Yoona menatap Yunho
yang sedang duduk diatas kasur. Ia terlihat jauh lebih baik daripada beberapa
saat yang lalu. Ingatannya mengenai kejadian penculikan itu benar-benar
membuatnya trauma. Walaupun ini pertama kalinya Yunho bersikap seperti ini,
karena biasanya ia hanya akan menjadi lebih waspada jika bertemu orang.
Tn. Jung masih
duduk disebelah ranjang Yunho, ia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.
Bahkan ia langsung menuju rumah sakit ketika mendengar kabar bahwa trauma Yunho
muncul kembali. Saat ini Ny. Jung dan Jihae sedang dalam perjalanan menuju
Daejeon.
“Merasa lebih
baik?” tanya Yoona. Ia memasuki ruangan diikuti oleh Kyuhyun. Saat melihat Tn.
Jung, Yoona dan Kyuhyun menyapanya lalu membungkuk hormat. “Maaf membuat anak
anda mengalami hal ini.”
“Tidak apa. Aku
mengerti posisi kalian yang membutuhkan kesaksiannya dalam penyelidikan kasus.
Tapi kuharap kalian tidak terburu-buru dalam mencari bukti, terlebih jika
kondisi saksi seperti ini,” saran Tn. Jung.
Yoona dan Kyuhyun
paham apa yang dimaksud oleh Tn. Jung dan tujuan mereka datang kemari bukan
untuk mengorek informasi lagi. Mereka hanya ingin menjenguk Yunho.
Tn. Jung bangkit
dari duduknya, mempersilahkan Yoona dan Kyuhyun untuk berada di sebelah Yunho.
“Aku tidak
mengerti,” kata Yunho pelan.
“Tentang apa?”
tanya Yoona.
“Kau Yoona kan? Lim
Yoona?” Yunho mencoba memastikan.
Yoona mengangguk, “Ya,
aku Lim Yoona.”
“Kau bukan wanita
itu yang sedang menyamar kan?”
“Wanita itu?
Maksudmu tunanganmu, Han Yoomi?”
Yunho mengangguk.
“Bagaimana bisa dia
menyamar menjadi aku, kau sudah mengenalku lebih lama daripada kau mengenal
tunanganmu,” sergah Yoona.
“Pria itu, yang
berada di ruang interogasi. Namanya Kim Jaejoong?” tanya Yunho.
“Yunho, kurasa
bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini,” potong Yoona.
“Tidak,” Yunho
menggelengkan kepalanya dengan cepat. Walaupun kepalanya terasa berdenyut
setiap kali ia mencoba mengingat-ngingat setiap hal yang berkaitan dengan hari
penculikan itu, tetapi rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa sakitnya
saat ini.”Kau hanya cukup menjawab pertanyaanku, benar atau salah. Aku ingin
memastikan semuanya.”
“Jika itu
membantumu, akan aku lakukan,” kata Yoona. Ia akan lebih berhati-hati dengan
apa yang akan diucapkannya. Salah-salah ia akan membuat keadaan Yunho menjadi
lebih buruk lagi.
“Kim Junsu, Park
Yoochun, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Yoomi, Kau, dan orang yang
berdiri di sebelahmu adalah
Yoomi yang sedang menyamar. Benar atau salah?”
“Salah. Semua nama
yang kau sebutkan adalah orang yang nyata,” jawab Yoomi, walaupun salah satu
diantaranya jelas bukan manusia. Tapi Yunho belum mengetahui fakta itu. Lebih
baik tidak mengatakannya sebelum keadaan Yunho jauh lebih baik.
Yunho mencerna
setiap kata yang diucapkan oleh Yoona. “Ini kedua kalinya aku bertemu dengan
Kim Jaejoong?”
Sejenak Yoona
ragu-ragu, jika Jaejoong adalah pelaku penculikan maka ini bukan kedua kalinya
mereka bertemu.
“Mengapa kau
menanyakan hal ini?” tanya Yoona.
“Entahlah. Jika
yang kau katakan adalah benar, bahwa mereka bukanlah satu orang –Yoomi– yang
sedang menyamar, aku merasa dia sangat mengancam. Ketika kalian semua berada di
dekatku, aku hanya merasa kalian akan berusaha mencelakaiku, walaupun aku sendiri
tidak mempercayai ingatanku. Tetapi senyuman itu, senyuman yang sama ketika aku
disiksa pada hari penculikan,” kata Yunho.
“Senyuman?” ulang
Yoona.
Kepala Yunho
berdenyut semakin kencang. Rasanya sakit sekali, hingga Yunho memegangi
kepalanya. “Aku yakin melihatnya, aku yakin itu dia. Kim Jaejoong, orang yang
menculikku dan dia mengatakan akan mengambil semua yang aku rebut darinya.”
Yoona terdiam,
menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Yunho.
“Dia adalah teman
Junsu. Yoomi mengatakan bahwa Junsu adalah teman masa kecilnya dan Jaejoong
adalah teman Junsu. Tetapi seberapa keras aku berusaha mengingatnya, aku tidak
tahu apa yang telah aku rebut darinya. Aku baru saja mengenal Jaejoong saat di
pameran itu tetapi-”
Kyuhyun menangkap
perubahan Yunho, dia memberi tanda kepada Yoona untuk menyudahi pembicaraan
ini. Yoona mengangguk paham.
“Kurasa lebih baik
kau beristirahat, kita bisa membahas ini lain kali,” kata Yoona sambil
menyentuh bahu Yunho. Tetapi Yunho masih terus meringis kesakitan. Tn. Jung
sudah pergi untuk memanggil perawat.
***
Suara alunan musik instrumental terdengar memenuhi seisi ruangan. Malam
sudah semakin larut, dan jarum jam hampir bersamaan menyatu di angka 12. Tetapi
saat ini Yoochun sama sekali tidak mengantuk. Bukan saja karena segelas kopi
yang baru saja dihabiskannya, tapi juga karena pikirannya sedang bercabang kesana-kemari.
Pekerjaannya adalah mengurusi hidup orang lain—atau lebih tepatnya—mengurusi
urusan orang yang sudah meninggal secara tidak wajar. Apartmennya tampak sangat
berantakan, di meja kerjanya ada file-file mengenai ketiga kasus pembunuhan
yang dilakukan oleh pelaku yang sama, dan juga kasus penculikan Yunho. Kini
Yoochun tengah sangat serius membaca ulang hasil investigasinya, melihat ulang
rekaman wawancara dengan para tersangka, dan melihat hasil olah TKP. Entah
kenapa Yoochun jadi merasa agak menyesal sudah melepaskan Junsu. Menurutnya
selama wawancara Junsu melakukan banyak hal mencurigakan, bahkan berbohong.
Namun apa yang bisa ia lakukan jika Junsu dinyatakan berhasil lolos dari tes
kebohongan. Sebagai detektif, Yoocun tidak boleh mencurigai seseorang hanya
karena dugaannya sendiri. Selain itu pula, sejauh ini bukti yang ada masih
sangat kurang untuk menuduh Junsu, maupun Jaejoong. Satu-satunya alasan kenapa
Jaejoong masih dalam tahanan adalah karena dia gagal menjalani tes kebohongan,
dan di bukunya ada foto yang kemungkinan adalah ayahnya Yunho.
Namun apa hubungan antara mereka? Jaejoong bukan keluarga Yunho. Bahkan
Tn. Jung pun sudah dipertemukan dengan Jaejoong dan menyatakan bahwa ia tidak
mengenalnya.
Sekali lagi Yoochun membuka file mengenai kasus pembunuhan Kim Seokjin.
Malam itu korban bersama seseorang, dan orang itu sebenarnya terekam dalam
cctv. Namun sayang sekali cctv itu sudah rusak saat akan diambil kepolisian
untuk diperiksa. Kim Seokjin adalah salah satu kandidat kejuaran Robotik yang
juga kuliah di Korea University, ada kemungkinan Junsu dan Jaejoong
mengenalnya. Namun dari hasil wawanacara, lagi-lagi keduanya meng-aku tidak
pernah memiliki hubungan dekat dengan Kim Seokjin. Korban tewas karena racun
langka, atau tepatnya obat bernama Janis Thorn, yang benar-benar
membunuhnya setelah ia meminum soda. Pelakunya adalah orang yang tahu persis
bahwa di dekat tempat kejadian itu ada mesin minuman yang menyediakan soda.
Selain itu si pelaku juga cukup mengenal Kim Seokjin yang sangat menggemari
minuman itu. Jika pelakunya adalah Junsu atau Jaejoong, maka tentulah salah satu
dari mereka berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak cukup mengenal korban.
Pada waktu kejadian, Junsu mengaku sedang mengerjakan tugas kuliahnya di
rumah, tetapi tak ada saksi yang bisa membenarkannya. Sementara itu Jaejoong
mengaku sudah tertidur. Tapi lagi-lagi, tidak ada saksi. Hanya saja penjaga
kost nya membenarkan bahwa ia tidak melihat ada yang keluar-masuk pintu kost
pada waktu kejadian.
Belum ada yang bisa ia simpulkan dari kasus pertama itu.
Kini Yoochun mulai membuka file mengenai kasus pembunuhan Song Jisoo.
Korban lagi-lagi adalah mahasiswa di Korea University, ahli dalam bidang
robotik. Korban meninggal karena keracunan senyawa Arsen dalam makanan yang dipesannya
dari sebuah restoran. Diduga pelaku menyamar sebagai pengantar makanan dan
memasukkan racun itu dalam makanan korban dalam perjalanan ke tempat korban.
Sementara itu 3 hari sebelum kejadian, korban bertemu dengan Junsu dan
Jaejoong, dan itu adalah tanggal yang dilingkarinya di kalender dengan tulisan
JK di bawahnya. Jaejoong adalah orang terakhir yang diajak masuk ke dalam
kamarnya pada hari yang sama. Sedangkan di hari kejadian, Junsu adalah orang
terakhir yang dilaporkan bersama korban, dan tidak memiliki alibi kuat mengenai
keberadaan nya pada waktu kejadian. Jaejoong pun lagi-lagi sama, dia mengaku
berada di kamar kost nya, namun tidak ada yang bisa memastikannya.
Pada kasus ke-2 ini, Junsu lebih memiliki motif dibandingkan Jaejoong.
Saat ini Yoochun mulai merasa kepalanya berdenyut-denyut, ia hampir
dibuat gila karena kasus-kasus ini tak kunjung menemukan titik terang. Kedua
orang itu sama mencurigakannya dan ucapannya sama-sama tidak bisa dipercaya.
Yoochun mengecek ponselnya sejenak, banyak pesan masuk dan rekaman panggilan
yang menanti untuk didengarkan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu
dini hari, dan Yoochun sudah mulai mengantuk.
Tapi ia tetap melanjutkan melihat-lihat kasus ketiga, yaitu pembunuhan
Yoo Seungho. Kali ini korban berasal dari KAIST, tetapi juga tetap seorang ahli
robotik. Korban tewas setelah memakan menu yang dipesannya dari restoran
apartmennya. Karena koki yang memasak makanan itu terbukti tidak bersalah, maka
diduga kuat si pelaku memasukkan racun ke dalam makanan itu dengan cara
menyusup masuk ke kamar korban. Kecurigaan ini diperkuat lagi dengan rusaknya
cctv yang mengarah ke kamar korban, dan ada laporan dari pihak apartmen bahwa
kode pintu kamar korban sudah diretas dan diubah tepat beberapa waktu sebelum
kejadian mematikan itu. Pelakunya yang tentu saja mengetahui banyak hal tentang
zat racun, juga memiliki keahlian dalam hal meretas. Hal ini cukup menggeser
sedikit kecurigaan pada Jaejoong. Ditambah, Jaejoong juga berasal dari KAIST
dan mengenal korban, walau tidak pernah berbicara secara pribadi. Sementara itu
Junsu mengaku sama sekali tidak mengenal korban.
Di kasus ketiga, walau entah apa motifnya, kecurigaan lebih berat ke
arah Jaejoong.
Dan kemudian ada kasus baru yang polanya berbeda. Penculikan Jung Yunho.
Sampai saat ini Yoochun masih tidak mengerti kenapa si pelaku membiarkan Yunho
hidup dan ditemukan oleh orang lain. Tidakkah dia berpikir bahwa Yunho tentu
saja akan mengingatnya dan membuatnya tertangkap? Apakah mungkin saat itu dia
melakukan kesalahan sehingga Yunho bisa ditemukan, dan secara kebetulan Yunho
justru tak bisa mengingatnya? Kalau benar begitu, betapa beruntungnya dia.
Yunho menghilang sekitar pukul 18:30, dan saat itu Junsu sedang
bersamanya untuk melakukan wawancara. Sementara Jaejoong kembali memiliki
alasan, dan seperti biasa tidak ada saksi yang bisa membuktikan alibinya.
Junsu memang jauh lebih mungkin untuk melakukan penculikan ini, karena
Jaejoong tidak memiliki kaitan apapun dengan kehidupan Yunho. Apa untungnya dia
melakukan semua itu? Tapi saat kejadian itu Junsu jelas-jelas sedang berada
tepat di depannya.
Yoochun berpikir keras beberapa saat, dahinya berkerut dengan kuat dan
matanya terpejam menandakan ia sedang sangat serius berpikir. Lalu kemudian ia
teringat sesuatu.
Junsu memiliki Changmin. Ya, Changmin. Dialah yang terakhir bersama
Yunho. Tentu saja di manapun Junsu berada, jika Changmin yang melakukan semua
ini, maka tidak akan ada hubungannya dengan posisi Junsu di setiap waktu
kejadian.
Tetapi dalam memori Changmin tidak ada hal yang mencurigakan. Hanya
beberapa cuplikan adegan sebelum Junsu menonaktifkannya, atau saat berada di
kantor. Dalam rekaman itupun ada saat-saat ia bertengkar dengan Yunho beberapa
saat sebelum penculikannya. Yoochun segera memutar ulang rekaman memori
Changmin yang sudah ia miliki. Dadanya terasa sesak bukan main saat ia
menyadari ada suatu kejanggalan. Beberapa bagian dari memori Changmin ternyata
sudah terhapus. Salah satunya adalah saat-saat setelah Changmin keluar dari
ruangan tempat ia bertemu Yunho. Tadinya Yoochun mengira memang rekaman itu
sudah rusak sebagian, namun ternyata ia salah. Rekaman itu dihapus.
Yoochun semakin merasakan kepalanya mulai berat, ia lalu mencoba
mengalihkan konsentrasinya pada ponselnya yang sudah ramai. Ada banyak
panggilan dari Yoona yang sepertinya sangat penting. Yoochun pun mendengarkan
rekaman panggilan itu.
Detektif Park, Jung Yunho sempat
mengatakan bahwa Kim Jaejoong berhubungan dengan kasus penculikannya.
Kini Yoochun benar-benar mulai kehilangan arah. Ia memandangi foto
Jaejoong dan Junsu yang terpampang di mejanya yang berantakan. Sekarang ini
wajah keduanya terlihat seperti pembunuh berantai di mata Yoochun.
Ia lalu mulai menjatuhkan dirinya di kasur empuk yang baru sempat ia
nikmati. Matanya terpejam dan isi kepalanya sudah sangat penuh seperti akan
tumpah melalui ubun-ubunnya. Yoochun menghemuskan napas panjang dan mencoba
memanggil kembali akal sehatnya. Ia sangat bingung. Baru kali ini ia merasa
ingin menyerah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar