Lift terbuka dan
muncul seseorang dari dalam lift. Papan informasi menunjukan bahwa dia berada
pada lantai dasar. Yunho berjalan menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
Pertemuan hari ini
sangat melelahkan. Rekan kerjanya bahkan tidak berguna dalam mengurus masalah
sepele seperti itu. Izin pembangunan yang tersendat. Seharusnya dia bertanya
pada Direktur bukan padanya yang cuma seorang arsitek. Tapi Yunho tak bisa
menyalahkan dia sepenuhnya, karena Yunho akan menjadi Ketua Tim dalam proyek
ini.
“Apakah dia sedang
mengikutiku?” gumam Yunho pelan saat menyadari ada seseorang yang mengikutinya
sejak dia keluar dari lift. “Mungkin hanya perasaanku saja.”
Paranoid bukanlah salah
satu dari sifat Yunho. Tapi harus diakui dalam sebulan ini dia merasa ada yang
mengawasinya. Awalnya dia berpikir karena dia sedang dalam masa tender,
saingannya mungkin ingin mengintip rancangannya. Tapi setelah memenangkan
tender tersebut dia masih terus merasa diikuti.
Sosok itu semakin
mendekat. Yunho dapat melihatnya dari kaca mobil yang memantulkan bayangannya.
Dia tidak dapat melihat siapa sosok itu dibalik masker dan hoodie yang dipakainya. Tapi dari postur tubuhnya Yunho mengetahui
bahwa sosok itu adalah pria.
Hanya rasa sakit
pada tengkuknya yang dapat dirasanya. Pandangannya mulai kabur dan rasa sakit
itu menjalar ke seluruh
tubuhnya. Hal terakhir yang ia ingat adalah, tubuh
lemahnya.
Yunho
terjatuh ke tanah.
***
Suasana kantor
polisi saat ini sedang tenang. Tak ada hal menghebohkan yang terjadi. Setelah
makan siang nanti Yoochun akan meminta keterangan dari Kim Junsu. Sebelum itu,
dia telah meminta keterangan dari Jun Jihyun dan mengkonfirmasi bahwa dia
memiliki alibi pada saat terjadi pembunuhan kedua –Song Jisoo– dan Jun Jihyun
tidak memiliki hubungan dengan korban pertama. Hal ini menyebabkan nama Jun
Jihyun tereliminasi dari daftar tersangka.
Junsu berjalan ke arah
ruang interogasi diantar oleh seorang petugas polisi. Mereka mengatakan ingin
meminta keterangannya dalam kasus pembunuhan Jisoo. Dia merasa turut prihatin
atas kejadian yang menimpa Song Jisoo.
Petugas polisi
tersebut membuka pintu untuk Junsu mempersilahkannya untuk masuk. Seorang
detektif telah menunggunya. “Silahkan duduk.” Kata detektif itu ketika Junsu
memasuki ruangan intrograsi.
Junsu menatap kaca
hitam yang berada di sebelah
kanannya. Dia tahu bahwa itu adalah kaca dua arah, walaupun dia tidak dapat melihat ke ruang di sebelahnya tapi
orang-orang yang berada di balik
ruang itu dapat melihatnya. Segala tindakan dan ucapannya akan direkam. Junsu
kembali mengedarkan matanya ke beberapa
arah dalam ruangan itu.
‘Jumlahnya ada 4.’
Batin Junsu. Ada 4 kamera pengawas yang terpasang. 2 berada diatas kanan dan
kiri, satu sejajar dengan meja, dan satu lagi ada di atas pintu. Tentu saja
alat perekam suara juga terpasang di bawah
meja.
“Bisa kita mulai?”
tanya Yoochun pelan.
“Akan lebih baik
ini berakhir dengan cepat.” Junsu menjawab dengan tidak ramah. Ada seseorang
yang menunggunya di rumah
dan dia harus segera pulang.
“Kau mengenal Song
Jisoo?” Yoochun menanyakan pertanyaan pertama. “Apa hubunganmu dengan korban?”
“Tidak juga.
Sejujurnya aku tidak akrab dengannya. Kami hanya pernah menghadiri kelas yang
sama beberapa kali.” Jawab Junsu, dia teringat sesuatu dan melanjutkan. “Ah!
Aku satu kelompok dengannya dan Jun Jihyun saat tugas dari mata kuliah Eletronika
Dasar.”
“Kau dan Jun
Jihyun menemuinya sebelum kematiannya?”
“Tentu saja, kami
berjanji akan mengerjakan tugas jam 4 sore di perpustakaan kota. Tapi baru 3
jam kami mengerjakan tugas dia meminta izin untuk pulang katanya dia juga
sedang mengerjakan proyek yang lain dan deadline-nya
adalah besok pagi.”
Apa yang Kim Junsu
katakan sesuai dengan yang disampaikan oleh Jun Jihyun. Sampai saat ini dia
tidak berbohong.
“Lalu setelah 3
jam, berarti pukul 7 malam sampai pukul 10 malam. Kau berada di mana?”
“Aku langsung
pulang ke rumah
dan tidur.” Jawab Junsu.
“Apakah ada orang
yang dapat membuktikan alibimu itu?”
Junsu terdiam
sesaat, tidak mungkin dia menyebut nama Changmin saat ini. Karena jika
kepolisian tahu dia bisa menciptakan robot yang menyerupai manusia, dia akan
tersangkut hukum. “Tidak ada.”
“Kau bisa
dijadikan tersangka dalam kasus ini jika kau berbohong seperti itu!” ancam
Yoochun.
Introgasi ini
bukan pertama atau kedua kalinya bagi Yoochun. Sudah puluhan bahkan ratusan
kali Yoochun menginterogasi tersangka. Dia tahu bahwa Junsu berbohong saat
melihat matanya. Junsu menatap ke atas
saat menjawab pertanyaanya.
“Untuk apa aku
membunuhnya. Tidak ada gunanya untukku.” Junsu tersenyum meledek.
Alis Yoochun
terangkat, “Song Jisoo dan kau selalu berada pada peringkat teratas dalam
jurusan yang kalian tekuni
saat ini. Semester lalu dia mengalahkanmu dan menjadi peringkat pertama.
Apalagi sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian semester. Bisa saja kau
membunuhnya untuk mengembalikan peringkatmu. Kudengar dari Dekanmu, siapa yang
mendapatkan peringkat pertama kali ini akan dikirim ke Amerika untuk mewakili
Korea Selatan dalam Kejuaraan Robot Internasional ke-15.”
Junsu memajukan
badannya dan melipat kedua tangannya di atas meja. “Kau pikir aku akan membunuh
seseorang hanya karena masalah itu?”
Tentu saja itu
masalah sepele bagi Junsu. Dia tidak peduli dengan semua hal itu. Karena hanya
Yoomi yang dibutuhkan Junsu saat ini maupun di masa mendatang.
“Kuingatkan bahwa
kau tidak memiliki alibi yang kuat, kami akan mengawasimu mulai saat ini.” kata
Yoochun mencoba tenang. Dia tidak boleh emosi disaat seperti ini. Sesaat dia
terdiam tampak memikirkan sesuatu ‘Kim
Junsu. Junsu Kim, JK.’
“Kau boleh
memborgol tanganku jika kau menemukan bukti bahwa aku pelakunya.” Tantang
Junsu. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan. “Karena aku bukan
pelakunya!”
***
Jaejoong
memarkir sepeda motornya di depan rumah Junsu. Susah payah ia melunasi biaya
perbaikan motornya karena gengsinya yang menolak ganti rugi tempo hari. Hari
ini Junsu sudah berjanji padanya akan meminjamkan alat-alat yang belum ia
miliki. Tadi siang Junsu sudah mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan sebuah
urusan sehingga kemungkinan akan pulang lebih malam, dan Jaejoong yakin saat
ini Junsu sudah pulang. Ia menginjakkan kakinya di depan rumah usang itu,
menimbulkan bunyi berderit akibat lantai kayunya yang sudah menua.
“Junsu!”
seru Jaejoong sambil menggedor pintu itu dengan tak sabar. Seperti biasa tidak
ada sahutan dari dalam, namun biasanya Junsu akan membukakan pintu beberapa
saat kemudian.
Baru
saja Jaejoong akan mengetuk pintu itu lagi, tiba-tiba pintu sudah terbuka dari
dalam.
“Lama
se-” Jaejoong tak jadi mengomel saat melihat sesosok tubuh yang berdiri di
depan-nya. Itu bukan Junsu.
“Maaf,
Junsu tidak ada di rumah.” Ucap suara bass itu.
“Kau
siapa? Kenapa kau ada di sini? Setahuku Junsu hanya tinggal sendiri.” Jaejoong
menyelidik curiga. Ia sungguh tidak tahu jika Junsu mempunyai teman lain di
rumahnya.
“Namaku
Shim Changmin, aku adalah sepupunya dari Seoul.”
Dengan
cepat Jaejoong mengulurkan tangan. “Aku Kim Jaejoong.” Changmin pun membalas
uluran tangan itu dan melemparkan sebuah senyum kecil.
“Kau
ingin tetap menunggunya?” tanya Changmin kemudian.
“Aku
sudah pulang.” Suara Junsu mewakili Jaejoong untuk menjawab pertanyaan itu.
Dalam hati ia mengutuk kecerobohannya karena lupa menonaktifkan Changmin
sebelum ia pergi ke ke kantor polisi tadi sore. Ia berharap Jaejoong tidak curiga.
Wajah
Jaejoong tampak cerah saat melihat kedatangan Junsu, ia sudah membayangkan
suasana canggung yang akan dilaluinya dengan Changmin jika Junsu tidak segera
pulang.
“Ya!
Kenapa kau tidak bilang padaku kalau di rumah ada sepupumu?” protes Jaejoong.
“Kenapa
aku harus bilang padamu?” Junsu langsung masuk ke rumahnya dan menghempas-kan
tubuhnya di sofa. Jaejoong segera mendahului Changmin untuk masuk. “Lagipula
Changmin belum lama tiba.” Junsu menambahkan.
Jaejoong
kembali menoleh pada Changmin yang baru saja menutup pintu, lalu ia tertawa
kecil. Kau pikir aku percaya?
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar