Junsu POV
“Junsu! Junsu! Ada yang mencarimu!” suara umma
membuatku melepas headset yang sedang kupasang di telinga.
“Siapa?” tanyaku masih malas beranjak dari kasur.
“Kau temui saja! Orangnya menunggu di bawah!”
Dengan terpaksa, aku bangun dari kasurku, berjalan
malas-malasan menuruni tangga, dan melihat sosok Changmin yang berdiri di sana.
Di ruang tamuku. Untuk apa lagi dia ke sini? Apa dia akan memaksaku untuk
menyetujui permintaan konyol si tua bangka itu?
Aku mencoba untuk tidak terlihat emosi. Dia tamu di
sini, dan sudah selayaknya dia mendapat perlakuan yang sopan.
“Tumben sekali pagi-pagi kau datang ke sini. Kau
sendirian?” tanyaku berbasa-basi.
Changmin mengangguk. Dari raut wajahnya, aku bisa
menebak bahwa dia sedang dalam mood yang tidak enak.
“Aku ke sini untuk mengajakmu ke suatu tempat, hyung.”
Katanya kemudian.
“Ke suatu tempat? Untuk apa?”
“Untuk membicarakan tentang rapat yang semalam belum
selesai.”
“Apa lagi yang perlu dibicarakan? Kurasa semuanya
sudah jelas. aku tidak menerima tawaran itu dan SM akan mencari penggantiku.
Lalu apa masalahnya?”
“Kita bicarakan ini nanti. Sekarang kau persiapkan
dirimu. Aku tunggu di mobil.”
Sebenarnya aku sudah tidak berselera membahas masalah
itu lagi. Tapi jika memang mereka masih ingin mendengar kejelasan dariku, aku
akan memenuhi keinginan mereka. jadi aku segera mempersiapkan diri dan
menghampiri Changmin di mobilnya. Setelah itu dia membawaku ke suatu tempat.
Dan tentu saja, bukan tempat yang asing bagiku. Karena di tempat ini jugalah,
dulu kami merayakan keberhasilan debut pertama kami.
Saat aku turun, aku melihat ketiga wajah yang kukenal
tengah duduk bersama. Mereka menatap ke arahku, dan aku bisa merasakan betapa
menyeramkannya tatapan sinis itu. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku berjalan
mengekor di belakang Changmin sampai akhirnya kami semua saling berhadapan di
satu meja yang sama. Aku yakin tak ada satupun di antara kami yang masih
bersemangat membahas hal ini. Tapi aku bisa mengerti perasaan mereka. pasti
mereka butuh kejelasan dari tawaran itu. Kejelasan tentang sesuatu yang akan
menentukan langkah kami selanjutnya. Dong Bang Shin Ki, akan terbentuk kembali
oleh kami berlima, atau tidak untuk selamanya. Seperti perkataan Jaejoong hyung
semalam. Kau pikir DBSK bisa terbentuk lagi jika salah satu posisi digantikan
oleh orang lain? Dan jawabannya adalah; TIDAK.
“Sekarang aku minta kalian semua terbuka. Aku akan
mulai dari Yoochun. Apakah kau setuju untuk membentuk kembali grup ini di bawah
naungan SM?” Yunho hyung memulai diskusi.
“Aku setuju.” Jawab Yoochun hyung singkat.
“Dengan semua resiko yang mungkin terjadi?” Yunho
hyung bertanya lagi.
“Produser kan sudah berkata, jika dia mempermainkan
kita lagi, maka kita boleh membakar gedung SM. dan kurasa, kali ini jaminannya
sudah cukup kuat.”
“Lalu bagaimana denganmu, Jaejoong?” Yunho hyung
melirik ke arah Jaejoong hyung yang tampak memandang lurus ke depan dengan
tatapan kosong.
“Jawabanku tetap sama.” Katanya datar. “Aku tidak akan
mau membentuk grup ini lagi jika salah satu di antara kita harus digantikan.”
“Changmin?” kini Yunho hyung bertanya pada Changmin
yang sedang serius melamun.
“Aku ingin Junsu hyung menjawab terlebih dahulu.”
Katanya kemudian.
Aku menghela napas panjang saat tiba-tiba mereka semua
menatap ke arahku. Kenapa harus aku yang dijadikan kunci dalam memutuskan hal
ini? Aku tidak melarang mereka jika mereka ingin menolak ataupun tidak menolak.
Tapi aku tak akan pernah mengubah keputusanku.
“Maaf.” Ucapku akhirnya. Mereka semua tampak semakin
serius. “Aku sudah memberi syarat pada produser. Jika dia bisa memenuhi
persyaratan itu, aku bersedia bergabung kembali membentuk grup ini. Tapi
semalam kalian mendengar sendiri bahwa dia tidak sudi melakukan persyaratan
yang aku ajukan.”
“Memangnya kau mengajukan persyaratan apa?” tanya
Yoochun hyung.
Sekali lagi, aku menghela napas sebelum akhirnya
memberanikan diri untuk mengatakan hal ini. “Aku meminta produser mencium
kakiku di depan seluruh jajaran staff SM dan diliput oleh media.”
“Apa kau sudah gila?! Dengan mengajukan syarat seperti
itu, sama saja kau menolak penawarannya secara tidak langsung! Kau seperti
tidak tahu saja kalau si tua bangka itu sangat menjaga kehormatannya!” Changmin
tiba-tiba memotong.
“Kau memang cerdas.” Ucapku. “Hanya kau yang bisa
membaca tujuan asliku itu.”
“Kenapa kau melakukannya, hah?!” Changmin menarik
kerah bajuku hingga aku terpaksa berdiri. Aku melihat ketiga hyungku yang lain
berusaha menenangkan Changmin, namun Changmin sama sekali tak menghiraukan.
“Kenapa kau tidak mau bergabung lagi? Kau sudah benci pada grup yang
membesarkan namamu?! Kalau bukan karena kau pernah bergabung dalam DBSK,
mungkin kau tidak akan pernah sukses seperti sekarang ini!”
“Jangan
seenaknya mengaturku, ya!” ucapku sambil melepaskan tangannya dengan kasar.
“Kau pikir kau siapa, hah? Berani-beraninya kau menghakimiku seperti itu! Kau
sama sekali tidak mengerti perasaanku! Jadi kau tidak berhak untuk berkata
seperti itu!”
BUK!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajahku. Aku tidak
merasa sakit sedikitpun. Walau ada darah segar yang mengalir dari bibirku, tapi
aku sama sekali tidak merasa sakit.
“Apa kau tahu bahwa selama ini aku sangat rindu pada
kebersamaan kita berlima? Hampir setiap malam aku berdoa pada Tuhan agar kita
dapat bersatu lagi. Kalau saja kau mau menerima tawaran ini, aku yakin tak ada
kendala lagi untuk kita bisa membangkitkan nama grup kita kembali. Apa kau
tidak rindu pada Cassiopeia? Apa kau tak ingin melihat senyuman mereka lagi?
Apa kau sudah melupakan semuanya, hyung?” Changmin menatapku dengan lekat. Aku
tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Apakah dia memukulku karena
dia kesal, atau dia melakukannya karena dia tak mau kehilangan aku.
“Tak ada satupun yang bisa mengubah keputusanku.
Termasuk kau!” ucapku tegas.
Tiba-tiba Changmin mendorongku hingga aku tertahan di
batang pohon. Ia memukul wajahku lagi. Aku melihat Yunho hyung berlari mendekat
dan berusaha menjauhkan Changmin. Tapi Changmin tak terkendalikan. Akupun
berusaha membalas setiap pukulan Changmin. Walaupun Jaejoong hyung dan Yoochun
hyung berteriak agar kami berhenti, aku tetap tidak bisa mengendalikan emosiku.
Bahkan saat Yunho hyung mencoba masuk di antara perkelahian kami, aku dan
Changmin masih belum terkendalikan. Sampai akhirnya, tanpa sengaja Yunho hyung
terkena pukulan dan langsung terkapar pingsan. Aku tidak sadar siapa yang
memukulnya tadi. Mungkin saja aku, tapi mungkin juga Changmin.
“Yunho!” teriak Jaejoong hyung. Dia langsung berlari
menghampiri Yunho hyung yang tergeletak di atas tanah.
Aku dan Changmin langsung berhenti. Kenapa harus Yunho
hyung yang menanggung akibat dari keegoisan kami?
“Puas kalian?! Terus saja kalian saling menyakiti!”
teriak Jaejoong hyung dengan tangis menggenang di pelupuk matanya.
Aku dan Changmin saling berpandangan. Kami berdua
menyesal. Sangat menyesal. Tapi apalah gunanya perasaan menyesal itu? Tak bisa
membuat Yunho hyung sembuh dengan seketika. Jika sudah begini keadaannya,
apakah keutuhan DBSK masih pantas untuk diharapkan? Kurasa, jauh lebih baik
jika aku tak perlu bertemu lagi dengan keempat wajah ini. Aku memang tak pernah
pantas menjadi bagian dari mereka. jadi aku memutuskan untuk berlari
meninggalkan tempat itu.
“Junsu! Kau mau ke mana?” suara teriakan Yoochun hyung
masih sempat kudengar. Tapi aku tidak mau berhenti. Aku terus berlari ke suatu
tempat di mana mereka tak akan menemukanku.
***
Hana POV
Aku memegangi pipiku yang masih memerah akibat dari
tamparan Jaejoong oppa.. Aku masih tidak mengerti kenapa dia begitu tega
menamparku. Baru satu setengah bulan kami menikah, tetapi dia sudah menamparku. Aku berniat untuk pergi dari rumah ini sampai dia bisa mengontrol emosinya.
Aku mulai mengemasi beberapa pakaian yang akan aku
bawa kerumah orang tuaku. mungkin kalian berfikir kalau aku egois atau
kekanak-kanakan, tapi aku hanya mau suasana hati Jaejoong oppa menjadi lebih
baik, mungkin dia masih terbiasa sendiri, bebas, tak ada yang mengaturnya.
Apa dia tidak berfikir kalau aku ini istrinya bukan
tempat pelampiasan amarahnya. Aku masih bisa mentolerir jika dia membentakku,
tapi kalau dia sudah menggunakan otot untuk menyelesaikan masalah, aku tidak
bisa mentolerirnya lagi.
Aku tau ini adalah masa yang sulit untuknya, masa yang
membuatnya menguras emosi, masa yang labil untuknya. Bukannya aku tidak mau
menemaninya di saat seperti ini, bukannya aku tidak mau mendukungnya, tapi aku
merasa dia membutuhkan waktu untuk sendiri.
Aku segera memakai mantel berpergianku, aku akan
menggunakan taxi menuju rumah orang tuaku. Aku tidak akan menunggu Jaejoong
oppa pulang, tapi aku akan memberitahunya bahwa aku akan mengunjungi
orangtuaku.
“Huekks...” Aku menutup mulutku, entah mengapa aku
merasa perutku benar-benar mual, kepalaku sakit, aku sedikit sulit
mengendalikan tubuhku.
Aku berlari menuju westafel, aku mengeluarkan semua
isi perutku. Aku memegang perutku, kenapa aku tiba-tiba merasa mual?
Aku menyenderkan tubuhku di samping westafel.
“Hueekksss…” Aku kembali mual, aku membuka mulut,
tetapi tak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Aku menatap wajahku pada cermin, aku
tak mengenali pantulan diriku pada cermin, bayangan itu terlihat lebih pucat.
Aku mencoba keluar dari kamar mandi, tapi aku tak
dapat menggerakan kaki-kakiku, seluruh kekuatanku lenyap, bahkan aku tak kuat
untuk berdiri.
Aku mejatuhkan diriku di sebelah westafel, aku
menangis.
“Hana..” Seseorang memanggil namaku, aku sudah tak
punya kekuatan untun menjawab panggilan itu.
“Hana? Kau dimana?” Sekali lagi dia berkata, aku
mengenali suara itu, dia.. dia.. suara Jaejoong oppa, “Kau mau kemana? Aku
minta maaf.”
Aku membuka mulut, tapi tak sedikitpun kata yag
keluar, bahkan aku benar-benar tak dapat merasakan apapun lagi, sekarang yang
ada di pikiranku hanya perutku yang terasa sangat mual.
“Hana?!” Jaejoong oppa, kembali memanggilku. “Aku
minta maaf.”
BRUKK!
Pintu kamar mandi terbuka, aku mencoba mengangkat
kepalaku walaupun sulit, aku berhasil melihat wajah Jaejoong oppa.
“Kau kenapa?!” Dia menghampiriku. “Apa kau sakit? Ayo
kita kerumah sakit!” Jaejoong oppa menggendongku, aku merasa lebih baik, karena
1 hal yang aku ketahui yaitu dia masih peduli terhadapku.
Dia memasangkan safety belt padaku, dan mulai memacu
mobilnya dengan cepat.
“Aku minta maaf karena telah menamparmu. Aku tak dapat
mengontrol emosiku saat itu.”
Sesekali Jaejoong oppa melirik ke arahku, memastikan aku baik-baik saja. “Kenapa kau tidak cerita padaku bahwa kau sakit? Aku mencemaskanmu, Hana.”
Sesekali Jaejoong oppa melirik ke arahku, memastikan aku baik-baik saja. “Kenapa kau tidak cerita padaku bahwa kau sakit? Aku mencemaskanmu, Hana.”
“Oppa….” Aku berkata lirih, mungkin dia tidak
mendengarkannku, tapi dia menoleh kepadaku.
“Ya?” Dia semakin terlihat cemas. “Apa yang sakit?
Bagian mana yang sakit? Ayo katakan padaku.”
“Tidak oppa. Aku hanya merasa pusing.”
“Lain kali, jika kau merasa sakit, kau harus bercerita
padaku!” Dia menasehatiku.
Kami sampai di rumah sakit, Jaejoong oppa melepaskan
safety belt yang terpasang. Dan dia segera menggendongku.
Aku merasakan bibirnya Jaejoong oppa menyentuh
keningku, aku merasa nyaman saat aku berada dalam pelukannnya.
“Bertahanlah Hana.” Berulang kali dia membisikan
kata-kata yang membuatku semakin nyaman.
“Aku akan selalu ada disampingmu.”
Jaejoong oppa semakin mempercepat langkah kakinya
“Dokter tolong!” dia setengah berteriak.
“Bawa dia kesini!” Dokter itu menjawab, aku merasakan
Jaejoong oppa meletakkan tubuhku diatas ranjang rumah sakit. “Aku akan segera
memeriksanya, kau bisa menunggu diluar.”
“Aku akan selalu berada di sampingmu.” Sekali lagi
Jaejoong oppa mencium keningku, dia menggengam erat tanganku dan mengelus
rambutku. “Bertahanlah, aku akan selalu berada di sampingmu.”
Dia mencium punggung tanganku dan melepaskan tanganku,
setelah ini aku tidak merasakan apapun.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar