Iseul POV
Sirine masih
terdengar jelas di telinga. Aku duduk di sebuah kursi sandar yang nyaman,
ayahku baru saja membawakan kami kopi yang kami tunggu.
Itu biasa
terlambat pada malam hari. Ibuku datang ke kamarku dengan berisik. “Iseul,
Iseul, bangunlah!” katanya dengan suara lantang.
“Ada apa, Bu?”
tanyaku.
“Bantu ibu,
saudaramu jatuh.” Aku tidak menanyakan lebih banyak hal lagi. Aku segera bangun
dan meraih koper yang selalu dipenuhi setiap kasus yang terjadi. Aku keluar
untuk melihat ayahku menggendong Jaejoong di tangannya, lalu membawanya ke
sofa. Aku bisa melihat kilatan yang berbeda dari ambulan yang baru saja tiba.
Ayah dan aku
mengikuti ambulan di sini. Dia menjelaskan padaku bahwa Jaejoong berkata
padanya bahwa ia tak bisa tidur, jadi dia dan ibu menunggui Jaejoong di kamar.
Tapi ketika Jaejoong akan naik ke ranjangnya, dia tiba-tiba terjatuh.
Aku menghisap
kopiku dengan cepat. Waktu menunjuk pukul 03.00 AM. Aku sangat lelah, tapi aku
tidak bisa tidur sampai dokter memberitahu kami bagaimana keadaan Jaejoong.
Ibuku mondar-mandir terus dan membuat ayah tak bisa tidur karena merasa
terganggu.
Aku tahu ibuku
khawatir, tapi dia lebih marah daripada apapun. Jaejoong sudah bicara sendiri
dengan dokter. Dia sudah terbangun dengan cepat setelah kami sampai. Dia ingin
tahu hasil pemeriksaannya.
Dokter menyetujui permintaannya. Jadi kami hanya bisa mengira-ira, apa yang
sedang dibicarakannya dengan dokter. Ketika aku melakukan isapan kecil, pintu
kamar Jaejoong terbuka dan dokter keluar. Ketika ibuku menanyakan begitu banyak
hal pada dokter, aku beralih mendekat ke pintu kamar saudaraku. Aku mengetuknya
dengan nyaring.
“Ma…masuklah.”
Aku mendengar suaranya. Suaranya jauh lebih lemah dibandingkan saat terakhir
aku mendengarnya.
“Jaejoong…”
ucapku sambil menatapnya. Wajahnya benar-benar pucat. Dia tersenyum padaku. Dia
memberi isyarat padaku untuk mendekat. “Apa kata dokter?”
“Sam…a..
seper…ti yang ter..ja..di..” katanya. “Ak..uu..jat…uh..”
Aku merasa takut
bercampur iba. Dia jatuh lagi, tapi seperti biasanya, dia tak bisa refleks
menolong diri. Di sanalah aku selalu berharap, selama aku masih berada di
dekatnya, aku akan selalu berharap bisa menolongnya.
“Ise..ul” ucap
Jaejoong. “Ak..u ak..an..sege..ra ma..ttii… ak.uu tahu it..u.”
Aku tidak
berkata apa-apa. Aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa dia tidak akan mati.
Karena pada akhirnya, jika Leukimia tidak membunuhnya, maka Ataxia akan
membunuhnya.
“Aku..
tak..ing..in ibb..u tahu app..a yang dok..ter..kata..kann.. pa..daku.” katanya.
“Dia akan
mengetahuinya juga.” Balasku.
“Aku… ta..hu.”
katanya. “Ter..ka..dang…dia ter..la..llu…kass..ar. Tak mas..sal..ah apa..yang
di-ka..ta..kannya…pa..ddamu..Is..eul. Yakin…kan..di..ah bah..wa ak..u mas..ih
kuat. Dia..ak..kan baik..baik…sa..ja. kau..ta..hu…”
“Yeah.” Ucapku
pasrah. “Aku tahu…”
Dia tersenyum
padaku. “Ak..uu..ingin..is..tira..hat seka…rang, Ise..ul.”
“Yeah, tak
masalah. Aku akan ke sini lagi saat kau bangun.” Ucapku. Dia mengangguk. Aku
berbalik dengan pelan dan meninggalkan kamarnya. Ketika aku menutup pintu, aku
merasa air mata mulai membasahi wajahku. Bisakah aku benar-benar melakukannya?
Bisakah? Aku sangat takut, sangat cemas. Keputusan yang aku buat, apakah sudah
tepat?
Soo Jin POV
Aku menatap
dokter. “Apa yang mengakibatkan dia seperti ini sekarang, tolong beritahu aku!”
aku memaksa. Dokter menarik napas berat, matanya memandangiku dan suamiku
bergantian.
“Hati Jaejoong
sudah rusak.” Akhirnya dia berkata.
“Seberapa
burukkah itu?” tanya sumiku.
Dokter tampak
gelisah. Diapun berkata. “Itu tidak akan lama, sampai dia mendapat donor hati.”
Aku mengangguk.
Ini tidak terlalu buruk. Ini masalah yang bisa diselesaikan. “Aku jamin kita
akan segera siap untuk memulai operasi Iseul dan Jaejoong.” Ucapku.
“Tapi, Dr. Kim.
Aku tidak yakin kalau itu ide bagus.” Ucap dokter. Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
tanyaku.
“Baiklah… jujur
saja, aku rasa ini ide buruk jika Iseul harus melakukan operasi sekali lagi.
Dia sudah melakukan banyak operasi. Aku cemas dengan kesehatannya.” Ucap
dokter.
“Dia sangat
sehat! Aku tahu, aku sudah sering memeriksakannya.” Balasku.
“Baiklah…” suara
dokter merendah. Aku menoleh untuk mendekati Iseul yang menatap kami dari luar
pintu.
“Apa Jaejoong
akan baik-baik saja, Bu?” tanyanya.
“Dia akan baik-baik
saja, sayang.” Jawabku. Aku berjalan menghampirinya. Aku menunduk sedikit,
tanganku diletakkan di bahunya. Aku baru sadar bahwa puteriku sudah tumbuh
besar. Dia hampir sama tingginya denganku. “Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Soo Jin”, Chang
Su memanggil. “Bisakah kau dengarkan dokter dulu?”
Aku tak
menghiraukannya. Aku menatap lekat ke arah puteriku. “Iseul, Jaejoong
membutuhkan sesuatu darimu. Dia butuh bagian dari hatimu. Jangan khawatir,
milikmu akan tumbuh lagi, tapi Jaejoong membutuhkan hati yang sehat untuk
melawan kanker yang menyerang hatinya.”
Dia menatapku.
Aku mendengar suamiku menarik napas di belakangku.
“Bisakah kau
memberikan itu untuknya, Iseul?” tanyaku, tahu pasti apa jawabannya.
Iseul POV
Aku menatap
ibuku, hatiku terasa diketuk dari dada. Sekarang? Sekarang juga? Jika aku tidak
melakukannya sekarang, aku tidak akan pernah berani untuk melakukannya lagi.
Aku menjauh dan melepaskan tangan ibu dari bahuku, mengalihkan pandangannya.
“Bu…” ucapku.
Dia berdiri lebih dekat untuk mendengarkanku. “Aku tak mau melakukannya.”
“Bagus,
Ise—tunggu, apa yang kau katakan?” tanyanya, nada panik terdengar dari
suaranya. Aku melihatnya memandangiku dengan terkejut.
Aku mengangguk.
“Aku tidak bisa melakukannya lagi, Bu. Tidak.”
“Iseul! Ada apa
denganmu?” ibuku mulai berteriak.
“Tinggalkan
dia.” Ucap ayah.
“Tidak! Aku
tidak mau!” ibuku kembali berteriak. Dia mengangkat tangannya dan dalam
seketika aku merasa pukulannya melayang di wajahku.
“Soo Jin!”
ayahku berteriak. Dia memegang tangan ibu untuk mengehentikannya menamparku
lagi.
“Aku tidak mau
memberinya apapun lagi, Bu… AKU TIDAK MAU!!” aku berteriak. Dengan cepat aku
berlari dan meninggalkan rumah sakit. Aku berlari tanpa menghiraukan peringatan
para suster. Napasku mulai terasa berat saat air mata mulai jatuh membasahi
wajahku.
Aku merasa sakit
di bagian dadaku. Aku tahu dengan satu kalimat itu, aku akan semakin
mempercepat saudaraku menuju kematian.
Tapi kau tidak
mengerti. Jika saudaraku pergi, maka aku juga pergi. Dia adalah satu-satunya
alasan kenapa aku hidup. Jika dia pergi, tidak ada lagi yang harus aku jaga,
tak ada alasan untukku hidup lebih lama. Tak ada alasan aku membutuhkan sesuatu
yang lebih banyak.
Chang Su POV
Aku melihat ke
luar jendela rumah sakit. Jaejoong sedang tidur dengan lelap di ranjangnya. Aku
menaruh majalah dan memperhatikan salju yang turun di luar jendela. Semuanya
berubah begitu cepat. Sekarang aku melihat pemandangan yang tidak pernah ingin
kulihat. Ini adalah waktu di mana aku tak bisa mengubahnya. Aku akan kehilangan
salah satu anakku, untuk jadi lebih baik atau jadi lebih buruk.
Aku menarik napas dan beralih menatap istriku, Soo Jin, yang sedang tertidur di
kursinya. Aku tahu dia lelah, sangat lelah, sama sepertiku. Tapi tak ada
alasan… yang tepat untuk… untuknya menampar Iseul. Aku marah padanya. Aku tak
mau bicara dengannya. Karena, sebagai dokter, yang paling mengerti masalah
kesehatan di keluarga kami, dia seharusnya tahu penderitaan Iseul juga.
Aku berusaha
melihat ke mana Iseul lari dari rumah sakit, tapi aku kehilangan dia. Ini
tengah malam, jam 04.00 pagi di mana dia pasti butuh istirahat. Aku memikirkan
di mana dia? Dan aku memikirkan apakah dia… baik-baik saja?
Yunho POV
Awalnya aku
tidak tahu apa yang harus kulakukan saat dia datang di depan pintuku. Aku ingat
saat melihat air mata di wajahnya dan aku mencoba menerka apa yang membuatnya
sesedih itu. Dia sangat sedih… tampak kedinginan dan terus menangis. Apapun
itu, aku tidak menunggu lama untuk menariknya dalam pelukanku.
Aku tidak tahu
kalau dia sudah menduga betapa aku menyukainya, tapi dia tidak menarik dirinya
dari pelukanku. Ketika dia agak tenang, aku membawanya ke ruang tamu. Ibuku
sedang keluar, tapi aku harus memberitahunya untuk memastikan bahwa semuanya
baik-baik saja.
Aku mengambil
ponselku dan mulai memanggil. Tiba-tiba, Iseul meraihnya dan menjatuhkan ponsel
itu dari genggamanku.
“Apa yang kau
lakukan?!” tanyaku.
“Siapa yang
ingin kau hubungi?” dia balik bertanya.
“Ibuku. Aku
harus menghubunginya dan meminta izin agar kau boleh tetap di sini. Kau tak
ingin kedua orang tuamu tahu, kan?” tanyaku.
Dia menatapku.
“Bagaimana kau tahu?” tanyanya curiga. Aku mengangkat bahu.
“Aku sudah
berbagi banyak pengalaman tentang kejujuran, berusaha untuk kabur. Awalnya aku
mencari Mr. Octopus, aku baru berusia 5 tahun jadi jangan mengira aku nakal
atau apapun yang seperti itu. Yeah, lalu saat berusia 8 tahun, aku kabur untuk
membeli video game terbaru, tapi aku tidak bisa menemukan tokonya.. jadi yeah…”
aku berhenti dan melihatnya tengah menandangiku dengan mata sendu.
Aku merasa warna
pipiku memerah. “Baiklah, intinya adalah aku tak akan memberitahu orang tuamu,
okay?” ucapku cepat sambil menatap sekeliling. Hanya ada keheningan yang sunyi
dan kemudian… Iseul mulai tertawa. Tertawa dengan lepas sampai ada air mata di
wajahnya.
Tuhan, kenapa
aku selalu bertindak seperti orang idiot di depannya? Aku malu jika melakukan
apapun! Aku beranjak pergi untuk meredam kesalahanku, tapi dia menahanku dan
menggagalkan niatku. Aku menunggu sampai dia sedikit lebih tenang.
“Maaf.” Katanya.
“Ini bukan tentangmu… ini semacam kasusmu. Tapi, terima kasih. Aku merasa jauh
lebih baik sekarang.” Katanya. Dia mengambilkan ponselku kembali.
Aku tidak
berkata apa-apa dan mulai memanggil nomor ibuku. “Maaf, apa kau gila?”
tanyanya.
Tidak, aku tak
ingin katakan ini. Aku merasa sangat gugup karena kau masih memegang lenganku,
aku merasa seperti baru saja tiba di surga. Tapi tidak, aku tidak bisa
mengatakannya. Yang bisa kukatakan hanyalah, “Tidak, aku senang kau merasa
lebih baik.”
Kemudian aku
mendengar suara ibuku di telingaku. “Ya Yunho, ada apa?”
“Tidak, Bu.
Semuanya baik-baik saja.” Ucapku. Sejauh ini semuanya terasa baik, aku pikir
mungkin Iseul akan menyukaiku sekarang… tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini
pada ibuku.
“Aku ingin
bertanya apakah seseorang boleh menginap?” tanyaku.
“Siapa?”
“Namanya I—“
“Dia?!” tanya
ibuku. “Sama sekali tidak! Apa yang akan dikatakan orang tuanya?”
“Kami tidur di
kamar yang terpisah, di lantai yang terpisah, dan itu hanya untuk satu malam
saja!” kataku.
“Baik, aku tidak
ada di rumah saat ini.” Jawabnya.
“Baik… apa yang
kau katakan, Bu?! Dia hanya singgah di sini. Apa kau katakan bahwa aku akan
melakukan sesuatu seperti itu… di rumahmu?!” aku berkata dengan nada sinis.
“Aku menyangimu,
Yunho. Tapi kau seorang pria… ketika pria ingin… kau tahu…”
“Ibu!” ucapku,
wajahku merah padam. “Itu TIDAK AKAN terjadi, oke? Jika aku melakukannya, apa
kau pikir aku sedang meneleponmu sekarang?” tanyaku.
“Tapi, kau tidak
terlalu membutuhkan kedua tanganmu untuk menelponku…”
“Ibu!” kataku.
“Aku beritahu bahwa semuanya baik-baik saja. Kenapa kau tidak percaya pada
anakmu?”
“Ya, ibu
percaya. Ibu tidak percaya pada hormonmu.”
“Cukup bu, aku
cukup yakin kalau aku bisa menanganinya.”
“Kau tidak
pernah tahu Yunho, pria bisa gila, dan kemudian mereka mulai merasa hangat
dan…”
“Ibu! Aku…”
“Tunggu,
tahanlah, kau tidak akan tahu tentang ini, kan? Maksudku kau masih perjaka
sepenuhnya…”
“Ibu!”
Dia mulai
berbisik. “Apa kau memberitahuku atau tidak? Kau sudah menodai gadis itu?
Kapan? Apa kau menghamilinya? Tunggu… apa dia seorang perawan? Aku tak ingin
kau bersedih—“
“IBU!!!” aku
berteriak ke telepon. “Ini tak seperti yang kau bayangkan! Jangan pikirkan hal
itu lagi! Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku.”
“Oke, oke. Aku
akan berhenti. Hmm… pastikan dia merasa nyaman di rumah. Aku akan segera
sampai. Dan buatlah beberapa wafer.” Katanya. “Dia bisa tinggal.”
“Ok, terima
kasih, Bu.” Ucapku. Aku menoleh untuk melihat Iseul memandangku.
“Jadi…?” tanyanya
pelan.
“Dia bilang kau
bisa tinggal.”
“Tidak bisakah
dia melenyapkan kecurigaannya?” tanya Iseul, menatapku gundah.
“Sepiring
wafer.” Ucapku. “Ingin beberapa? aku akan membuatnya…”
Astaga…ibuku…
kasian iseul TT
BalasHapusknp sih ummanya kayak lebih sayang ke jaejoong,meskipun jaejoong sakit tapi kan dy juga harus ngertiin iseul
ngakak waktu bagian yunho tlp ummanya XD
haha gatau aku cuma translate -_-v
Hapusadegan yunho sama iseul bikin cemburuu