Welcome

Kamis, 17 Mei 2012

DBSK comeback? (part 30)

Author POV

Sidang akan dimulai dalam 30 menit lagi. Namun tampaknya, tak ada sedikitpun kecemasan di wajah Yoochun. Ia duduk dengan santai, tertawa dan bercanda dengan Meissy. Sementara Go Ara sampai saat ini belum terlihat berada di ruang sidang. Changmin dan Yunho sudah duduk tegak di bangku pendukung, mereka saling terdiam seolah tidak mengenal satu sama lain. Sementara itu, ibu produser dan kuasa hukumnya; Mr. Shin, tampak tengah mendiskusikan sesuatu. Junsu dan Jaejoong masih belum terlihat di ruangan itu.

“Di mana Junsu dan Jaejoong?” tanya Yunho.

“Aku tidak tahu, hyung.”

“Coba kau telepon Junsu, biar aku yang telepon Jaejoong.”

“Baiklah.” Changmin segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Junsu, begitupun dengan Yunho. Tapi beberapa saat kemudian, Yunho menurunkan ponselnya lagi. Changmin masih tampak menunggu Junsu menjawab panggilannya sebelum akhirnya dia berkata pada Yunho. “Tidak diangkat.”

“Nomor Jaejoong tidak aktif.”

“Apa yang mereka lakukan di saat-saat genting begini?” gerutu Changmin kesal.

“Kita tunggu saja kabar dari mereka. kalau memang sampai persidangan dimulai, mereka tidak datang, mungkin mereka benar-benar tidak sempat.”

“Kau masih saja membela mereka, ya?” nada bicara Changmin seperti mencibir.

Yunho tidak menjawab ucapan itu. Ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan Changmin mengenai hal-hal yang tak penting. Dan entah bagaimana, ia merasa seperti mendapat bisikan yang meyakinkannya bahwa persidangan ini akan berakhir sama seperti saat dulu mereka berlima dihadapkan dengan SM. si ibu tua yang duduk di sana itu punya segudang uang yang bisa ia masukkan ke mulut hakim agar sang hakim memenang-kannya. Sungguh tidak adil. Hukum tidak pernah adil. Yunho mengepalkan tinjunya erat-erat saat ia merasa ia ingin sekali mencekik ibu produser yang sedang duduk di sana itu.

“Di mana Go Ara?” tanya Changmin membuyarkan lamunan Yunho.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia masih di jalan menuju ke sini.”

“Sidangnya akan dimulai 15 menit lagi, sebaiknya kau cepat hubungi dia!”

“Dia pasti datang, Changmin. Aku bisa menjanjikannya.”

***

Junsu POV

Aku tahu seharusnya aku mengangkat panggilan itu, bukan malah mendiamkannya seperti ini. Changmin pasti bermaksud untuk menyuruhku cepat datang ke sana. Tapi entah kenapa, dengan bodohnya aku hanya memandangi panggilan masuk itu tanpa menjawabnya.

Kulemparkan ponselku ke ranjang. Aku memeluk lutut sambil bersandar di ujung ranjangku, memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan Yoochun hyung.

Haruskah aku datang ke sana? Haruskah aku menemani Yoochun hyung di persidangan? Bukankah di sana sudah ada Changmin? Dan mungkin… ada Yunho hyung dan Jaejoong hyung juga. Jadi kurasa Yoochun hyung takkan membutuhkan kehadiranku di sana.

Aku tidak percaya, akhirnya… tidak ada yang sanggup membayar uang 100 juta won itu.

Tok tok tok

Aku dikejutkan oleh suara yang muncul dari arah pintu.

“Masuklah.” Ucapku tanpa berbasa-basi. Kulihat pintu dibuka dari luar. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat sosok Taeyeon yang memasuki kamarku. Bagaimana mungkin dia ada di sini?

“Kau sakit, oppa?” tanyanya sambil duduk di tepi ranjangku.

“Tidak.” Jawabku salah tingkah. “Untuk apa kau ke sini?”

“Untuk menjemputmu. Aku yakin kau pasti tahu bahwa hari ini adalah hari pengadilan Yoochun oppa. dan aku akan melakukan apapun asalkan kau mau datang ke sana.”

“Kenapa kau harus ikut campur masalah ini?” tanyaku kesal.

“Karena aku peduli padamu.” Taeyeon menatap mataku dengan seribu arti. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa selalu membuatku kehilangan kata-kata. “Ayo cepat bersiap-siaplah.” Katanya lagi. Aku tahu memang tak seharusnya aku mengurung diri seperti ini. Terlebih, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku sangat mencemaskan Yoochun hyung.

“Apa menurutmu kita tidak akan terlambat?”

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Aku memandang wajah Taeyeon sekali lagi. Dia mengangguk, mengisyaratkanku untuk segera bergerak. Dan akhirnya, aku tak punya pilihan lain. Kuambil jaketku dan tanpa me-nunggu apapun aku segera melesat bersamanya menuju gedung pengadilan. Semoga aku tidak terlambat. Aku ingin memastikan bahwa Yoochun hyung baik-baik saja. Dia sama sekali tidak terluka.

***

Jaejoong POV

Aku memeluk Hana yang terkulai lemas di sampingku, sejak kami tiba di sini dia bahkan tak menghentikan tangisannya.

Aku tau dia mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun. Sejujurnya aku juga sangat meng-khawatirkannya, tapi sekarang apa yang bisa kulakukan selain berdoa?

Hanya aku, Hana, dan beberapa member Super Junior yang masih menunggu di ruang tunggu. Aku menyuruh orang tua Hana untuk ke hotel, menenangkan diri dan beristirahat.
 
Aku meraih ponsel-ku yang sejak tadi kumatikan. Aku menyalakannya, beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan masuk.

‘Persidangan di mulai hari ini jam 11.00’ begitulah pesan singkat dari Yoochun. Sekarang masih jam 10.45. Antara Korea dan Jepang tidak ada perbedaan jam jadi, 15 menit lagi sebelum persidangan di mulai.

Apakah mereka tidak mendapatkan uang untuk membayar ganti rugi tersebut? Apakah jalan hukum adalah jalan yang di pilih mereka?

Aku tau Yoochun akan memilih jalan ini tapi bagaimana dengan yang lain? Yunho? Apa yang di lakukannya? Bagaimana jika Yoochun kalah? Pasti dia harus membayar yang lebih banyak lagi dari 100 juta won. Hukum memang tak pernah adil.

Aku mencengkram ponselku dengan erat, bahkan aku merasakan amarahku meluap. Hana hanya menggeleng lemah dan menyentuh tanganku, aku merasa tangannya sedingin es.

 “Kau mencemaskan mereka?” Dia bertanya di sela-sela isakan tangisnya.

Aku mengerti apa yang Hana maksud dengan kata ‘mereka’. Hana tau jika aku mencemaskan mereka, tapi Hana sudah cukup depresi mengingat keadaan Kyuhyun.

Aku belum sempat menjawab pertanyaan, ketika mulut Hana kembali terbuka. “Aku tau kau mencemaskan mereka.”

Aku menatap Hana, “Ya, aku mencemaskan mereka. sudahlah kau tak usah mencemaskan mereka, cukup aku saja yang mencemaskan mereka. keadaan kyu-“

“Aku tau bagaimana keadaan Kyu, tapi aku tak tahu bagaimana keadaan keempat oppa-ku yang ada di Korea.” Dia mulai duduk tegak, kurasa dia berusaha untuk terlihat tegar di hadapanku. “Lebih baik kau menelepon Yunho oppa dan tanyakan keadaan disana.” Hana memberi saran.

“Tapi bagaimana jika mereka marah, karena aku tak bisa hadir saat persidangan Yoochun?”

Aku tau, jika aku menelepon Yunho dia akan marah karena aku tak bisa menempati janji untuk menghadapi pengadilan bersama-sama. Tapi keadaan ini sangat sulit. Aku bisa saja kembali ke Korea dengan penerbangan pertama dan sampai di Korea beberapa jam lagi. tapi aku tak mungkin melakukan itu. Bagaimana dengan Hana? Kyuhyun? Orang tua Hana? Tak mungkin aku menjadi egois dan meninggalkan mereka hanya untuk menghadiri persidangan.
 
Aku sudah bertekad bahwa Yoochun pasti bisa melewati persidangan in dengan ataupun tanpa kehadiranku.
Saat ini hanya Hana yang menjadi prioritasku, Hana lebih membutuhkanku dari pada Yoochun. mungkin aku tak mengerti perasaan Hana, perasaan seorang kakak yang takut kehilangan seorang adik yang sangat di sayanginya.

Tapi bagaimana dengan Yoochun dan yang lainnya? aku tak mungkin melupakan masalah mereka. masalah mereka adalah masalahku juga.

“Kau ingin kembali ke Korea?” tanyanya. Pertanyaan itu membuatku kembali ke dunia nyata.
 
Bagaimana Hana bisa bertanya seperti itu? Sudah jelas aku akan selalu di sampingnya. Tak mungkin aku meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku tak dapat mengontrol nada bicaraku, “Aku tak mungkin meninggalkanmu disini dalam keadaan seperti ini.”

“Aku tau oppa.” Hana tersenyum, walaupun aku tau senyuman itu sangat di paksakan. “Maka dari itu kau harus menelepon Yunho hyung. Kau harus bertanya keadaan mereka semua.”

“Kenapa aku harus menelepon mereka? mereka akan baik-baik saja tanpaku.”

“Oppa, sejak kapan kau jadi egois seperti ini.” Nada suara Hana meninggi. “Kau jangan berbohong padaku! Kau cemaskan akan keadaan mereka? kau ingin memastikan semuanya baik-baik saja kan? Ayo telepon mereka.”

“Nanti saja.” Jawabku, mencoba membohongi perasaanku sendiri. “Saat persidangan telah usai.”

“Kenapa harus nanti?” Hana cemberut. “Kenapa tidak sekarang? jika kau tidak hadir di sana, setidaknya kau bisa memberi semangat kepada yang lainnya.”

Hana benar, jika aku tidak bisa hadir setidaknya aku bisa memberi dukungan buat mereka.

“Apa yang kau pikirkan lagi?” Hana manatapku tajam. “Cepat telepon mereka.”

Aku berdiri, sedikit menjauh dari Hana. Hana tersenyum puas. Aku mencari nomor telepon Yunho dalam daftar phonebook-ku. dengan segera aku meneleponnya..

Aku membuka mulut untuk memberi salam terlebih dahulu, tetapi suara di seberang sama lebih cepat.

“Jaejoong, kau kemana saja? Persidangan sudah hampi dimulai.” Aku mengenal suara itu, itu adalah suara Yunho. “Kau harus cepat kemari atau aku akan membunuhmu!”

“Apa itu Jaejoong hyung?” terdengar suara tinggi Changmin. “Aku ingin berbicara padanya!”

“Hyung? Hyung?” Sepertinya Changmin merampas ponsel yang di pegang Yunho, karena terdengar suara Changmin setengah berteriak membuat telingaku sedikit sakit.” Kau mendengarku?”

“Tentu saja.” Jawabku singkat. “Bagaimana aku tidak mendengarkanmu , jika kau berteriak kepadaku, bagaimana….”

“Kau kemana saja? Kenapa kau tidak ada disini? Persidangan akan segera di mulai.” Changmin terus melanjutkan kata-katanya tanpa memperdulikan perkataanku sebelumnya.

“Kau harus kemari! Karena kita harus menyelesaikan ini bersama-sama.”

“Tapi..”

“Aku tidak mau mendengarkan alasanmu, kau tetap harus kemari! Yoochun hyung membutuhkanmu dan kami membutuhkanmu!”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian. Semua sudah ada di sini kecuali kau!”

“Aku tak bisa..”

“Berikan ponselku!” terdengar Yunho hyung berteriak. “Jaejoong, kenapa kau tak bisa kemari?”

“Karena aku berada di Jepang saat ini.”

“Kau menghindari persidangan? Kau berlibur ke Jepang bersama Hana?” Yunho mulai menuduh. “Kau mau meninggalkan kami?”

“Tidak, aku sedang tidak berlibur.” Kataku, menyanggah tuduhan yang di lontarkan Yunho.

“Kenapa? Adakah hal penting yang membuatmu pergi ke Jepang dan meninggalkan kami?” Sindir Yunho, tapi nada bicaranya lebih tenang dari pada nada bicara Changmin.

“Kyuhyun.” Kataku pelan.

“Hanya alasan sepele seperti itu kau meninggalkan kami?” Yunho berkata. “Kau harus tetap kemari! Karena kami membutuhkanmu.”

“Tidak bisa, aku tidak bisa!” Aku menahan agar air mataku tidak keluar. “Aku tidak bisa karena Kyuhyun mengalami kecelakaan dan sekarang dia koma!” Aku berteriak, membuat semua mata memandang kearahku.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar