Welcome

Minggu, 20 Mei 2012

The Gangster (part 6)


“Kim Jaejoong! ayo segera bangun!” Nako mengguncang-guncang tubuh Jaejoong yang masih penuh dengan memar. Tapi yang di bangunkan dari tadi tidak terbangun bahkan membuka matanya pun tidak. “Nanti kita bisa terlambat!”

Nako mencoba mengguncang tubuh Jaejoong lebih keras, tapi sekeras apapun Nako mencoba, Jaejoong tak membuka matanya sedikitpun. Nako lelah, dia terduduk di samping kasur lipat yang berada di kamar Gii. Gii sudah terbangun dan bersiap untuk pergi kuliah. Nako menatap wajah lelah milik Jaejoong. Menikmati setiap lekukan wajahnya, memandangnya tanpa henti.

Tak pernah Nako menatap seseorang laki-laki dengan sedekat ini, bahkan Nako dapat melihat kelelahan dan kesedihan yang terpendam dalam diri anak laki-laki yang terbaring di sebelahnya.
 
Saat melihat Jaejoong yang terbaring dengan penuh luka, bayangan Nako kembali kepada seseorang yang membuat Jaejoong luka seperti ini. Ya! Dia adalah Jung Yunho. Dia yang meneyebabkan Jaejoong seperti ini.
Kim Jaejoong adalah orang yang pertama kali berbicara pada Nako, sejak ia tiba di Korea dan bersekolah di sekolah elit, itu tak satupun siswa Korea yang mengajaknya berbicara. Walaupun Nako fasih berbicara bahasa Korea. Jaejoong juga adalah teman pertamanya.

Tapi seberapapun Nako mencoba untuk membenci Yunho, hasilnya akan sama saja. Dia tidak bisa membenci Jung Yunho. Nako tidak mengerti kenapa dia tidak bisa membenci Yunho, padahal Yunho telah membuatnya menderita dan selalu menyakitinya. Semakin dia mencoba membenci Yunho, perasaan yang aneh itu juga semakin dalam. Perasaan hangat yang ingin dilindungi. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Cinta?

Nako menepis jauh-jauh pikiran yang tidak rasional itu. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak jatuh cinta sama laki-laki itu. Nako kembali mencoba membangunkan Jaejoong.
 
“Kim Jaejoong! sampai kapan kau mau tidur terus! Ayo nanti kita terlambat!” Nako berteriak, mencoba menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh milik Jaejoong.

“Kau saja yang berangkat sekolah, aku mau bolos sekolah.” Ujar jaejoong tanpa membuka matanya.

“Kau ini bagaimana sih! Jika kau membolos, kau bisa diskors!”

“Aku tak peduli! Kau saja yang berangkat!” Perintah Jaejoong.

Nako cemberut, dia berusaha menarik selimut Jaejoong lebih keras. Jaejoong tak mau kalah dia juga menarik selimutnya. Tarikan Jaejoong yang cukup keras membuat tubuh Nako kehilangan keseimbangan. Tubuh mungil Nako jatuh, mendarat sempurna di atas tubuh Jaejoong. Nako menggunakan kedua tangannya untuk menahan berat badanya, tinggal beberapa sentimeter saja sebelum bibir Nako menyentuh bibir Jaejoong. Jaejoong yang kaget langsung membuka mata. Hitam bertemu Coklat hangat, mereka saling menatap dalam diam.

“Ehem..ehemm.” Seseorang berdeham dengan cukup keras. Membuat Nako salah tingkah, dia segera berdiri dan merapihkan seragam sekolahnya yang sedikit kusut. Jaejoong duduk dengan tegap, perasaannya campur aduk. Tatapannya kosong.

“Apa yang kalian lakukan? Kalian masih SMA! Kulaporkan pada Okaasan..” Gii mengancam. Dia bersandar pada ambang pintu, dan melipat kedua tangannya. Jaejoong tertunduk, dia merasa bersalah, kenapa dia tidak bangun lebih awal. Jaejoong mengutuk dirinya sendiri. Muncul semburat warna merah pada pipi Nako

“Apa yang kau lihat adalah ketidaksengajaan.” Jelas Nako. “Gii, jangan laporkan pada Okaasan. Akan ku belikan 2 batang coklat..”

“Tidak mau. Jika aku melaporkan pada okaasan maka aku akan mendapatkan lebih dari 2 batang coklat.”

“Bagaimana kalau 3 batang?” Tawar Nako. “Bukannya kau ingin berangkat kuliah? Sudah sana pergi!” Usir Nako.

“Baik-baik! aku pergi, akan kutagih janjimu. 3 batang Coklat!” Kata Gii sambil berlalu.

Nako membalikan badan, menatap Jaejoong dengan tatapan bersalah. Padahal Nako tau dia tidak bersalah. Tapi dia tau bahwa Jaejoong merasa tidak enak. Nako mengambil beberapa potong seragam lama yang masih terlihat bersih. Seragam lama milik Gii. Dia melempar seragam itu kearah Jaejoong.

“Itu punya, Gii. Kau bisa memakainya. Jika kau masih ingin berangkat kesekolah akan kutunggu di bawah, 30 menit lagi.” Kata Nako sambil menutup pintu.

Jaejoong menatap siluet tubuh Nako yang berjalan keluar sampai siluet itu menghilang dibalik pintu. Jaejoong sadar bahwa Nako menyembunyikan perasaan malunya.

25 menit berlalu, Nako menunggu di luar. Menikmati pancaran sinar matahari pagi. Berdiri di samping sepeda miliknya. Angin pagi menerbangkan rambut panjang hitam milik Nako. Nako terlihat manis.

Jaejoong keluar dengan memakai seragam milik Gii, seragamnya terlihat sedikit kebesaran dan acak-acakan.

“Ayo kita berangkat.” Kata Jaejoong, membuyarkan lamunan Nako.

Nako terbelalak menatap Jaejoong, dia terlihat sangat berantakan. Baju yang tidak di masukan, rambut yang tidak disisir. Bahkan dia tak memakai dasi dengan benar.

“Apa kau selalu terlihat seperti ini?” Kata Nako menatap Jaejoong.

“Kenapa dengan penampilanku?” Tanya Jaejoong dingin.

“Bisakah aku merapikan sedikit penampilanmu?” Tawar Nako, tak memperdulikan tatapan dingin milik Jaejoong. “Agar terlihat sedikit rapi.”

Jaejoong diam saja, dia tau bahwa jika dia menolak, Nako akan mulai berceramah lagi. jadi dia membiarkan Nako merapikan bajunya.

Nako berjalan mendekat, melepaskan lilitan dasi dari yang menggantung di leher Jaejoong. menaikan kerah kemejanya dan mulai memakaikannya dasi. Dengan telaten Nako menyimpulan selembar kain untuk menjadi dasi. Sepeti seorang istri yang memakaikan dasi untuk suaminya.

“Selesai.” Kata Nako singkat.

“Ayo kita berangkat!” Jaejoong menarik tangan Nako. Nako berusaha mengelak.

“Lebih baik kita naik sepeda.” Tawar Nako.

“Aku sudah tidak memiliki sepeda.” Jawab Jaejoong singkat.

“Naik sepedaku saja.”

“Tidak.”

“Kau bisa memboncengku kalau begitu.”

“Tidak.”

“Kalau begitu..” Nako hendak berkata, tapi Jaejoong memotongnya

“Tidak!” Bentak Jaejoong dingin.

“Aku hanya ingin kau melepaskan tanganku.” Kata Nako lirih.

Dengan segera Jaejoong melepaskan tangannya. Nako hanya merintih kesakitan karena cengkraman tangan Jaejoong sangat keras. Mereka beruda terdiam, tak ingin memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka.

Jarak rumah Nako ke sekolah tidak terlalu jauh. Walaupun bisa di capai dengan berjalan kaki, tapi sejujurnya Nako memilih untuk menaiki sepedanya. Perjalanan bisa di tempuh selama 25 menit.
 
Jaejoong melangkah dengan cepat. Membuat jarak antara dirinya dan Nako cukup jauh. Nako berusaha menyeimbangi langkah kakinya dengan langkah kaki Jaejoong.

“Kau membeci Jung Yunho?” Tanya Nako, memecahkan keheningan. Jaejoong tak menoleh sedikitpun ke arah Nako, tatapannya masih lurus dan kosong.

Mendengar nama Yunho disebut, Jaejoong merasa kebenciannya muncul. Jaejoong berani bersumpah bahwa dia membeci Yunho. Sejak awal Jaejoong tak mempunyai masalah dengan Yunho dan teman-temannya, tapi entah mengapa Yunho dan gangster itu berniat membuatnya tersiksa.

“…….” Jaejoong diam, tak menjawab pertanyaan Nako.

“Kau membencinya?” Ulang Nako. Dia menatap wajah Jaejoong, menunuggu beberapa kata keluar dari bibir merah cherry-nya.

Jaejoong melirik Nako melalui sudut matanya. Dia tau bahwa Nako menunggu jawaban.

“Menurutmu?” Jaejoong membalikan pertanyaan.

“Menurutku, kau pasti membencinya.” Jawab Nako ringan. “Kau ingin bergabung dengan mereka? dengan gangster itu?”

“Kenapa kau cerewet sekali? Kenapa kau bertanya tentang Yunho?” Ujar Jaejoong malas, nada bicaranya terdengar sangat dingin.

“Aku hanya ingin tau saja.” Nako tersenyum simpul. “Kau pasti terlihat sangat keren jika bersama gangster itu.”

“Tidak.”

“Aku melihatmu, sepertinya kau di takdirkan untuk bersama mereka” Nako mencoba memilih kata yang paling tepat. “Junsu, Yoochun, Kau, Yunho, dan Changmin. Kalian seperti sebuah ikatan yang tak terpisahkan. Bersatu dalam sebuah kelompok.”

“Kau tak tahu apa-apa tentang takdir.”

“Takdir yang membawa kita kedunia ini, takdir yang mempertemukan kita. Takdir yang membuatku mengenalmu. Takdir yang membuatmu bertemu dengan Yunho.” Jelas Nako panjang lebar.

“Takdir yang membuatmu jatuh cinta pada Jung Yunho?” Tebak Jaejoong.

***

Gerbang baja itu terbuka lebar saat Nako dan Jaejoong sampai di sana. Mereka menjadi pusat perhatian saat memasuki gerbang, terutama karena sepertinya semua murid di sekolah itu memandang mereka sebagai dua makhluk aneh yang harus disingkirkan. Nako menoleh pelan pada Jaejoong yang berjalan di sampingnya. Sama sekali tak ada ekspresi yang terpancar dari wajah dingin itu. Nako tidak mengerti hati Jaejoong terbuat dari apa. Sepertinya Jaejoong hanya hidup sendirian di dunia ini tanpa ada satupun orang yang bisa mengganggu ketenangannya.

“Jadi sekarang si anak baru dan anak Jepang ini pacaran, ya? Cocok sekali kalian. Sama-sama aneh!” suara Junsu yang khas tiba-tiba mengusik telinga mereka berdua. Seketika, keempat anggota gangster itu sudah berdiri di depan Jaejoong dan Nako.

“Permisi, aku mau lewat.” Ucap Jaejoong seolah tidak mendengar ucapan Junsu tadi.

“Berani sekali kau mengabaikanku seperti itu!” omel Junsu sambil mendorong bahu Jaejoong dengan keras sampai Jaejoong harus mundur beberapa langkah.

“Jangan sakiti Jaejoong lagi!” teriak Nako sambil menatap Junsu dengan segenap keberaniannya. Junsu mengalihkan pandangannya ke arah Nako.

“Jadi kau sudah berani menentangku hanya demi membela pacarmu ini, hah?” tanya Junsu sambil menunjuk Jaejoong dengan nada yang jelas-jelas merendahkan. Nako menggeleng-gelengkan kepalanya, ia melirik Jaejoong yang sedang menatap kosong ke depan, seolah ia hanya sendirian di atas puncak gunung. Apa yang ada di pikiran anak itu? Apa yang sebenarnya dirasakan Jaejoong saat orang-orang ini menyakitinya? Apa Jaejoong tidak merasakan kebencian? Apa dia sudah tidak bisa merasakan apa-apa?

“Kau bisu atau tuli?!!!” Junsu membentak Nako tepat di depan wajah gadis itu. Nako mengerjap, kedua mata beningnya mengarah ke wajah Junsu. Pria yang tampan, namun tak punya hati.

“Kau lihat? Pacarmu disakiti! Apa kau tidak ingin menolongnya?” kali ini suara Yunho yang terdengar. Tapi ia tidak sedang bicara dengan Nako, melainkan dengan Jaejoong.

“Aku hanya ingin lewat, jadi biarkan aku lewat saja.” Ucap Jaejoong datar sambil menatap kedua bola mata Yunho dengan tegas.

“Enak saja kau kabur. Kau harus pertanggungjawabkan luka-luka di wajahku ini!!”

“Itu kan salahmu sendiri.”

“Kurang ajar kau…!!” Yunho melayangkan tinjunya dengan keras dan…

BUAKK!! Jaejoong mendengar sebuah pukulan yang amat sangat menyakitkan. Ia terbelalak saat menyadari wajahnya sama sekali tidak merasakan pukulan itu. Namun rupanya, pukulan itu mendarat sempurna di wajah Nako, hingga membuat gadis itu terjatuh ke tanah dengan bibir berdarah. Jaejoong segera menyadarkan dirinya bahwa Nako telah melindunginya dari pukulan Yunho.

“Apa yang kau lakukan?! Bodoh sekali kau ini!” omel Jaejoong sambil berjongkok untuk melihat luka di bibir Nako. Gadis itu terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya.

“Itu baru pelajaran pertama. Setelah ini, kalian berdua akan merasakan yang lebih menyakitkan lagi!!” Yunho dan ketiga anggota gangster lainnya segera pergi dari sana diikuti kerumunan anak-anak yang sejak tadi berkumpul untuk menyaksikan keributan itu.

Jaejoong membantu Nako berdiri dan memapahnya menuju ruang kesehatan.

“Seharusnya tadi kau tak perlu melakukan itu.” Ucap Jaejoong.

“Tapi aku tak bisa melihatmu disakiti terus-menerus…”

“Aku tidak apa-apa, Misuzawa. Aku sama sekali tidak merasa disakiti.”

“Tapi aku merasa sangat tersakiti jika melihatmu disiksa oleh mereka berempat.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar