Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (6)



Lift terbuka dan muncul seseorang dari dalam lift. Papan informasi menunjukan bahwa dia berada pada lantai dasar. Yunho berjalan menuju tempat di mana mobilnya terparkir.

Pertemuan hari ini sangat melelahkan. Rekan kerjanya bahkan tidak berguna dalam mengurus masalah sepele seperti itu. Izin pembangunan yang tersendat. Seharusnya dia bertanya pada Direktur bukan padanya yang cuma seorang arsitek. Tapi Yunho tak bisa menyalahkan dia sepenuhnya, karena Yunho akan menjadi Ketua Tim dalam proyek ini.

“Apakah dia sedang mengikutiku?” gumam Yunho pelan saat menyadari ada seseorang yang mengikutinya sejak dia keluar dari lift. “Mungkin hanya perasaanku saja.”

Paranoid bukanlah salah satu dari sifat Yunho. Tapi harus diakui dalam sebulan ini dia merasa ada yang mengawasinya. Awalnya dia berpikir karena dia sedang dalam masa tender, saingannya mungkin ingin mengintip rancangannya. Tapi setelah memenangkan tender tersebut dia masih terus merasa diikuti.

Sosok itu semakin mendekat. Yunho dapat melihatnya dari kaca mobil yang memantulkan bayangannya. Dia tidak dapat melihat siapa sosok itu dibalik masker dan hoodie yang dipakainya. Tapi dari postur tubuhnya Yunho mengetahui bahwa sosok itu adalah pria.

Hanya rasa sakit pada tengkuknya yang dapat dirasanya. Pandangannya mulai kabur dan rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Hal terakhir yang ia ingat adalah, tubuh lemahnya.

Yunho terjatuh ke tanah.

***

Suasana kantor polisi saat ini sedang tenang. Tak ada hal menghebohkan yang terjadi. Setelah makan siang nanti Yoochun akan meminta keterangan dari Kim Junsu. Sebelum itu, dia telah meminta keterangan dari Jun Jihyun dan mengkonfirmasi bahwa dia memiliki alibi pada saat terjadi pembunuhan kedua –Song Jisoo– dan Jun Jihyun tidak memiliki hubungan dengan korban pertama. Hal ini menyebabkan nama Jun Jihyun tereliminasi dari daftar tersangka.

Junsu berjalan ke arah ruang interogasi diantar oleh seorang petugas polisi. Mereka mengatakan ingin meminta keterangannya dalam kasus pembunuhan Jisoo. Dia merasa turut prihatin atas kejadian yang menimpa Song Jisoo.

Petugas polisi tersebut membuka pintu untuk Junsu mempersilahkannya untuk masuk. Seorang detektif telah menunggunya. “Silahkan duduk.” Kata detektif itu ketika Junsu memasuki ruangan intrograsi.

Junsu menatap kaca hitam yang berada di sebelah kanannya. Dia tahu bahwa itu adalah kaca dua arah, walaupun dia tidak dapat melihat ke ruang di sebelahnya tapi orang-orang yang berada di balik ruang itu dapat melihatnya. Segala tindakan dan ucapannya akan direkam. Junsu kembali mengedarkan matanya ke beberapa arah dalam ruangan itu.

‘Jumlahnya ada 4.’ Batin Junsu. Ada 4 kamera pengawas yang terpasang. 2 berada diatas kanan dan kiri, satu sejajar dengan meja, dan satu lagi ada di atas pintu. Tentu saja alat perekam suara juga terpasang di bawah meja.

“Bisa kita mulai?” tanya Yoochun pelan.

“Akan lebih baik ini berakhir dengan cepat.” Junsu menjawab dengan tidak ramah. Ada seseorang yang menunggunya di rumah dan dia harus segera pulang.

“Kau mengenal Song Jisoo?” Yoochun menanyakan pertanyaan pertama. “Apa hubunganmu dengan korban?”

“Tidak juga. Sejujurnya aku tidak akrab dengannya. Kami hanya pernah menghadiri kelas yang sama beberapa kali.” Jawab Junsu, dia teringat sesuatu dan melanjutkan. “Ah! Aku satu kelompok dengannya dan Jun Jihyun saat tugas dari mata kuliah Eletronika Dasar.”

“Kau dan Jun Jihyun menemuinya sebelum kematiannya?”

“Tentu saja, kami berjanji akan mengerjakan tugas jam 4 sore di perpustakaan kota. Tapi baru 3 jam kami mengerjakan tugas dia meminta izin untuk pulang katanya dia juga sedang mengerjakan proyek yang lain dan deadline-nya adalah besok pagi.”

Apa yang Kim Junsu katakan sesuai dengan yang disampaikan oleh Jun Jihyun. Sampai saat ini dia tidak berbohong.

“Lalu setelah 3 jam, berarti pukul 7 malam sampai pukul 10 malam. Kau berada di mana?”

“Aku langsung pulang ke rumah dan tidur.” Jawab Junsu.

“Apakah ada orang yang dapat membuktikan alibimu itu?”

Junsu terdiam sesaat, tidak mungkin dia menyebut nama Changmin saat ini. Karena jika kepolisian tahu dia bisa menciptakan robot yang menyerupai manusia, dia akan tersangkut hukum. “Tidak ada.”

“Kau bisa dijadikan tersangka dalam kasus ini jika kau berbohong seperti itu!” ancam Yoochun.

Introgasi ini bukan pertama atau kedua kalinya bagi Yoochun. Sudah puluhan bahkan ratusan kali Yoochun menginterogasi tersangka. Dia tahu bahwa Junsu berbohong saat melihat matanya. Junsu menatap ke atas saat menjawab pertanyaanya.

“Untuk apa aku membunuhnya. Tidak ada gunanya untukku.” Junsu tersenyum meledek.

Alis Yoochun terangkat, “Song Jisoo dan kau selalu berada pada peringkat teratas dalam jurusan yang kalian tekuni saat ini. Semester lalu dia mengalahkanmu dan menjadi peringkat pertama. Apalagi sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian semester. Bisa saja kau membunuhnya untuk mengembalikan peringkatmu. Kudengar dari Dekanmu, siapa yang mendapatkan peringkat pertama kali ini akan dikirim ke Amerika untuk mewakili Korea Selatan dalam Kejuaraan Robot Internasional ke-15.”

Junsu memajukan badannya dan melipat kedua tangannya di atas meja. “Kau pikir aku akan membunuh seseorang hanya karena masalah itu?”

Tentu saja itu masalah sepele bagi Junsu. Dia tidak peduli dengan semua hal itu. Karena hanya Yoomi yang dibutuhkan Junsu saat ini maupun di masa mendatang.

“Kuingatkan bahwa kau tidak memiliki alibi yang kuat, kami akan mengawasimu mulai saat ini.” kata Yoochun mencoba tenang. Dia tidak boleh emosi disaat seperti ini. Sesaat dia terdiam tampak memikirkan sesuatu ‘Kim Junsu. Junsu Kim, JK.’

“Kau boleh memborgol tanganku jika kau menemukan bukti bahwa aku pelakunya.” Tantang Junsu. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan. “Karena aku bukan pelakunya!”

***

Jaejoong memarkir sepeda motornya di depan rumah Junsu. Susah payah ia melunasi biaya perbaikan motornya karena gengsinya yang menolak ganti rugi tempo hari. Hari ini Junsu sudah berjanji padanya akan meminjamkan alat-alat yang belum ia miliki. Tadi siang Junsu sudah mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan sebuah urusan sehingga kemungkinan akan pulang lebih malam, dan Jaejoong yakin saat ini Junsu sudah pulang. Ia menginjakkan kakinya di depan rumah usang itu, menimbulkan bunyi berderit akibat lantai kayunya yang sudah menua.

“Junsu!” seru Jaejoong sambil menggedor pintu itu dengan tak sabar. Seperti biasa tidak ada sahutan dari dalam, namun biasanya Junsu akan membukakan pintu beberapa saat kemudian.

Baru saja Jaejoong akan mengetuk pintu itu lagi, tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam.

“Lama se-” Jaejoong tak jadi mengomel saat melihat sesosok tubuh yang berdiri di depan-nya. Itu bukan Junsu.

“Maaf, Junsu tidak ada di rumah.” Ucap suara bass itu.

“Kau siapa? Kenapa kau ada di sini? Setahuku Junsu hanya tinggal sendiri.” Jaejoong menyelidik curiga. Ia sungguh tidak tahu jika Junsu mempunyai teman lain di rumahnya.

“Namaku Shim Changmin, aku adalah sepupunya dari Seoul.”

Dengan cepat Jaejoong mengulurkan tangan. “Aku Kim Jaejoong.” Changmin pun membalas uluran tangan itu dan melemparkan sebuah senyum kecil.

“Kau ingin tetap menunggunya?” tanya Changmin kemudian.

“Aku sudah pulang.” Suara Junsu mewakili Jaejoong untuk menjawab pertanyaan itu. Dalam hati ia mengutuk kecerobohannya karena lupa menonaktifkan Changmin sebelum ia pergi ke ke kantor polisi tadi sore. Ia berharap Jaejoong tidak curiga.

Wajah Jaejoong tampak cerah saat melihat kedatangan Junsu, ia sudah membayangkan suasana canggung yang akan dilaluinya dengan Changmin jika Junsu tidak segera pulang.

“Ya! Kenapa kau tidak bilang padaku kalau di rumah ada sepupumu?” protes Jaejoong.

“Kenapa aku harus bilang padamu?” Junsu langsung masuk ke rumahnya dan menghempas-kan tubuhnya di sofa. Jaejoong segera mendahului Changmin untuk masuk. “Lagipula Changmin belum lama tiba.” Junsu menambahkan.

Jaejoong kembali menoleh pada Changmin yang baru saja menutup pintu, lalu ia tertawa kecil. Kau pikir aku percaya?


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar