Sidang akan dimulai dalam 30 menit lagi. Namun
tampaknya, tak ada sedikitpun kecemasan di wajah Yoochun. Ia duduk dengan
santai, tertawa dan bercanda dengan Meissy. Sementara Go Ara sampai saat ini
belum terlihat berada di ruang sidang. Changmin dan Yunho sudah duduk tegak di
bangku pendukung, mereka saling terdiam seolah tidak mengenal satu sama lain.
Sementara itu, ibu produser dan kuasa hukumnya; Mr. Shin, tampak tengah
mendiskusikan sesuatu. Junsu dan Jaejoong masih belum terlihat di ruangan itu.
“Di mana Junsu dan Jaejoong?” tanya Yunho.
“Aku tidak tahu, hyung.”
“Coba kau telepon Junsu, biar aku yang telepon
Jaejoong.”
“Baiklah.” Changmin segera mengambil ponselnya dan
menekan nomor Junsu, begitupun dengan Yunho. Tapi beberapa saat kemudian, Yunho
menurunkan ponselnya lagi. Changmin masih tampak menunggu Junsu menjawab
panggilannya sebelum akhirnya dia berkata pada Yunho. “Tidak diangkat.”
“Nomor Jaejoong tidak aktif.”
“Apa yang mereka lakukan di saat-saat genting begini?”
gerutu Changmin kesal.
“Kita tunggu saja kabar dari mereka. kalau memang
sampai persidangan dimulai, mereka tidak datang, mungkin mereka benar-benar
tidak sempat.”
“Kau masih saja membela mereka, ya?” nada bicara
Changmin seperti mencibir.
Yunho tidak menjawab ucapan itu. Ia tahu saat ini
bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan Changmin mengenai hal-hal yang tak
penting. Dan entah bagaimana, ia merasa seperti mendapat bisikan yang
meyakinkannya bahwa persidangan ini akan berakhir sama seperti saat dulu mereka
berlima dihadapkan dengan SM. si ibu tua yang duduk di sana itu punya segudang
uang yang bisa ia masukkan ke mulut hakim agar sang hakim memenang-kannya. Sungguh
tidak adil. Hukum tidak pernah adil. Yunho mengepalkan tinjunya erat-erat saat
ia merasa ia ingin sekali mencekik ibu produser yang sedang duduk di sana itu.
“Di mana Go Ara?” tanya Changmin membuyarkan lamunan
Yunho.
“Aku tidak tahu. Mungkin dia masih di jalan menuju ke
sini.”
“Sidangnya akan dimulai 15 menit lagi, sebaiknya kau
cepat hubungi dia!”
“Dia pasti datang, Changmin. Aku bisa menjanjikannya.”
***
Junsu POV
Junsu POV
Aku tahu seharusnya aku mengangkat panggilan itu,
bukan malah mendiamkannya seperti ini. Changmin pasti bermaksud untuk
menyuruhku cepat datang ke sana. Tapi entah kenapa, dengan bodohnya aku hanya
memandangi panggilan masuk itu tanpa menjawabnya.
Kulemparkan ponselku ke ranjang. Aku memeluk lutut
sambil bersandar di ujung ranjangku, memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan
Yoochun hyung.
Haruskah aku datang ke sana? Haruskah aku menemani
Yoochun hyung di persidangan? Bukankah di sana sudah ada Changmin? Dan mungkin…
ada Yunho hyung dan Jaejoong hyung juga. Jadi kurasa Yoochun hyung takkan membutuhkan
kehadiranku di sana.
Aku tidak percaya, akhirnya… tidak ada yang sanggup
membayar uang 100 juta won itu.
Tok tok tok
Aku dikejutkan oleh suara yang muncul dari arah pintu.
“Masuklah.” Ucapku tanpa berbasa-basi. Kulihat pintu
dibuka dari luar. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat sosok Taeyeon yang
memasuki kamarku. Bagaimana mungkin dia ada di sini?
“Kau sakit, oppa?” tanyanya sambil duduk di tepi
ranjangku.
“Tidak.” Jawabku salah tingkah. “Untuk apa kau ke
sini?”
“Untuk menjemputmu. Aku yakin kau pasti tahu bahwa
hari ini adalah hari pengadilan Yoochun oppa. dan aku akan melakukan apapun
asalkan kau mau datang ke sana.”
“Kenapa kau harus ikut campur masalah ini?” tanyaku
kesal.
“Karena aku peduli padamu.” Taeyeon menatap mataku
dengan seribu arti. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa selalu membuatku
kehilangan kata-kata. “Ayo cepat bersiap-siaplah.” Katanya lagi. Aku tahu
memang tak seharusnya aku mengurung diri seperti ini. Terlebih, aku tidak bisa
membohongi diriku sendiri bahwa aku sangat mencemaskan Yoochun hyung.
“Apa menurutmu kita tidak akan terlambat?”
“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”
Aku memandang wajah Taeyeon sekali lagi. Dia
mengangguk, mengisyaratkanku untuk segera bergerak. Dan akhirnya, aku tak punya
pilihan lain. Kuambil jaketku dan tanpa me-nunggu apapun aku segera melesat
bersamanya menuju gedung pengadilan. Semoga aku tidak terlambat. Aku ingin
memastikan bahwa Yoochun hyung baik-baik saja. Dia sama sekali tidak terluka.
***
Jaejoong POV
Aku memeluk Hana yang terkulai lemas di sampingku,
sejak kami tiba di sini dia bahkan tak menghentikan tangisannya.
Aku tau dia mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun.
Sejujurnya aku juga sangat meng-khawatirkannya, tapi sekarang apa yang bisa
kulakukan selain berdoa?
Hanya aku, Hana, dan beberapa member Super Junior yang
masih menunggu di ruang tunggu. Aku menyuruh orang tua Hana untuk ke hotel,
menenangkan diri dan beristirahat.
Aku meraih ponsel-ku yang sejak tadi kumatikan. Aku menyalakannya, beberapa
panggilan tidak terjawab dan pesan masuk.
‘Persidangan di mulai hari ini jam 11.00’ begitulah
pesan singkat dari Yoochun. Sekarang masih jam 10.45. Antara Korea dan Jepang
tidak ada perbedaan jam jadi, 15 menit lagi sebelum persidangan di mulai.
Apakah mereka tidak mendapatkan uang untuk membayar
ganti rugi tersebut? Apakah jalan hukum adalah jalan yang di pilih mereka?
Aku tau Yoochun akan memilih jalan ini tapi bagaimana
dengan yang lain? Yunho? Apa yang di lakukannya? Bagaimana jika Yoochun kalah?
Pasti dia harus membayar yang lebih banyak lagi dari 100 juta won. Hukum memang
tak pernah adil.
Aku mencengkram ponselku dengan erat, bahkan aku
merasakan amarahku meluap. Hana hanya menggeleng lemah dan menyentuh tanganku,
aku merasa tangannya sedingin es.
“Kau mencemaskan
mereka?” Dia bertanya di sela-sela isakan tangisnya.
Aku mengerti apa yang Hana maksud dengan kata
‘mereka’. Hana tau jika aku mencemaskan mereka, tapi Hana sudah cukup depresi
mengingat keadaan Kyuhyun.
Aku belum sempat menjawab pertanyaan, ketika mulut
Hana kembali terbuka. “Aku tau kau mencemaskan mereka.”
Aku menatap Hana, “Ya, aku mencemaskan mereka.
sudahlah kau tak usah mencemaskan mereka, cukup aku saja yang mencemaskan
mereka. keadaan kyu-“
“Aku tau bagaimana keadaan Kyu, tapi aku tak tahu
bagaimana keadaan keempat oppa-ku yang ada di Korea.” Dia mulai duduk tegak,
kurasa dia berusaha untuk terlihat tegar di hadapanku. “Lebih baik kau
menelepon Yunho oppa dan tanyakan keadaan disana.” Hana memberi saran.
“Tapi bagaimana jika mereka marah, karena aku tak bisa
hadir saat persidangan Yoochun?”
Aku tau, jika aku menelepon Yunho dia akan marah
karena aku tak bisa menempati janji untuk menghadapi pengadilan bersama-sama.
Tapi keadaan ini sangat sulit. Aku bisa saja kembali ke Korea dengan penerbangan
pertama dan sampai di Korea beberapa jam lagi. tapi aku tak mungkin melakukan
itu. Bagaimana dengan Hana? Kyuhyun? Orang tua Hana? Tak mungkin aku menjadi
egois dan meninggalkan mereka hanya untuk menghadiri persidangan.
Aku sudah bertekad bahwa Yoochun pasti bisa melewati persidangan in dengan
ataupun tanpa kehadiranku.
Saat ini hanya Hana yang menjadi prioritasku, Hana
lebih membutuhkanku dari pada Yoochun. mungkin aku tak mengerti perasaan Hana,
perasaan seorang kakak yang takut kehilangan seorang adik yang sangat di
sayanginya.
Tapi bagaimana dengan Yoochun dan yang lainnya? aku
tak mungkin melupakan masalah mereka. masalah mereka adalah masalahku juga.
“Kau ingin kembali ke Korea?” tanyanya. Pertanyaan itu
membuatku kembali ke dunia nyata.
Bagaimana Hana bisa bertanya seperti itu? Sudah jelas aku akan selalu di
sampingnya. Tak mungkin aku meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku tak dapat
mengontrol nada bicaraku, “Aku tak mungkin meninggalkanmu disini dalam keadaan
seperti ini.”
“Aku tau oppa.” Hana tersenyum, walaupun aku tau
senyuman itu sangat di paksakan. “Maka dari itu kau harus menelepon Yunho
hyung. Kau harus bertanya keadaan mereka semua.”
“Kenapa aku harus menelepon mereka? mereka akan baik-baik
saja tanpaku.”
“Oppa, sejak kapan kau jadi egois seperti ini.” Nada
suara Hana meninggi. “Kau jangan berbohong padaku! Kau cemaskan akan keadaan
mereka? kau ingin memastikan semuanya baik-baik saja kan? Ayo telepon mereka.”
“Nanti saja.” Jawabku, mencoba membohongi perasaanku
sendiri. “Saat persidangan telah usai.”
“Kenapa harus nanti?” Hana cemberut. “Kenapa tidak
sekarang? jika kau tidak hadir di sana, setidaknya kau bisa memberi semangat
kepada yang lainnya.”
Hana benar, jika aku tidak bisa hadir setidaknya aku
bisa memberi dukungan buat mereka.
“Apa yang kau pikirkan lagi?” Hana manatapku tajam.
“Cepat telepon mereka.”
Aku berdiri, sedikit menjauh dari Hana. Hana tersenyum
puas. Aku mencari nomor telepon Yunho dalam daftar phonebook-ku. dengan segera
aku meneleponnya..
Aku membuka mulut untuk memberi salam terlebih dahulu,
tetapi suara di seberang sama lebih cepat.
“Jaejoong, kau kemana saja? Persidangan sudah hampi
dimulai.” Aku mengenal suara itu, itu adalah suara Yunho. “Kau harus cepat
kemari atau aku akan membunuhmu!”
“Apa itu Jaejoong hyung?” terdengar suara tinggi
Changmin. “Aku ingin berbicara padanya!”
“Hyung? Hyung?” Sepertinya Changmin merampas ponsel
yang di pegang Yunho, karena terdengar suara Changmin setengah berteriak
membuat telingaku sedikit sakit.” Kau mendengarku?”
“Tentu saja.” Jawabku singkat. “Bagaimana aku tidak
mendengarkanmu , jika kau berteriak kepadaku, bagaimana….”
“Kau kemana saja? Kenapa kau tidak ada disini?
Persidangan akan segera di mulai.” Changmin terus melanjutkan kata-katanya
tanpa memperdulikan perkataanku sebelumnya.
“Kau harus kemari! Karena kita harus menyelesaikan ini
bersama-sama.”
“Tapi..”
“Aku tidak mau mendengarkan alasanmu, kau tetap harus
kemari! Yoochun hyung membutuhkanmu dan kami membutuhkanmu!”
“Tapi..”
“Tidak ada tapi-tapian. Semua sudah ada di sini
kecuali kau!”
“Aku tak bisa..”
“Berikan ponselku!” terdengar Yunho hyung berteriak.
“Jaejoong, kenapa kau tak bisa kemari?”
“Karena aku berada di Jepang saat ini.”
“Kau menghindari persidangan? Kau berlibur ke Jepang
bersama Hana?” Yunho mulai menuduh. “Kau mau meninggalkan kami?”
“Tidak, aku sedang tidak berlibur.” Kataku, menyanggah
tuduhan yang di lontarkan Yunho.
“Kenapa? Adakah hal penting yang membuatmu pergi ke
Jepang dan meninggalkan kami?” Sindir Yunho, tapi nada bicaranya lebih tenang
dari pada nada bicara Changmin.
“Kyuhyun.” Kataku pelan.
“Hanya alasan sepele seperti itu kau meninggalkan
kami?” Yunho berkata. “Kau harus tetap kemari! Karena kami membutuhkanmu.”
“Tidak bisa, aku tidak bisa!” Aku menahan agar air
mataku tidak keluar. “Aku tidak bisa karena Kyuhyun mengalami kecelakaan dan
sekarang dia koma!” Aku berteriak, membuat semua mata memandang kearahku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar