Tempat yang disebut Jaejoong
sebagai rumah membuat Nako tercengang. Panti asuhan itu tampak gelap oleh
pohon-pohon besar yang menutupi hampir seluruh halaman depannya. Nako menelan
ludah, melirik Jaejoong yang tetap berjalan santai mendahuluinya.
“Ini rumahmu?” tanya Nako sambil
berlari mensejajari langkah Jaejoong.
“Iya.” Jawab Jaejoong enteng
sambil membuka pagar yang menghubungkan mereka dengan halaman yang luas dan
penuh berbagai macam tanaman hias. “Kau tidak usah ikut masuk, ibu pantiku
galak. Jadi kau pulang saja sekarang.” Ucap Jaejoong sambil melepas sepatunya
di teras.
“Aku mau bertemu dengan ibu
pantimu.”
“Tidak usah. Kau tidak akan
senang jika bertemu dengannya.”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin
kenal saja.” Nako bersikeras.
“Ya sudah kalau kau memaksa. Ayo
masuk!” Jaejoong lebih dulu membuka pintu dan Nako mengekor di belakangnya.
Panti asuhan itu sangat sepi. Gedungnya besar dan terlihat sangat terawat,
namun jumlah anak yang dititipkan di sana tidak sampai 20 orang. Nako
melayangkan pandangannya ke seisi rumah. Design rumah itu sangat sederhana dan
jauh dari modifikasi. Ada beberapa anak kecil yang tengah menatapnya dari pintu
dapur. Nako tersenyum pada anak-anak itu, dan mereka membalas senyuman Nako. Ia
tak pernah membayangkan Jaejoong tinggal di tempat ini. Tempat untuk anak-anak
yang tidak punya keluarga.
“Ke mana saja kau, hah?! Dasar
anak tidak tahu diri!” sebuah suara keras membuat Nako tersadar. Dia menatap
seorang wanita setengah baya yang berdiri sambil berkacak pinggang. Apakah itu…
ibu panti yang dimaksud Jaejoong? Galak sekali…
“Kemarin aku menginap di rumah
Misuzawa.” Jawab Jaejoong santai. Mengingat kemarahan ibu panti yang begitu
dahsyatnya, jawaban Jaejoong terdengar amat sangat santai.
“Misuzawa? Maksudmu, gadis itu?”
Nako langsung tersenyum sopan saat tatapan ibu panti tertuju tepat ke arahnya.
Jaejoong mengangguk seadanya. “Jangan pernah lagi menginap di rumah orang
seenaknya! Kalau kau mengulangi perbuatan ini untuk yang ke dua kali, aku tidak
akan memberimu makan!”
Jaejoong diam dengan ekspresi
datar. Nako merasa hatinya amat sangat terluka melihat Jaejoong dimarahi
seperti itu oleh orang yang bahkan bukan ibu kandungnya. Ia ingin memeluk
Jaejoong dan membawa Jaejoong pergi dari tempat itu. Tapi… ia tidak berhak.
“Sekarang cepat kembali ke
kamarmu! Dan kau, pulang saja sana! Tidak usah datang-datang lagi ke sini!” ibu
panti berteriak sekali lagi. Nako merasa jantungnya hampir copot karena
dibentak tiba-tiba. Ia bahkan tidak tahu kesalahannya apa. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, Nako segera melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Dia ingin
melambaikan tangan pada Jaejoong, tapi rupanya Jaejoong sudah lebih dulu menghilang
di balik tangga.
Apa yang sebenarnya membuat
Jaejoong harus tinggal di tempat ini? Kenapa dia tak punya keluarga?
***
Cuaca yang muram mengiringi
langkah Jaejoong pagi itu. Ia tahu kesalahannya kemarin sudah cukup besar.
Memberontak guru dan meninggalkan mejanya yang penuh sampah. Hari inipun, jika
mejanya masih tetap seperti itu, ia bersumpah bahwa ia berani menghadap kepala
sekolah dan mengatakan bahwa itu bukan perbuatannya. Dan tentu saja, dia tidak
mau bertanggung jawab atas hal itu.
Ia merasa semua mata
memperhatikannya saat ia berjalan melewati lorong yang memanjang menuju
kelasnya. Tatapan-tatapan kebencian, dan sorot mata merendahkan yang terlihat
jelas. Jaejoong sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Di manapun dia berada,
tatapan seperti selalu dilemparkan padanya. Bahkan orang-orang yang tidak
mengenalnya pun seolah sudah teramat sangat membencinya.
“Selamat pagi, Kim Jaejoong.”
Sebuah suara bass membuat Jaejoong berhenti melangkah. Ia masih tertunduk
menatap lantai, lalu perlahan mengangkat kepalanya dan mendapati sosok yang
amat sangat dikenalnya. Jung Yunho dan ketiga anggota gangster kurang ajar itu.
Jaejoong merasa tinjunya begitu gatal, ia ingin menghantam wajah-wajah sombong
itu satu-persatu dan bila perlu mencekik mereka sampai mereka tak bernyawa
lagi.
“Biarkan aku lewat.” Ucap
Jaejoong malas.
“Ada sesuatu hal penting yang
harus kami bicarakan denganmu?”
“Aku tidak punya urusan dengan
kalian.”
“Tapi sekarang kau punya urusan
dengan kami.” Yoochun menyela. Jaejoong menatap wajah Yoochun yang kini tampak
dingin seperti batu es.
“Baiklah, tolong ingatkan aku
tentang urusanku dengan kalian.” Ucap Jaejoong menyerah.
Yunho tersenyum simpul. “Aku
sudah mendengar kisahmu yang penuh drama itu. Kau benar-benar tidak punya hati.
Hanya orang berjiwa binatang yang tega membunuh ibunya sendiri.” Perkataan
Yunho telah berhasil mengoyak rasa sakit di hati Jaejoong hingga ke
akar-akarnya.
“Tahu apa kalian tentang aku?
Tentang ibuku?” tanya Jaejoong dengan suara gemetar karena menahan amarah.
Mereka berempat saling berpandangan untuk beberapa saat.
“Jujur sebenarnya… kami berempat
ingin minta maaf atas semua yang telah kami lakukan padamu.” Changmin mewakili
menjawab. Jaejoong tertegun mendengar kalimat itu. Ia bisa mendengar seluruh
murid yang sejak tadi memperhatikan mereka kini berseru tak percaya.
“Kau adalah orang yang
benar-benar tidak punya hati, dan kami baru menyadari bahwa kau pantas untuk
menjadi bagian dari kami. Jadi apakah… kau bersedia untuk bergabung dengan kami
berempat?” tanya Junsu. Sebuah tawaran yang membuat Jaejoong menjatuhkan tasnya
seketika. Dan saat itu juga sebuah pukulan keras melayang ke wajah Junsu.
Semua yang menyaksikan berteriak
kaget melihatnya. Junsu langsung jatuh ke lantai dengan bibir dialiri darah
segar. Jaejoong mengambil tasnya kembali, memasangnya di bahu kirinya seperti
semula.
“Jaga bicaramu, ya! Kau kira aku
sudi bergabung dengan kalian berempat?!” seru Jaejoong dengan suara lantang.
Junsu tampak tengah berusaha untuk bangun dengan dibantu Yunho dan Changmin.
“Apa maksudmu bicara seperti
itu?” tanya Yoochun sambil mendekati Jaejoong. “Berani sekali kau melecehkan
kami!”
“Kalau iya memangnya kenapa? Kau
tidak suka?!”
“Yoochun!” suara Yunho membuat
Yoochun tak jadi menyemburkan caci makinya. Yunho memberi isyarat pada Yoochun
untuk mundur, dan setelah itu Yunho mendekat ke arah Jaejoong. “Dengarkan aku,
jika kau mau bergabung dengan kami, maka kami bersumpah tidak akan pernah
mengganggu Misuzawa Nako yang kau sayangi itu. Bagaimana?”
Jaejoong terkejut mendengarnya.
Ia tahu Nako sudah sangat menderita dengan semua perbuatan yang dilakukan
gangster jahat ini. Dan sekarang, ia mendapat kesempatan untuk melepaskan Nako
dari semua kejahatan mereka berempat. Ia akan senang jika Nako tidak dijahili
lagi. Walaupun memang, ia tidak mau bergabung dengan mereka, tapi jika itu bisa
menyelamatkan Nako…
“Baiklah, aku bersedia.” Ucap
Jaejoong dengan mantap.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar