Welcome

Rabu, 16 Mei 2012

DBSK comeback? (part 21)


Junsu POV

Lamunanku masih mengapung saat aku melihat cahaya terang di balik tirai. Aku berjalan dari tempat tidurku, membuka tirai dan melihat sinar matahari pagi yang amat cerah. Aku menatap sebingkai foto yang berdiri tegak di atas meja tulisku. Fotoku dengan seorang gadis berambut kecoklatan bernama Taeyeon. Foto yang sudah sangat lama. Aku bahkan lupa kapan foto itu diambil. Dan aku juga sudah lupa di mana lokasi pengambilan foto itu. Yang kuingat, dulu saat foto itu diambil, aku masih menjalin hubungan asmara yang indah bersama Taeyeon. Tapi aku menghancurkannya hanya karena alasan yang aku sendiri tidak mengerti. Lalu sekarang, saat aku sudah berhasil merengkuhnya kembali dalam pelukanku, lagi-lagi aku menghancurkan hubungan yang sudah kucari selama beberapa tahun ini. Aku pasti sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan cinta yang tulus dari wanita secantik Taeyeon.
 
Aku beralih menatap ponselku. Apakah aku harus mengajaknya bertemu dan meminta maaf atas kesalahanku kemarin?

Ya, kurasa aku harus melakukannya. Jadi aku mengambil ponselku dan mulai mengetik pesan singkat yang lalu kukirimkan padanya. Aku memintanya untuk menemuiku di tempat kemarin. Dan tak berapa lama kemudian, dia membalas pesanku. Dia setuju untuk menemui-ku di sana.

Setelah apa yang sudah kulakukan padanya kemarin, masih bisa-bisanya dia setuju untuk memenuhi ajakanku lagi. Aku benar-benar tidak tahu hatinya terbuat dari apa. Kenapa dia bisa sesabar itu dalam menghadapiku?

Akupun segera mandi dan berpakaian dengan rapi, lalu melesat menuju mobil tanpa menoleh saat umma menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu. Aku sudah tidak sabar untuk menemui Taeyeon dan meminta maaf. Aku benar-benar menyesal karena kemarin aku tak bisa mengontrol emosiku. Memarahi Taeyeon seperti semua ini adalah kesalahannya. Oh, betapa jahatnya aku.

Sepanjang jalan, aku tak bisa berhenti memikirkan Taeyeon. Semua kenangan indah yang pernah kulakukan bersamanya. Saat-saat aku menyatakan cintaku padaya, saat dia mengajari-ku tarian-tariannya, semua itu menjadi kenangan indah yang membuat kerinduanku bertam-bah dalam. Aku baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. Dengan mengatakan bahwa aku membencinya, itu sama saja aku membohongi perasaanku sendiri. Perasaanku yang sebenarnya pada Taeyeon, tidak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi di antara kami.

Aku sampai di sana dalam 15 menit. Aku yakin dia belum sampai, jadi aku memutuskan untuk memesan tempat duduk dan secangkir kopi untuk menghangatkan perutku.

20 menit kemudian, aku melihatnya muncul dari pintu kedai ini. Dia melihatku, dan segera menghampiriku dengan tatapan segan. Dia lantas duduk di seberangku dan tampak gugup.

“Maaf, tadi aku harus…”

“Ssst…” aku meletakkan telunjukku di bibirnya. “Berhentilah meminta maaf. Aku tidak marah padamu.” Ucapku. Dia mengangguk, dan aku segera menarik tanganku lagi. “Aku memintamu datang ke sini karena aku… ingin minta maaf.”

Taeyeon terdiam. Wajahnya tertunduk menatap meja.

“Aku tidak benar-benar membencimu, Yeonni. Tidak mungkin. Aku tahu aku salah karena aku terlalu emosi. Aku hanya… benar-benar tidak bisa memikirkan jalan keluar dari semua masalah ini. Aku bingung. Kau boleh memintaku melakukan apapun asalkan kau mau memaafkanku.”

“Tidak perlu, oppa.” Taeyeon mengangkat wajahnya, menatap kedua bola mataku dengan sinar matanya yang menusuk. “Aku sudah memaafkanku bahkan sebelum kau meminta maaf. Kau tidak perlu melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dariku.”

Kami berdua saling terdiam sejenak.

“Terima kasih ya, Taeyeon? Kau benar-benar mengerti perasaanku.” Sepertinya ucapanku membuatnya kehilangan kata-kata. Dia mengusap rambutnya ke belakang telinga, dan langsung menatap ke arah lain saat aku menatap matanya terlalu lekat.

“Kau lapar?” tanyaku lagi.

“Aku belum terlalu lapar.” Jawabnya dengan wajah semerah tomat. Kenapa dia mudah sekali merasa gugup saat berhadapan denganku?

Oh, astaga… kali ini aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi padanya.

“Oppa…” tiba-tiba Taeyeon memanggilku. Aku menatap wajahnya yang tampak segan, dia lalu memberanikan diri membalas tatapanku. “Jadi kau benar-benar akan berkarir sebagai penyanyi solo?” pertanyaan Taeyeon membuatku seolah tak bisa memikirkan jawaban yang tepat. “Aku sangat mengenalmu dan keempat member yang lain. Aku tahu kalian saling memiliki satu sama lain. Aku tahu naluri kalian masih terhubung sampai sekarang. Dan aku juga tahu, kau tidak benar-benar ingin menjadi seorang penyanyi solo. Kau hanya takut tidak bisa melupakan rasa sakitmu jika grup itu benar-benar tidak bisa terbentuk lagi. Iya kan, oppa?”

Aku mengangguk tanpa sadar. “Taeyeon, kalau kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan? Memperjuangkan sebuah grup yang sudah sangat mustahil untuk dipersatukan lagi, atau memilih untuk berkarir sendiri dan kau bisa meraih kesuksesan tanpa harus pusing memikirkan hal lain.”

“Jika aku menggunakan logika, maka aku akan memilih pilihan yang ke dua. Dan jika aku menggunakan perasaan, aku akan memilih pilihan yang pertama.” Taeyeon berhenti sejenak untuk melacak reaksiku. Aku hanya terdiam, dan dia melanjutkan. “Tapi jika aku mengguna-kan perasaan dan logika sekaligus, aku akan memilih untuk menyatu kembali dengan mereka di bawah management yang baru.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Tapi apa kau tahu? Mereka berempat sudah menolak tawaran seorang produser untuk kembali bergabung menjadi satu di bawah naungan management baru.”

Taeyeon tercengang.

Aku membagi senyum hangatku lagi, menatapnya dengan lekat. “Jadi, siapa yang tidak menggunakan logika, dan siapa yang tidak menggunakan perasaan?”

***

Jaejoong POV

Aku mendengar suara panci jatuh, berdentang dengan sangat keras. Apa yang Hana lakukan? Apakah dia merasa kesal atau marah?

Aku bangun dari tidur, berusaha mengumpulkan nyawa dan berjalan keluar menuju dapur. Aku masih mengenakan piyamaku.

Aku berhasil menemukan sosok yang kucari, rambutnya yang tergerai indah sebahu. Berdiri menghadap kompor, kurasa dia sedang memasak sarapan pagi untuk kami berdua.

Tunggu kami berdua? Aku hampi lupa, Hana sedang mengandung anakku. Aku terkekeh pelan. Aku berniat untuk mengagetkannya. Sudah lama aku tidak bermanja-manja dengan Hana. Aku merindukannya. Mungkin jika anak itu sudah lahir aku tidak akan mempunyai waktu berdua dengan Hana lagi.

Aku memeluk Hana dari belakang, dia tersentak kaget dan menoleh kearahku sebentar, lalu melanjutkkan memotong-motong sayuran.

“Oppa! Kau membuatku terkejut.”

Aku menghirup aroma rambut Hana, aromanya sangat khas.

“Selamat pagi.” Aku melumat lembut bibir Hana.

“Selamat Pagi.” Dia tersenyum saat aku melepaskan ciumannya.. “Oppa, lepaskan pelukan-mu, aku ingin membuatkan sarapan untukmu dan untukku.”

“Dan untuk putra kita.”

“Putra?” Hana mengerutkan alisnya, dia terlihat bingung.

“Iya, aku menginginkan seorang anak laki-laki.”

“Oppa, laki-laki ataupun perempuan akan sama saja bagiku. Yang terpenting adalah dia bisa lahir dengan selamat.” Aku mengelus perut Hana yang terlihat sedikit membuncit.

“Aku hanya ingin, anak pertama kita bisa melindungi adiknya.” Aku ingin menggoda Hana. “Jika dia anak perempuan maka aku berani bertaruh dia akan secantik umma-nya.”

Hana tersipu malu. “Dan jika dia anak-laki-laki maka dia akan seganteng appa-nya.”

Aku meneguk dengan cepat segelas air mineral yang baru saja ku ambil dari kulkas. Aku melihat Hana sangat telaten membersihkan sayuran dan daging yang akan dimasaknya.

“Aku tak pernah melihatmu memasak sebelumnya.” Aku berdiri dipinggir kulkas, menatap wajah Hana dengan perasaan yang sulit di tebak.

“Kau saja yang tak pernah memperhatikanku.” Hana cemberut.

Aku mendekati Hana, mencium pipinya yang mulai memerah. “Biar aku saja yang meng-gantikanmu di dapur.”

“Tidak perlu, sebentar lagi juga sudah matang.”

“Kau meragukannku dalam hal masak-memasak?”

“Tidak.. tidak sedikitpun” Hana menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kau tidak pintar memasak? Kau tinggal dengan 7 orang kakak perempuan.”

Aku tertawa dan mencubit pipi Hana. “Kau ini bisa saja.”

“Bergegaslah mandi, aku akan menyiapkan sarapan.”

“Baiknya Mrs. Kim.” Aku mencium pipi Hana lagi. “Kau harus inget apa kata Dokter, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah.”

Hana tertawa pelan, dan dia kembali melanjutkan acara memasaknya. Aku baru ingat bahwa aku ada janji. 

“Hana?”

“Mmmm.”

“Yunho, Yoochun, Junsu, dan Changmin akan datang kemari.”

Sekarang Hana membalikan badanya menatap tajam kearahku, dia menunggu kalimat selanjutnya. “Kami akan berkumpul disini, untuk membicarakan masalah Yoochun atau masalah Junsu.”

Sebuah senyuman hangat milik Hana terlukis di wajahnya.

“Baiklah, aku senang mendengarnya. Aku senang kalian mulai berpikir lebih dewasa, menyelesaikan masalah dengan kepala dingun bukan dengan kekerasa. Jangan lupa untuk mengajak mereka semua makan siang disini.”

Aku tersenyum, berjalankan meninggalkan Hana di dapur.
 
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar