaejoong melihat seorang
wanita menangis kecuali ibunya.
Jaejoong berjalan mendekat,
menghampiri dan memeluk Nako. Menciptakan kehangatan diantara mereka. Jaejoong
tak tahu apa yang harus dia lakukan, kecuali memelukanya. Sesekali Jaejoong
membelai rambut panjang hitam milik Nako yang telah basah.
Tangisan Nako tak sedikitpun
berhenti, ia malah semakin histeris. Ia ingin sekali mengeluarkan semuanya,
semuanya! Dia sudah menemukan orang yang ia cari. Tapi ia tak tahu harus
memulai cerita ini dari mana.
Jaejoong mempererat pelukannya,
dia tau Nako harus mengeluarkan semuanya. Jika dengan menangis Nako bisa merasa
lebih baik, maka Jaejoong bersedia meminjamkan bahunya untuk dia bersandar.
Jika Nako membutuhkan sebuah pelukan yang hangat, maka dia akan memeluknya.
Nako merasa ada kelegaan luar biasa saat kulitnya menyentuh kulit putih susu
milik Jaejoong. perasaan hangat, perasaan di lindungi. Tangisan Nako mereda.
“Apa yang kau tangisi?” Tanya
Jaejoong seringan mungkin, agar Nako tidak kembali menangis. “Kau menangis
karena ‘dia’?”
Nako mengerti siapa yang dimaksud
dengan kata ‘dia’ oleh Jaejoong. “Kau menagis karena cinta?” Tanya Jaejoong
lagi.
“Kau tau bagaimana rasanya
seseorang yang jatuh cinta?”
“Tidak.” Jawab Jaejoong dingin,
melepaskan pelukannya.
“Aku menyatakan perasaanku
padanya.”
“Kau?”
“Dia mempermalukanku.”
Jaejoong sudah menebaknya.
Seseorang seperti Yunho tak mungkin menerima cinta dari gadis biasa, gadis
seperti Nako. Jaejoong tak tahu harus berkata apalagi, di dalam kamusnya tak
ada kata ‘cinta’ ia tak tahu harus berkata apa untuk membuat perasaan seseorang
yang sedang patah hati menjadi lebih baik.
“Cinta itu bagaikan sekotak
coklat. Kau tidak akan pernah tahu sebelum kau mencobanya.” Nako memulai
filosofinya kembali. “Entah manis, tawar, atau mungkin pahit.”
“Coklat?” Guman Jaejoong.
“Hmmm…Coklat. Seperti sekotak
coklat.”
Sekarang Nako berjalan. Hujan
sudah mulai reda. Jaejoong berjalan di samping Nako. Nako meraih tangan
Jaejoong, menggenggamnya dengan erat. Kehangatan kembali mengalir dalam diri
Nako maupun Jaejoong, Jaejoong tak melepaskan pegangan tangan itu. Dia
menikmati perasaan hangat itu.
“Lalu?” Ujar Jaejoong, tetap
menatap lurus.
“Cinta itu sesuatu yang bisa
membuat kita tertawa bahagia atau menangis pilu.”
“…..” Jaejoong tak berkomentar.
“Cinta itu seperti heroin bisa
membuat kita kecanduan, melayang dibuatnya.” Nako tersenyum. “Tetapi cinta juga
bisa menjadi senjata yang membunuh secara pelan tetapi pasti.”
“Filosofi yang bagus.”Ujar
Jaejoong ringan. Dia tak pernah merasakan cinta. Kecuali cinta dan kasih sayang
sang ibu beberapa tahun yang lalu.
“Cinta itu bisa manis seperti
gula atau pahit seperti kopi.” Jaejoong melanjutkan. “Tapi apapun itu, cinta
bukan satu-satunya hal di dunia ini yang bersifat abadi.”
“Ya! Kau benar, tapi aku merasa
Yunho berbeda. Dia orang yang aku cintai.”
“Cinta bertepuk sebelah tangan.”
“Aku tahu itu, kau tak perlu
memberitahuku. Cinta yang kualami sangat menyakitkan. Pahit seperti kopi.” Nako
mengerucutkan bibirnya.
“Yunho tak pantas mendapatkan
cintamu.” Ujar Jaejoong dingin. “Ada orang yang lebih pantas mendapatkannya.”
“Siapa?”
“Entahlah, hanya kau yang tau
jawabannya.”
Diam, keheningan kembali menyelimuti
mereka. Nako mempererat genggaman tanganya. Hujan sudah sepenuhnya berhenti.
“Kenapa kau membolos?” Tanya
Nako, memecahkan keheningan yang mulai menyelimuti.
“Bukan urusanmu.” Jaejoong
melepas genggaman tangan Nako dengan kasar.
“Kau bisa menceritakannya
kepadaku.” Kata Nako manis.
“Aku tak ingin menceritakannya.”
“Baiklah, kalau itu keinginanmu.
Aku akan selalu bersedia mendengarkanmu.” Nako menatap Jaejoong yang berjalan
di depannya. “Habis ini, kau mau kemana?”
“Pulang.” Jawab Jaejoong sekenanya.
“Aku antar ya?”
“Tak perlu.”
“Ayo lah, aku antar ya. Aku ingin
bertemu ibumu.”
Rahang Jaejoong mengeras. Ibu?
“Aku tak punya ibu.”
“Apa maksudmu?”
“Kau ini cerewet sekali sih.
Sudah sana pulang. Aku tak ingin mendengarkan ocehanmu malam ini.”
“Aku akan tetap mengikutimu. Aku
ingin mengantarmu pulang.”
“Terserah apa katamu, tapi kau
harus menutup mulutmu!”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar