Junsu POV
Perkataan Yoochun hyung membuatku muak. Dia sudah
membuat masalah yang sangat besar dengan SM, tapi masih bisa-bisanya dia
berkata seperti itu. Memberikan tantangan yang sebenarnya tak perlu ia
keluarkan. Mempersulit posisinya sendiri dalam hukum. Sekarang aku benar-benar
sudah tidak peduli. Dia akan dipenjara atau tidak, Dong Bang Shin Ki akan terbentuk
kembali atau tidak. Aku sama sekali tidak peduli. Jadi aku memutuskan untuk
pergi meninggalkan ruangan itu dan membiarkan mereka berempat melakukan semua
hal yang ingin mereka lakukan. Jika mereka ingin merobohkan rumah sakit ini
sekalipun, silakan saja.
Saat aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi, tiba-tiba aku
melihat Seohyun, lalu aku melihat Yuuri. Mereka berlari dengan cemas dan
sepertinya mereka akan menjenguk produser.
“Unnie! Cepat!” teriak Yuuri. Aku menatap sosok yang
kemudian berlari di belakangnya.
Sosok Taeyeon. Aku segera memalingkan wajahku saat
tiba-tiba dia menubruk pandanganku.
Aku mencoba berjalan acuh sambil melewatinya, tapi saat itu aku merasa… dia
menarik tanganku. Aku menoleh untuk menatap wajahnya yang menampakkan seribu
kecemasan. Taeyeon masih belum berubah rupanya. Tetap memiliki mata cokelat
bundar yang indah dan rambut kecoklatan yang tergerai melewati bahunya yang
kecil.
“Apa yang terjadi, oppa?” tanyanya setengah meringis.
Aku mencoba mengingat bagaimana cara berbicara. Karena aku sudah masuk dalam
pengaruh hipnotis yang sangat dalam saat aku menatap wajah melancolisnya.
“Tadi Yoochun hyung memukuli produser, dan…”
“Bukan itu yang kutanyakan.” Taeyeon menggelengkan
kepalanya. Aku mengangkat alis. “Yang aku tanyakan adalah, apa yang terjadi
denganmu, sampai-sampai wajahmu terluka? Siapa yang melakukan ini?” Teyeon
menatapku dengan wajah bersemu merah. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,
bahwa sebenarnya aku sangat bahagia saat dia memper-hatikanku seperti ini.
“Tidak. Bukan apa-apa. Ini hanya kecelakaan kecil.”
Ucapku. “Kau tak perlu cemas.” Aku mencoba tersenyum. Tapi kurasa dia akan tahu
bahwa aku hanya tersenyum palsu. Ya, tentu saja dia tahu. Semua hal tentangku,
tentang perasaanku, tentu saja dia mengetahuinya.
“Bagaimana aku tidak cemas? Wajahmu terluka begini…”
katanya sambil menarikku duduk di kursi tunggu. Member Girls Generation lain
sudah masuk ke ruang produser. Dan sepertinya mereka akan bertemu dengan
keempat makhluk yang sedang bersengketa itu. Aku segera menarik tangan Taeyeon,
membawanya keluar dari rumah sakit. Aku benar-benar tidak mau mendengar ada
suara bertengkar lagi. Sudah cukup.
Taeyeon sama sekali tidak menolak saat aku membawanya
ke area parkir. Kami duduk di dekat sebuah apotek yang juga merupakan bagian
dari rumah sakit ini. Dan aku benar-benar tidak tahu, apa yang harus kukatakan
padanya.
“Biar kuobati lukamu, oppa.” katanya kemudian. Aku
tidak memiliki kata-kata untuk kuucapkan. Akhirnya aku hanya bisa membiarkannya
membersihkan lukaku dengan sebuah kapas. Gerakannya sangat halus, dan penuh
perhatian. “Sudah.” Katanya sambil menarik kembali tangannya. Aku masih terpaku
beberapa saat. Terpana oleh pesonanya.
“Em… terima kasih, ya?” ucapku canggung.
“Tidak masalah.” Dia menggigit bibirnya. “Aku sudah
mendengar tentang masalah di antara kalian berlima. Aku turut menyesal…”
“Sudahlah.” Aku merasa tak ingin lagi mendengar
tentang masalah itu lagi. “Aku sudah melupakannya. Dan aku sarankan, kau tak
perlu terlalu memikirkan masalah itu. Karena hal itu benar-benar sangat tidak
penting.”
Aku melihat Taeyeon seolah mengutuk apa yang baru saja
diucapkannya. Kenapa dia selalu seperti itu? Merasa seolah-olah dia yang paling
bersalah atas sesuatu hal. Padahal sedikitpun aku tidak bermaksud menyalahkannya.
Aku hanya mengatakan padanya untuk tidak memikirkan hal itu, apalagi
membahasnya di depanku. Aku hanya merasa lelah. Itu saja.
“Aku… minta maaf jika kau merasa…”
“Tidak apa-apa.” Aku memotong. Kutatap wajahnya yang
lonjong dengan dagu lancip dan leher jenjang yang sempurna. Aku tidak percaya
bahwa aku rela melepaskan gadis secantik dia. Entah apa yang ada dalam
pikiranku saat aku memintanya untuk tidak menjadi kekasihku lagi. “Oh iya, di
mana pacarmu itu? Kau tidak bersamanya?” tanyaku mencoba mencari topik
pembicaraan.
“Hah? Pacar? Aku tidak punya pacar.” Katanya dengan
wajah polos.
“Lalu siapa pria yang waktu itu bersamamu di SM?”
“Pria yang mana?” dia mengerutkan alisnya.
“Yang memanggilmu saat tak sengaja kita bertemu di
lobby SM.” aku mencoba mengingatkannya.
“Astaga… dia temanku, oppa. bukan pacarku.” Taeyeon
tertawa. Manis. Benar-benar tawa yang sangat aku rindukan. Tanpa sadar akupun
ikut tertawa. Walau aku tak tahu apa yang kutertawakan. Hanya saja aku merasa…
tawanya begitu menular.
“Jadi kau belum punya pacar?” tanyaku berhati-hati.
Taeyeon menggeleng malu-malu. “Aku juga belum punya pacar…” aku melanjutkan.
Dia terdiam. Jujur, saat itu aku merasa telah mengatakan hal terbodoh yang
benar-benar memalukan. Kenapa aku tak bisa mengontrol ucapanku? Akhirnya akupun
hanya bisa mengacak-acak rambutku untuk menyembunyikan rasa gugup. Dia masih
terdiam. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Apa yang sedang ia pikirkan?
“Kukira oppa sudah punya pacar.” Ucapnya gugup. Aku
merasakan hatiku berdesir. Begitu kencang dan aku megenal perasaan seperti itu.
Hal yang sama, seperti yang kurasakan padanya saat pertama kali aku melihatnya.
Ternyata perasaanku pada Taeyeon tak pernah berubah.
“Aku belum pernah dekat dengan wanita manapun, sejak
aku berpisah denganmu, Taeyeon…” aku tidak tahu apakah yang kukatakan itu sudah
tepat atau belum. Yang jelas, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku memang belum
menemukan sosok yang bisa meng-gantikan posisinya dalam hatiku. Dia masih ada
di sini. Dalam sebuah perasaan yang sempat kulupakan begitu lama.
“Benarkah?” katanya sambil menoleh dan menatap
wajahku. Matanya berbinar sangat indah. Benar-benar indah sampai aku bisa
mendengar detak jantungku sendiri karena begitu bahagia bisa menatapnya seperti
ini.
Aku mengangguk. Hanya itu yang bisa kulakukan.
“Aku senang mendengarnya.” Dia tersenyum, tapi sesaat
kemudian dia menutup mulutnya. Aku tertawa saat aku menyadari bahwa ia tak
sengaja mengeluarkan kalimat itu. Tapi aku juga senang. Aku senang mendengarnya
berkata seperti itu.
“Tidak apa-apa, Yeonni.” Ucapku sambil menatapnya
hangat. “Aku juga senang karena kau belum punya pacar.” Dan setelah itu aku
melihat matanya berkaca-kaca. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku masih
mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi… aku tidak bisa.
***
Aku masih sangat mencintainya. Sekarang dia berada di
sebelahku, dan dia membawa kabar yang sangat membahagiakanku yaitu dia belum
berkomitmen dengan pria lain. Apa aku akan membiarkan wanita secantik dia pergi
lagi? untuk yang kedua kalinya? Aku tak mungkin menyatakan cintaku sekarang.
Bagaimana kalau dia menolakku? Bagaimana kalau dia sudah tidak mencintaiku? Tapi
tadi dia berkata bahwa dia senang karena aku belum memiliki kekasih lagi. Apa
yang harus aku lakukan sekarang?
Aku kembali mengacak-ngacak rambutku, entah mengapa
jantungku semakin cepat berdetak, membuat aliran darahku semakin cepat.
Aku mengenang masa-masa saat dia masih berada di
sampingku, menjadi milikku, milikku yang sangat berharga. Betapa bodohnya aku
bisa menyia-nyiakan wanita seperti dia. Dan sekarang? Dia masih tetap menjadia
wanita yang berharga untukku. Hanyalah dia wanita yang ingin aku nikahi,
berjalan di altar bersamanya dan mencium lembut bibirnya.
“Oppa, kau baik-baik saja?” Suara itu bagaikan lonceng
gereja yang menenangkan jiwa, suara nyaring milik wanita yang masih sangat
kucintai. Suara yang membuat lamunanku menghilang.
“Ya?”
Apa yang aku katakan? Hanya sebuah kata ‘Ya’, untuk
sebuah pertanyaan yang diajukannya. Kenapa aku bisa bersikap sangat bodoh
didepannya?
“Apa oppa baik-baik saja?” Dia mengulangi pertanyaan
yang sama untuk kedua kalinya, nada cemas terlihat jelas pada suaranya.
“Aku..”
Aku memandangnya, dia tidak memotongku kalimatku,
sepertinya dia menungguku untuk melanjutkan kalimatku.
Jika aku harus menyatakan cintaku, maka ini adalah
waktu yang tepat. Sebelum aku kehilangan dirinya untuk yang kedua kalianya.
Tapi bagaimana jika dia menolakku? Mau aku taruh dimana muka ini. tapi jika aku
tidak menyatakannya sekarang, kapan lagi? Ya! Aku harus menyatakan cintaku
sekarang juga, hari ini dan disini!
“Aku..” aku mengulangi kalimatku, tetapi entah mengapa
lidahku seperti kaku tak mampu mengucapkan kata ‘Aku masih mencintaimu’
“Aku… aku… sudahlah lupakan saja.” Aku benar-benar tak
mampu mengatakannya, kulihat raut wajahnya, sepertinya dia mengharapkan lebih,
tetapi aku masih tak mampu mengatakan bahwa aku masih mencintainya.
Dia menunduk, aku merasa dia sedikit kecewa, entah
kecewa karena masalah apa.
Aku mengambil jemari-jemari mungilnya. Aku
menggenggamnya dengan erat, sangat erat. Dia menatap wajahku dengan perasaan
yang berubah-ubah antara bingung, sedih, senang, terkejut, cemas, dan semua
ekspresi yang tak bisa kujelaskan satu-satu.
“Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau, cantik hari
ini.” Damn it, kenapa aku malah berbicara seperti itu? Apa yang aku pikirkan?
Kembali terlihat wajah kecewa di raut wajahnya yang
sangat rupawan itu. Dia menarik jemari-jemarinya, aku tau dia pasti merasa
kesal.
“Taeyeon, dengar!” aku memerintahkannya “Aku tak akan
mengulanginya, walaupun kau memintaku.”
“Apa yang mau oppa bicarakan?” Dia terlihat cemas,
menunggu..
“Aku masih mencintaimu.” Kataku dengan volume suara
yang sangat kecil, sepertinya dia tidak mendengarnya, tapi aku yakin dia
mendengarnya.
“Apa?” terlihat senyumnya mulai mengembang, kurasa dia
ingin meyakinkan apa yang telah didengarnya. “Bisa oppa ulangi?
“Aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku tidak akan
mengulanginya.” Aku cemberut.
“Aku juga masih mencintaimu oppa.” Aku menatap
wajahnya dengan seksama, apa yang aku dengar tidak salah? Dia bilang dia masih
mencintaiku? Apakah ini artinya kita bisa menjadi sepasang kekasih lagi?
Dia tertunduk malu, kurasa dia merasakan apa yang
kurasa.
“Jadi?” Aku bertanya, pertanyaan bodoh.
“Hmmm?” kurasa dia menunggu.
Sekali lagi, aku meraih tangannya dan menggenggamnya
dengan erat. Aku pasti bisa melakukannya!
“Maukah kau menjadi milikku kembali? Menjadi milikku
yang paling berharga. Menjadi seseorang yang kembali mengisi lubang dihatiku.
Kembali menjadi yang sangat aku cintai?”
Dia terdiam, entah apa yang akan dikatakannya, menerima kambali diriku atau
menolakku secara mentah. Tapi mau tidak mau aku harus siap mendengarnya.
“Maaf oppa, aku tidak..”Dia mulai menjawabnya,
wajahnya terlihat sedih. Dan dia melepaskan genggaman tanganku.
Tidak? Tidak? apa itu artinya dia menolakku? Ahh,
kenapa dia bisa menolakku.
“Aku mengerti.” Kataku sedih, aku tak bisa
menyembunyikan kekecewaanku.
“Maaf oppa, aku tibak bisa menolakmu.” Dia kembali
melanjutkan kata-katanya yang terputus, aku menatapnya tidak percaya. Dia? Dia
menerimaku kembali? Setelah aku memutuskan hubungan dengannya?. Dia terlihat
tersipu malu.
“Jadi artinya kau menjadi kekasihku kembali?” aku
berusaha memastikannya.
“Menurutmu bagaimana?”
Ahhhh!!! Satu lagi kebahagiannya datang melengkapi
hidupku.
Aku memeluk erat tubuhnya, aku merasa bahagia
sekarang. Aku merasakan detak jantungnya, berdetak sangat cepat. Kurasa dia
juga merasa bahagia.
“Taeyeon.” Aku melepaskan pelukannku. “Terima kasih,
kau mau menjadi milikku kembali.”
Dia tersenyum, manis, sangat manis. “Aku bahagia, jika oppa bahagia..”
“Kau tak pernah berubah, itulah yang membuatku jatuh
cinta padamu.”
“Aku memang tak pernah berubah, perasaanku terhadap
oppa-pun tak pernah berkurang sedikitmu, malah semakin bertamah setiap harinya…
mmpphh.”
Aku tak mendengar kalimat lagi dari mulutnya, karena
aku sudah melumat bibirnya dengan lembut dan kurasa dia membalas ciumanku.
Sudah lama aku tidak menciumnya, merasakan bibirnya menyentuh bibirku. Aku
merindukannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar