Author POV
Setelah Junsu keluar dari ruangan itu, Yunho menyusul
keluar dari ruangan itu. Dia berjalan menuju toilet, tetapi saat dalam
perjalanan kembali dari toilet dia bertemu dengan Hana. Hana terlihat sedikit
pucat, tetapi masih ada rasa bahagia yang tepancar dari wajahnya.
“Hana? Sedang apa kau disini? Kudengar kau sedang
sakit?” Yunho mulai bertanya.
“Oppa, ada apa dengan wajahmu? Siapa yang membuat
wajahmu seperti ini?” Hana mengalihkan pembicaraan, dan dia memegang halus
wajah Yunho yang penuh memar.
“Bukan siapa-siapa. Eh?! Jangan mengalihkan
pembicaraan, sedang apa kau disini?”
Yunho dan Hana segera mencari tempat duduk, sepertinya
mereka akan berbicara.
“Aku mencari Jaejoong oppa, karena hari ini aku bisa
pulang dari rumah sakit.” Dia tersenyum, senyuman yang sangat hangat.
“Biar aku yang panggilkan Jaejoong. Kau tunggu di sini
saja.” Tawar Yunho
“Tak perlu, kurasa Jaejoong oppa harus menyelesaikan
masalahnya.” Hana kembali tersenyum. “Kenapa kau bisa mendapatkan luka di
keningmu? Apa Jaejoong oppa yang melakukannya?”
“Kau tak perlu cemas, luka seperti ini akan cepat
sembuh.” Yunho menyentuh keningnya yang sudah di perban dengan rapi. “Kau sakit
apa? Kudengar dari Jaejoong kalau kau sakit?”
“Aku tidak sakit oppa.”
“Lalu kenapa kau berada di rumah sakit jika kau tak
sakit?”
Hana terkekeh pelan. “Apa Jaejoong oppa tidak
menceritakannya padamu?”
“Tidak, kurasa dia tidak membicarakan apapun yang
berhubungan denganmu akhir-akhir ini.”
Hana cemberut mendengarkan penjelasan Yunho, Hana
bertanya dalam hati apakah Jaejoong tidak ingin membagi kabar bahagia ini
dengan Yunho oppa dan yang lainnya, padahal dia berharap Jaejoong yang
menceritakan hal ini bukan dari dia.
Hana tertawa, tapi tak ada satupun hal lucu yang patut
untuk di tertawakan. Tapi suara tawanya sangat indah, melengking dan sangat
dalam.
“Apa yang lucu?” Yunho bertanya karena dia bingung
kenapa Hana tertawa seperti itu.
“Tidak oppa, tidak ada.”
“Lalu kau sakit apa?”
“Aku tidak sakit.” Hana mulai tertunduk. “Aku sedang
hamil.”
Sekarang giliran Yunho yang kehilangan kata-kata, dia
jarang mendengar kataa-kata ini dan sekarang wajah Hana yang berubah menjadi
merah.
“Wah, pasti Jaejoong sangat bahagia.” Yunho tak tahu
dia harus berkata apalagi, “Selamat ya.”
Hana tersenyum, dia mulai berdiri dan menguap. Mungkin
dia merasa lelah.
“Aku akan kembali menuju kamarku, bila kau bertemu
Jaejoong oppa katakan padanya bahwa aku akan pulang tanpa-nya.”
“Baiklah.”
Tiba-tiba saat Hana berdiri, dia kehilangan
kesimbangan tubuhnya, dan dia terjatuh ke samping. Untung saja ada Yunho
disampingnya yang mampu menangkap tubuh mungil Hana.
Jaejoong muncul, dan apa yang dilihatnya merupakan
sesuatu yang membuat amarahnya kembali memuncak.
“Apa yang kau lakukan dengan istriku?!” Ujar Jaejoong,
dia masih tidak mempercayai apa yang telah di lihatnya,
***
Jaejoong POV
“Apa yang kau lakukan dengan istriku?!” kataku.
Aku tidak mempercayai apa yang baru saja kulihat,
istriku yang sedang mengandung anakku berpelukan dengan orang lain dalam posisi
seperti ini, di tempat umum.
Hana segera bangkit dari pelukan Yunho, kurasa Hana
sedikit salah tingkah, dan Yunho? Dia malah mengacak-acak rambutnya.
“Jaejoong oppa, kau salah paham.” Hana berkata, dia
mendekatiku.
“Jaejoong, kau jangan salah paham. Aku tidak melakukan
apapun terhadap istrimu…” Yunho mulai menjelaskan, tapi emosi membuatku
memotong penjelasan itu.
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” Aku
membentak Yunho dan Hana.
“Jaejoong, dengar tadi Hana..”
“Aku tak butuh penjelasan dari kalian.” Aku memotong
kalimat Yunho
“Oppa,kumohon dengarkan aku dulu.” Hana terlihat
sedih, dan nada memohon terdengar jelas dari suaranya.
“Apa?!” aku membentak Hana. “Aku juga tak butuh
penjelasan darimu!”
“Oppa, kumohon” Hana mulai memohon.
“Aku berusaha untuk memberi perhatian lebih padamu!
Aku mulai berusaha menjaga perasaanmu! Tapi apa yang kau lakukan?! Berpelukan
di tempat umum dengan pria lain!”
“Kami tidak berpelukan oppa, Yunho oppa hanya..” Hana
mulai terisak, sebulir air mata mengalir melewati pipinya.
Aku berniat pergi dari sini, aku muak melihat ini.
Bagaimana bisa mereka berpelukan di depanku.
Hana mencegahku pergi, dia mencengkram erat tanganku.
Aku melepaskan cengkraman itu dengan kuat. Dan menyebabkan Hana hampir
terjatuh, dan Yunho yang menangkap tubuh mungil Hana, tubuh mungil istriku!
“Jaejoong!” Yunho meraih bahuku dan
BUKK!!!! Sebuah tinju mendarat sempurna di rahangku,
aku merasakan darah segar kembali mengalir untuk kedua kalinya, setelah Yoochun
memukulku untuk yang pertama kalinya.
“Apa yang kau lakukan!!” Aku membentak Yunho
“Hana itu istrimu, kenapa kau memperlakukannya
seolah-olah dia itu bonekamu!!” Yunho membentakku “Kupikir kau bisa menghargai
wanita seperti Hana, kupikir kau bisa melindungi Hana! Tapi apa yang kau
lakukan?! Kau membentakknya dan tak mau mendengar penjelasannya! Kau tak
mengerti perasaannya!!”
“Apa urusanmu?!!”
“Kau hanya bisa membuatnya menangis!! Kalau sejak awal
aku tau kau akan menyakitinya, maka aku tidak akan menyetujui pernikahan ini!!”
BUKKK! Sekarang aku yang melayangkan tinjuku dan
mendarat sempurna di rahangnya.
“Jangan urusi masalah rumah tangga kami!!” aku
menggeram.
“Kalau begitu, jangan pernah kau berbuat kasar kepada
Hana!!”
“Kau pikir kau siapa?!” Amarahku kembali memuncak,
“Jangan memerintahku!”
“Hana!!” Yunho menunjuk kearah Hana. “Dia adalah
istrimu!! Apa kau tidak merasa bersalah telah meyia-nyiakannya?! JIka kau
berbuat seperti ini terus, kau akan kehilangannya!!”
BUKK!!! Aku melayangkan tinjuku sekali lagi, dan
mendarat sempurna dia matanya sebelah kanan.
“Sudah cukup” Hana mulai menangis. “Janganlah kalian
betengkar karena aku.”
Aku melihat air mata mengalir di wajah cantik Hana.
Dia memeluk lenganku, menyembunyikan wajah murungnya. Sekali lagi aku menatap
Yunho. Entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa menyesal karena telah memukul
wajahnya. Aku kira masalahku sudah cukup pada Yoochun saja, tapi tak kusangka
sekarang aku harus dihadapkan dengan masalah seperti ini. Memalukan sekali.
“Ayo kita pulang!” ucapku sambil menarik tangan Hana
dengan kasar. Kulihat Yunho masih menatap sinis padaku. Tapi bagaimanapun, aku
tak menghiraukannya. Bahkan aku tetap menyeret tangan Hana sampai pergelangan
tangannya memerah karena cengkramanku.
Sesampainya di mobil, aku segera menyuruhnya duduk dan memasang safety belt.
Aku menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak kuhiraukan dia yang masih tertunduk
menahan air matanya. Aku sebenarnya tak mau melakukan ini. Menyakiti Hana
ataupun Yunho. Tapi kenapa aku harus melihat kejadian itu di saat masalahku
sedang benar-benar rumit? Kenapa aku seolah tak bisa menghirup udara segar
walau hanya sejenak? Aku lelah. Aku ingin lepas dari semua ini.
“Hana…”
panggilku antara yakin dan tidak. Dia tidak menjawab. “Aku tahu aku sudah
benar-benar keterlaluan. Aku minta maaf. Tadi aku sedang emosi, jadi aku
seenaknya berkata seperti itu. Asal kau tahu saja, aku melakukannya karena aku
tak ingin kehilanganmu.”
Suaraku pasti terdengar sangat menyedihkan. Tapi aku
harus bagaimana lagi? Aku tak mau terus-menerus bertengkar dengan Hana. Aku
sudah cukup lelah dengan masalah SM.
“Aku tidak pernah keberatan jika kau membentakku,
oppa. Tapi aku tidak mau melihatmu bersikap kasar di depan Yunho oppa atau
siapapun. Terlebih lagi, Yunho oppa tadi hanya ingin menolongku. Tidak lebih.
Tolong kau sadari keegosianmu itu. Jangan langsung menilai sesuatu yang tidak
kau ketahui secara pasti.”
Aku menelan ludah mendengar ucapan Hana. Aku tahu dia
kesal padaku. Bahkan mungkin sudah berkali-kali aku membuatnya kesal. Tapi
sedikitpun, aku tidak pernah melihat kebencian di matanya, seperti yang
seringkali aku tunjukkan saat aku sedang marah. Dia benar-benar istri yang
sempurna. Aku tidak tahu kenapa aku tidak juga menyadari karunia itu sejak
awal.
“Aku berjanji akan meminta maaf pada Yunho.” Ucapku
kemudian.
Hana mengangguk, lalu tersenyum lega.
“Oppa…” katanya dengan suara agak serak.
“Mm?”
“Apa Dong Bang Shin Ki sudah tak mungkin bersatu
lagi?” pertanyaannya yang satu ini membuatku merasakan kegetiran yang luar
biasa. “Aku berharap kalian bersatu lagi. Aku masih tetap menjadi Cassiopeia sampai sekarang. Bahkan sampai akhir hidupku nanti.”
Aku tersenyum palsu mendengar ucapannya. Aku hampir
lupa bahwa dia juga seorang Cassie. Apakah isi hati para Cassie lain juga sama
dengan Hana? Apakah mereka semua benar-benar ingin kami kembali dengan formasi yang
utuh?
Tapi kini semuanya sudah terlambat. Yoochun terlibat
masalah hukum yang cukup rumit dengan produser SM. Junsu sudah memilih karir
sebagai penyanyi solo. Yunho dan Changmin juga sudah tidak rukun lagi. Lalu
bagaimana denganku? Membentuk kembali grup itu memang cita-cita besarku. Tapi
kurasa aku tak boleh egois. Saat keempat member lain telah menentukan arah
perjalanan mereka, maka aku tak bisa mempengaruhi mereka untuk sejalan
denganku.
“Kau berdoa saja ya, semoga kami berhasil membakar
gedung SM dan membentuk grup itu lagi.”
“Jangan, oppa.” suara Hana agak tertahan. Aku menoleh
sambil memelankan laju mobilku. “Aku sudah bosan mendengar berita bahwa kau
membuat keributan di SM. aku tak ingin kau membuat keributan yang lebih parah
lagi. Waktu itu kau bilang, kau akan damai dengan produser SM. kenapa sampai
sekarang kau tidak damai juga?”
“Keadaannya sudah berbeda, Hana. Kukira si tua bangka
itu benar-benar serius ingin menyatukan kami kembali. Tapi ternyata, dia hanya
mempermainkan kami.”
“Mempermainkan bagaimana?”
“Kau baru akan mengerti setelah kau melihat sendiri
apa yang terjadi di antara kami berlima.”
***
Author POV
Malam sudah lewat, tapi pagi belum menjelang. Yoochun
duduk di atas tempat tidurnya, masih memeluk bantal dan memejamkan mata. Sekilas,
ia memang tampak tengah tertidur. Tapi sebenarnya tidak. Ia sedang memasang
sebuah earphone dan mendengarkan lagu dari ponselnya. Lagu yang sudah tak
pernah didengarnya lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Ia mendengar suaranya,
suara Jaejoong, suara Changmin, suara Junsu dan Yunho. Kapan ter-akhir kali
mereka membawakan lagu bersama-sama? Entahlah, ia tak ingat. Untuk apa ia ingat
sesuatu yang hanya akan menambah rasa sakitnya?
R-E-M-E-M-B-E-R
Yoochun mengeja judul lagu itu. Ia bernyanyi dalam
hati. Mengikuti suara siapapun yang sedang mengalun dalam lagu yang didengarnya
itu.
Ia sudah berharap dapat membentuk grup yang hilang
itu. Ia pikir kali ini SM akan benar-benar setuju untuk mengorbitkan mereka
lagi. Tapi ternyata, SM memang tak pernah me-mihak pada mereka. Dan kini ia
benar-benar menyesal karena telah berpikir bahwa grup yang dicintainya itu bisa
diutuhkan lagi. Misi produser gila itu sudah terlaksana. Sekarang mereka
berlima benar-benar sudah tak sejalan. Bukankah itu yang si tua bangka inginkan?
Melihat mereka berlima hancur dalam perangkap liciknya. Yoochun memukul bantal
dengan keras saat ia mencoba menahan amarah saat teringat semua kebohongan itu.
“Honey?” Yoochun mendengar suara yang dikenalnya. Ia
menatap ke arah pintu. Meissy muncul di sana dan tersenyum. Yoochun balas
tersenyum dan segera bangkit dari tempat tidur.
“Aku kira hari ini kau tidak akan datang.” Yoochun
menyambut sambil berpindah ke sofa. Meissy tidak menjawab, ia hanya tersenyum
dan menaruh tas besarnya di sudut kamar Yoochun.
“Aku dengar kau membuat masalah lagi dengan produser
itu.” Ucap Meissy. Yoochun hanya mendesah tak punya pilihan. Ia membiarkan
Meissy lantas duduk di sampingnya. “Apa yang sudah kau lakukan padanya?” Meissy
seolah mendesak Yoochun untuk menjawab.
“Aku hanya memberinya sedikit pelajaran.”
Meissy mengangguk. “Jadi kau dan kelima rekanmu itu
tidak akan bergabung lagi?”
Yoochun tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ah, bukan
tidak bisa. Tepatnya, ia tidak sanggup.
“Mungkin… tidak.” Jawab Yoochun lebih seperti
bergumam.
Ya, tidak segampang itu mengatakan bahwa grup yang
dicintainya benar-benar tidak akan kembali lagi. Tapi ia harus menerima
kenyataan. Ia harus menyadari situasi yang sedang dihadapinya saat ini. Sebuah
tantangan di ruang pengadilan akan siap menekannya masuk ke dalam penjara. Tapi
Yoochun sama sekali tidak takut dengan hal itu. Rasa benci dan dendamnya
membuat hatinya begitu kuat dan sanggup menatap ancaman yang akan
membahayakannya.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya?” tanya Meissy saat
Yoochun hanya diam memaku.
“Aku akan menjebloskan produser itu ke penjara.”
“Kenapa kau yakin sekali bisa mengalahkannya di
pengadilan?”
“Karena aku tidak bersalah. Dia yang bersalah!”
“Tapi apa kau lupa? Hukum itu tidak adil. Yang lebih
kuat akan mengalahkan yang lebih benar.”
Perkataan Meissy membuat Yoochun jadi berpikir dua
kali. Dia mengingat pengadilan beberapa tahun lalu, saat dia duduk bersama
kelima rekannya menghadapi pihak SM. sudah jelas SM yang bersalah, tapi pada
akhirnya SM yang memenangkan pengadilan itu entah dengan jalan apa. Tanpa
terasa air mata menggenang di pelupuk mata Yoochun. Dia kecewa pada
ketidakadilan ini. Dan dia lebih kecewa lagi pada keempat rekannya yang bahkan
tak mau mendengarkan kata-katanya.
“Lalu menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Yoochun
akhirnya.
“Hadapi pengadilan itu. Dan aku akan membantumu untuk
memenangkannya.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku akan membuat mereka terpojok dan mengakui
kesalahan mereka di depan hakim.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar