Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 17)


Author POV

Setelah Junsu keluar dari ruangan itu, Yunho menyusul keluar dari ruangan itu. Dia berjalan menuju toilet, tetapi saat dalam perjalanan kembali dari toilet dia bertemu dengan Hana. Hana terlihat sedikit pucat, tetapi masih ada rasa bahagia yang tepancar dari wajahnya.

“Hana? Sedang apa kau disini? Kudengar kau sedang sakit?” Yunho mulai bertanya.

“Oppa, ada apa dengan wajahmu? Siapa yang membuat wajahmu seperti ini?” Hana mengalihkan pembicaraan, dan dia memegang halus wajah Yunho yang penuh memar.

“Bukan siapa-siapa. Eh?! Jangan mengalihkan pembicaraan, sedang apa kau disini?”

Yunho dan Hana segera mencari tempat duduk, sepertinya mereka akan berbicara.

“Aku mencari Jaejoong oppa, karena hari ini aku bisa pulang dari rumah sakit.” Dia tersenyum, senyuman yang sangat hangat.

“Biar aku yang panggilkan Jaejoong. Kau tunggu di sini saja.” Tawar Yunho

“Tak perlu, kurasa Jaejoong oppa harus menyelesaikan masalahnya.” Hana kembali tersenyum. “Kenapa kau bisa mendapatkan luka di keningmu? Apa Jaejoong oppa yang melakukannya?”

“Kau tak perlu cemas, luka seperti ini akan cepat sembuh.” Yunho menyentuh keningnya yang sudah di perban dengan rapi. “Kau sakit apa? Kudengar dari Jaejoong kalau kau sakit?”

“Aku tidak sakit oppa.”

“Lalu kenapa kau berada di rumah sakit jika kau tak sakit?”

Hana terkekeh pelan. “Apa Jaejoong oppa tidak menceritakannya padamu?”

“Tidak, kurasa dia tidak membicarakan apapun yang berhubungan denganmu akhir-akhir ini.”

Hana cemberut mendengarkan penjelasan Yunho, Hana bertanya dalam hati apakah Jaejoong tidak ingin membagi kabar bahagia ini dengan Yunho oppa dan yang lainnya, padahal dia berharap Jaejoong yang menceritakan hal ini bukan dari dia.

Hana tertawa, tapi tak ada satupun hal lucu yang patut untuk di tertawakan. Tapi suara tawanya sangat indah, melengking dan sangat dalam.

“Apa yang lucu?” Yunho bertanya karena dia bingung kenapa Hana tertawa seperti itu.

“Tidak oppa, tidak ada.”

“Lalu kau sakit apa?”

“Aku tidak sakit.” Hana mulai tertunduk. “Aku sedang hamil.”

Sekarang giliran Yunho yang kehilangan kata-kata, dia jarang mendengar kataa-kata ini dan sekarang wajah Hana yang berubah menjadi merah.

“Wah, pasti Jaejoong sangat bahagia.” Yunho tak tahu dia harus berkata apalagi, “Selamat ya.”

Hana tersenyum, dia mulai berdiri dan menguap. Mungkin dia merasa lelah.

“Aku akan kembali menuju kamarku, bila kau bertemu Jaejoong oppa katakan padanya bahwa aku akan pulang tanpa-nya.”

“Baiklah.”

Tiba-tiba saat Hana berdiri, dia kehilangan kesimbangan tubuhnya, dan dia terjatuh ke samping. Untung saja ada Yunho disampingnya yang mampu menangkap tubuh mungil Hana.

Jaejoong muncul, dan apa yang dilihatnya merupakan sesuatu yang membuat amarahnya kembali memuncak.

“Apa yang kau lakukan dengan istriku?!” Ujar Jaejoong, dia masih tidak mempercayai apa yang telah di lihatnya,

***

Jaejoong POV

“Apa yang kau lakukan dengan istriku?!” kataku.

Aku tidak mempercayai apa yang baru saja kulihat, istriku yang sedang mengandung anakku berpelukan dengan orang lain dalam posisi seperti ini, di tempat umum.

Hana segera bangkit dari pelukan Yunho, kurasa Hana sedikit salah tingkah, dan Yunho? Dia malah mengacak-acak rambutnya.

“Jaejoong oppa, kau salah paham.” Hana berkata, dia mendekatiku.

“Jaejoong, kau jangan salah paham. Aku tidak melakukan apapun terhadap istrimu…” Yunho mulai menjelaskan, tapi emosi membuatku memotong penjelasan itu.

“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” Aku membentak Yunho dan Hana.

“Jaejoong, dengar tadi Hana..”

“Aku tak butuh penjelasan dari kalian.” Aku memotong kalimat Yunho

“Oppa,kumohon dengarkan aku dulu.” Hana terlihat sedih, dan nada memohon terdengar jelas dari suaranya.

“Apa?!” aku membentak Hana. “Aku juga tak butuh penjelasan darimu!”

“Oppa, kumohon” Hana mulai memohon.

“Aku berusaha untuk memberi perhatian lebih padamu! Aku mulai berusaha menjaga perasaanmu! Tapi apa yang kau lakukan?! Berpelukan di tempat umum dengan pria lain!”

“Kami tidak berpelukan oppa, Yunho oppa hanya..” Hana mulai terisak, sebulir air mata mengalir melewati pipinya.

Aku berniat pergi dari sini, aku muak melihat ini. Bagaimana bisa mereka berpelukan di depanku.

Hana mencegahku pergi, dia mencengkram erat tanganku. Aku melepaskan cengkraman itu dengan kuat. Dan menyebabkan Hana hampir terjatuh, dan Yunho yang menangkap tubuh mungil Hana, tubuh mungil istriku!

“Jaejoong!” Yunho meraih bahuku dan

BUKK!!!! Sebuah tinju mendarat sempurna di rahangku, aku merasakan darah segar kembali mengalir untuk kedua kalinya, setelah Yoochun memukulku untuk yang pertama kalinya.

“Apa yang kau lakukan!!” Aku membentak Yunho

“Hana itu istrimu, kenapa kau memperlakukannya seolah-olah dia itu bonekamu!!” Yunho membentakku “Kupikir kau bisa menghargai wanita seperti Hana, kupikir kau bisa melindungi Hana! Tapi apa yang kau lakukan?! Kau membentakknya dan tak mau mendengar penjelasannya! Kau tak mengerti perasaannya!!”

“Apa urusanmu?!!”

“Kau hanya bisa membuatnya menangis!! Kalau sejak awal aku tau kau akan menyakitinya, maka aku tidak akan menyetujui pernikahan ini!!”

BUKKK! Sekarang aku yang melayangkan tinjuku dan mendarat sempurna di rahangnya.

“Jangan urusi masalah rumah tangga kami!!” aku menggeram.

“Kalau begitu, jangan pernah kau berbuat kasar kepada Hana!!”

“Kau pikir kau siapa?!” Amarahku kembali memuncak, “Jangan memerintahku!”

“Hana!!” Yunho menunjuk kearah Hana. “Dia adalah istrimu!! Apa kau tidak merasa bersalah telah meyia-nyiakannya?! JIka kau berbuat seperti ini terus, kau akan kehilangannya!!”

BUKK!!! Aku melayangkan tinjuku sekali lagi, dan mendarat sempurna dia matanya sebelah kanan.

“Sudah cukup” Hana mulai menangis. “Janganlah kalian betengkar karena aku.”

Aku melihat air mata mengalir di wajah cantik Hana. Dia memeluk lenganku, menyembunyikan wajah murungnya. Sekali lagi aku menatap Yunho. Entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa menyesal karena telah memukul wajahnya. Aku kira masalahku sudah cukup pada Yoochun saja, tapi tak kusangka sekarang aku harus dihadapkan dengan masalah seperti ini. Memalukan sekali.

“Ayo kita pulang!” ucapku sambil menarik tangan Hana dengan kasar. Kulihat Yunho masih menatap sinis padaku. Tapi bagaimanapun, aku tak menghiraukannya. Bahkan aku tetap menyeret tangan Hana sampai pergelangan tangannya memerah karena cengkramanku.
 
Sesampainya di mobil, aku segera menyuruhnya duduk dan memasang safety belt. Aku menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak kuhiraukan dia yang masih tertunduk menahan air matanya. Aku sebenarnya tak mau melakukan ini. Menyakiti Hana ataupun Yunho. Tapi kenapa aku harus melihat kejadian itu di saat masalahku sedang benar-benar rumit? Kenapa aku seolah tak bisa menghirup udara segar walau hanya sejenak? Aku lelah. Aku ingin lepas dari semua ini.

“Hana…” panggilku antara yakin dan tidak. Dia tidak menjawab. “Aku tahu aku sudah benar-benar keterlaluan. Aku minta maaf. Tadi aku sedang emosi, jadi aku seenaknya berkata seperti itu. Asal kau tahu saja, aku melakukannya karena aku tak ingin kehilanganmu.”

Suaraku pasti terdengar sangat menyedihkan. Tapi aku harus bagaimana lagi? Aku tak mau terus-menerus bertengkar dengan Hana. Aku sudah cukup lelah dengan masalah SM.

“Aku tidak pernah keberatan jika kau membentakku, oppa. Tapi aku tidak mau melihatmu bersikap kasar di depan Yunho oppa atau siapapun. Terlebih lagi, Yunho oppa tadi hanya ingin menolongku. Tidak lebih. Tolong kau sadari keegosianmu itu. Jangan langsung menilai sesuatu yang tidak kau ketahui secara pasti.”

Aku menelan ludah mendengar ucapan Hana. Aku tahu dia kesal padaku. Bahkan mungkin sudah berkali-kali aku membuatnya kesal. Tapi sedikitpun, aku tidak pernah melihat kebencian di matanya, seperti yang seringkali aku tunjukkan saat aku sedang marah. Dia benar-benar istri yang sempurna. Aku tidak tahu kenapa aku tidak juga menyadari karunia itu sejak awal.

“Aku berjanji akan meminta maaf pada Yunho.” Ucapku kemudian.

Hana mengangguk, lalu tersenyum lega.

“Oppa…” katanya dengan suara agak serak.

“Mm?”

“Apa Dong Bang Shin Ki sudah tak mungkin bersatu lagi?” pertanyaannya yang satu ini membuatku merasakan kegetiran yang luar biasa. “Aku berharap kalian bersatu lagi. Aku masih tetap menjadi Cassiopeia sampai sekarang. Bahkan sampai akhir hidupku nanti.”

Aku tersenyum palsu mendengar ucapannya. Aku hampir lupa bahwa dia juga seorang Cassie. Apakah isi hati para Cassie lain juga sama dengan Hana? Apakah mereka semua benar-benar ingin kami kembali dengan formasi yang utuh?

Tapi kini semuanya sudah terlambat. Yoochun terlibat masalah hukum yang cukup rumit dengan produser SM. Junsu sudah memilih karir sebagai penyanyi solo. Yunho dan Changmin juga sudah tidak rukun lagi. Lalu bagaimana denganku? Membentuk kembali grup itu memang cita-cita besarku. Tapi kurasa aku tak boleh egois. Saat keempat member lain telah menentukan arah perjalanan mereka, maka aku tak bisa mempengaruhi mereka untuk sejalan denganku.

“Kau berdoa saja ya, semoga kami berhasil membakar gedung SM dan membentuk grup itu lagi.”

“Jangan, oppa.” suara Hana agak tertahan. Aku menoleh sambil memelankan laju mobilku. “Aku sudah bosan mendengar berita bahwa kau membuat keributan di SM. aku tak ingin kau membuat keributan yang lebih parah lagi. Waktu itu kau bilang, kau akan damai dengan produser SM. kenapa sampai sekarang kau tidak damai juga?”

“Keadaannya sudah berbeda, Hana. Kukira si tua bangka itu benar-benar serius ingin menyatukan kami kembali. Tapi ternyata, dia hanya mempermainkan kami.”

“Mempermainkan bagaimana?”

“Kau baru akan mengerti setelah kau melihat sendiri apa yang terjadi di antara kami berlima.”

***

Author POV

Malam sudah lewat, tapi pagi belum menjelang. Yoochun duduk di atas tempat tidurnya, masih memeluk bantal dan memejamkan mata. Sekilas, ia memang tampak tengah tertidur. Tapi sebenarnya tidak. Ia sedang memasang sebuah earphone dan mendengarkan lagu dari ponselnya. Lagu yang sudah tak pernah didengarnya lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Ia mendengar suaranya, suara Jaejoong, suara Changmin, suara Junsu dan Yunho. Kapan ter-akhir kali mereka membawakan lagu bersama-sama? Entahlah, ia tak ingat. Untuk apa ia ingat sesuatu yang hanya akan menambah rasa sakitnya? 

R-E-M-E-M-B-E-R

Yoochun mengeja judul lagu itu. Ia bernyanyi dalam hati. Mengikuti suara siapapun yang sedang mengalun dalam lagu yang didengarnya itu.

Ia sudah berharap dapat membentuk grup yang hilang itu. Ia pikir kali ini SM akan benar-benar setuju untuk mengorbitkan mereka lagi. Tapi ternyata, SM memang tak pernah me-mihak pada mereka. Dan kini ia benar-benar menyesal karena telah berpikir bahwa grup yang dicintainya itu bisa diutuhkan lagi. Misi produser gila itu sudah terlaksana. Sekarang mereka berlima benar-benar sudah tak sejalan. Bukankah itu yang si tua bangka inginkan? Melihat mereka berlima hancur dalam perangkap liciknya. Yoochun memukul bantal dengan keras saat ia mencoba menahan amarah saat teringat semua kebohongan itu.

“Honey?” Yoochun mendengar suara yang dikenalnya. Ia menatap ke arah pintu. Meissy muncul di sana dan tersenyum. Yoochun balas tersenyum dan segera bangkit dari tempat tidur.

“Aku kira hari ini kau tidak akan datang.” Yoochun menyambut sambil berpindah ke sofa. Meissy tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan menaruh tas besarnya di sudut kamar Yoochun.

“Aku dengar kau membuat masalah lagi dengan produser itu.” Ucap Meissy. Yoochun hanya mendesah tak punya pilihan. Ia membiarkan Meissy lantas duduk di sampingnya. “Apa yang sudah kau lakukan padanya?” Meissy seolah mendesak Yoochun untuk menjawab.

“Aku hanya memberinya sedikit pelajaran.”

Meissy mengangguk. “Jadi kau dan kelima rekanmu itu tidak akan bergabung lagi?”

Yoochun tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ah, bukan tidak bisa. Tepatnya, ia tidak sanggup.

“Mungkin… tidak.” Jawab Yoochun lebih seperti bergumam.

Ya, tidak segampang itu mengatakan bahwa grup yang dicintainya benar-benar tidak akan kembali lagi. Tapi ia harus menerima kenyataan. Ia harus menyadari situasi yang sedang dihadapinya saat ini. Sebuah tantangan di ruang pengadilan akan siap menekannya masuk ke dalam penjara. Tapi Yoochun sama sekali tidak takut dengan hal itu. Rasa benci dan dendamnya membuat hatinya begitu kuat dan sanggup menatap ancaman yang akan membahayakannya.

“Jadi apa rencanamu selanjutnya?” tanya Meissy saat Yoochun hanya diam memaku.

“Aku akan menjebloskan produser itu ke penjara.”

“Kenapa kau yakin sekali bisa mengalahkannya di pengadilan?”

“Karena aku tidak bersalah. Dia yang bersalah!”

“Tapi apa kau lupa? Hukum itu tidak adil. Yang lebih kuat akan mengalahkan yang lebih benar.”

Perkataan Meissy membuat Yoochun jadi berpikir dua kali. Dia mengingat pengadilan beberapa tahun lalu, saat dia duduk bersama kelima rekannya menghadapi pihak SM. sudah jelas SM yang bersalah, tapi pada akhirnya SM yang memenangkan pengadilan itu entah dengan jalan apa. Tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk mata Yoochun. Dia kecewa pada ketidakadilan ini. Dan dia lebih kecewa lagi pada keempat rekannya yang bahkan tak mau mendengarkan kata-katanya.

“Lalu menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Yoochun akhirnya.

“Hadapi pengadilan itu. Dan aku akan membantumu untuk memenangkannya.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku akan membuat mereka terpojok dan mengakui kesalahan mereka di depan hakim.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar