Author POV
Junsu duduk di bawah pohon sambil
memeluk lutut. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat kedua orang itu.
Sejak mereka berpisah, ia bahkan tidak berharap bisa bertemu dengan mereka
berdua lagi. Dan ia sama sekali tidak tahu kalau Jaejoong mengundang mereka ke
acara ini. Kalau saja Junsu tahu mereka diundang, maka ia tidak akan datang.
Mungkin semua orang akan berpikir betapa jahatnya Junsu jika berpikiran seperti
itu. Tapi Junsu memiliki alasan yang kuat kenapa ia menginginkan semua itu. Pertama,
karena tidak ingin mengingat masa lalunya, dan dua orang itu adalah bagian dari
masa lalunya yang menyakitkan. Kedua, ia benci menangis. Ia sudah berjanji pada
dirinya sendiri bahwa ia tak akan menangis lagi sejak ia tergabung dalam JYJ.
Dan jika ia bertemu dengan dua orang itu, ia tidak akan bisa menahan diri untuk
tidak menangis. Dan saat ini pun, ia tak bisa menahan air matanya.
“Oppa?” suara Hana mengejutkannya.
Ia hanya menoleh sekilas dan lalu menatap kosong ke depan. Junsu kagum pada
Jaejoong dan Hana yang bisa membawa hubungan mereka ke pelaminan. Sedangkan
hubungannya dengan Taeyeon sudah kandas sejak setahun yang lalu.
“Ada apa kau ke sini?” tanya Junsu
dingin.
“Aku khawatir padamu. Mereka
berempat mencari keberadaanmu, tak tahunya kau malah di sini. Ayo kita temui
mereka.” Hana bermaksud meraih tangan Junsu, tapi Junsu mengibaskan tangannya
dengan kasar.
“Aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin mereka ada
di sini.”
“Tapi kenapa? Mereka teman-temanmu,
bahkan seharusnya kau sudah menganggap mereka sebagai saudara.”
“Kau tidak mengerti apa-apa! Jadi jangan ikut
campur!”
Junsu berlari meninggalkan Hana
setelah mengatakan kalimat itu. Hana terpaku, memandangi punggung Junsu yang
semakin menjauh. Ia yakin Junsu tidak benar-benar serius dengan ucapannya.
Karena ia mengenal Junsu. Ia sangat mengenal Junsu. Mungkin, ada suatu alasan
yang tidak dimengertinya. Dan ia memilih untuk diam.
***
Junsu POV
“Kau benar-benar tidak sopan!”
Jaejoong hyung membanting pintu kamarku.
“Ada apa ini, hyung?” tanyaku sambil
bangun dari tempat tidur.
“Kau berani sekali pergi di saat ada
Yunho dan Changmin! Apa pantas kau bersikap seperti itu?!”
“Hyung! Kau tidak mengerti…!”
“Apa yang tidak kumengerti?! Jalan
pikiranmu yang aneh itu? Cepatlah minta maaf pada mereka berdua!” Jaejoong
hyung menunjuk Yunho hyung dan Changmin yang sedang berdiri di ambang pintu.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Akupun turun dari ranjang dan menghampiri mereka.
“Maafkan aku…” ucapku pelan.
“Sudah, tidak apa-apa.” Ucap Yunho
hyung. Kelembutannya tak pernah berubah. Dan itulah yang tak ingin kudengar.
Karena kelembutan itu… membuatku ingin menangis.
“Kami tidak marah padamu, hyung.”
Changmin menyambung. Aku menatap wajahnya yang sudah agak berubah. Changmin
jadi lebih dewasa. Dan panggilan ‘hyung’ itu… hanya dia satu-satunya yang
memanggilku dengan sebutan itu. Ah, aku rindu sekali pada mereka.
“Berjanjilah kau tidak akan
mengulangi perbuatanmu lagi!” perintah Jaejoong hyung.
“Aku berjanji, aku tidak akan
mengulai perbuatanku lagi…”
“Bagus!” Jaejoong hyung keluar
begitu saja, diikuti Yoochun hyung. Beberapa saat Yunho hyung dan Changmin
masih menatapku, tapi kemudian merekapun keluar meninggalkanku.
Ini memang masih apartment JYJ. Tapi kegiatan JYJ sudah vakum sejak Jaejoong
hyung mempersiapkan pernikahannya. Dan JYJ sebenarnya sudah berakhir. Hanya
saja, kami masih belum meninggalkan apartment ini karena surat-surat
pengakhiran kontrak dengan C-jes belum selesai.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Jaejoong hyung akan tinggal di
tempat lain bersama Hana. Lalu kami berempat bagaimana? Haruskah kami kembali
tinggal di rumah orang tua kami masing-masing? Atau kami melanjutkan karir
sebagai Dong Bang Shin Ki yang baru di bawah naungan C-jes. Kurasa, status
menikah yang kini dimiliki Jaejoong hyung juga tidak bisa dijadikan alasan
kenapa DBSK tak bisa bersatu lagi. Kalau memang kami berlima siap, maka nama
itu akan kembali hidup setelah sekian lama tenggelam dari telinga masyarakat.
Tapi masalahnya saat ini adalah…
Aku tidak siap untuk membangun
kembali DBSK. Rasa sakit hatiku atas sikap SM sudah cukup dalam dan itu
membuatku tak ingin mengingat apapun tentang grup bernama DBSK. Lalu bagaimana
dengan Cassiopeia? Apa mereka juga merindukan kami? Apa mereka ingin kami
bersatu kembali? Atau… mereka sudah tak mengharapkan kami lagi?
Masihkah mereka mengingat… nama Dong
Bang Shin Ki?
***
Hana POV
(Flashback)
Aku terpaku, memandangi punggung
Junsu oppa yang semakin menjauh. Aku yakin Junsu Oppa tidak benar-benar serius
dengan ucapannya. Karena aku mengenal Junsu oppa. Aku sangat mengenal Junsu
oppa. Mungkin, ada suatu alasan yang tidak kumengerti. Dan aku memilih untuk
diam.
“Kau melihat Junsu?” Aku tersentak
karena Jaejoong mengagetkanku.
“Oppa, kurasa Junsu Oppa membutuhkan
waktu untuk sendiri.” Aku mencoba menenangkan suamiku, aku tau dia sedang
marah. Mungkin sikap Junsu Oppa sedikit keterlaluan, tetapi kembali lagi aku
sadar bahwa ada suatu alasan yang tidak kumengerti.
“Maaf.” Jaejoong mengucapkan satu
kata yang tak kumengerti.
“Maaf untuk apa?” Aku merasakan
kulit dinginnya menyentuh pipi-ku dengan lembut. “Tak ada yang perlu dimaafkan
Oppa.”
“Seharusnya ini menjadi hari yang
paling membahagiakan untuk kita semua.”
“Aku bahagia, jika Oppa merasa
bahagia.”
Jaejoong tersenyum, walaupun
amarahnya belum hilang dari sorot matanya.
“Aku harus pergi.” Jaejoong hendak
pergi meninggalkanku, tetapi aku memegang tangannya.
“Oppa mau ke mana?”
“Aku harus menemui Junsu.” Jaejoong
menggenggam erat kedua tanganku dan mencium punggung tanganku.
“Temui aku di
apartement kita. Aku tidak akan lama.”
“Hati-hati oppa, aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.” Jaejoong
melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkanku.
(Flashback End)
Sudah 5 jam aku menunggu Jaejoong
oppa pulang, kini jam menunjukan pukul 07.00 P.M. Kuraih ponselku yang berada
di atas meja, tak ada pesan dari Jaejoong. Aku sedikit khawatir kepadanya,
karena Jaejoong sedikit sulit mengandalikan emosinya.
Bayanganku kembali ke masa 3 tahun
yang lalu, masa dimana member DBSK mempunyai konflik dengan SM. Ia pergi ke
Jepang selama berbulan-bulan.
Aku mendengar suara langkah kaki
dari luar, dan terdengar suara pintu dibuka.
“Oppa?” aku melihat ia masuk
kedalam, mengendorkan dasi yang mengikat di lehernya, kemudian dia merebahkan
badannya diatas sofa yang panjang. “Oppa dari mana saja? Aku menghawatirkanmu.”
“Maaf, membuatmu lama menunggu
Baby.” Ia menghela napas. “Kau tau, Junsu berada di apartement JYJ.”
“Eh?” aku sedikit bingung, “Baby?”
“Bolehkan aku memanggilmu baby?” ia
kembali bertanya kepadaku “Aku memangilmu baby, karena kau adalah istriku.”
Aku merasakan pipiku memerah,
entahlah aku merasa sedikit malu, tidak biasanya ia memanggilku baby. Aku
segera mengganti topic pembicaraan.
“Apa yang kau lakukan kepada Junsu
oppa?” Aku sedikit cemas akan Junsu oppa. “Kau tidak memukulnya kan?”
“Tentu saja tidak.” Ia terkekeh
pelan. Aku duduk di sebelahnya, ia menyambutku dan meletakkan tangannya di
pinggangku.
Aku meletakkan kepalaku di bahunya,
dan tangannya mulai membelai rambutku dengan lembut.
“Kau ini terlalu cemas kepadanya.”
“Tentu saja aku cemas, mereka semua
seperti kakak bagiku.” aku tersenyum, inilah alasannya mengapa aku jatuh cinta
padanya. “Sekarang bagaimana dengan Junsu oppa,Yoochun oppa, Changmin oppa, dan
Yunho oppa.”
“Aku meninggalkan mereka di
apartement itu.” Dia menjawab dengan santai seolah ia tidak merasa bersalah
meninggalkan mereka semua dalam ruangan yang sama.
“Oppa, apa kau gila? mereka akan
sangat canggung.”
“Biarkan saja.” Jaejoong tersenyum
jahil. “Aku harus memberi mereka pelajaran.”
***
Yoochun POV
Aku berjalan meninggalkan kamar Junsu, Kulihat amarah
Jaejoong hyung sedikit reda. Aku melihat Jaejoong hyung tidak duduk di kursi
ruang tamu ataupun masuk kedalam kamarnya. Dia berjalan menuju pintu utama.
“Kau mau kemana hyung?” Aku mencegah Jaejoong hyung
untuk keluar.
“Aku mau pulang.” Jawabnya dingin.
“Tapi inikan rumahmu.”
“Sekarang aku sudah mempunyai istri, Yoochun-sshi, aku
mau bersama dengan istriku.” Jaejoong hyung langsung menutup pintu.
“Apa sebaiknya kita pulang hyung?” Changmin bertanya
kepada Yunho hyung.
“Sepertinya kita tidak dibutuhkan lagi disini.” Yunho
memecahkan keheningan. “Lebih baik kita pulang.”
“Tapi, kalian baru sampai, lebih baik duduk dulu.” Aku
mencegah mereka untuk pulang, aku tidak mau kehilangan mereka lagi, aku masih
merindukan mereka.
“Kurasa tidak bisa.” Yunho menjawab dengan datar
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi setelah Jaejoong pulang dari bulan madunya?”
“Baiklah.” Apa boleh buat aku terpaksa merelakan
mereka pulang.
“Yoochun hyung.” Changmin memanggilku, dengan cepat
dia memelukku. “Aku merindu-kanmu.”
“Aku juga.” Aku membalas pelukan Changmin.
“Jaga dirimu baik-baik.” Yunho berkata sambil membuka
pintu, Changmin melepaskan pelukannya dan berjalan menuju Yunho hyung.
Aku tersenyum melihat mereka berjalan menjauh dari
apartement yang telah aku tinggali selama 3 tahun ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar