Author POV
Tangisan Hana membuat Jaejoong tak bisa berkonsentrasi
dengan jalanan. Ia harus menyetir sejauh 10 km menuju rumah orang tua Hana,
karena tidak mungkin mereka berdua pergi berdua ke Jepang tanpa ayah dan ibu
Hana.
“Sudah, jangan menangis lagi.” Ucap Jaejoong gusar.
“Tapi Kyu…”
“Dia akan baik-baik saja.”
“Baik-baik saja bagaimana? Sudah jelas Kyuhyun dalam
keadaan kritis. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?!” Hana menatap Jaejoong
dengan wajah sembab. Ia tak bisa mengendali-kan perasaan cemasnya saat itu. Ia
benar-benar takut Kyuhyun tak tertolong. Ia menyayangi adiknya...
“Hana, coba pegang tanganku.” Ucap Jaejoong sambil
mengulurkan sebelah tangannya. Hana hanya menatap uluran tangan itu dengan
wajah datar. “Ayo, jangan ragu.” Ucap Jaejoong lagi. Perlahan, Hana mengulurkan
tangannya, membalas undangan Jaejoong. “Kau adalah wanita yang kuat, Hana. Kau
harus percaya bahwa Kyuhyun akan baik-baik saja. Karena segala sesuatu yang
bisa kau bayangkan, itu adalah nyata. Kau percaya padaku, kan?”
Hana menatap wajah Jaejoong yang tampak sangat
mencemaskannya. Ia tahu saat ini bukan ia saja yang mencemaskan Kyuhyun, tapi
juga Jaejoong, kedua orang tuanya, dan seluruh member Super Junior. Yang harus
ia lakukan saat ini bukan menangis, tapi berdoa. Memohon pada Tuhan agar
menyembuhkan adiknya tersayang. Agar menjauhkan Kyuhyun dari semua kemungkinan
terburuk. Hana pun membalas genggaman tangan Jaejoong, lalu tersenyum perlahan.
“Aku percaya padamu, oppa. sangat.” Ucap Hana dengan
senyum kecil.
Jaejoong membalas senyuman itu, lalu kembali
melepaskan tangannya. Ia lega, akhirnya Hana bisa lebih tenang. Karena ia
khawatir Hana akan jatuh sakit jika terus-menerus me-nangis karena memikirkan
Kyuhyun. Padahal tangisan itu sama sekali tidak akan me-nyelesaikan masalah.
Begitu sampai di rumah orang tua Hana, mereka segera
melesat ke bandara. Butuh sekitar 2 sampai 3 jam untuk sampai di Jepang.
Jaejoong semakin merasa gusar saat ibu mertuanya tidak berhenti
memanggil-manggil nama Kyuhyun sambil berlinang air mata. Kesedihan Ny. Cho
membuat emosi Hana semakin tidak stabil. Dan itu membuat Jaejoong sangat
kesulitan untuk menenangkannya.
Setelah beberapa jam menyewa mobil untuk mengantarkan
ke rumah sakit, akhirnya mereka sampai juga. Ny. Cho jatuh pingsan begitu
sampai di rumah sakit, akhirnya Ny. Cho harus dibiarkan istirahat di unit gawat
darurat. Sementara Jaejoong, Hana, dan Tn. Cho segera menuju ruangan tempat
Kyuhyun dirawat. Ruang ICU…
Saat mereka sampai di sana, tampak para member Super
Junior tengah berkumpul. Manager mereka juga ada di sana. Para member itu
menatap Jaejoong dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Jaejoong hanya bisa
mengalihkan pandangannya menghindari tatapan mereka. Ia tahu pasti bahwa para
anggota Super Junior itu merasa segan padanya. Terlebih, setelah ia melakukan
kerusuhan di SM dengan menantang perang si produser otoriter itu.
“Kenapa aku tak boleh masuk?!” teriakan Hana membuat
lamunan Jaejoong terpecah.
“Tadi dokter memperingatkan untuk tetap berada di luar
kamar. Kyuhyun belum bisa di-jenguk.” Ucap Siwon.
“Tapi aku ingin melihat adikku…!”
“Tidak boleh, Hana…” Jaejoong segera menarik tangan
Hana. “Sebaiknya kita ikuti saran dokter. ini semua demi kesembuhan Kyuhyun.”
“Izinkan kami masuk… sebentar saja…” pinta Tn. Cho.
“Appa…” Hana merangkul tubuh ayahnya dengan air mata
berlinang. Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam menyaksikan duka di wajah
Hana dan appanya. “Kyuhyun akan baik-baik saja, kan, Appa…? Dia akan sehat
lagi, kan…?”
“Kyuhyun mengalami koma.” Ucap Yesung.
Seketika itu, tubuh Hana terkulai ke lantai.
“Hana!” teriak Jaejoong panik. Ia segera memangku
tubuh Hana dan membawanya duduk. Sementara Tn. Cho sudah tampak lemas dan tak
sanggup berjalan mendekat.
“Kyuhyun…” hanya itu yang terlantun dari bibir Hana.
Suaranya bergetar, wajahnya sembab oleh air mata. Jaejoong tidak tahan lagi
melihat Hana seperti itu. Ia tak kuasa menahan air matanya yang kini jatuh
berlinang. Air mata yang tak pernah dilihat oleh para member Super Junior
sebelumnya. Air mata cinta.
“Tolong panggilkan dokter. biarkan appaku masuk
sebentar saja untuk melihat Kyuhyun.” Ucap Jaejoong dengan suara parau.
Leeteuk pun segera beranjak pergi memanggilkan dokter,
dan tak berapa lama kemudian ia kembali bersama sang dokter.
“Ada apa?” tanya dokter.
“Tolong izinkan appaku masuk melihat Kyuhyun, dokter.
kumohon…” ucap Jaejoong.
“Maaf, Tuan, tapi…”
“Aku mohon, dokter. apa kau pikir kehadiran seorang
ayah akan membahayakan untuk anaknya? Aku yakin Kyuhyun sangat membutuhkan Tn.
Cho di sampingnya saat ini. Aku mohon…” Jaejoong membungkukkan tubuhnya
dalam-dalam. Dokterpun menarik napas panjang.
“Baiklah, aku akan izinkan masuk. Tapi 10 menit saja.”
“Terima kasih, dokter!” Tn. Cho berseru senang.
Setelah Tn. Cho masuk, Jaejoong kembali duduk di samping Hana yang seperti
antara sadar dan tidak. Tubuhnya benar-benar lemas, dan bibirnya terus
memanggil-manggil nama Kyuhyun dengan lirih.
“Jangan membuatku takut, Hana. Sudah cukup…” ucap
Jaejoong sambil menggenggam erat jemari Hana yang gemetar.
“Hyung…” sebuah suara membuat Jaejoong spontan
menghapus air matanya. Ia menatap sosok Donghae yang duduk di kursi roda dengan
selang infuse dan perban di keningnya.
“Aku minta maaf… seharusnya waktu itu aku bisa
mencegah Kyuhyun untuk tidak menyetir…”
“Apa maksudmu?”
“Waktu itu kami sama-sama naik mobil. Tapi saat dalam
perjalanan pulang, dia mengantuk. Tapi aku masih saja membiarkannya menyetir…”
“Kau ini sudah gila, ya?! Kau kira nyawa orang bisa
dipermainkan?!” Jaejoong tak bisa me-nahan emosinya.
“Aku tidak tahu semuanya akan seperti ini…”
“Kurang ajar, kau…!” Jaejoong bermaksud untuk
melayangkan tinjunya pada Donghae, tapi tiba-tiba Hana mencegah. Tangannya yang
lemas hanya bisa memegang pergelangan tangan Jaejoong seadanya. Namun tindakan
itu cukup berhasil membuat Jaejoong tak jadi melayangkan pukulan pada Donghae.
“Jangan, oppa. kumohon jangan sakiti orang lain lagi…”
ucap Hana sambil menatap Jaejoong dengan lemah.
“Hana…”
“Aku minta maaf atas kejadian ini, Noona.” Ucap
Donghae.
“Tidak apa-apa.” Hana tersenyum tulus. Sebuah
ketulusan yang tak perlu diucapkan.
“Sebaiknya kau istirahat di sini dulu. Ada yang harus
kubicarakan dengan dokter.” ucap Jaejoong sambil bergegas pergi.
“Oppa…” panggil Hana. Jaejoong menoleh cepat.
“Mmm?”
“Berjanjilah, jangan rahasiakan apapun dariku.”
Beberapa saat Jaejoong terdiam, lalu ia membagi sebuah
senyum tampan yang bahkan bisa membuat para malaikat jatuh cinta.
“Tentu saja.” Ucap Jaejoong pelan. “Kau berhak tahu
semua hal tentang adikmu.”
***
Changmin POV
Go Ara? Dia adalah seorang pengacara? Aku tidak pernah
membayangkan jika anak dari si tua bangka itu adalah seorang pengacara. Orang
yang membela hak orang lain. Aku mencengkram erat buku yang ada di genggamanku.
Aku mencoba kembali fokus untuk membaca baris demi
baris, kata demi kata yang tercetak diatas kertas, tapi aku tak mengerti apa
yang aku baca. Pikiranku melayang entah kemana. Aku menutup buku setebal 400
lembar dengan sangat keras.
Bayangan akan persidangan beberapa tahun yang lalu
kembali muncul di depanku, memaksa-ku untuk mengingat kembali kejadian itu,
kejadian dimana semuanya bermula. Berputar-putar seperti slide film yang di
putar secara cepat membuat kepalaku menjadi pusing.
Aku berusaha melupakan semua kenangan pahit dalam
hidupku. Jika didunia ini ada tombol ‘Delete’ maka sudah sejak lama aku
menghapus kenangan-kenangan itu. Semua kenangan pahit mengenai keempat
hyung-ku.
Jika aku bisa menjadi egois, maka sudah sejak awal aku
meninggalkan Yoochun hyung dan yang lainnya atau mungkin aku bisa meninggalkan
korea sampai persidangan itu selesai. Berlibur tanpa memikirkan masalah yang
melilit kami. Tapi aku tak bisa, aku tak bisa meninggalkan mereka. Karena aku
menyayangi mereka.
Aku pernah kehilangan mereka. Aku tak mau kehilangan
mereka untuk yang kedua kalinya. Mereka adalah yang terbaik dalam hidupku,
mereka selalu dapat diandalkan, bahkan aku sudah menganggap mereka sebagai
kakak kandungku sendiri. Mereka tak pernah marah saat aku bertingkah konyol,
walaupun aku di samakan dengan ‘devil’ aku tetap menyayangi mereka. Saat
pertama kali aku bergabung dengan mereka mereka berkata bahwa aku seperti
‘malaikat’ tapi setelah enam tahun bersama mereka berpendapat aku seperti
‘setan’. Aku tertawa pelan.
Yah! Aku memang magnae yang sedikit kurang ajar
terhadap hyung-nya. Tapi itu sebagai bukti bahwa aku menyayangi mereka. Aku
menyayangi mereka lebih dari aku menyayangi diriku sendiri.
Aku kembali ke dunia nyata. Aku tak mau memikirkan itu
sekarang, lebih baik aku memikir-kan persidangan yang akan dilaksanakan 2 hari
lagi.
Meissy.. dia menemuiku tadi sore dan berkata bahwa
Yoochun tak membutuhkan bantuan dari kami. Memang sejak awal Yoochun hyung tak
berniat membayar ganti rugi tersebut.
Tapi dia seharusnya tak bersikap seperti itu, membuat
Yoochun hyung menjadi sangat percaya diri. Apa dia tidak sadar bahwa hukum itu
tidak adil. Siapa yang kuat dialah yang menang.
Sepertinya persidangan ini akan semakin seru. Penuntut
dan kuasa hukum yang dituntut mempunyai tali persaudaraan. Antara Ibu dan Anak
yang mencari keadilan. Aku yakin sebagai pengacara Go Ara akan bersikap
professional, tapi apakah Go Ara tega menuntut balik orang tuanya? Orang yang
membesarkannya?
Yunho hyung muncul dari kamarnya, dia terlihat baru
saja mandi. Beberapa tetes air jatuh dari rambutnya dan mengalir melewati
punggungnya. Dia bertelanjang dada.
“Apa yang kau lakukan disini?” Yunho hyung bertanya,
membuyarkan lamunanku.
“Aku hanya membaca buku.” Aku menjawab seadanya.
“Sejak kapan kau membaca buku tanpa membuka bukunya?”
Kata Yunho hyung.
“Ahh… hyung.” Kataku menahan malu.
“Apa yang kau cemaskan?” Tanya Yunho hyung. “Kau
memikirkan Yoochyun atau wanita yang sedang dekat denganmu?”
“Aku tak memikirkan apapun.” Jawabku dingin. “Kenapa
kau bertanya tentang Bomi?”
“Karena aku tak pernah melihatmu berkencan dengan
wanita.” Yunho hyung tertawa. “Terakhir kau berkencan dengan Kyuhyun, kau
ingat, berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku masih normal.” Aku
mendengus kesal, “Aku hanya menemani Kyuhyun yang ingin mencari hadiah untuk
Hana.”
“Jangan mencari alasan.” Yunho terkekeh, “Aku hanya
bercanda. Kau tau wajahmu terlihat lucu saat kau salah tingkah.”
“Itu tidak lucu.” Jawabku kesal.
“Kau tau, banyak penggemar yang menginginkanmu dan
Kyuhyun disatukan.” Yunho ter-senyum. “Dua magnae dengan suara dewa dan berhati
jahil dalam 1 panggung yang sama.”
Aku tertawa. “Kurasa itu tidak mungkin, kecuali mereka
ingin melihat panggung hancur oleh tingkah kami.” Aku berusaha mengganti topic
pembicaraan. “Ku dengar Go Ara akan menjadi kuasa hukum Yoochun hyung?”
“Yep.” Jawabnya singkat.
“Apa dia sanggup melawan orang tuanya sendiri di ruang
sidang?” Aku mencibir. “Apa yang kau lakukan terhadapnya, sehingga dia mau
menjadi kuasa hukum Yoochun hyung?”
“Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Tidak mungkin, kau pasti menaruh sesuatu di makanannya
sehingga dia mau menjadi kuasa hukum untuk Yoochun hyung.” Kataku menuduh.
“Tentu saja tidak.” Jawabnya membela diri.
“Kau menyukainya?” Tanyaku menyelidik.
“Tidak.” Dia memalingkan wajahnya, kurasa dia
menyembunyikan wajahnya yang bersemu kemerahan. “Aku tidak mencintainya, aku
hanya menjalankan rencana.”
“Karma itu berlaku, hyung.” Aku memperingati.
Ting-Tong-Ting-Tong! Bel pintu berpunyi.
“Kau membuat janji ingin bertemu seseorang?” Tanyaku.
“Aku meyuruh Ara datang kemari nanti malam, sekarang masih
sore. Kurasa dia datang lebih awal.” Kata Yunho hyung sambil mengangkat bahu.
Ting-Tong-Ting-Tong! Bel itu berbunyi untuk yang kedua
kalinya.
“Kau bukakan pintu sana!” Dia memerintahku.
“Aku malas berjalan, kau saja yang bukakan pintunya
hyung.” Jawabku malas.
“Aku tak memakai baju.” Yunho hyung mencari alasan
“Kemungkinan dia hanya pingsan karena melihatmu
bertelanjang dada seperti itu.”
Tanpa ba-bi-bu lagi, Yunho hyung langsung melesat
membukakan pintu
***
Yunho POV
Saat aku menarik gagang pintu itu, aku melihat sesosok
tubuh dengan mantel hangat berdiri di hadapanku. Dia menatapku dengan kosong,
seolah tidak merasa terganggu sedikitpun dengan penampilanku yang bertelanjang
dada. Beberapa saat, aku merasa tak bisa memikir-kan kata apapun saat melihat wajahnya.
Seraut wajah yang bahkan tanpa ekspresi.
“Selamat sore.” Ucapnya dengan senyum hangat. Aku
tertegun.
“Se, selamat sore.”
“Aku ingin bertemu, dengan Changmin…”
Aku mengangkat alis saat mendengar kalimatnya.
Terlintaslah sebuah nama yang langsung terucap begitu saja dari bibirku.
“Bomi?” tanyaku sambil menunjuknya. Dia tampak
kebingungan. “Kau Bomi kan?”
“Darimana kau mengenalku?” tanyanya polos.
“Tentu saja aku mengenalmu. Ayo, masuklah. Kurasa
Changmin sudah menunggumu.”
Aku membukakan pintu lebih lebar, membiarkannya masuk.
Dia masih tampak canggung dengan suasana apartmenku. Tak kusangka, ternyata
Bomi cantik sekali. Pantas saja Changmin tertarik untuk menjalin hubungan
istimewa dengannya. Akupun menyuruh Bomi menunggu di ruang tamu sementara aku
memanggilkan Changmin.
“Hei!” ucapku di ambang pintu kamar.
“Ada apa?” tanya Changmin tanpa dosa.
“Kau tidak tahu siapa yang datang?”
“Go Ara kan?”
Aku mengulum bibirku sejenak. “Apa kau tak membuat
janji dengan siapapun?”
“Kurasa tidak. Kenapa memangnya?” wajah Changmin mulai
tampak penasaran.
“Kau benar-benar tidak membuat janji?” aku mengulang.
“Astaga, hyung… aku tidak punya janji dengan
siapapun.”
“Lantas kenapa kekasihmu datang ke sini?”
“Kekasihku? Maksudmu… Bomi?”
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Kulihat raut
wajah Changmin berubah seke-tika. Kupikir dia akan senang Bomi datang ke sini,
tapi ternyata aku salah. Changmin terlihat murung dan seolah memikirkan sesuatu
yang buruk. Aku belum pernah melihat raut wajah-nya semurung itu. Apa yang sebenarnya
dirasakan Changmin? Apa ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpa Yoochun?
“Suruh dia pulang, hyung.” Ucap Changmin tanpa menatap
mataku.
“Apa?”
“Aku tidak mungkin menemuinya sekarang. Perasaanku
sedang tidak enak. Lebih baik kau suruh dia pulang saja.”
“Tapi…”
“Aku takut jika aku bertemu dengannya, dia justru akan
menjadi pelampiasan emosiku. Kalau kau tidak mau menyuruhnya pulang, terserah
kau mau mengajaknya bicara atau bagaimana. Yang jelas, aku tidak mungkin
menemuinya.” Changmin langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Kalau sudah begini, aku pun tak bisa memaksanya untuk
turun dari ranjang itu. Mungkin dia memang sedang banyak pikiran, dan sebaiknya
aku membiarkannya sendirian dulu. Tapi karena aku merasa tidak enak untuk mengusir
Bomi begitu saja, mungkin sebaiknya aku berbasa-basi sebentar dengannya. Aku
merasa, Bomi pasti mengetahui sesuatu hal yang tidak kuketahui tentang
Changmin.
“Ehm… Bomi.” Ucapku saat kembali ke ruang tamu.
“Changmin sedang tidur, dia kelelahan setelah menempuh perjalanan dari rumah
ibunya. Apa kau ingin aku membangunkannya?” aku terpaksa berbohong.
“Tidak usah, kurasa dia memang harus istirahat.” Bomi
merogoh tasnya dan mengeluarkan sepucuk amplop putih polos. “Aku sudah menduga
kejadiannya akan seperti ini. Jadi, tolong berikan surat ini pada Changmin
oppa.” Katanya sambil menyodorkan amplop itu.
Aku menerimanya dengan ragu. Apa yang ditulis Bomi di
dalam surat ini?
“Baiklah, aku akan memberikannya pada Changmin.”
Ucapku kemudian.
“Terima kasih. Aku permisi dulu, oppa. selamat sore.”
“Ya, berhati-hatilah di jalan.” Aku mengantarnya
sampai ke ambang pintu.
Setelah Bomi menghilang di balik elevator, aku kembali
menutup pintu. Kupandangi sepucuk amplop di tanganku. Sepertinya Bomi sudah
memperkirakan bahwa ia tak akan bertemu dengan Changmin di sini, jadi ia sudah
mempersiapkan surat untuk dibaca oleh Changmin. Kalau saja aku berhak, aku akan
langsung membuka amplop ini dan membaca isi suratnya. Tapi sayangnya aku tak
berhak melakukan itu. Ini mungkin hanya boleh dibaca oleh Changmin. Kisah cinta
Changmin dan Bomi, adalah kisah cinta yang tidak kumengerti…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar