Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 9)


Nako berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan air matanya mengalir. Yunho, kenapa dia bisa berbuat sekejam itu kepadanya. Nako sadar bahwa yang dia lakukan akan mempermalukan dirinya sendiri.

Nako tak menghentikan kecepatan berlarinya, walaupun kakinya masih terasa sedikit sakit akibat luka tempo hari. Dia tak peduli! Yang di butuhkan saat ini adalah seseorang yang bisa menjadi tempat dia bersandar mencurahkan semuanya. Perasaannya, kekesalannya, segalanya.

Beberapa kali Nako hampir jatuh, kerana tak bisa mengendalikan kecepatannya.. Kemarahannya atas sikap Yunho membuatnya melupakan rasa lelahnya karena berlari. Dia terus berlari menuju kelas 2-B, dimana dia bisa menemukan Kim Jaejoong

Dengan nafas terengah-engah Nako sampai, membuka pintu. Matanya menyapu seluruh ruangan kelas, berharap melihat sosok yang dicarinya. Anak laki-laki bertubuh ramping dan tinggi. Harapan itu sirna ketika matanya tak berhasil menemukan sosok itu.

“Dimana dia?” tanya Nako lirih, di sela-sela tarikan nafas yang berat.

“Kalau yang kau maksud dengan ‘dia’ adalah Kim Jaejoong, dia tak ada.” Jawab seseorang yang memandang rendah ke arah Nako.

“Kemana dia pergi?”

“Kenapa kau ingin tau?”

“Sudah jawab saja! Kemana dia pergi?!” Bentak Nako meluapkan emosinya.

“Dia membolos hari ini. Puas?”

Terdengar bel tanda sekolah berakhir berbunyi, tanpa memperdulikan tatapan merendahkan dari semua orang Nako berlari pergi, meninggalkan sekolah yang lebih mirip dengan neraka.

Kim Jaejoong? kemana dia pergi. Kenapa di saat Nako membutuhkan seseorang, seseorang itu tak ada. Kepada siapa lagi Nako harus meluapkan emosinya?

“Kim Jaejoong?!” Nako berteriak, memanggil satu-satunya nama yang di butuhkannya. Mencoba menfokuskan pandangannya. Berharap menemukan si pemilik nama.

“Kim jaejoong, kau dimana?” Nako kembali berteriak, tidak memperdulikan tatapan sinis yang di lemparkan kepadanya. “Kim Jaejoong, aku membutuhkanmu.”

Nako kembali berlari, menyusuri setiap tempat yang dia pikir akan di habiskan oleh jaejoong untuk menyendiri. Nako memang tidak megenal jaejoong, tapi dia yakin hanya Jaejoong yang dibutuhkannya saat ini. Bukan Giii, ibunya, ataupun ayahnya. Hanya satu orang yaitu, Kim Jaejonng!
 
Air mata Nako kembali mengalir, dia sangat berharap menemukan Jaejoong di saat seperti ini.

Setetes demi setetes air jatuh membasahi tubuhnya. Awan ikut menangis, mengerti kesedihannya atau menangisi kebodohannya. Tidak membutuhkan waktu lama, jalanan sudah tertutupi oleh air hujan. Nako tak mencari tempat untuk berteduh, dia terus berlari untuk mencari Jaejoong.
 
Badan Nako berguncang, entah itu karena dia menangis atau menggigil kedinginan. Jika dengan menangis dan berlari dia bisa melupakan semuanya maka dia akan melakukan hal itu, tak peduli itu akan menyebabkannya sakit.

Hujan tak mereda sedikitpun, hembusan angin memperparah situasi. Dingin! Dingin sekali. Nako membenci dingin, dia benci harus kedinginan. Nako memeluk tubuhnya sendiri,berharap dapat mengurangi rasa dinginnya. Dia sudah tidak berlari, kaki dan tubuhnya tidak mengizinkannya untuk kembali berlari.

Dia hanya berjalan, menyusuri pinggiran jembatan. Sesekali bibirnya yang pucat menggumamkan sebuah nama, bulir-bulir air mata tetap menetes melewati pipinya. Dia masih berharap dapat menemukan si pemilik nama.

Nako mendongakkan kepalanya, menatap lurus jalanan. Dia memicingkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak salah lihat.

Kim Jaejoong? Ya! Dia Kim Jaejoong. Nako tak berlari mendekat. Dia hanya berjalan menghampiri Jaejoong.

Jaejoong yang melihat Nako dari kejauhan mencoba menghentikan langkahnya. Menatap tubuh seseorang yang berjalan menghampirinya.

Dengan langkah gontai, Nako menghampiri Jaejoong. 5 langkah jauhnya, Nako menghentikan langkahnya, bulir-bulir air mata kembali mengalir. Jaejoong menatap bingung kepada gadis yang berdiri di hadapannya.

“Kau menangis?” Tanya Jaejoong khawatir, dia tahu bahwa Nako telah terluka.

Nako tak menjawab, isakannya kembali meluap. Kedua tangannya menutupi wajahnya, berusaha menutupi air matanya yang mengalir. Bahunya berguncang, Tak pernah Jaejoong melihat seorang wanita menangis kecuali ibunya.

Jaejoong berjalan mendekat, menghampiri dan memeluk Nako. Menciptakan kehangatan diantara mereka. Jaejoong tak tahu apa yang harus dia lakukan, kecuali memelukanya. Sesekali Jaejoong membelai rambut panjang hitam milik Nako yang telah basah.

Tangisan Nako tak sedikitpun berhenti, ia malah semakin histeris. Ia ingin sekali mengeluarkan semuanya, semuanya! Dia sudah menemukan orang yang ia cari. Tapi ia tak tahu harus memulai cerita ini dari mana.

Jaejoong mempererat pelukannya, dia tau Nako harus mengeluarkan semuanya. Jika dengan menangis Nako bisa merasa lebih baik, maka Jaejoong bersedia meminjamkan bahunya untuk dia bersandar. Jika Nako membutuhkan sebuah pelukan yang hangat, maka dia akan memeluknya.
 
Nako merasa ada kelegaan luar biasa saat kulitnya menyentuh kulit putih susu milik Jaejoong. perasaan hangat, perasaan di lindungi. Tangisan Nako mereda.

“Apa yang kau tangisi?” Tanya Jaejoong seringan mungkin, agar Nako tidak kembali menangis. “Kau menangis karena ‘dia’?”

Nako mengerti siapa yang dimaksud dengan kata ‘dia’ oleh Jaejoong. “Kau menagis karena cinta?” Tanya Jaejoong lagi.

“Kau tau bagaimana rasanya seseorang yang jatuh cinta?”

“Tidak.” Jawab Jaejoong dingin, melepaskan pelukannya.

“Aku menyatakan perasaanku padanya.”

“Kau?”

“Dia mempermalukanku.”

Jaejoong sudah menebaknya. Seseorang seperti Yunho tak mungkin menerima cinta dari gadis biasa, gadis seperti Nako. Jaejoong tak tahu harus berkata apalagi, di dalam kamusnya tak ada kata ‘cinta’ ia tak tahu harus berkata apa untuk membuat perasaan seseorang yang sedang patah hati menjadi lebih baik.

“Cinta itu bagaikan sekotak coklat. Kau tidak akan pernah tahu sebelum kau mencobanya.” Nako memulai filosofinya kembali. “Entah manis, tawar, atau mungkin pahit.”

“Coklat?” Guman Jaejoong.

“Hmmm…Coklat. Seperti sekotak coklat.”

Sekarang Nako berjalan. Hujan sudah mulai reda. Jaejoong berjalan di samping Nako. Nako meraih tangan Jaejoong, menggenggamnya dengan erat. Kehangatan kembali mengalir dalam diri Nako maupun Jaejoong, Jaejoong tak melepaskan pegangan tangan itu. Dia menikmati perasaan hangat itu.

“Lalu?” Ujar Jaejoong, tetap menatap lurus.

“Cinta itu sesuatu yang bisa membuat kita tertawa bahagia atau menangis pilu.”

“…..” Jaejoong tak berkomentar.

“Cinta itu seperti heroin bisa membuat kita kecanduan, melayang dibuatnya.” Nako tersenyum. “Tetapi cinta juga bisa menjadi senjata yang membunuh secara pelan tetapi pasti.”

“Filosofi yang bagus.”Ujar Jaejoong ringan. Dia tak pernah merasakan cinta. Kecuali cinta dan kasih sayang sang ibu beberapa tahun yang lalu.

“Cinta itu bisa manis seperti gula atau pahit seperti kopi.” Jaejoong melanjutkan. “Tapi apapun itu, cinta bukan satu-satunya hal di dunia ini yang bersifat abadi.”

“Ya! Kau benar, tapi aku merasa Yunho berbeda. Dia orang yang aku cintai.”

“Cinta bertepuk sebelah tangan.”

“Aku tahu itu, kau tak perlu memberitahuku. Cinta yang kualami sangat menyakitkan. Pahit seperti kopi.” Nako mengerucutkan bibirnya.

“Yunho tak pantas mendapatkan cintamu.” Ujar Jaejoong dingin. “Ada orang yang lebih pantas mendapatkannya.”

“Siapa?”

“Entahlah, hanya kau yang tau jawabannya.”

Diam, keheningan kembali menyelimuti mereka. Nako mempererat genggaman tanganya. Hujan sudah sepenuhnya berhenti.

“Kenapa kau membolos?” Tanya Nako, memecahkan keheningan yang mulai menyelimuti.

“Bukan urusanmu.” Jaejoong melepas genggaman tangan Nako dengan kasar.

“Kau bisa menceritakannya kepadaku.” Kata Nako manis.

“Aku tak ingin menceritakannya.”

“Baiklah, kalau itu keinginanmu. Aku akan selalu bersedia mendengarkanmu.” Nako menatap Jaejoong yang berjalan di depannya. “Habis ini, kau mau kemana?”

“Pulang.” Jawab Jaejoong sekenanya.

“Aku antar ya?”

“Tak perlu.”

“Ayo lah, aku antar ya. Aku ingin bertemu ibumu.”

Rahang Jaejoong mengeras. Ibu?

“Aku tak punya ibu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau ini cerewet sekali sih. Sudah sana pulang. Aku tak ingin mendengarkan ocehanmu malam ini.”

“Aku akan tetap mengikutimu. Aku ingin mengantarmu pulang.”

“Terserah apa katamu, tapi kau harus menutup mulutmu!”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar