“Kim Jaejoong! ayo segera
bangun!” Nako mengguncang-guncang tubuh Jaejoong yang masih penuh dengan memar.
Tapi yang di bangunkan dari tadi tidak terbangun bahkan membuka matanya pun
tidak. “Nanti kita bisa terlambat!”
Nako mencoba mengguncang tubuh
Jaejoong lebih keras, tapi sekeras apapun Nako mencoba, Jaejoong tak membuka
matanya sedikitpun. Nako lelah, dia terduduk di samping kasur lipat yang berada
di kamar Gii. Gii sudah terbangun dan bersiap untuk pergi kuliah. Nako menatap
wajah lelah milik Jaejoong. Menikmati setiap lekukan wajahnya, memandangnya
tanpa henti.
Tak pernah Nako menatap seseorang laki-laki
dengan sedekat ini, bahkan Nako dapat melihat kelelahan dan kesedihan yang
terpendam dalam diri anak laki-laki yang terbaring di sebelahnya.
Saat melihat Jaejoong yang terbaring dengan penuh luka, bayangan Nako kembali
kepada seseorang yang membuat Jaejoong luka seperti ini. Ya! Dia adalah Jung
Yunho. Dia yang meneyebabkan Jaejoong seperti ini.
Kim Jaejoong adalah orang yang
pertama kali berbicara pada Nako, sejak ia tiba di Korea dan bersekolah di
sekolah elit, itu tak satupun siswa Korea yang mengajaknya berbicara. Walaupun
Nako fasih berbicara bahasa Korea. Jaejoong juga adalah teman pertamanya.
Tapi seberapapun Nako mencoba
untuk membenci Yunho, hasilnya akan sama saja. Dia tidak bisa membenci Jung
Yunho. Nako tidak mengerti kenapa dia tidak bisa membenci Yunho, padahal Yunho
telah membuatnya menderita dan selalu menyakitinya. Semakin dia mencoba
membenci Yunho, perasaan yang aneh itu juga semakin dalam. Perasaan hangat yang
ingin dilindungi. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Cinta?
Nako menepis jauh-jauh pikiran
yang tidak rasional itu. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak
jatuh cinta sama laki-laki itu. Nako kembali mencoba membangunkan Jaejoong.
“Kim Jaejoong! sampai kapan kau mau tidur terus! Ayo nanti kita terlambat!”
Nako berteriak, mencoba menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh milik
Jaejoong.
“Kau saja yang berangkat sekolah,
aku mau bolos sekolah.” Ujar jaejoong tanpa membuka matanya.
“Kau ini bagaimana sih! Jika kau
membolos, kau bisa diskors!”
“Aku tak peduli! Kau saja yang
berangkat!” Perintah Jaejoong.
Nako cemberut, dia berusaha
menarik selimut Jaejoong lebih keras. Jaejoong tak mau kalah dia juga menarik
selimutnya. Tarikan Jaejoong yang cukup keras membuat tubuh Nako kehilangan
keseimbangan. Tubuh mungil Nako jatuh, mendarat sempurna di atas tubuh
Jaejoong. Nako menggunakan kedua tangannya untuk menahan berat badanya, tinggal
beberapa sentimeter saja sebelum bibir Nako menyentuh bibir Jaejoong. Jaejoong
yang kaget langsung membuka mata. Hitam bertemu Coklat hangat, mereka saling
menatap dalam diam.
“Ehem..ehemm.” Seseorang berdeham
dengan cukup keras. Membuat Nako salah tingkah, dia segera berdiri dan
merapihkan seragam sekolahnya yang sedikit kusut. Jaejoong duduk dengan tegap,
perasaannya campur aduk. Tatapannya kosong.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian
masih SMA! Kulaporkan pada Okaasan..” Gii mengancam. Dia bersandar pada ambang
pintu, dan melipat kedua tangannya. Jaejoong tertunduk, dia merasa bersalah,
kenapa dia tidak bangun lebih awal. Jaejoong mengutuk dirinya sendiri. Muncul
semburat warna merah pada pipi Nako
“Apa yang kau lihat adalah
ketidaksengajaan.” Jelas Nako. “Gii, jangan laporkan pada Okaasan. Akan ku
belikan 2 batang coklat..”
“Tidak mau. Jika aku melaporkan
pada okaasan maka aku akan mendapatkan lebih dari 2 batang coklat.”
“Bagaimana kalau 3 batang?” Tawar
Nako. “Bukannya kau ingin berangkat kuliah? Sudah sana pergi!” Usir Nako.
“Baik-baik! aku pergi, akan
kutagih janjimu. 3 batang Coklat!” Kata Gii sambil berlalu.
Nako membalikan badan, menatap
Jaejoong dengan tatapan bersalah. Padahal Nako tau dia tidak bersalah. Tapi dia
tau bahwa Jaejoong merasa tidak enak. Nako mengambil beberapa potong seragam
lama yang masih terlihat bersih. Seragam lama milik Gii. Dia melempar seragam
itu kearah Jaejoong.
“Itu punya, Gii. Kau bisa
memakainya. Jika kau masih ingin berangkat kesekolah akan kutunggu di bawah, 30
menit lagi.” Kata Nako sambil menutup pintu.
Jaejoong menatap siluet tubuh
Nako yang berjalan keluar sampai siluet itu menghilang dibalik pintu. Jaejoong
sadar bahwa Nako menyembunyikan perasaan malunya.
25 menit berlalu, Nako menunggu
di luar. Menikmati pancaran sinar matahari pagi. Berdiri di samping sepeda
miliknya. Angin pagi menerbangkan rambut panjang hitam milik Nako. Nako
terlihat manis.
Jaejoong keluar dengan memakai
seragam milik Gii, seragamnya terlihat sedikit kebesaran dan acak-acakan.
“Ayo kita berangkat.” Kata
Jaejoong, membuyarkan lamunan Nako.
Nako terbelalak menatap Jaejoong,
dia terlihat sangat berantakan. Baju yang tidak di masukan, rambut yang tidak
disisir. Bahkan dia tak memakai dasi dengan benar.
“Apa kau selalu terlihat seperti
ini?” Kata Nako menatap Jaejoong.
“Kenapa dengan penampilanku?”
Tanya Jaejoong dingin.
“Bisakah aku merapikan sedikit
penampilanmu?” Tawar Nako, tak memperdulikan tatapan dingin milik Jaejoong.
“Agar terlihat sedikit rapi.”
Jaejoong diam saja, dia tau bahwa
jika dia menolak, Nako akan mulai berceramah lagi. jadi dia membiarkan Nako
merapikan bajunya.
Nako berjalan mendekat,
melepaskan lilitan dasi dari yang menggantung di leher Jaejoong. menaikan kerah
kemejanya dan mulai memakaikannya dasi. Dengan telaten Nako menyimpulan
selembar kain untuk menjadi dasi. Sepeti seorang istri yang memakaikan dasi
untuk suaminya.
“Selesai.” Kata Nako singkat.
“Ayo kita berangkat!” Jaejoong
menarik tangan Nako. Nako berusaha mengelak.
“Lebih baik kita naik sepeda.”
Tawar Nako.
“Aku sudah tidak memiliki
sepeda.” Jawab Jaejoong singkat.
“Naik sepedaku saja.”
“Tidak.”
“Kau bisa memboncengku kalau
begitu.”
“Tidak.”
“Kalau begitu..” Nako hendak
berkata, tapi Jaejoong memotongnya
“Tidak!” Bentak Jaejoong dingin.
“Aku hanya ingin kau melepaskan
tanganku.” Kata Nako lirih.
Dengan segera Jaejoong melepaskan
tangannya. Nako hanya merintih kesakitan karena cengkraman tangan Jaejoong
sangat keras. Mereka beruda terdiam, tak ingin memecahkan keheningan yang
menyelimuti mereka.
Jarak rumah Nako ke sekolah tidak
terlalu jauh. Walaupun bisa di capai dengan berjalan kaki, tapi sejujurnya Nako
memilih untuk menaiki sepedanya. Perjalanan bisa di tempuh selama 25 menit.
Jaejoong melangkah dengan cepat. Membuat jarak antara dirinya dan Nako cukup
jauh. Nako berusaha menyeimbangi langkah kakinya dengan langkah kaki Jaejoong.
“Kau membeci Jung Yunho?” Tanya
Nako, memecahkan keheningan. Jaejoong tak menoleh sedikitpun ke arah Nako,
tatapannya masih lurus dan kosong.
Mendengar nama Yunho disebut,
Jaejoong merasa kebenciannya muncul. Jaejoong berani bersumpah bahwa dia
membeci Yunho. Sejak awal Jaejoong tak mempunyai masalah dengan Yunho dan
teman-temannya, tapi entah mengapa Yunho dan gangster itu berniat membuatnya
tersiksa.
“…….” Jaejoong diam, tak menjawab
pertanyaan Nako.
“Kau membencinya?” Ulang Nako.
Dia menatap wajah Jaejoong, menunuggu beberapa kata keluar dari bibir merah
cherry-nya.
Jaejoong melirik Nako melalui
sudut matanya. Dia tau bahwa Nako menunggu jawaban.
“Menurutmu?” Jaejoong membalikan
pertanyaan.
“Menurutku, kau pasti
membencinya.” Jawab Nako ringan. “Kau ingin bergabung dengan mereka? dengan
gangster itu?”
“Kenapa kau cerewet sekali?
Kenapa kau bertanya tentang Yunho?” Ujar Jaejoong malas, nada bicaranya
terdengar sangat dingin.
“Aku hanya ingin tau saja.” Nako
tersenyum simpul. “Kau pasti terlihat sangat keren jika bersama gangster itu.”
“Tidak.”
“Aku melihatmu, sepertinya kau di
takdirkan untuk bersama mereka” Nako mencoba memilih kata yang paling tepat.
“Junsu, Yoochun, Kau, Yunho, dan Changmin. Kalian seperti sebuah ikatan yang
tak terpisahkan. Bersatu dalam sebuah kelompok.”
“Kau tak tahu apa-apa tentang
takdir.”
“Takdir yang membawa kita kedunia
ini, takdir yang mempertemukan kita. Takdir yang membuatku mengenalmu. Takdir
yang membuatmu bertemu dengan Yunho.” Jelas Nako panjang lebar.
“Takdir yang membuatmu jatuh
cinta pada Jung Yunho?” Tebak Jaejoong.
***
Gerbang baja itu terbuka lebar
saat Nako dan Jaejoong sampai di sana. Mereka menjadi pusat perhatian saat
memasuki gerbang, terutama karena sepertinya semua murid di sekolah itu
memandang mereka sebagai dua makhluk aneh yang harus disingkirkan. Nako menoleh
pelan pada Jaejoong yang berjalan di sampingnya. Sama sekali tak ada ekspresi
yang terpancar dari wajah dingin itu. Nako tidak mengerti hati Jaejoong terbuat
dari apa. Sepertinya Jaejoong hanya hidup sendirian di dunia ini tanpa ada
satupun orang yang bisa mengganggu ketenangannya.
“Jadi sekarang si anak baru dan
anak Jepang ini pacaran, ya? Cocok sekali kalian. Sama-sama aneh!” suara Junsu
yang khas tiba-tiba mengusik telinga mereka berdua. Seketika, keempat anggota
gangster itu sudah berdiri di depan Jaejoong dan Nako.
“Permisi, aku mau lewat.” Ucap
Jaejoong seolah tidak mendengar ucapan Junsu tadi.
“Berani sekali kau mengabaikanku
seperti itu!” omel Junsu sambil mendorong bahu Jaejoong dengan keras sampai
Jaejoong harus mundur beberapa langkah.
“Jangan sakiti Jaejoong lagi!”
teriak Nako sambil menatap Junsu dengan segenap keberaniannya. Junsu
mengalihkan pandangannya ke arah Nako.
“Jadi kau sudah berani
menentangku hanya demi membela pacarmu ini, hah?” tanya Junsu sambil menunjuk
Jaejoong dengan nada yang jelas-jelas merendahkan. Nako menggeleng-gelengkan
kepalanya, ia melirik Jaejoong yang sedang menatap kosong ke depan, seolah ia
hanya sendirian di atas puncak gunung. Apa yang ada di pikiran anak itu? Apa
yang sebenarnya dirasakan Jaejoong saat orang-orang ini menyakitinya? Apa
Jaejoong tidak merasakan kebencian? Apa dia sudah tidak bisa merasakan apa-apa?
“Kau bisu atau tuli?!!!” Junsu
membentak Nako tepat di depan wajah gadis itu. Nako mengerjap, kedua mata
beningnya mengarah ke wajah Junsu. Pria yang tampan, namun tak punya hati.
“Kau lihat? Pacarmu disakiti! Apa
kau tidak ingin menolongnya?” kali ini suara Yunho yang terdengar. Tapi ia
tidak sedang bicara dengan Nako, melainkan dengan Jaejoong.
“Aku hanya ingin lewat, jadi
biarkan aku lewat saja.” Ucap Jaejoong datar sambil menatap kedua bola mata
Yunho dengan tegas.
“Enak saja kau kabur. Kau harus
pertanggungjawabkan luka-luka di wajahku ini!!”
“Itu kan salahmu sendiri.”
“Kurang ajar kau…!!” Yunho
melayangkan tinjunya dengan keras dan…
BUAKK!! Jaejoong mendengar sebuah
pukulan yang amat sangat menyakitkan. Ia terbelalak saat menyadari wajahnya
sama sekali tidak merasakan pukulan itu. Namun rupanya, pukulan itu mendarat
sempurna di wajah Nako, hingga membuat gadis itu terjatuh ke tanah dengan bibir
berdarah. Jaejoong segera menyadarkan dirinya bahwa Nako telah melindunginya
dari pukulan Yunho.
“Apa yang kau lakukan?! Bodoh
sekali kau ini!” omel Jaejoong sambil berjongkok untuk melihat luka di bibir
Nako. Gadis itu terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Itu baru pelajaran pertama.
Setelah ini, kalian berdua akan merasakan yang lebih menyakitkan lagi!!” Yunho
dan ketiga anggota gangster lainnya segera pergi dari sana diikuti kerumunan
anak-anak yang sejak tadi berkumpul untuk menyaksikan keributan itu.
Jaejoong membantu Nako berdiri
dan memapahnya menuju ruang kesehatan.
“Seharusnya tadi kau tak perlu
melakukan itu.” Ucap Jaejoong.
“Tapi aku tak bisa melihatmu
disakiti terus-menerus…”
“Aku tidak apa-apa, Misuzawa. Aku
sama sekali tidak merasa disakiti.”
“Tapi aku merasa sangat tersakiti
jika melihatmu disiksa oleh mereka berempat.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar