Hana POV
Aku merapikan beberapa pakaian yang berserakan di atas
ranjang, kutarik koper yang selama seminggu ini berada di bawah ranjang. Aku
mulai mengemasi pakaian-pakaian ini. Kuambil beberapa pakaian yang berada di
lemari kecil itu. Malam ini kami akan terbang ke Seoul, karena bulan madu kami
sudah selesai. Aku menatap Jaejoong oppa.
Sejak tiba di hotel dia hanya duduk di dekat jendela
dan menatap pemandangan di luar, tatapannya kosong, seperti sedang memikirkan
sesuatu. Sampai saat ini aku tidak mengetahui apakah Jaejoong oppa menerima
tawaran itu atau tidak.
Aku berjalan menuju balkon hotel, pemandangan di sini
sangat indah, hotel yang langsung menghadap laut. Aku meraih ponsel yang
terletak di sakuku, tidak ada pesan masuk satupun, pasti mereka semua tidak mau
menggangguku dan Jaejoong oppa. Aku terkekeh pelan.
Kemudian aku mengambil gambar, gambar ini akan aku tunjukan kepada semuanya
saat kami sampai di Seoul.
Kemudian aku membuka gallery, gallery ini penuh dengan
foto-foto ku dan Jaejoong oppa, mulai dari foto pertamaku saat aku bertemu
dengannya, sampai saat, saat bulan maduku dengannya.
Seseorang
memeluku dari belakang, dan dia mencium leherku. Aku sedikit kaget dan aku
mencoba membalikkan badan, kulihat Jaejoong oppa berdiri di belakangku. Dia
memeluk pinggangku, aku meletakkan tanganku di lehernya, dan dia mendekatkan
wajahnya padaku, melumat lembut kedua bibirku, dan aku tidak menolaknya.
“Maafkan aku.” Dia berkata setelah melepaskan bibirnya
dari bibirku.
“Sudahlah oppa, tak ada yang perlu dimaafkan.” Aku
membalikan badan, dan sekarang aku menatap lautan luas dari atas sini. Begitu
indah.
Dia masih memelukku dari belakang, aku tidak menegerti
kenapa mood-nya cepat sekali berubah, tadi dia marah karena tawaran itu dan
sekarang dia malah memelukku seperti ini. Aku sulit menebak isi pikirannya.
Beberapa menit kami tetap saling tidak berbicara,
menunggu matahari terbenam dan menunggu seseorang menjemput kami dan
mengantarkan kami ke bandara. Jadwal penerbangan kami pukul 07.00 P.M dari
sini.
Aku bisa merasakan hembusan angin melewatiku, dan
mencium aroma tubuh Jaejoong oppa. Aku benar-benar merasa bahagia, tanpa terasa
aku meneteskan air mata, dan Jaejoong oppa melihatku meneteskan air mata.
“Ada apa?” Dia terlihat sedikit khawatir saat melihat
butiran bening jatuh melewati pipiku. “Kenapa kau menangis?” Dia membalikkan
tubuhku agar dia bisa melihat jelas wajahku.
“Tidak oppa.” Dia mengusap air mataku yang jatuh. “Aku
baik-baik saja.”
“Tapi mengapa kau menangis.” Dia masih menatap wajahku
dengan lekat.
“Aku hanya merasa bahagia.” Dia mengelus pipiku dengan
lembut, kuraih tangannya dan kugenggam erat kedua tangannya. “Aku merasa
bahagia, bisa bersama oppa.”
“Kau ini, membuatku cemas saja.” Dia memelukku.
“Kukira seseuatu terjadi padamu. Aku mau minta maaf padamu, untuk bulan madu
yang kurang menyenangkan ini.”
Sekarang giliran aku yang menatap wajahnya dengan
bingung. “Maaf untuk apa?” Aku mengerutkan keningku. “Aku akan merasa bahagia
jika kau bersamaku. Menurutku bulan madu ini sangat menyenangkan”
“Tidak, jika aku tidak menciummu saat ini.” Ujarnya.
Dia mendekatkan kembali wajahnya, saat bibirnya hampir menyentuh bibirku
seseorang membuka pintu. Jaejoong oppa segera menjauhkan wajahnya dari wajahku
dan dia terlihat salah tingkah, dia mengacak-ngacak rambutnya. Dan wajahnya
lebih merah dari pada tomat.
“Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu!.”
Jaejoong berkata dengan tegas.
“Maaf Tuan, saya sudah mengetuk pintu berkali-kali dan
menunggu lebih 10 menit tetapi tak ada jawaban.” Dia membungkuk minta maaf. Aku
mengenalnya, dia-lah yang akan meng-antar aku dan Jaejoong oppa ke bandara.
“Sekali lagi saya minta maaf.”
“Sudahlah oppa, lagi pula dia sudah minta maaf.” Aku
menepuk pelan pungungnya. “Salahmu sendiri, kenapa tidak mengunci pintu.”
Dia masih terlihat salah tingkah.
“Ayo kita berangkat, nanti kita bisa ketinggalan
pesawat.”
Aku menarik tangannya. “Kau duluan saja, nanti kami
akan menyusul.”Kataku kepada laki-laki itu.
Sekali lagi dia membungkuk sopan, dan keluar dari
kamar kami.
“Dia hanya mengganggu saja.” Gerutu Jaejoong oppa.
“Sudahlah, jangan menyalahkannya terus.” Aku segera
mengambil mantel berpergian milikku dan milik Jaejoong oppa. “Kapan lagi dia
bisa melihatmu berciuman.” Aku terkekeh pelan.
“Jadi bolehkan aku melanjutkan yang tadi, menciummu
untuk yang terakhir kali ditempat ini?” Tawarnya.
“Tidak.” aku meyerahkan mantel berpergian miliknya.
Saat dia menunduk untuk mengancingkan mantel berpergiannya, aku mencium kilat
bibir merah cherry miliknya.
Aku segera menyeret koperku keluar, dia masing mematung berdiri, mungkin dia kaget saat aku menciumnya dengan tiba-tiba.
Aku segera menyeret koperku keluar, dia masing mematung berdiri, mungkin dia kaget saat aku menciumnya dengan tiba-tiba.
Aku sudah membuka pintu, aku bersender di ambang
pintu. “Hey boy, apa kau masih mau tinggal disini?” Tawarku.
Dia segera tersenyum dan mengambil alih koper dari
tanganku, dia mencium puncak kepalaku dan memeluk erat pinggangku selama
perjalanan menuju mobil.
Aku akan merindukan tempat ini.
Jaejoong oppa segera memasukan koper kami kedalam
bagasi mobil. Dia membukakan pintu untukku dan sepanjang perjalanan menuju
bandara aku terus memeluknya erat. Meyenderkan kepalaku di bahunya.
15 menit lagi sebelum pesawat menuju Seoul akan lepas
landas, laki-laki itu mengeluarkan koper kami dan membungkuk sopan, Jaejoong
oppa mengeluarkan sesuatu dan memberikan-nya kepada laki-laki itu. Kukira
Jaejoong oppa tidak akan memberikannya tips setelah apa yang dilakukan
laki-laki itu saat di hotel.
“Kau tidak marah lagi padanya?” Tanyaku.
“Tidak.” Dia segera memeluk kembali pinggangku dan
kami berjalan menuju ruang tunggu.
Beberapa pasang mata, melirik kearah kami. Apa karena
Jaejoong oppa masih memeluk erat pinggangku? Kurasa hal ini wajar saja. Tetapi
aku mulai risih dengan tatapan dari mereka.
Aku mencoba menurunkan tangannya dari pinggangku, dan dia terlihat kaget saat
aku memaksanya untuk melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan tatapan
kebingungan.
“Aku malu oppa.” Aku sedikit berbisik padanya.
Semburat warna merah muncul dipipiku, aku bisa merasakannya.
Dia tertawa mendengarkan ucapanku. “Kau ini wanita
yang aneh, kau tidak malu saat seseorang melihat kita berciuman dan kau malu
karena aku memelukmu di depan banyak orang?” Dia kembali tertawa. “Biarkan saja
mereka, aku akan menunjukan kepada semua orang bahwa Cho Hana telah menjadi
Mrs. Kim.”
“Oppa.” Aku benar-benar malu.
“Mrs. Kim.” Dia mengulangnya lagi, dengan suara yang
lebih kencang. Alhasil orang-orang disekitar kami menoleh kepada kami.
“Oppa apa kau mau memberi tau semua orang?” Aku balik
bertanya.
“Iya.” Ia hendak berteriak, tapi aku mencegahnya
dengan menutup mulutnya menggunakan tanganku.
“Auwww.” Dia menggigit jariku. “Oppa sakit.”
“Sini aku cium jarimu yang sakit biar sembuh.” Dia
meraih tanganku dan mencium jari telunjukku yang telah digigitnya.
“Apa kau tidak takut dikejar-kejar penggemar?” Aku
bertanya..
“Tidak, karena tidak ada yang akan berani mendekatiku
saat mereka tau kau adalah istriku.”
Aku mencubit pinggang Jaejoong oppa. Dia meringis
kesakitan. “Oppa, sudah.”
“Aku senang melihatmu seperti tadi.” Dia tersenyum.
***
Yoochun POV
Berkali-kali aku melirik arlojiku, menunggu detik demi
detik yang terasa bedetak lebih lama dari biasanya. Junsu tidak ada di sini,
hanya dia yang tidak ada. Bahkan Yunho hyung dan Changmin yang sedang sibuk
mengurus surat-surat penyelesaian kontrak dengan SM pun menyempatkan diri untuk
datang ke bandara demi menyambut kepulangan Jaejoong hyung. Ada apa, Junsu? Ada
apa sebenarnya? Beberapa hari ini kau menghilang dan sama sekali tak bisa
dihubungi? Apa yang terjadi padamu?
“Kau tidak mengajak pacarmu, hyung?” tanya Changmin
memecah lamunanku.
“Dia sedang ada pemotretan, jadi tidak bisa ikut.”
Jawabku canggung.
“Senang, ya, punya pacar cantik seperti itu.” Ucap
Changmin lagi. Kali ini wajahnya ter-tunduk menatap kedua telapak tangannya.
Aku tahu Changmin memang pernah ditembak oleh beberapa orang gadis. Tapi dia
menolak semuanya hanya karena dia satu alasan; dia tidak punya waktu untuk
hal-hal seperti itu. Dia bilang, kalau dia sudah siap, dia akan menikah tanpa
harus menjalani proses pacaran terlebih dahulu.
Aku hanya tersenyum kecil untuk membalas ucapannya.
Hampir satu jam kemudian, pesawat yang ditumpangi
Jaejoong hyung mendarat di bandara. Aku, Yunho hyung, dan Changmin, langsung berjalan
mendekat untuk menyambut kedatang-an kedua pasangan suami-istri yang baru saja
berbulan madu itu.
Dari jauh, aku bisa melihat Jaejoong hyung berjalan
dan melambai pada kami. Hana berjalan di belakangnya dengan setengah berlari
untuk mensejajari langkah Jaejoong hyung. Aku baru sadar betapa aku sangat
merindukan hyungku yang satu itu setelah seminggu kami tidak bertemu.
“Maaf membuat kalian menunggu lama. Ah, di mana
Junsu?” tanya Jaejoong hyung sambil membuka kacamata hitamnya. Kami bertiga
saling berpandangan, sampai akhirnya Yunho hyung memberanikan diri untuk
menjawab.
“Dia pergi… entah ke mana. Kami semua tidak ada yang
tahu tentang keberadaannya.”
“Lalu apa kalian sudah mencari ke rumah ibunya?” tanya
Jaejoong hyung lagi.
Kami bertiga menggeleng serempak.
“Ayo kita cari sekarang!”
“Oppa, tunggu!” Hana tiba-tiba mencegah Jaejoong
hyung. “Kita kan baru sampai. Apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu? Biar
mereka bertiga saja yang mencari. Besok, baru kau bantu mencari Junsu oppa.”
“Tidak bisa, Hana…”
“Kurasa Hana benar.” Ucapku menyela. “Kau baru sampai,
kau pasti masih sangat lelah. Se-baiknya kau istirahat dulu di rumahmu. Kami
bertiga akan mencari ke rumah orang tua Junsu. Kalau ternyata kami tidak
berhasil menemukannya, barulah besok kau ikut mencarinya bersama kami.” Aku
memberi usul. Changmin dan Yunho hyung mengangguk setuju.
“Baiklah.” Ucap Jaejoong hyung sambil mendesah. “Maaf
ya, aku tidak bisa ikut hari ini. Istriku ini memang manja.” Jaejoong hyung
mengacak rambut Hana.
“Tidak apa-apa, hyung. Kami mengerti.” Ucap Changmin
dengan senyum mellow.
“Ya sudah, sekarang kami pergi dulu ya, hyung? Kau dan
Hana beristirahatlah. Aku akan memberi kabar jika sudah mendapatkan informasi.”
Ucapku.
“Berhati-hatilah.” Jaejoong hyung menepuk bahuku
sebelum akhirnya menggandeng tangan Hana menuju mobil yang sudah dipersiapkan
untuk menjemputnya.
Kini, aku benar-benar khawatir pada Junsu. Terutama
setelah aku mendengar bahwa dia memukul produser SM beberapa hari yang lalu.
***
Melihat Changmin yang tertidur di jok belakang, aku
jadi berpikir, apakah dia tidak merasakan kegundahan seperti yang kurasakan
sekarang ini? Aku juga sangat ingin memejamkan mataku dan memasuki tidur lelap,
tapi semua bayang-bayang tentang Junsu membuat kantukku hilang. Aku takut dia diapa-apakan
oleh SM karena tindakannya tempo hari. Dan yang membuatku kesal, kenapa Junsu
tidak membicarakan dulu denganku kalau dia akan pergi ke SM? seenaknya saja dia
pergi dan membuat kekacauan. Sudah cukup Jaejoong hyung yang selama ini
memperparah masalah dengan SM, sekarang Junsu pun ikut-ikutan.
“Menurutmu, apa alasan Junsu pergi begitu saja tanpa
memberi kabar?” tanya Yunho hyung memecah suasana yang membeku sejak kami
memasuki mobil.
“Mungkin dia tidak ingin dikejar-kejar SM untuk
memenuhi tawaran itu.” Jawabku asal.
“Menurutmu kenapa dia tidak ingin memenuhi tawaran
itu?”
“Karena dia sudah lelah dengan janji-janji SM. aku
yakin kau juga merasakan apa yang dirasakan Junsu saat ini. Rasa tidak percaya
itu sudah terlanjur menelan semua kesempatan. Butuh waktu yang sangat lama
untuk kita semua melupakan semua hal yang sudah dilakukan SM.”
Aku hampir menangis saat tiba-tiba kenangan pahit
beberapa tahun silam tergambar kembali di benakku. Saat kami duduk di
pengadilan, menuntut hak, tapi dengan mudahnya pengadilan itu dimenangkan oleh
SM. mereka benar-benar licik. Benar-benar tak punya hati. Aku merasa lebih baik
mereka tak perlu mempertamukan kami jika pada akhirnya mereka hanya akan
memisahkan kami seperti ini. Dan setelah semua kecurangan yang mereka lakukan,
tiba-tiba kini mereka mengajak kami untuk bergabung lagi. Padahal aku baru saja
menarik napas lega karena JYJ sudah selesai. Apa SM sama sekali tak rela jika
melihat kami bahagia walau sedetik saja?
Tak terasa kami telah sampai di rumah ibunya Junsu.
Rumah yang megah. Aku sudah lama tidak ke sini, dan sepertinya sudah banyak hal
yang berubah. changmin terbangun dengan sendirinya saat mobil berhenti di
pekarangan rumah yang luas. Kami bertiga keluar, lalu berjalan mendekati pintu
yang terbuat dari kayu jati mengkilat.
Yunho hyung mengetuk pintu beberapa kali, sampai
akhirnya pintu terbuka dari dalam…
Dan tepat di sana, di depan mataku, berdirilah Junsu dengan kaos dan celana kain. Padanan yang sangat cocok dipakai di rumah. Dia menatap kami bertiga dengan tatapan untuk-apa-lagi-kalian-mencariku. Tapi aku tak menghiraukan tatapan sinis itu. Aku yakin Junsu tidak benar-benar ingin menghindari kami. Dia pasti hanya sedang mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan pikiran.
Dan tepat di sana, di depan mataku, berdirilah Junsu dengan kaos dan celana kain. Padanan yang sangat cocok dipakai di rumah. Dia menatap kami bertiga dengan tatapan untuk-apa-lagi-kalian-mencariku. Tapi aku tak menghiraukan tatapan sinis itu. Aku yakin Junsu tidak benar-benar ingin menghindari kami. Dia pasti hanya sedang mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan pikiran.
“Ada apa?” tanya Junsu malas sambil bersandar di
ambang pintunya.
“Boleh kami masuk?” tanya Yunho hyung.
“Oh, tentu. Ayo masuklah.” Junsu membukakan pintunya
lebih lebar dan membiarkan kami duduk di sofanya yang megah. Dia duduk di
depanku, memeluk bantal.
“Maaf jika kedatangan kami mengganggu. Tapi kami ke
sini hanya untuk memastikan kalau kau baik-baik saja. Kau menghilang sejak
beberapa hari yang lalu tanpa memberi kabar. Dan apa kau tahu bahwa kami semua…
sangat mencemaskanmu.” Ucap Yunho hyung menjelaskan.
“Hanya itu?” tanya Junsu datar.
“Apa kau mau datang ke rapat besar dengan seluruh
jajaran staff SM besok malam?” tanyaku.
Junsu terdiam.
“Kau harus datang.” Ucapku lagi. “Jika kau ingin
menolak tawarannya, itu tak jadi masalah. Tapi kau harus tetap datang.”
“Aku mengerti.” Ucap Junsu kemudian. Segurat senyum
terpahat di wajahnya. “Aku pasti akan datang ke sana.”
***
Author POV
Karena rasa lelah yang begitu mendalam, Jaejoong
tertidur di sofa tanpa melepaskan sepatu-nya. Hana masih sibuk mandi karena ia
sudah merasa tubuhnya lengket dan berkeringat. Setelah selesai mandi, Hana
mencoba membangunkan Jaejoong karena ia tahu kalau Jaejoong harus datang ke
C-jes untuk menandatangani surat pengakhiran kontrak.
“Oppa! bangun, oppa!” ucap Hana sambil mengguncangkan
bahu Jaejoong. Tapi pria tampan itu tak juga bereaksi. “Oppa!” Hana
menggoyangkan bahunya lebih keras lagi.
“Ah, ya?!” Jaejoong terbangun dengan kaget. Ia
mengucek matanya dan berusaha untuk duduk.
“Kau harus segera mandi. Produser pasti sudah
menunggumu.” Ucap Hana.
“Sebentar lagi… huaaahh…” Jaejoong menguap lebar.
“Cepat, oppa!” Hana menarik tangan Jaejoong.
“Tapi aku masih ngantuk…” Jaejoong kembali memejamkan
matanya.
“Kalau kau tidak mau bangun, aku akan marah.” Hana
mengancam.
“Eeeh… jangan. Iya, iya, aku bangun.”
Hana tersenyum saat memandangi Jaejoong yang
terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Dia tahu Jaejoong memang lelah dan butuh
banyak istirahat. Tapi Jaejoong sendiri yang memintanya untuk membangunkan saat
waktu sudah menunjuk pukul 16:00. Kalau ia tidak melaksanakan perintah itu,
nanti Jaejoong akan marah-marah juga.
Di saat Hana sedang membereskan barang-barang yang
tergeletak di atas meja, tanpa sengaja ia menemukan dompet Jaejoong. Ia
bermaksud untuk mengambilnya, tapi dompet itu malah terbuka. Dan betapa terkejutnya
Hana saat melihat sebuah foto yang disimpan Jaejoong di dalam dompet itu. Foto
kelima member DBSK. Ternyata… Jaejoong memang masih sangat mencintai grup yang
sudah lama bubar itu. Bahkan mungkin, ia lebih mencintai DBSK daripada JYJ.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar