Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 10)


Tempat yang disebut Jaejoong sebagai rumah membuat Nako tercengang. Panti asuhan itu tampak gelap oleh pohon-pohon besar yang menutupi hampir seluruh halaman depannya. Nako menelan ludah, melirik Jaejoong yang tetap berjalan santai mendahuluinya.

“Ini rumahmu?” tanya Nako sambil berlari mensejajari langkah Jaejoong.

“Iya.” Jawab Jaejoong enteng sambil membuka pagar yang menghubungkan mereka dengan halaman yang luas dan penuh berbagai macam tanaman hias. “Kau tidak usah ikut masuk, ibu pantiku galak. Jadi kau pulang saja sekarang.” Ucap Jaejoong sambil melepas sepatunya di teras.

“Aku mau bertemu dengan ibu pantimu.”

“Tidak usah. Kau tidak akan senang jika bertemu dengannya.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kenal saja.” Nako bersikeras.

“Ya sudah kalau kau memaksa. Ayo masuk!” Jaejoong lebih dulu membuka pintu dan Nako mengekor di belakangnya. Panti asuhan itu sangat sepi. Gedungnya besar dan terlihat sangat terawat, namun jumlah anak yang dititipkan di sana tidak sampai 20 orang. Nako melayangkan pandangannya ke seisi rumah. Design rumah itu sangat sederhana dan jauh dari modifikasi. Ada beberapa anak kecil yang tengah menatapnya dari pintu dapur. Nako tersenyum pada anak-anak itu, dan mereka membalas senyuman Nako. Ia tak pernah membayangkan Jaejoong tinggal di tempat ini. Tempat untuk anak-anak yang tidak punya keluarga.

“Ke mana saja kau, hah?! Dasar anak tidak tahu diri!” sebuah suara keras membuat Nako tersadar. Dia menatap seorang wanita setengah baya yang berdiri sambil berkacak pinggang. Apakah itu… ibu panti yang dimaksud Jaejoong? Galak sekali…

“Kemarin aku menginap di rumah Misuzawa.” Jawab Jaejoong santai. Mengingat kemarahan ibu panti yang begitu dahsyatnya, jawaban Jaejoong terdengar amat sangat santai.

“Misuzawa? Maksudmu, gadis itu?” Nako langsung tersenyum sopan saat tatapan ibu panti tertuju tepat ke arahnya. Jaejoong mengangguk seadanya. “Jangan pernah lagi menginap di rumah orang seenaknya! Kalau kau mengulangi perbuatan ini untuk yang ke dua kali, aku tidak akan memberimu makan!”

Jaejoong diam dengan ekspresi datar. Nako merasa hatinya amat sangat terluka melihat Jaejoong dimarahi seperti itu oleh orang yang bahkan bukan ibu kandungnya. Ia ingin memeluk Jaejoong dan membawa Jaejoong pergi dari tempat itu. Tapi… ia tidak berhak.

“Sekarang cepat kembali ke kamarmu! Dan kau, pulang saja sana! Tidak usah datang-datang lagi ke sini!” ibu panti berteriak sekali lagi. Nako merasa jantungnya hampir copot karena dibentak tiba-tiba. Ia bahkan tidak tahu kesalahannya apa. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nako segera melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Dia ingin melambaikan tangan pada Jaejoong, tapi rupanya Jaejoong sudah lebih dulu menghilang di balik tangga.

Apa yang sebenarnya membuat Jaejoong harus tinggal di tempat ini? Kenapa dia tak punya keluarga?

***

Cuaca yang muram mengiringi langkah Jaejoong pagi itu. Ia tahu kesalahannya kemarin sudah cukup besar. Memberontak guru dan meninggalkan mejanya yang penuh sampah. Hari inipun, jika mejanya masih tetap seperti itu, ia bersumpah bahwa ia berani menghadap kepala sekolah dan mengatakan bahwa itu bukan perbuatannya. Dan tentu saja, dia tidak mau bertanggung jawab atas hal itu.

Ia merasa semua mata memperhatikannya saat ia berjalan melewati lorong yang memanjang menuju kelasnya. Tatapan-tatapan kebencian, dan sorot mata merendahkan yang terlihat jelas. Jaejoong sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Di manapun dia berada, tatapan seperti selalu dilemparkan padanya. Bahkan orang-orang yang tidak mengenalnya pun seolah sudah teramat sangat membencinya.

“Selamat pagi, Kim Jaejoong.” Sebuah suara bass membuat Jaejoong berhenti melangkah. Ia masih tertunduk menatap lantai, lalu perlahan mengangkat kepalanya dan mendapati sosok yang amat sangat dikenalnya. Jung Yunho dan ketiga anggota gangster kurang ajar itu. Jaejoong merasa tinjunya begitu gatal, ia ingin menghantam wajah-wajah sombong itu satu-persatu dan bila perlu mencekik mereka sampai mereka tak bernyawa lagi.

“Biarkan aku lewat.” Ucap Jaejoong malas.

“Ada sesuatu hal penting yang harus kami bicarakan denganmu?”

“Aku tidak punya urusan dengan kalian.”

“Tapi sekarang kau punya urusan dengan kami.” Yoochun menyela. Jaejoong menatap wajah Yoochun yang kini tampak dingin seperti batu es.

“Baiklah, tolong ingatkan aku tentang urusanku dengan kalian.” Ucap Jaejoong menyerah.

Yunho tersenyum simpul. “Aku sudah mendengar kisahmu yang penuh drama itu. Kau benar-benar tidak punya hati. Hanya orang berjiwa binatang yang tega membunuh ibunya sendiri.” Perkataan Yunho telah berhasil mengoyak rasa sakit di hati Jaejoong hingga ke akar-akarnya.

“Tahu apa kalian tentang aku? Tentang ibuku?” tanya Jaejoong dengan suara gemetar karena menahan amarah. Mereka berempat saling berpandangan untuk beberapa saat.

“Jujur sebenarnya… kami berempat ingin minta maaf atas semua yang telah kami lakukan padamu.” Changmin mewakili menjawab. Jaejoong tertegun mendengar kalimat itu. Ia bisa mendengar seluruh murid yang sejak tadi memperhatikan mereka kini berseru tak percaya.

“Kau adalah orang yang benar-benar tidak punya hati, dan kami baru menyadari bahwa kau pantas untuk menjadi bagian dari kami. Jadi apakah… kau bersedia untuk bergabung dengan kami berempat?” tanya Junsu. Sebuah tawaran yang membuat Jaejoong menjatuhkan tasnya seketika. Dan saat itu juga sebuah pukulan keras melayang ke wajah Junsu.

Semua yang menyaksikan berteriak kaget melihatnya. Junsu langsung jatuh ke lantai dengan bibir dialiri darah segar. Jaejoong mengambil tasnya kembali, memasangnya di bahu kirinya seperti semula.

“Jaga bicaramu, ya! Kau kira aku sudi bergabung dengan kalian berempat?!” seru Jaejoong dengan suara lantang. Junsu tampak tengah berusaha untuk bangun dengan dibantu Yunho dan Changmin.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanya Yoochun sambil mendekati Jaejoong. “Berani sekali kau melecehkan kami!”

“Kalau iya memangnya kenapa? Kau tidak suka?!”

“Yoochun!” suara Yunho membuat Yoochun tak jadi menyemburkan caci makinya. Yunho memberi isyarat pada Yoochun untuk mundur, dan setelah itu Yunho mendekat ke arah Jaejoong. “Dengarkan aku, jika kau mau bergabung dengan kami, maka kami bersumpah tidak akan pernah mengganggu Misuzawa Nako yang kau sayangi itu. Bagaimana?”

Jaejoong terkejut mendengarnya. Ia tahu Nako sudah sangat menderita dengan semua perbuatan yang dilakukan gangster jahat ini. Dan sekarang, ia mendapat kesempatan untuk melepaskan Nako dari semua kejahatan mereka berempat. Ia akan senang jika Nako tidak dijahili lagi. Walaupun memang, ia tidak mau bergabung dengan mereka, tapi jika itu bisa menyelamatkan Nako…

“Baiklah, aku bersedia.” Ucap Jaejoong dengan mantap.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar