Welcome

Minggu, 20 Mei 2012

The Gangster (part 1)


Authors : Dyah Ayu Anggraeni dan Entin Kartika Sari

 

Suasana kantin yang ricuh menjadi hal yang biasa saat istirahat makan siang. Sebagian besar anak biasa menghabiskan waktu di kantin selama istirahat, dan hanya segelintir siswa yang memilih untuk pergi ke perpustakaan selama waktu istirahat. Nako duduk di depan meja sambil menikmati menu makan siang sendirian. Dia memang lebih suka sendirian, karena dia merasa teman tak pernah bisa memberinya kenyamanan. Dia tak butuh teman untuk melewati waktu istirahatnya.

“Hei! Cepat minggir!” suara gaduh itu memecah ketenangan di kantin. Nako mengangkat kepalanya untuk melihat siapa si empunya suara tinggi itu. Dan ia hanya bisa mendengus pasrah saat mendapati keempat sosok yang sudah tidak asing lagi. Anak-anak gangster yang suka mengganggu ketenangan di sekolah ini. Empat cowok menyebalkan yang biasa dipanggil Tong Vfang Xien Qi.

 Hah… ia tak terlalu peduli dengan arti dari nama itu. 

“Heh, anak Jepang!” sebuah suara baritone mengejutkan lamunannya. Nako menatap wajah yang kini tersenyum meledek ke arahnya. “Kenapa kau sendirian? Mau ditemani?” tanya salah satu dari mereka yang bernama Kim Junsu.

Nako tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya diam sambil menatap tajam wajah mereka satu-persatu.

“Aku sedang bicara denganmu, bodoh!” Junsu menggebrak meja dan menantang tatapan Nako.

“Tenang, hyung. Aku rasa aku bisa mewakilinya menjawab.” Changmin menyela. “Cewe Jepang ini sendirian saja karena tak ada yang mau berteman dengannya. Dia kan ANAK ANEH!”

Sontak semua orang yang ada di kantin tertawa terbahak-bahak. Nako menatap satu-persatu wajah yang tampak puas mentertawakannya. Ini bukan hal baru baginya. Dihina dan dijauhi karena dia bukan orang Korea, sudah menjadi santapannya setiap hari. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa keempat anggota gangster ini begitu senang mengganggunya. Padahal ia merasa tidak pernah membuat masalah dengan mereka berempat. Ia benci diperlakukan berbeda seperti ini. Ia merasa mereka semua begitu tak adil menatapnya. Apakah salah jika ia berasal dari Jepang dan sekolah di Korea? Apakah salah?

***

“Horikoshi Gakuen.” Jaejoong membaca nama yang tertera di gapura sekolah itu. Ia menatap lembar kertas di tangannya sekali lagi. Nama yang tertera di sana, sangat cocok dengan yang dilihatnya di gapura besar ini. Jaejoong segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang tanpa menoleh pada seorang keamanan yang berjaga di sana. Ia ingat pesan ibunya. Langsung temui kepala sekolah dan ia bisa masuk kelas. Jadi ia segera mencari di mana ruangan kepala sekolah.

Sekolah barunya ini ternyata luar biasa megah. Dengan gedung berwarna putih bersih, bertingkat-tingkat, dan hamparan rumput di lapangan baseball yang sempurna. Jaejoong merasa hidupnya akan sangat indah jika ia menjadi siswa di sini. Sudah 3 sekolah yang menolak menerimanya karena reputasi yang buruk. Tapi sekolah ini berbeda. Ia diperbolehkan mengikuti tes masuk terlebih dahulu, dan atas segala pertimbangan, ia diterima menjadi siswa di sana karena hasil tes nya memenuhi syarat.

Jaejoong membaca sebuah tulisan yang berbunyi “ruang kepala sekolah”, dan ia segera masuk ke sana tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam.

“Hai, Pak!” ucap Jaejoong saat sudah berada di dalam ruangan. Seorang pria tua berkepala botak yang sedang duduk di kursi, langsung mendongak menatapnya.

“Siapa kau? Berani sekali kau masuk tanpa permisi.” Ucap pria itu.

“Perkenalkan, namaku Kim Jaejoong. Aku murid pindahan dari Seoul.”

Jaejoong memaksakan bibirnya tersenyum lebar. Kepalsuannya terlihat jelas di mata pria tua itu.
 
Ia memandangi penampilan Jaejoong dari ujung rambut sampai ujung kaki. Anak laki-laki yang sangat tidak rapi. Rambutnya gondrong dan hanya disisir dengan jari, jas sekolah yang terbuka seluruh kancingnya. Kemeja tidak dimasukkan, dan dia bahkan tidak memakai dasi. Terlebih lagi sepatu sportnya yang lusuh telah mengotori lantai mengkilap di ruangan itu.

“Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?” tanya sang pria tua.

“Ibuku.”

“Ibumu?”

“Ya, ibuku bilang, langsung ke ruang kepala sekolah saja, nanti langsung boleh masuk kelas.”

Pria tua itu mengusap kepala botaknya sambil menarik napas berat. Ia pun berdiri dari kursinya, lalu mendekat ke arah Jaejoong.

“Kau di kelas mana?”

“2-B” ucap Jaejoong sambil memperlihatkan secarik kertas pada pria itu.

“Aku akan menyuruh wali kelasmu untuk mengantarkanmu ke kelas.” Ucap pria tua itu sambil bergegas meraih gagang teleponnya.

***

Srak!

Yunho membuang sebuah kertas ke dalam keranjang sampah.

“Dibuang lagi, hyung?” tanya Yoochun.

“Kau bahkan belum membacanya.” Timpal Changmin.

“Untuk apa? Isinya rata-rata sama. Hanya merayu dan mengajak kenalan.” Ucap Yunho malas.

“Kau tidak takut kalau mereka semua sakit hati, lalu beramai-ramai menghabisimu?” tanya Junsu.

Yunho tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak terlalu memikirkan masalah perasaannya terhadap seorang wanita. Selama ini, ia dan anggota geng yang lain terkenal dengan keganasan dan ketampanan yang mereka miliki. Hampir semua gadis yang menyukai mereka, pada akhirnya mereka sakiti juga. Karena memang itulah yang menjadi tugas mereka dilahirkan ke dunia ini. Untuk membuat orang lain sama menderitanya seperti mereka berempat.

Mungkin dilihat secara kasat mata, hidup mereka memang sempurna. Mereka cerdas, tampan, banyak harta, dan populer di kalangan para gadis. Tapi sebenarnya di balik itu semua, mereka tidak memiliki banyak hal yang justru hampir dimiliki semua orang. Mereka berempat tidak memiliki keluarga yang bahagia, tidak memiliki masa kecil yang indah, dan tidak pernah merasa punya orang tua. Itulah yang membuat mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak kenal rasa sakit.

“Ada mangsa!” seru Changmin memecah keheningan di antara mereka. Tatapan mereka langsung tertuju pada seorang anak laki-laki berponi yang sedang berjalan menuju kursi taman sambil membawa bekal di tangannya.

“Aku dulu yang mulai, ya?” ucap Yoochun.

“Baiklah.” Mereka bertiga menjawab serempak.

Yoochun segera berjalan mendekati anak itu, berpura-pura menuju arah yang berlawanan.

“Oups!” ucap Yoochun sambil menyenggol bahu anak itu sampai bekalnya tumpah ke tanah. “Maaf, aku tidak sengaja. Lain kali, kalau tak ingin bekalmu tumpah, jangan menghalangi jalanku.”

“Kau yang sengaja menyenggolku!” teriak anak itu sambil membereskan bekalnya yang berantakan.

“Assshhh… sudah berani menyalahkan orang. Kau mau aku mematahkan lehermu, hah?” Yoochun menarik kerah kemeja anak itu dengan kasar.

“Aku tidak takut padamu!”

“Kau bercanda?” Yoochun melepaskan tangannya dari kemeja anak itu dan mulai melayangkan tinju.

Hup!

Seseorang menahan tangan Yoochun yang nyaris mendarat menghancurkan kepala anak itu. Yoochun menatap sosok yang menangkap tangannya.

“Kukira di sekolah tidak boleh melakukan kekerasan.” Ucap Jaejoong sambil melepaskan tangan Yoochun kembali. Yoochun tidak menjawab apa-apa, dia merasa baru saja tersambar petir yang sangat keras. Selama ini, belum pernah ada seorangpun yang berani menghalanginya saat ia sedang melakukan misinya.

 “Siapa kau?” sebuah suara di belakang Yoochun terdengar memecah keheningan. Yoochun menoleh untuk menatap Yunho yang sedang menatap Jaejoong sambil melipat kedua tangannya di depan perut.

“Namaku Kim Jaejoong. Senang bertemu dengan kalian semua.” Ucap Jaejoong sambil membungkuk, lalu ia bermaksud untuk segera pergi.

“Tunggu dulu!” Yunho memanggilnya lagi. Jaejoong hanya menahan langkah tanpa menoleh. “Kau pikir kau bisa kabur begitu saja setelah seenaknya memberontak kami?”

“Memberontak?” tanya Jaejoong keheranan sambil membalikkan tubuhnya.

“Jadi kau tidak kenal kami?” Junsu bertanya.

Jaejoong hanya menggeleng polos.

“Kami ini anggota geng yang dikenal dengan nama Tong Vfang Xien Qi.”

Jaejoong mengerutkan alisnya. “Tong apa? Tong fa sinki? Seperti nama restoran.”

Mereka berempat saling berpandangan beberapa saat.

“Lalu kenapa kalau kalian anggota geng itu? Apakah sangat penting sehingga aku harus tahu?”

“Tentu saja.” Yunho tersenyum menyeringai. “Kau harus tahu bahwa setelah ini, kau tidak akan pernah lagi bisa menikmati kebahagiaan dalam hidupmu. Karena kau, sudah membuat masalah besar dengan kami.”

***

3 komentar:

  1. Ahhhhhhhhh, gue suka sama ff yang ini. Banyak adegan berantemnya. Jadi berasa kalau DBSK itu bad boy. Hahaha
    Yang terbaru kapan rilis?

    BalasHapus
  2. yang kita tulis bertiga nanti gue mulai posting kalo kita nulisnya udah end haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelamaan nunggu di gue lagi dongs? Hahaha
      Maaf ya, mood gue naik turun terus, gara-gara SNMPTN Tulis ini.

      Hapus