Welcome

Kamis, 17 Mei 2012

DBSK comeback? (part 26)


Hembus angin menerpa rambut Yoochun yang tengah duduk di dekat jendela. Ia masih tidak bisa melupakan keinginan teman-temannya untuk membuatnya selamat dari tuntutan itu. Kenapa mereka berempat harus repot-repot melakukan sesuatu untuk membantunya? Mereka berempat bahkan tidak terlibat dalam masalah ini. Ia sendiri yang membuat masalah dengan produser, jadi ia sendirilah yang harus menyelesaikannya. 

“Jadi mereka begitu keras kepala?” tanya Meissy sambil menaruh mangkuk buburnya di meja.

Yoochun tidak menjawab pertanyaan itu. Ia bahkan mungkin tidak mendengar. Saat ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara meyakinkan keempat makhluk keras kepala itu untuk tidak ikut campur dalam masalah ini. Ia yakin ia bisa menghadapi semuanya sendirian. Karena yang paling bersalah atas hal ini adalah si tua bangka itu. Jadi sedikitpun ia tidak merasa takut untuk menghadapi pengadilan.

“Aku akan bicara dengan mereka.” ucap Meissy lagi setelah Yoochun tak membuka mulut-nya sedikitpun.

“Apa yang ingin kau bicarakan dengan mereka?”

“Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja aku ingin mengatakan pada mereka bahwa aku bisa membantumu menghadapi pengadilan. Tanpa campur tangan merekapun, kau pasti akan berhasil menjebloskan produser sialan itu ke dalam penjara.”

“Sebaiknya jangan bicarakan apapun dengan mereka, atau kau harus kehilangan wajah mulusmu.”
Meissy tertawa mendengar ucapan Yoochun. Ia tahu selama ini Yoochun selalu berpikir dua kali dalam memutuskan sesuatu. Menurutnya, Yoochun terlalu berhati-hati. Terkadang ia merasa jengah jika harus menunggu Yoochun memutuskan sesuatu untuk menyelesaikan masalahnya.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan, Park Yoochun.”

“Tidak, kau tidak tahu.” Yoochun berbalik, menatap Meissy yang masih duduk bertumpang kaki di sofa. “Kau tidak mengenal mereka dengan baik. Jadi kau tidak pernah tahu. Percaya-lah padaku sekali ini saja, Mei. Kalau kau mengajak mereka bicara tentang masalah ini, maka kau berada dalam bahaya.”

“Kau pikir aku sebodoh itu? Tentu saja aku tidak akan mengajak mereka berempat untuk bicara. Aku hanya akan menemui salah satu dari mereka. seseorang yang bisa memahami situasi ini dengan baik. Seseorang yang tidak akan menggunakan ototnya untuk menyelesa-ikan masalah, tapi menggunakan otaknya.”

Yoochun terdiam sejenak, lalu ia mengangkat wajahnya menatap Meissy. “Siapa?”

***

Yunho POV

Hari itu, aku sengaja duduk manis di depan ruangan produser untuk menunggu Go Ara keluar dari pintu itu. Aku berencana akan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Untuk menjalankan rencanaku, maka hal pertama yang harus kulakukan yaitu melakukan pendekatan dengannya. Jika ia sudah mulai tertarik padaku, aku bisa menyatakan cinta padanya dan dia akan dengan mudah menuruti keinginanku.

Tak lama, pintu mulai terbuka. Go Ara melangkah keluar dan langsung melihat ke arahku.

“Kau?” tunjuknya dengan ekspresi terkejut. Aku tersenyum, lalu bangkit dan berjalan ke arahnya.

“Hai, nona produser.” Sapaku berpura-pura ramah.

“Ada apa?”

“Kalau kau ada waktu, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat.”

“Maaf, aku sedang sibuk.” Dia bermaksud untuk pergi, namun aku segera menarik per-gelangan tangannya.

“Hanya satu jam.” Ucapku memohon.

“Tidak.”

“Setengah jam saja kalau begitu.”

“Aku bilang tidak, ya tidak!”

“Lima belas menit bagaimana?”

“Kau ini keras kepala sekali ya? Ajak saja orang lain untuk pergi denganmu.”

“Tunggu!” aku memanggilnya sekali lagi. Dia menahan langkahnya. “Aku hanya ingin pergi berdua denganmu… Go Ara.”

Dia segera membalikkan tubuhnya, menatapku tak percaya.

“Baiklah.” Katanya datar. “Aku akan ikut.”

Sebenarnya aku tidak tahu harus mengajaknya ke mana. Aku hanya menyuruhnya duduk di mobil dan aku menyetir dengan pelan. Ternyata Ara sangat berbeda dengan orang tuanya. Dia begitu baik dan ceria. Aku jadi merasa tidak tega jika harus mempermainkan perasaannya untuk menyelamatkan Yoochun dari kekejaman ibu produser. Tapi aku harus bagaimana lagi? Meski berat, aku tetap harus melaksanakan tugas ini.

“Mereka berempat tampan.” Ucap Go Ara saat aku menanyakan kesannya terhadap keempat mantan member DBSK yang lain.

“Aku juga tampan, kan?”

“Tidak.” Dia memeletkan lidahnya dengan ekspresi meledek.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Dia benar-benar sangat manis. “Lalu di antara mereka berempat, siapa yang paling kau suka?”

Dia terdiam tanpa menjawab pertanyaan itu.

“Bilang saja kalau kau suka padaku.” Ucapku meledek.

“Ihh, jangan besar kepala, ya!” katanya sambil mencubit pinggangku.

“Aaww…” aku menghindari cubitannya.

“Kalau disuruh memilih di antara mereka berempat, aku lebih suka…”

Dia berhenti di kalimat itu. Aku menatapnya penasaran, menunggunya melanjutkan kalimat. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum. Sebuah senyuman cantik yang kuakui mampu mem-buatku gugup setengah mati.

“Aku lebih suka leadernya.” Dia melanjutkan dengan wajah tersipu malu.

“Leader?” aku mengulang kalimatnya.

“Jangan pura-pura tidak mendengar!” katanya marah. Aku tertawa melihatnya salah tingkah seperti itu. Dia bersiap mencubitku lagi, tapi aku segera berlari. Diapun langsung mengejar-ku. Aku mulai merasa, jalan itu semakin dekat. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Ara bersedia menyelamatkan Yoochun dari tuntutan itu. Bahkan aku siap jika setelah ini harus dibenci oleh mereka. Oleh Ara, ataupun oleh Yoochun. Aku hanya ingin menyelamat-kan seorang adik yang aku sayangi. Bukan maksudku untuk mempermainkan perasaan gadis baik ini, tapi… aku memang sudah tidak menemukan jalan lain.

Maafkan aku, Ara…

***

Changmin POV

Sejak tadi pagi aku terus memikirkan tentang masalah Yoochun hyung, sampai saat ini pun masalah itu masih terus menggantung. Voting yang kami lakukan kemarin tidak ada fungsinya. Seenaknya saja Yunho hyung memotong dan menceritakan rencana yang tidak masuk akal, mendekati Go Ara. Anak si tua Bangka itu.

Karma itu masih berlaku, aku yakin jika Yunho hyung mendekati Go Ara dengan niat yang buruk dia pasti akan mendapatkan balasannya. Tapi aku penasaran apa jadinya jika Yunho hyung beneran jatuh cinta kepada Go Ara. Selama ini dia tidak pernah menceritakan wanita yang dekat dengannya.

Ahh! Sudahlah saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan nasib Yunho hyung. Tadi pagi Appa memberitahuku bahwa aku harus kerumahnya, dia telah mengambil keputusan.
Aku kembali memfokuskan pikiranku, mempercepat laju mobilku. Aku tak mau membuang waktu lebih lama lagi. Perjalanan menuju rumah orang tuaku tidak terlalu lama. 1 jam kemudian aku sampai di depan rumah orangtuaku.

Aku merapatkan mobilku dan memarkirkannya di dekat bagasi. Seseorang menghampiriku.
 
Umma menghampiriku, dia merentangkan kedua tangannya. Aku keluar dari mobil dan menyambut pelukan dari Umma-ku. Aku merindukannya.

“Sepertinya kau selalu bertambah tinggi. Seperti tiang listrik” Kata umma sambil me-melukku. “Bagaimana keadaan sang magnae?”

“Umma aku baik-baik saja.” Ku melepaskan pelukan umma. “Tiang listrik tak pernah bertambah tinggi.”

Umma terkekeh pelan “Ayo masuk, Appa sudah menunggumu dari tadi.” Aku hanya mengangguk, membiarkan umma menuntunku masuk.

Sekarang aku sudah berada di ruang tamu, aku melihat appa duduk dengan tegap di kursi berlengan. Dia terlihat sangat berwibawa, kurasa pekerjaannya sebagai guru menuntutnya untuk bersikap bijaksana dan berwibawa.

Umma memberitahuku untuk duduk di sebelahnya. Aku diam, aku tak tahu harus berkata apa lagi, aku tak mau memecahkan keheningan.

“Changmin?” Umma-ku memulai, dia terlihat khawatir “Kau baik-baik saja?”

“Ya Umma, aku baik-baik saja.” Aku meyakinkannya. Aku memalingkan wajahku, menatap langsung wajah appa tepat pada bola matanya. “Appa bagaimana?”

Dia berdeham pelan, kemudian kembali pada ekspresi muka yang datar tapi bijak.

“Changmin, aku minta maaf.” Dia memulai.

Aku menunduk, aku tak tahu harus berkata apalagi. Appa adalah harapan terkahirku untuk mendapatkan uang sebesar 100 juta won. Jika tidak, mungkin kami terpaksa menggunakan uang yang di pinjam oleh Junsu hyung.

“Appa tak bisa meminjamkan mu 100 juta won.”

Aku diam, menunggu appa melanjutkan kalimatnya. Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata.

“Kau tau appa tak mempunyai uang sebanyak itu.” Dia menyimpulkan senyuman getir.

“Appa hanya bekerja sebagai guru, tapi appa tetap akan membantumu.”

Aku menatap wajah appa. Dia melanjutkan “Appa hanya mempunyai 50 juta won. Jadi hanya itu yang bisa appa berikan.”

Dia meletakkan selembar cek di atas meja, aku menatap kertas itu dengan tatapan kosong.
 
50 juta won? Itu hanya setengah dari yang kami butuhkan. Aku masih diam tak bergeming.
 
Appa berdiri, berjalan meninggalkanku. “Jika kau masih menginginkannya kau bisa mengambilnya.”

BRAKK!! Pintu di tutup. Jadi itu keputusan terakhir appa. Aku masih menatap kertas cek tersebut.

“Changmin.” Umma mengelus punggungku. “Lakukanlah apa yang menurut hatimu benar.”
 
Aku menatap wajah umma-ku. Dia melanjutkan “Kau tau apa yang harus kau lakukan. Jika kau merasa harus melakukannya maka lakukanlah. Tapi jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal kelak.”

Kata-kata umma terasa bergema dalam pikiranku. Aku sudah yakin, aku akan melakukannya!

***

Jaejoong POV

Aku benci menjadi rapuh seperti ini. Menyadari sebuah perasaan yang mulai merasuk dalam hatiku. Perasaan yang bahkan kubenci dan selalu kuhindari. Tapi kini aku tak bisa mem-bohongi diriku sendiri bahwa aku merasa sangat… takut.

“Kau baik-baik saja, oppa?” tanya Hana yang terbaring di sebelahku. Aku menoleh padanya. Mencoba memaksakan bibirku untuk tersenyum.

“Kau bisa lihat sendiri kalau aku baik-baik saja.”

“Tidak.” Hana menatap wajahku dengan tajam. “Kau tidak terlihat baik-baik saja. Kenapa kau masih saja menyembunyikan masalahmu dariku? Aku siap mendengar semua keluh kesahmu agar kau tidak terlalu berat menanggung beban itu.”

Aku hanya terdiam mendengar ucapan Hana. Dia selalu ingin tahu urusanku. Dan aku malas membentaknya malam ini. Aku sudah cukup pusing memikirkan jalan keluar dari semua masalah ini. Aku tak mau menambah beban pikiranku dengan sebuah pertengkaran yang hanya akan membuang-buang tenaga.

“Hana, ada sesuatu… yang ingin kukatakan padamu.” Ucapku berbisik.

“Apa itu?”

“Sebenarnya… mmm… tentang uang seratus juta won itu…”

“Ya? Kenapa dengan uang itu?” tanya Hana penasaran.

“Sebenarnya aku… aku bisa saja memberikan uang itu.” Aku berhenti untuk melacak reaksi-nya. Tapi Hana tidak merespon apa-apa. Dia hanya diam dan menatapku datar. “Aku memiliki uang itu. Uangku sendiri. Tapi… aku merasa tidak seharusnya aku menggunakan uang itu untuk membayar pada ibu produser sementara Yoochun bertingkah seolah dia tak mau ditolong.”

Hana tetap diam tanpa ekspresi.

“Mungkin kau berpikir bahwa aku egois.” Lanjutku lagi. “Tapi membayar denda, sama sekali bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Aku sudah berpikir seribu kali dan aku baru menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan membiarkan Yoochun melakukan apa yang ingin dilakukannya.”

Sekali lagi, Hana masih diam dengan tatapan kosong.

“Hana…” aku menggapaikan tanganku ke rambutnya. Tapi dia menarik diri dengan cepat.

“Jadi kau ingin bilang, bahwa kau tak mau membantu Yoochun oppa?” tanyanya seolah menuduh.

“Aku tidak bermaksud begitu…”

“Lalu maksudmu seperti apa?! Kau ingin melihatnya berjuang sendiri, lalu kau akan berleha-leha saat melihat Yoochun oppa dijebloskan ke dalam penjara?! Begitu maksudmu?!”

“Hana, aku…!”

“Kupikir kau bijak, oppa. kupikir kau bertanggung jawab. Aku sungguh tidak menyangka kau akan memilih untuk melakukan hal ini. Aku kecewa padamu!”

Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Jika aku tidak mengatakan pada Hana, dia akan marah padaku. Tapi jika aku mengatakannya, dia tetap marah. Dan sekarang apa yang harus kulakukan? Mendiamkan Hana sampai dia merasa tenang dan mau memaafkanku? Yah, kurasa hanya itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Mulai hari ini, aku tidak akan memikirkan lagi mengenai kasus Yoochun. Aku akan menyerahkan semua ini pada Yoochun.

 Aku yakin dia pasti bisa menyelesaikannya sendiri.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar