Welcome

Selasa, 15 Mei 2012

Unbeatable Heart (translate) part 2

orginal author : yukie23 at http://www.asianfanfics.com


Iseul POV

Sirine masih terdengar jelas di telinga. Aku duduk di sebuah kursi sandar yang nyaman, ayahku baru saja membawakan kami kopi yang kami tunggu.

Itu biasa terlambat pada malam hari. Ibuku datang ke kamarku dengan berisik. “Iseul, Iseul, bangunlah!” katanya dengan suara lantang.

“Ada apa, Bu?” tanyaku.

“Bantu ibu, saudaramu jatuh.” Aku tidak menanyakan lebih banyak hal lagi. Aku segera bangun dan meraih koper yang selalu dipenuhi setiap kasus yang terjadi. Aku keluar untuk melihat ayahku menggendong Jaejoong di tangannya, lalu membawanya ke sofa. Aku bisa melihat kilatan yang berbeda dari ambulan yang baru saja tiba.

Ayah dan aku mengikuti ambulan di sini. Dia menjelaskan padaku bahwa Jaejoong berkata padanya bahwa ia tak bisa tidur, jadi dia dan ibu menunggui Jaejoong di kamar. Tapi ketika Jaejoong akan naik ke ranjangnya, dia tiba-tiba terjatuh.

Aku menghisap kopiku dengan cepat. Waktu menunjuk pukul 03.00 AM. Aku sangat lelah, tapi aku tidak bisa tidur sampai dokter memberitahu kami bagaimana keadaan Jaejoong. Ibuku mondar-mandir terus dan membuat ayah tak bisa tidur karena merasa terganggu.

Aku tahu ibuku khawatir, tapi dia lebih marah daripada apapun. Jaejoong sudah bicara sendiri dengan dokter. Dia sudah terbangun dengan cepat setelah kami sampai. Dia ingin tahu hasil pemeriksaannya.
 
Dokter menyetujui permintaannya. Jadi kami hanya bisa mengira-ira, apa yang sedang dibicarakannya dengan dokter. Ketika aku melakukan isapan kecil, pintu kamar Jaejoong terbuka dan dokter keluar. Ketika ibuku menanyakan begitu banyak hal pada dokter, aku beralih mendekat ke pintu kamar saudaraku. Aku mengetuknya dengan nyaring.

“Ma…masuklah.” Aku mendengar suaranya. Suaranya jauh lebih lemah dibandingkan saat terakhir aku mendengarnya.

“Jaejoong…” ucapku sambil menatapnya. Wajahnya benar-benar pucat. Dia tersenyum padaku. Dia memberi isyarat padaku untuk mendekat. “Apa kata dokter?”

“Sam…a.. seper…ti yang ter..ja..di..” katanya. “Ak..uu..jat…uh..”

Aku merasa takut bercampur iba. Dia jatuh lagi, tapi seperti biasanya, dia tak bisa refleks menolong diri. Di sanalah aku selalu berharap, selama aku masih berada di dekatnya, aku akan selalu berharap bisa menolongnya.

“Ise..ul” ucap Jaejoong. “Ak..u ak..an..sege..ra ma..ttii… ak.uu tahu it..u.”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa dia tidak akan mati. Karena pada akhirnya, jika Leukimia tidak membunuhnya, maka Ataxia akan membunuhnya.

“Aku.. tak..ing..in ibb..u tahu app..a yang dok..ter..kata..kann.. pa..daku.” katanya.

“Dia akan mengetahuinya juga.” Balasku.

“Aku… ta..hu.” katanya. “Ter..ka..dang…dia ter..la..llu…kass..ar. Tak mas..sal..ah apa..yang di-ka..ta..kannya…pa..ddamu..Is..eul. Yakin…kan..di..ah bah..wa ak..u mas..ih kuat. Dia..ak..kan baik..baik…sa..ja. kau..ta..hu…”

“Yeah.” Ucapku pasrah. “Aku tahu…”

Dia tersenyum padaku. “Ak..uu..ingin..is..tira..hat seka…rang, Ise..ul.”

“Yeah, tak masalah. Aku akan ke sini lagi saat kau bangun.” Ucapku. Dia mengangguk. Aku berbalik dengan pelan dan meninggalkan kamarnya. Ketika aku menutup pintu, aku merasa air mata mulai membasahi wajahku. Bisakah aku benar-benar melakukannya? Bisakah? Aku sangat takut, sangat cemas. Keputusan yang aku buat, apakah sudah tepat?

Soo Jin POV

Aku menatap dokter. “Apa yang mengakibatkan dia seperti ini sekarang, tolong beritahu aku!” aku memaksa. Dokter menarik napas berat, matanya memandangiku dan suamiku bergantian.

“Hati Jaejoong sudah rusak.” Akhirnya dia berkata.

“Seberapa burukkah itu?” tanya sumiku.

Dokter tampak gelisah. Diapun berkata. “Itu tidak akan lama, sampai dia mendapat donor hati.”

Aku mengangguk. Ini tidak terlalu buruk. Ini masalah yang bisa diselesaikan. “Aku jamin kita akan segera siap untuk memulai operasi Iseul dan Jaejoong.” Ucapku.

“Tapi, Dr. Kim. Aku tidak yakin kalau itu ide bagus.” Ucap dokter. Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Baiklah… jujur saja, aku rasa ini ide buruk jika Iseul harus melakukan operasi sekali lagi. Dia sudah melakukan banyak operasi. Aku cemas dengan kesehatannya.” Ucap dokter.

“Dia sangat sehat! Aku tahu, aku sudah sering memeriksakannya.” Balasku.

“Baiklah…” suara dokter merendah. Aku menoleh untuk mendekati Iseul yang menatap kami dari luar pintu.

“Apa Jaejoong akan baik-baik saja, Bu?” tanyanya.

“Dia akan baik-baik saja, sayang.” Jawabku. Aku berjalan menghampirinya. Aku menunduk sedikit, tanganku diletakkan di bahunya. Aku baru sadar bahwa puteriku sudah tumbuh besar. Dia hampir sama tingginya denganku. “Aku membutuhkan bantuanmu.”

“Soo Jin”, Chang Su memanggil. “Bisakah kau dengarkan dokter dulu?”

Aku tak menghiraukannya. Aku menatap lekat ke arah puteriku. “Iseul, Jaejoong membutuhkan sesuatu darimu. Dia butuh bagian dari hatimu. Jangan khawatir, milikmu akan tumbuh lagi, tapi Jaejoong membutuhkan hati yang sehat untuk melawan kanker yang menyerang hatinya.”

Dia menatapku. Aku mendengar suamiku menarik napas di belakangku.

“Bisakah kau memberikan itu untuknya, Iseul?” tanyaku, tahu pasti apa jawabannya.

Iseul POV

Aku menatap ibuku, hatiku terasa diketuk dari dada. Sekarang? Sekarang juga? Jika aku tidak melakukannya sekarang, aku tidak akan pernah berani untuk melakukannya lagi. Aku menjauh dan melepaskan tangan ibu dari bahuku, mengalihkan pandangannya.

“Bu…” ucapku. Dia berdiri lebih dekat untuk mendengarkanku. “Aku tak mau melakukannya.”

“Bagus, Ise—tunggu, apa yang kau katakan?” tanyanya, nada panik terdengar dari suaranya. Aku melihatnya memandangiku dengan terkejut.

Aku mengangguk. “Aku tidak bisa melakukannya lagi, Bu. Tidak.”

“Iseul! Ada apa denganmu?” ibuku mulai berteriak.

“Tinggalkan dia.” Ucap ayah.

“Tidak! Aku tidak mau!” ibuku kembali berteriak. Dia mengangkat tangannya dan dalam seketika aku merasa pukulannya melayang di wajahku.

“Soo Jin!” ayahku berteriak. Dia memegang tangan ibu untuk mengehentikannya menamparku lagi.

“Aku tidak mau memberinya apapun lagi, Bu… AKU TIDAK MAU!!” aku berteriak. Dengan cepat aku berlari dan meninggalkan rumah sakit. Aku berlari tanpa menghiraukan peringatan para suster. Napasku mulai terasa berat saat air mata mulai jatuh membasahi wajahku.

Aku merasa sakit di bagian dadaku. Aku tahu dengan satu kalimat itu, aku akan semakin mempercepat saudaraku menuju kematian.

Tapi kau tidak mengerti. Jika saudaraku pergi, maka aku juga pergi. Dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku hidup. Jika dia pergi, tidak ada lagi yang harus aku jaga, tak ada alasan untukku hidup lebih lama. Tak ada alasan aku membutuhkan sesuatu yang lebih banyak.

Chang Su POV

Aku melihat ke luar jendela rumah sakit. Jaejoong sedang tidur dengan lelap di ranjangnya. Aku menaruh majalah dan memperhatikan salju yang turun di luar jendela. Semuanya berubah begitu cepat. Sekarang aku melihat pemandangan yang tidak pernah ingin kulihat. Ini adalah waktu di mana aku tak bisa mengubahnya. Aku akan kehilangan salah satu anakku, untuk jadi lebih baik atau jadi lebih buruk.
 
Aku menarik napas dan beralih menatap istriku, Soo Jin, yang sedang tertidur di kursinya. Aku tahu dia lelah, sangat lelah, sama sepertiku. Tapi tak ada alasan… yang tepat untuk… untuknya menampar Iseul. Aku marah padanya. Aku tak mau bicara dengannya. Karena, sebagai dokter, yang paling mengerti masalah kesehatan di keluarga kami, dia seharusnya tahu penderitaan Iseul juga.

Aku berusaha melihat ke mana Iseul lari dari rumah sakit, tapi aku kehilangan dia. Ini tengah malam, jam 04.00 pagi di mana dia pasti butuh istirahat. Aku memikirkan di mana dia? Dan aku memikirkan apakah dia… baik-baik saja?

Yunho POV

Awalnya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat dia datang di depan pintuku. Aku ingat saat melihat air mata di wajahnya dan aku mencoba menerka apa yang membuatnya sesedih itu. Dia sangat sedih… tampak kedinginan dan terus menangis. Apapun itu, aku tidak menunggu lama untuk menariknya dalam pelukanku.

Aku tidak tahu kalau dia sudah menduga betapa aku menyukainya, tapi dia tidak menarik dirinya dari pelukanku. Ketika dia agak tenang, aku membawanya ke ruang tamu. Ibuku sedang keluar, tapi aku harus memberitahunya untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku mengambil ponselku dan mulai memanggil. Tiba-tiba, Iseul meraihnya dan menjatuhkan ponsel itu dari genggamanku.

“Apa yang kau lakukan?!” tanyaku.

“Siapa yang ingin kau hubungi?” dia balik bertanya.

“Ibuku. Aku harus menghubunginya dan meminta izin agar kau boleh tetap di sini. Kau tak ingin kedua orang tuamu tahu, kan?” tanyaku.

Dia menatapku. “Bagaimana kau tahu?” tanyanya curiga. Aku mengangkat bahu.

“Aku sudah berbagi banyak pengalaman tentang kejujuran, berusaha untuk kabur. Awalnya aku mencari Mr. Octopus, aku baru berusia 5 tahun jadi jangan mengira aku nakal atau apapun yang seperti itu. Yeah, lalu saat berusia 8 tahun, aku kabur untuk membeli video game terbaru, tapi aku tidak bisa menemukan tokonya.. jadi yeah…” aku berhenti dan melihatnya tengah menandangiku dengan mata sendu.

Aku merasa warna pipiku memerah. “Baiklah, intinya adalah aku tak akan memberitahu orang tuamu, okay?” ucapku cepat sambil menatap sekeliling. Hanya ada keheningan yang sunyi dan kemudian… Iseul mulai tertawa. Tertawa dengan lepas sampai ada air mata di wajahnya.

Tuhan, kenapa aku selalu bertindak seperti orang idiot di depannya? Aku malu jika melakukan apapun! Aku beranjak pergi untuk meredam kesalahanku, tapi dia menahanku dan menggagalkan niatku. Aku menunggu sampai dia sedikit lebih tenang.

“Maaf.” Katanya. “Ini bukan tentangmu… ini semacam kasusmu. Tapi, terima kasih. Aku merasa jauh lebih baik sekarang.” Katanya. Dia mengambilkan ponselku kembali.

Aku tidak berkata apa-apa dan mulai memanggil nomor ibuku. “Maaf, apa kau gila?” tanyanya.

Tidak, aku tak ingin katakan ini. Aku merasa sangat gugup karena kau masih memegang lenganku, aku merasa seperti baru saja tiba di surga. Tapi tidak, aku tidak bisa mengatakannya. Yang bisa kukatakan hanyalah, “Tidak, aku senang kau merasa lebih baik.”

Kemudian aku mendengar suara ibuku di telingaku. “Ya Yunho, ada apa?”

“Tidak, Bu. Semuanya baik-baik saja.” Ucapku. Sejauh ini semuanya terasa baik, aku pikir mungkin Iseul akan menyukaiku sekarang… tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini pada ibuku.

“Aku ingin bertanya apakah seseorang boleh menginap?” tanyaku.

“Siapa?”

“Namanya I—“

“Dia?!” tanya ibuku. “Sama sekali tidak! Apa yang akan dikatakan orang tuanya?”

“Kami tidur di kamar yang terpisah, di lantai yang terpisah, dan itu hanya untuk satu malam saja!” kataku.

“Baik, aku tidak ada di rumah saat ini.” Jawabnya.

“Baik… apa yang kau katakan, Bu?! Dia hanya singgah di sini. Apa kau katakan bahwa aku akan melakukan sesuatu seperti itu… di rumahmu?!” aku berkata dengan nada sinis.

“Aku menyangimu, Yunho. Tapi kau seorang pria… ketika pria ingin… kau tahu…”

“Ibu!” ucapku, wajahku merah padam. “Itu TIDAK AKAN terjadi, oke? Jika aku melakukannya, apa kau pikir aku sedang meneleponmu sekarang?” tanyaku.

“Tapi, kau tidak terlalu membutuhkan kedua tanganmu untuk menelponku…”

“Ibu!” kataku. “Aku beritahu bahwa semuanya baik-baik saja. Kenapa kau tidak percaya pada anakmu?”

“Ya, ibu percaya. Ibu tidak percaya pada hormonmu.”

“Cukup bu, aku cukup yakin kalau aku bisa menanganinya.”

“Kau tidak pernah tahu Yunho, pria bisa gila, dan kemudian mereka mulai merasa hangat dan…”

“Ibu! Aku…”

“Tunggu, tahanlah, kau tidak akan tahu tentang ini, kan? Maksudku kau masih perjaka sepenuhnya…”
“Ibu!”

Dia mulai berbisik. “Apa kau memberitahuku atau tidak? Kau sudah menodai gadis itu? Kapan? Apa kau menghamilinya? Tunggu… apa dia seorang perawan? Aku tak ingin kau bersedih—“

“IBU!!!” aku berteriak ke telepon. “Ini tak seperti yang kau bayangkan! Jangan pikirkan hal itu lagi! Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku.”

“Oke, oke. Aku akan berhenti. Hmm… pastikan dia merasa nyaman di rumah. Aku akan segera sampai. Dan buatlah beberapa wafer.” Katanya. “Dia bisa tinggal.”

“Ok, terima kasih, Bu.” Ucapku. Aku menoleh untuk melihat Iseul memandangku.

“Jadi…?” tanyanya pelan.

“Dia bilang kau bisa tinggal.”

“Tidak bisakah dia melenyapkan kecurigaannya?” tanya Iseul, menatapku gundah.

“Sepiring wafer.” Ucapku. “Ingin beberapa? aku akan membuatnya…”

Astaga…ibuku…

2 komentar:

  1. kasian iseul TT
    knp sih ummanya kayak lebih sayang ke jaejoong,meskipun jaejoong sakit tapi kan dy juga harus ngertiin iseul
    ngakak waktu bagian yunho tlp ummanya XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha gatau aku cuma translate -_-v
      adegan yunho sama iseul bikin cemburuu

      Hapus