Chang Su POV
Aku mengikuti
Soo Jin memasuki ruangan dokter. Aku tidak tahu di mana Iseul, tapi aku
berharap dia ada di rumah atau bersama seseorang yang kami kenal. Aku ingin
memastikan bahwa Jaejoong baik-baik saja. Jika dia sudah stabil, aku bisa
mencari Iseul.
Betapa sedihnya…
dalam situasi ini, Iseul dinomorduakan.
Aku memasuki
ruangan itu dengannya. Aku masih tak mau bicara dengannya, tapi aku ingin
mendengar apa yang dibicarakannya dengan dokter. Dokter melihat kami dan
mempersilahkan kami duduk.
“Apa yang bisa
kulakukan untukmu?” tanyanya, sambil melepas kacamata.
“Aku ingin
bertanya. Sejak Iseul masih kecil, jika dia tidak mau mendonor, bisakah kami
memutuskan dia menjadi penjaga Jaejoong?” tanya Soo Jin.
Tanganku
mengepalkan tinju. Jadi ini yang diinginkan Soo Jin. Memanfaatkan Iseul. Soo
Jin mengambil keuntungan terlalu banyak dari Iseul. Ketika aku ingin membuka
mulut untuk bicara, dokter merespon, dengan nada marah.
“Dr. Kim!”
katanya. “Kau tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal ini. Meskipun
keputusanmu dia adalah penjaga, jika pasien tidak ingin mendonor, kita tidak
boleh memaksa mereka. Pada akhirnya, pasien tetap yang paling penting.”
“Di samping
itu.” Ucapku, menatap Soo Jin dengan marah. “Aku tidak akan pernah memaksa
puteriku untuk melakukan sesuatu yang tak ingin dilakukannya.”
Soo Jin
menatapku dengan pandangan dingin. “Sekalipun, jika dia tidak melakukannya, itu
mungkin akan membunuh puteramu?”
Aku merasa
tenggorokanku tersendat. Aku menatapnya dalam-dalam. “Soo Jin, kenapa kau malah
menyalahkannya?” tanyaku.
“Karena, Chang Su,
jika dia tidak mendonor, Jaejoong akan mati! Apa kau tidak bisa melihatnya?
Mana yang lebih penting? Hidup puteramu atau keinginan puterimu?” dia membalas.
Aku kembali
menatapnya. “Sejauh ini, hidup putera kita masih terjaga, selalu. Dan sekarang
aku rasa masalahnya justru terletak padamu.”
“Kau salah! Kau
kira Iseul akan kucelakai? Tentu saja tidak! Dia puteriku!”
“Dan puteriku
juga!” jawabku marah.
“Ya, tapi putera
kita yang lebih membutuhkan bantuan saat ini. Jika anak kita jatuh, kau tidak
mungkin membiarkannya dalam ketidak nyamanan sementara kau masih berdiri
tenang!”
“Dan jika kita
menghentikan anak kita jatuh, kita tidak akan pernah mengajarinya berdiri
sendiri.” Balasku. “Jika harus ada yang disalahkan dalam kasus ini, Soo Jin,
maka itu adalah kita.” Aku menambahkan. Aku berjalan keluar meninggalkan
keterpanaannya dan dokter di posisi yang sangat tidak nyaman.
Yunho POV
Aku sampai di
rumah sakit dan mengetuk pintu Jaejoong dengan nyaring. Aku mendengar suara
letihnya.
“Masuklah.”
“Hey Jae.” Ucapku
sambil mendekat. Jaejoong tersenyum.
“Ap..a ka..bar?”
tanyanya.
“Tak jauh
berbeda.” Jawabku. “Bagaimana keadaanmu?”
“Le…bih
baa..ik.”
“Baguslah.”
Ucapku. “Dengarlah, Jaejoong, aku ingin memberitahumu sesuatu.” Dia menatapku
dengan mata serius. “Pertama, biarkan aku bertanya sesuatu… apa kau berdebat
dengan Iseul tentang sesuatu?”
“Ti…dak.”
Jawabnya.
“Baiklah,
mungkin masalahnya ada di orang tuamu. Beritanya adalah, dia datang ke rumahku
dan bertanya apakah dia boleh tinggal. Ibuku mengizinkannya untuk tinggal, dan
jangan cemas kami tidur berjauhan satu sama lain.” Aku menambahkan.
Dia tersenyum
padaku dan mengangguk. “I..seu..l berteng..kar de..ngan ibu…ak..hir..akh..hir
inn..ni.”
Aku mengangguk.
“Pantas saja. Tapi dia tak ingin ayah dan ibumu tahu, aku hanya ingin
memberitahumu bahwa dia baik-baik saja.” Ucapku. Dia mengangguk.
“Te..rima…ka..ssih..Yu..n…ho.”
balasnya. “Akku… tak ta..hu ke man..na dia per…gih bebe.. rap..pa ha..ri
inn..i.”
“Dia aman, Jae.”
Balasku. Kemudian tiba-tiba kami mendengar suara marah di luar pintu. Aku
melirik Jaejoong dan dia mengangkat bahu. Aku mendekat ke pintu dan membukanya
untuk melihat ayah dan ibu Jaejoong. Ibunya bicara dengan marah pada seorang
yang mengenakan jas sementara Mr. Kim berusaha menenangkannya.
“Apa maksudmu?!
Bagaimana bisa puteri kami menuntut kami?! Apa yang menyebabkannya harus
menuntut kami?!!” ucap Mrs. Kim marah.
“Untuk masalah
pemaksaanmu mengambil bagian organnya.” Pengacara merespon.
“Dia di bawah
umur, dia tidak bisa menuntut kami!”
“Tapi dia bisa.
Izinnya diberikan kemarin.” Jawab pengacara tenang.
“Oleh siapa?!”
“Olehku.” Mr.
Kim berkata. Mrs. Kim menatapnya. “Iseul benar, dia sudah dewasa sekarang, suka
atau tidak, dia lebih dari sekedar alat.”
“Kau
mendukungnya?” tanya Mrs. Kim.
“Sama sepertimu,
aku ingin menjaga Jaejoong. Tapi aku juga ingin menjaga puteriku.”
Iseul POV
Yunho menatapku
dengan cara berbeda hari akhir-akhir ini. Dia tahu apa yang sudah aku lakukan,
aku yakin itu. Dan sekarang, dia tampak sedang menghakimiku. Aku tidak peduli
kalaupun dia membenciku sekarang, atau seluruh dunia membenciku, aku akan tetap
pada pendirianku.
Ini sudah lewat
seminggu. Ayahku memberikan izin padaku untuk melakukan tuntutan selama dia
tahu di mana keberadaanku. Aku membiarkannya tahu bahwa aku aman, bersama
Yunho. Dia masih belum mengunjungiku. Aku percaya walaupun sebagian dirinya
ingin membantuku, sebagian dirinya yang lain juga membenciku.
Aku mencuci
piring terakhirku dengan hati-hati, memastikannya benar-benar bersih. Ketika
aku beranjak duduk, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Yunho
memasuki kamar dan tersenyum padaku.
“Kau tidak perlu
melakukannya.” Ucap Yunho.
“Aku hanya ingin
membantu.” Jawabku.
Yunho tersenyum.
Dia menatap ke arah jendela dan berkata. “Jaejoong ingin bertemu denganmu.”
Aku tersenyum.
“Aku tak bisa menemuinya. Ibuku tidak akan mengizinkanku.”
Tanpa berpikir
panjang, ia bertanya. “Kenapa?” aku tahu apa yang benar-benar ingin diketahuinya.
Dan aku tahu kenapa aku melakukan hal ini.
“Pernahkah kau
berpikir… bagaimana rasanya menjadi diriku?” aku bertanya.
“Aku selalu
memikirkannya.”
“Lalu… bisakah
kau memahami kenapa aku mengatakan hal itu?”
“Aku rasa aku
bisa memahaminya.” Dia menjawab. Setelah dia mengatakan kalimat itu, air mata
jatuh dan bergulir di wajahku.
“Bisakah kau
benar-benar… memahami.. seandainya kau juga sakit?” tanyaku.
Yunho berjalan
mendekat padaku, merengkuhkan tangannya ke punggungku dan mendekapku dalam
pelukannya. “Tidak, tapi aku bisa membayangkannya. Jika aku terus mencoba
memahami, aku akan bisa… mengerti perasaanmu.”
Aku menangis
lebih keras, menelungkupkan wajahku ke dadanya dan dia membelai rambutku.
“Kau
merindukannya, kan?” aku berusaha menjawab, tapi air mataku tak bisa kutahan.
Dia tampak mengerti kesedihanku. “Aku akan berusaha membawamu ke sana.”
Soo Jin POV
“Ak..u ing…in
ber…tem..mu I..seu..l.” Jaejoong berkata untuk yang ke sekian kalinya.
“Tidak,
Jaejoong! Kau tidak boleh bertemu saudaramu!” jawabku.
“Kena..pa?
Ka..ren..a di..aa me..nun…tutmu…?” tanyanya. Dia memandangku dingin.
“Karena dia bisa
membunuhmu.” Jawabku.
“Kau su..dah
men..jauh…kan bela..han ji..wa..ku, Bu… sa..tu-satu..nya yang ak..an mem..bu..
nuh…ku, a..dall..ah ka..u.”
Aku meliriknya.
Aku merasa dia baru saja menamparku. “Aku tidak akan membiarkanmu menemui
pengkhianat yang kau panggil sebagai saudaramu!!” jawabku marah. Aku membanting
pintu dan pergi ke luar. Aku berdiri di sana dan membiarkan diriku jatuh ke
lantai, tubuhku tiba-tiba terasa sangat berat oleh kesedihan.
Dia tidak
mengerti, dan tidak seorangpun yang mengerti. Kenapa aku melakukan semua ini
pada puteriku sendiri? Banyak ibu melakukan hal yang sama untuk alasan yang
lebih bodoh… dan itu sudah cukup menjelaskan padaku kenapa mereka jadi sangat
membenciku karena aku menjauhkan puteriku.
Aku merasa berkhianat, stress… tapi sebagian besar adalah rasa sakit. Kenapa?
Karena aku selalu berpikir Iseul akan tetap di sampingku. Tidak peduli dia bisa
menyelamatkan saudaranya atau tidak, Iseul akan tetap menjadi puteriku
tersayang. Orang yang mengusulkan membuat pesta di rumah ketika Jaejoong tidak
bisa datang ke pesta dansa. Orang yang selalu memberi Jaejoong hadiah ulang
tahun dan hadiah natal selama ini.
Orang yang
selalu memberitahuku bahwa apa yang didonorkannya bukan hadiah, tapi tugas.
Iseul yang selalu tersenyum ketika siapapun di antara kami putus asa, dan
membuat hari-hari menjadi lebih baik.
Puteriku. Bagaimana mungkin mereka berpikir aku tidak merindukannya… aku tidak
cemas… aku tidak menyayanginya… semua itu hanya kebohongan. Dia sama pentingnya
dengan Jaejoong. Dan akan butuh sepuluh kali untuk berpikir membiarkannya
pergi. Anak yang kukira akan selalu berada di sampingku. Terlalu mudah mimpi
buruk itu benar-benar terjadi. Aku akan kehilangan kedua anakku.
Chang Su POV
Aku menatap
istriku, air mata mengalir di wajahnya. Kemarahanku sudah lenyap sejak melihat
apa yang terakhir dilakukannya. Wanita yang selalu tampak begitu sabar dan kuat
terlihat begitu lemah sekarang. Aku berjalan mendekatinya dan mengangkat
tanganku, menyodorkannya secangkir kopi. Dia menatap kopi itu tanpa menengadah
padaku dan segera mengambilnya.
“Aku tidak
membencimu. Tidak seorangpun dari kami membencimu, jika itu yang kau cemaskan.
Kita semua gelisah. Tidak ada masalah lain dalam keluarga kita. Hanya satu
tujuan ; untuk bertahan hidup. Ini hal yang baru di antara kita. Menjadi
terpisah… bukan hanya secara fisik, tapi juga perasaan.” Ucapku.
Soo Jin tidak berkata apa-apa dan meneguk kopinya.
“Apa kau
membencinya?” tanyaku, akhirnya bisa mengeluarkan pertanyaan yang sudah
membebani pikiranku.
“Kenapa kau
tanyakan itu?”
“Kau tidak
menganggapnya lagi. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan selama ini. Aku tahu
kau masih menyayanginya… kau harus tetap menyayanginya.”
Soo Jin
mencengkram bahuku dan berbisik. “Ya, aku masih menyayangi puteriku, tapi aku
membenci takdir yang akan memisahkanku dengan puteriku tersayang dan puteraku
begitu cepat.”
Yunho POV
Aku duduk di
sebelah Iseul dan memperhatikan pengacara bekerja dengan beberapa file.
“Sebelum kita membicarakan tanggal pengadilan, aku ingin menanyakan sesuatu
padamu, Iseul, sesuatu yang sangat penting.” Ucap sang pengacara.
“Apa itu?”
tanyanya.
“Apa kau yakin
ingin melakukan ini?” dia bertanya, menatap lekat ke mata Iseul. Iseul kembali
menatapnya.
“Iya.”
“Lalu apakah kau
tidak merasa keberatan jika kau mendonorkan sesuatu pada saudaramu, sedangkan
kau tak pernah mendapat balasan? Selama ini, kau hanya digunakan sebagai alat
untuk menopang hidup saudaramu, tidak lebih.”
Iseul
menatapnya, terpaku beberapa saat. Dia menoleh dan memandangiku lekat. Aku
balas menatapnya, mencoba meyakinkannya untuk mengatakan apa yang ingin
dikatakannya.
“Aku.. aku
sebenarnya tak ingin digunakan sebagai alat.” Katanya kemudian.
Pengacara
menarik napas saat dia mendengar jawaban Iseul. “Itulah yang ingin kutunjukkan.
Kau harus menguatkan tujuanmu untuk istirahat sejenak dari tugas. Atau kau tak
ingin melakukannya?”
“Tidak… aku
ingin.” Jawab Iseul. Nada suaranya tidak terlalu yakin dan aku jamin pengacara
itu pun tidak merasa yakin.
“Aku tahu
kasusmu rumit, Iseul. Apa yang akan terjadi jika kau tidak mendonor? Tapi jika
kau melakukannya, kesehatanmu akan memburuk. Kau tidak sering sakit, itulah
alasan kenapa kau boleh melakukan begitu banyak operasi.” Jawab pengacara.
Iseul masih
diam, memikirkan apa yang ingin dikatakannya. “Operasi akan menyelamatkan
saudaranya. Cobalah memahami berada di posisinya.” Ucapku, berusaha
membantunya.
“Anak muda,
itulah yang ingin aku lakukan.” Ucapnya. “Masalahnya adalah, aku merasa tidak
enak melakukan tugas ini. Dan kapan dia bertemu saudaranya? Apa yang membuatnya
tak mau melakukan satu operasi lagi untuk saudaranya?”
Iseul menjawab
pertanyaan itu sebelum aku bisa menjawabnya. “Kenyataannya aku memang tidak
bisa.” Ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar