Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 3

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com

Chang Su POV

Aku mengikuti Soo Jin memasuki ruangan dokter. Aku tidak tahu di mana Iseul, tapi aku berharap dia ada di rumah atau bersama seseorang yang kami kenal. Aku ingin memastikan bahwa Jaejoong baik-baik saja. Jika dia sudah stabil, aku bisa mencari Iseul.

Betapa sedihnya… dalam situasi ini, Iseul dinomorduakan.

Aku memasuki ruangan itu dengannya. Aku masih tak mau bicara dengannya, tapi aku ingin mendengar apa yang dibicarakannya dengan dokter. Dokter melihat kami dan mempersilahkan kami duduk.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanyanya, sambil melepas kacamata.

“Aku ingin bertanya. Sejak Iseul masih kecil, jika dia tidak mau mendonor, bisakah kami memutuskan dia menjadi penjaga Jaejoong?” tanya Soo Jin.

Tanganku mengepalkan tinju. Jadi ini yang diinginkan Soo Jin. Memanfaatkan Iseul. Soo Jin mengambil keuntungan terlalu banyak dari Iseul. Ketika aku ingin membuka mulut untuk bicara, dokter merespon, dengan nada marah.

“Dr. Kim!” katanya. “Kau tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal ini. Meskipun keputusanmu dia adalah penjaga, jika pasien tidak ingin mendonor, kita tidak boleh memaksa mereka. Pada akhirnya, pasien tetap yang paling penting.”

“Di samping itu.” Ucapku, menatap Soo Jin dengan marah. “Aku tidak akan pernah memaksa puteriku untuk melakukan sesuatu yang tak ingin dilakukannya.”

Soo Jin menatapku dengan pandangan dingin. “Sekalipun, jika dia tidak melakukannya, itu mungkin akan membunuh puteramu?”

Aku merasa tenggorokanku tersendat. Aku menatapnya dalam-dalam. “Soo Jin, kenapa kau malah menyalahkannya?” tanyaku.

“Karena, Chang Su, jika dia tidak mendonor, Jaejoong akan mati! Apa kau tidak bisa melihatnya? Mana yang lebih penting? Hidup puteramu atau keinginan puterimu?” dia membalas.

Aku kembali menatapnya. “Sejauh ini, hidup putera kita masih terjaga, selalu. Dan sekarang aku rasa masalahnya justru terletak padamu.”

“Kau salah! Kau kira Iseul akan kucelakai? Tentu saja tidak! Dia puteriku!”

“Dan puteriku juga!” jawabku marah.

“Ya, tapi putera kita yang lebih membutuhkan bantuan saat ini. Jika anak kita jatuh, kau tidak mungkin membiarkannya dalam ketidak nyamanan sementara kau masih berdiri tenang!”

“Dan jika kita menghentikan anak kita jatuh, kita tidak akan pernah mengajarinya berdiri sendiri.” Balasku. “Jika harus ada yang disalahkan dalam kasus ini, Soo Jin, maka itu adalah kita.” Aku menambahkan. Aku berjalan keluar meninggalkan keterpanaannya dan dokter di posisi yang sangat tidak nyaman.

Yunho POV

Aku sampai di rumah sakit dan mengetuk pintu Jaejoong dengan nyaring. Aku mendengar suara letihnya. 

“Masuklah.”

“Hey Jae.” Ucapku sambil mendekat. Jaejoong tersenyum.

“Ap..a ka..bar?” tanyanya.

“Tak jauh berbeda.” Jawabku. “Bagaimana keadaanmu?”

“Le…bih baa..ik.”

“Baguslah.” Ucapku. “Dengarlah, Jaejoong, aku ingin memberitahumu sesuatu.” Dia menatapku dengan mata serius. “Pertama, biarkan aku bertanya sesuatu… apa kau berdebat dengan Iseul tentang sesuatu?”

“Ti…dak.” Jawabnya.

“Baiklah, mungkin masalahnya ada di orang tuamu. Beritanya adalah, dia datang ke rumahku dan bertanya apakah dia boleh tinggal. Ibuku mengizinkannya untuk tinggal, dan jangan cemas kami tidur berjauhan satu sama lain.” Aku menambahkan.

Dia tersenyum padaku dan mengangguk. “I..seu..l berteng..kar de..ngan ibu…ak..hir..akh..hir inn..ni.”

Aku mengangguk. “Pantas saja. Tapi dia tak ingin ayah dan ibumu tahu, aku hanya ingin memberitahumu bahwa dia baik-baik saja.” Ucapku. Dia mengangguk.

“Te..rima…ka..ssih..Yu..n…ho.” balasnya. “Akku… tak ta..hu ke man..na dia per…gih bebe.. rap..pa ha..ri inn..i.”

“Dia aman, Jae.” Balasku. Kemudian tiba-tiba kami mendengar suara marah di luar pintu. Aku melirik Jaejoong dan dia mengangkat bahu. Aku mendekat ke pintu dan membukanya untuk melihat ayah dan ibu Jaejoong. Ibunya bicara dengan marah pada seorang yang mengenakan jas sementara Mr. Kim berusaha menenangkannya.

“Apa maksudmu?! Bagaimana bisa puteri kami menuntut kami?! Apa yang menyebabkannya harus menuntut kami?!!” ucap Mrs. Kim marah.

“Untuk masalah pemaksaanmu mengambil bagian organnya.” Pengacara merespon.

“Dia di bawah umur, dia tidak bisa menuntut kami!”

“Tapi dia bisa. Izinnya diberikan kemarin.” Jawab pengacara tenang.

“Oleh siapa?!”

“Olehku.” Mr. Kim berkata. Mrs. Kim menatapnya. “Iseul benar, dia sudah dewasa sekarang, suka atau tidak, dia lebih dari sekedar alat.”

“Kau mendukungnya?” tanya Mrs. Kim.

“Sama sepertimu, aku ingin menjaga Jaejoong. Tapi aku juga ingin menjaga puteriku.”

Iseul POV

Yunho menatapku dengan cara berbeda hari akhir-akhir ini. Dia tahu apa yang sudah aku lakukan, aku yakin itu. Dan sekarang, dia tampak sedang menghakimiku. Aku tidak peduli kalaupun dia membenciku sekarang, atau seluruh dunia membenciku, aku akan tetap pada pendirianku.

Ini sudah lewat seminggu. Ayahku memberikan izin padaku untuk melakukan tuntutan selama dia tahu di mana keberadaanku. Aku membiarkannya tahu bahwa aku aman, bersama Yunho. Dia masih belum mengunjungiku. Aku percaya walaupun sebagian dirinya ingin membantuku, sebagian dirinya yang lain juga membenciku.

Aku mencuci piring terakhirku dengan hati-hati, memastikannya benar-benar bersih. Ketika aku beranjak duduk, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Yunho memasuki kamar dan tersenyum padaku.

“Kau tidak perlu melakukannya.” Ucap Yunho.

“Aku hanya ingin membantu.” Jawabku.

Yunho tersenyum. Dia menatap ke arah jendela dan berkata. “Jaejoong ingin bertemu denganmu.”

Aku tersenyum. “Aku tak bisa menemuinya. Ibuku tidak akan mengizinkanku.”

Tanpa berpikir panjang, ia bertanya. “Kenapa?” aku tahu apa yang benar-benar ingin diketahuinya. Dan aku tahu kenapa aku melakukan hal ini.

“Pernahkah kau berpikir… bagaimana rasanya menjadi diriku?” aku bertanya.

“Aku selalu memikirkannya.”

“Lalu… bisakah kau memahami kenapa aku mengatakan hal itu?”

“Aku rasa aku bisa memahaminya.” Dia menjawab. Setelah dia mengatakan kalimat itu, air mata jatuh dan bergulir di wajahku.

“Bisakah kau benar-benar… memahami.. seandainya kau juga sakit?” tanyaku.

Yunho berjalan mendekat padaku, merengkuhkan tangannya ke punggungku dan mendekapku dalam pelukannya. “Tidak, tapi aku bisa membayangkannya. Jika aku terus mencoba memahami, aku akan bisa… mengerti perasaanmu.”

Aku menangis lebih keras, menelungkupkan wajahku ke dadanya dan dia membelai rambutku.

“Kau merindukannya, kan?” aku berusaha menjawab, tapi air mataku tak bisa kutahan. Dia tampak mengerti kesedihanku. “Aku akan berusaha membawamu ke sana.”

Soo Jin POV

“Ak..u ing…in ber…tem..mu I..seu..l.” Jaejoong berkata untuk yang ke sekian kalinya.

“Tidak, Jaejoong! Kau tidak boleh bertemu saudaramu!” jawabku.

“Kena..pa? Ka..ren..a di..aa me..nun…tutmu…?” tanyanya. Dia memandangku dingin.

“Karena dia bisa membunuhmu.” Jawabku.

“Kau su..dah men..jauh…kan bela..han ji..wa..ku, Bu… sa..tu-satu..nya yang ak..an mem..bu.. nuh…ku, a..dall..ah ka..u.”

Aku meliriknya. Aku merasa dia baru saja menamparku. “Aku tidak akan membiarkanmu menemui pengkhianat yang kau panggil sebagai saudaramu!!” jawabku marah. Aku membanting pintu dan pergi ke luar. Aku berdiri di sana dan membiarkan diriku jatuh ke lantai, tubuhku tiba-tiba terasa sangat berat oleh kesedihan.

Dia tidak mengerti, dan tidak seorangpun yang mengerti. Kenapa aku melakukan semua ini pada puteriku sendiri? Banyak ibu melakukan hal yang sama untuk alasan yang lebih bodoh… dan itu sudah cukup menjelaskan padaku kenapa mereka jadi sangat membenciku karena aku menjauhkan puteriku.
 
Aku merasa berkhianat, stress… tapi sebagian besar adalah rasa sakit. Kenapa? Karena aku selalu berpikir Iseul akan tetap di sampingku. Tidak peduli dia bisa menyelamatkan saudaranya atau tidak, Iseul akan tetap menjadi puteriku tersayang. Orang yang mengusulkan membuat pesta di rumah ketika Jaejoong tidak bisa datang ke pesta dansa. Orang yang selalu memberi Jaejoong hadiah ulang tahun dan hadiah natal selama ini.
Orang yang selalu memberitahuku bahwa apa yang didonorkannya bukan hadiah, tapi tugas. Iseul yang selalu tersenyum ketika siapapun di antara kami putus asa, dan membuat hari-hari menjadi lebih baik.
 
Puteriku. Bagaimana mungkin mereka berpikir aku tidak merindukannya… aku tidak cemas… aku tidak menyayanginya… semua itu hanya kebohongan. Dia sama pentingnya dengan Jaejoong. Dan akan butuh sepuluh kali untuk berpikir membiarkannya pergi. Anak yang kukira akan selalu berada di sampingku. Terlalu mudah mimpi buruk itu benar-benar terjadi. Aku akan kehilangan kedua anakku.

Chang Su POV

Aku menatap istriku, air mata mengalir di wajahnya. Kemarahanku sudah lenyap sejak melihat apa yang terakhir dilakukannya. Wanita yang selalu tampak begitu sabar dan kuat terlihat begitu lemah sekarang. Aku berjalan mendekatinya dan mengangkat tanganku, menyodorkannya secangkir kopi. Dia menatap kopi itu tanpa menengadah padaku dan segera mengambilnya.

“Aku tidak membencimu. Tidak seorangpun dari kami membencimu, jika itu yang kau cemaskan. Kita semua gelisah. Tidak ada masalah lain dalam keluarga kita. Hanya satu tujuan ; untuk bertahan hidup. Ini hal yang baru di antara kita. Menjadi terpisah… bukan hanya secara fisik, tapi juga perasaan.” Ucapku.
 
Soo Jin tidak berkata apa-apa dan meneguk kopinya.

“Apa kau membencinya?” tanyaku, akhirnya bisa mengeluarkan pertanyaan yang sudah membebani pikiranku.

“Kenapa kau tanyakan itu?”

“Kau tidak menganggapnya lagi. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan selama ini. Aku tahu kau masih menyayanginya… kau harus tetap menyayanginya.”

Soo Jin mencengkram bahuku dan berbisik. “Ya, aku masih menyayangi puteriku, tapi aku membenci takdir yang akan memisahkanku dengan puteriku tersayang dan puteraku begitu cepat.”

Yunho POV

Aku duduk di sebelah Iseul dan memperhatikan pengacara bekerja dengan beberapa file. “Sebelum kita membicarakan tanggal pengadilan, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Iseul, sesuatu yang sangat penting.” Ucap sang pengacara.

“Apa itu?” tanyanya.

“Apa kau yakin ingin melakukan ini?” dia bertanya, menatap lekat ke mata Iseul. Iseul kembali menatapnya.

“Iya.”

“Lalu apakah kau tidak merasa keberatan jika kau mendonorkan sesuatu pada saudaramu, sedangkan kau tak pernah mendapat balasan? Selama ini, kau hanya digunakan sebagai alat untuk menopang hidup saudaramu, tidak lebih.”

Iseul menatapnya, terpaku beberapa saat. Dia menoleh dan memandangiku lekat. Aku balas menatapnya, mencoba meyakinkannya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

“Aku.. aku sebenarnya tak ingin digunakan sebagai alat.” Katanya kemudian.

Pengacara menarik napas saat dia mendengar jawaban Iseul. “Itulah yang ingin kutunjukkan. Kau harus menguatkan tujuanmu untuk istirahat sejenak dari tugas. Atau kau tak ingin melakukannya?”

“Tidak… aku ingin.” Jawab Iseul. Nada suaranya tidak terlalu yakin dan aku jamin pengacara itu pun tidak merasa yakin.

“Aku tahu kasusmu rumit, Iseul. Apa yang akan terjadi jika kau tidak mendonor? Tapi jika kau melakukannya, kesehatanmu akan memburuk. Kau tidak sering sakit, itulah alasan kenapa kau boleh melakukan begitu banyak operasi.” Jawab pengacara.

Iseul masih diam, memikirkan apa yang ingin dikatakannya. “Operasi akan menyelamatkan saudaranya. Cobalah memahami berada di posisinya.” Ucapku, berusaha membantunya.

“Anak muda, itulah yang ingin aku lakukan.” Ucapnya. “Masalahnya adalah, aku merasa tidak enak melakukan tugas ini. Dan kapan dia bertemu saudaranya? Apa yang membuatnya tak mau melakukan satu operasi lagi untuk saudaranya?”

Iseul menjawab pertanyaan itu sebelum aku bisa menjawabnya. “Kenyataannya aku memang tidak bisa.” Ucapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar