Junsu POV
Lamunanku masih mengapung saat aku melihat cahaya
terang di balik tirai. Aku berjalan dari tempat tidurku, membuka tirai dan
melihat sinar matahari pagi yang amat cerah. Aku menatap sebingkai foto yang
berdiri tegak di atas meja tulisku. Fotoku dengan seorang gadis berambut
kecoklatan bernama Taeyeon. Foto yang sudah sangat lama. Aku bahkan lupa kapan
foto itu diambil. Dan aku juga sudah lupa di mana lokasi pengambilan foto itu.
Yang kuingat, dulu saat foto itu diambil, aku masih menjalin hubungan asmara
yang indah bersama Taeyeon. Tapi aku menghancurkannya hanya karena alasan yang
aku sendiri tidak mengerti. Lalu sekarang, saat aku sudah berhasil merengkuhnya
kembali dalam pelukanku, lagi-lagi aku menghancurkan hubungan yang sudah kucari
selama beberapa tahun ini. Aku pasti sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan
cinta yang tulus dari wanita secantik Taeyeon.
Aku beralih menatap ponselku. Apakah aku harus mengajaknya bertemu dan meminta
maaf atas kesalahanku kemarin?
Ya, kurasa aku harus melakukannya. Jadi aku mengambil
ponselku dan mulai mengetik pesan singkat yang lalu kukirimkan padanya. Aku
memintanya untuk menemuiku di tempat kemarin. Dan tak berapa lama kemudian, dia
membalas pesanku. Dia setuju untuk menemui-ku di sana.
Setelah apa yang sudah kulakukan padanya kemarin,
masih bisa-bisanya dia setuju untuk memenuhi ajakanku lagi. Aku benar-benar
tidak tahu hatinya terbuat dari apa. Kenapa dia bisa sesabar itu dalam
menghadapiku?
Akupun segera mandi dan berpakaian dengan rapi, lalu
melesat menuju mobil tanpa menoleh saat umma menyuruhku untuk sarapan terlebih
dahulu. Aku sudah tidak sabar untuk menemui Taeyeon dan meminta maaf. Aku
benar-benar menyesal karena kemarin aku tak bisa mengontrol emosiku. Memarahi
Taeyeon seperti semua ini adalah kesalahannya. Oh, betapa jahatnya aku.
Sepanjang jalan, aku tak bisa berhenti memikirkan
Taeyeon. Semua kenangan indah yang pernah kulakukan bersamanya. Saat-saat aku
menyatakan cintaku padaya, saat dia mengajari-ku tarian-tariannya, semua itu
menjadi kenangan indah yang membuat kerinduanku bertam-bah dalam. Aku baru saja
melakukan sebuah kesalahan besar. Dengan mengatakan bahwa aku membencinya, itu
sama saja aku membohongi perasaanku sendiri. Perasaanku yang sebenarnya pada
Taeyeon, tidak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi di antara kami.
Aku sampai di sana dalam 15 menit. Aku yakin dia belum
sampai, jadi aku memutuskan untuk memesan tempat duduk dan secangkir kopi untuk
menghangatkan perutku.
20 menit kemudian, aku melihatnya muncul dari pintu
kedai ini. Dia melihatku, dan segera menghampiriku dengan tatapan segan. Dia
lantas duduk di seberangku dan tampak gugup.
“Maaf, tadi aku harus…”
“Ssst…” aku meletakkan telunjukku di bibirnya.
“Berhentilah meminta maaf. Aku tidak marah padamu.” Ucapku. Dia mengangguk, dan
aku segera menarik tanganku lagi. “Aku memintamu datang ke sini karena aku…
ingin minta maaf.”
Taeyeon terdiam. Wajahnya tertunduk menatap meja.
“Aku tidak benar-benar membencimu, Yeonni. Tidak
mungkin. Aku tahu aku salah karena aku terlalu emosi. Aku hanya… benar-benar
tidak bisa memikirkan jalan keluar dari semua masalah ini. Aku bingung. Kau
boleh memintaku melakukan apapun asalkan kau mau memaafkanku.”
“Tidak perlu, oppa.” Taeyeon mengangkat wajahnya,
menatap kedua bola mataku dengan sinar matanya yang menusuk. “Aku sudah
memaafkanku bahkan sebelum kau meminta maaf. Kau tidak perlu melakukan apapun
untuk mendapatkan maaf dariku.”
Kami berdua saling terdiam sejenak.
“Terima kasih ya, Taeyeon? Kau benar-benar mengerti
perasaanku.” Sepertinya ucapanku membuatnya kehilangan kata-kata. Dia mengusap
rambutnya ke belakang telinga, dan langsung menatap ke arah lain saat aku
menatap matanya terlalu lekat.
“Kau lapar?” tanyaku lagi.
“Aku belum terlalu lapar.” Jawabnya dengan wajah
semerah tomat. Kenapa dia mudah sekali merasa gugup saat berhadapan denganku?
Oh, astaga… kali ini aku benar-benar tidak tahu harus
mengatakan apa lagi padanya.
“Oppa…” tiba-tiba Taeyeon memanggilku. Aku menatap
wajahnya yang tampak segan, dia lalu memberanikan diri membalas tatapanku.
“Jadi kau benar-benar akan berkarir sebagai penyanyi solo?” pertanyaan Taeyeon
membuatku seolah tak bisa memikirkan jawaban yang tepat. “Aku sangat mengenalmu
dan keempat member yang lain. Aku tahu kalian saling memiliki satu sama lain.
Aku tahu naluri kalian masih terhubung sampai sekarang. Dan aku juga tahu, kau
tidak benar-benar ingin menjadi seorang penyanyi solo. Kau hanya takut tidak
bisa melupakan rasa sakitmu jika grup itu benar-benar tidak bisa terbentuk
lagi. Iya kan, oppa?”
Aku mengangguk tanpa sadar. “Taeyeon, kalau kau ada di
posisiku, apa yang akan kau lakukan? Memperjuangkan sebuah grup yang sudah
sangat mustahil untuk dipersatukan lagi, atau memilih untuk berkarir sendiri
dan kau bisa meraih kesuksesan tanpa harus pusing memikirkan hal lain.”
“Jika aku menggunakan logika, maka aku akan memilih
pilihan yang ke dua. Dan jika aku menggunakan perasaan, aku akan memilih
pilihan yang pertama.” Taeyeon berhenti sejenak untuk melacak reaksiku. Aku
hanya terdiam, dan dia melanjutkan. “Tapi jika aku mengguna-kan perasaan dan
logika sekaligus, aku akan memilih untuk menyatu kembali dengan mereka di bawah
management yang baru.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Tapi apa kau tahu? Mereka
berempat sudah menolak tawaran seorang produser untuk kembali bergabung menjadi
satu di bawah naungan management baru.”
Taeyeon tercengang.
Aku membagi senyum hangatku lagi, menatapnya dengan
lekat. “Jadi, siapa yang tidak menggunakan logika, dan siapa yang tidak
menggunakan perasaan?”
***
Jaejoong POV
Aku mendengar suara panci jatuh, berdentang dengan
sangat keras. Apa yang Hana lakukan? Apakah dia merasa kesal atau marah?
Aku bangun dari tidur, berusaha mengumpulkan nyawa dan
berjalan keluar menuju dapur. Aku masih mengenakan piyamaku.
Aku berhasil menemukan sosok yang kucari, rambutnya
yang tergerai indah sebahu. Berdiri menghadap kompor, kurasa dia sedang memasak
sarapan pagi untuk kami berdua.
Tunggu kami berdua? Aku hampi lupa, Hana sedang
mengandung anakku. Aku terkekeh pelan. Aku berniat untuk mengagetkannya. Sudah
lama aku tidak bermanja-manja dengan Hana. Aku merindukannya. Mungkin jika anak
itu sudah lahir aku tidak akan mempunyai waktu berdua dengan Hana lagi.
Aku memeluk Hana dari belakang, dia tersentak kaget
dan menoleh kearahku sebentar, lalu melanjutkkan memotong-motong sayuran.
“Oppa! Kau membuatku terkejut.”
Aku menghirup aroma rambut Hana, aromanya sangat khas.
“Selamat pagi.” Aku melumat lembut bibir Hana.
“Selamat Pagi.” Dia tersenyum saat aku melepaskan
ciumannya.. “Oppa, lepaskan pelukan-mu, aku ingin membuatkan sarapan untukmu
dan untukku.”
“Dan untuk putra kita.”
“Putra?” Hana mengerutkan alisnya, dia terlihat
bingung.
“Iya, aku menginginkan seorang anak laki-laki.”
“Oppa, laki-laki ataupun perempuan akan sama saja
bagiku. Yang terpenting adalah dia bisa lahir dengan selamat.” Aku mengelus
perut Hana yang terlihat sedikit membuncit.
“Aku hanya ingin, anak pertama kita bisa melindungi
adiknya.” Aku ingin menggoda Hana. “Jika dia anak perempuan maka aku berani
bertaruh dia akan secantik umma-nya.”
Hana tersipu malu. “Dan jika dia anak-laki-laki maka
dia akan seganteng appa-nya.”
Aku meneguk dengan cepat segelas air mineral yang baru
saja ku ambil dari kulkas. Aku melihat Hana sangat telaten membersihkan sayuran
dan daging yang akan dimasaknya.
“Aku tak pernah melihatmu memasak sebelumnya.” Aku
berdiri dipinggir kulkas, menatap wajah Hana dengan perasaan yang sulit di
tebak.
“Kau saja yang
tak pernah memperhatikanku.” Hana cemberut.
Aku mendekati Hana, mencium pipinya yang mulai
memerah. “Biar aku saja yang meng-gantikanmu di dapur.”
“Tidak perlu, sebentar lagi juga sudah matang.”
“Kau meragukannku dalam hal masak-memasak?”
“Tidak.. tidak sedikitpun” Hana menggelengkan
kepalanya. “Bagaimana kau tidak pintar memasak? Kau tinggal dengan 7 orang
kakak perempuan.”
Aku tertawa dan mencubit pipi Hana. “Kau ini bisa
saja.”
“Bergegaslah mandi, aku akan menyiapkan sarapan.”
“Baiknya Mrs. Kim.” Aku mencium pipi Hana lagi. “Kau
harus inget apa kata Dokter, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah.”
Hana tertawa pelan, dan dia kembali melanjutkan acara
memasaknya. Aku baru ingat bahwa aku ada janji.
“Hana?”
“Mmmm.”
“Yunho, Yoochun, Junsu, dan Changmin akan datang
kemari.”
Sekarang Hana membalikan badanya menatap tajam
kearahku, dia menunggu kalimat selanjutnya. “Kami akan berkumpul disini, untuk
membicarakan masalah Yoochun atau masalah Junsu.”
Sebuah senyuman hangat milik Hana terlukis di
wajahnya.
“Baiklah, aku senang mendengarnya. Aku senang kalian
mulai berpikir lebih dewasa, menyelesaikan masalah dengan kepala dingun bukan
dengan kekerasa. Jangan lupa untuk mengajak mereka semua makan siang disini.”
Aku tersenyum, berjalankan meninggalkan Hana di dapur.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar