Sambil agak berlari Yoomi membuka pintu ruangan itu, ruangan tempat
Yunho berada saat ini. Dia kembali masuk rumah sakit karena gejala trauma
kepalanya kembali muncul. Yoomi diminta Tn. Jung untuk menemani Yunho sementara
ia harus mengurusi hal lain. Yoomi menatap wajah yang tertidur di ranjang besi
itu dengan tatapan nanar, ia sudah sangat lama tidak berbicara dengan Yunho.
Sebelum semua ini terjadi, tentu saja Yunho selalu menggodanya, menatapnya
dengan penuh kasih sayang. Kejadian itu memang tidak merenggut nyawa Yunho,
tapi dapat dikatakan kejadian itu merenggut Yunho-nya yang dulu. Tidak bisa
digambarkan betapa sakit hati dan kecewanya Yoomi saat Yunho terbangun dan
menatapnya dengan ngeri, bahkan mungkin jijik. Tetapi hal itu sama sekali tidak
membuatnya membenci Yunho, namun jujur saja ia sudah hampir akan menyerah untuk
mempertahankan Yunho sebagai calon suaminya. Jika bukan karena Tuan dan Nyonya
Jung, dan juga Jihae, maka Yoomi mungkin sudah memutuskan untuk pergi saja dan
membiarkan Yunho hidup tenang tanpa keberadaannya.
Kini Yoomi mengusap jemari Yunho dengan sangat berhati-hati, seolah
Yunho akan segera terbangun dan mengusirnya jika ia sampai membangunkannya dari
tidur. Wajah Yunho tampak sangat damai saat ini, namun hati Yoomi tetap gusar.
Ia takut kalau Yunho tanpa sengaja terbangun dan melihatnya, maka keadaan Yunho
akan segera memburuk.
Sudah cukup lama memang Yunho melakukan terapi bersama tim ahli
kedokteran jiwa. Dan pihak dokter sudah menginformasikan bahwa keadaan Yunho
sudah berangsur-angsur membaik. Bahkan Yunho sudah sepenuhnya menerima
beberapa orang, dan tidak menganggap bahwa semua orang adalah penculiknya yang
sedang menyamar.
“Ugh…”
Yoomi tersentak oleh suara Yunho, ia melihat ke arah wajah tertidur
Yunho yang sepertinya sedang dilanda mimpi buruk. Yoomi bermaksud untuk
membangunkan Yunho, namun ia tidak berani. Apa
yang sedang kau pikirkan Yunho?
***
Bayangan-bayangan itu semakin jelas terpampang dalam ingatannya. Yunho
kembali bisa merasakan rasa sakitnya disiksa dengan benda tumpul, diikat di
gedung kosong, tidak diberi makanan ataupun minuman selama lebih dari 24 jam.
Ia samar-samar mengingat suara orang itu. Seseorang dengan hoodie, suaranya
agak lirih setiap kali ia mengajak Yunho berbicara. Namun dalam suara itu
terdengar pula nada marah dan sedih. Orang ini sepertinya sangat membenci
Yunho. Sepertinya Yunho telah merebut sesuatu hal yang amat berharga baginya.
Namun Yunho tidak bisa mengingat apa sebenarnya yang sudah ia rebut.
Semakin jelas ingatan itu saat ini. Ia mengingat orang itu
menunjukkannya sebuah foto. Itu adalah foto keluarganya, dan juga Yoomi. Apakah
orang itu mencemburui kehidupannya? Tapi apa yang telah ia renggut? Apakah
Yoomi? Apakah itu adalah orang yang menginginkan Yoomi?
Sesaat kemudian Yunho terbayang wajah Yoomi yang manis. Ia mulai
mengingat Yoomi lagi. Wanita yang sangat ia cintai. Ternyata Yoomi bukanlah
penculiknya yang sedang me-nyamar. Yoomi adalah hidupnya. Lalu apakah orang itu
ingin mengambil Yoomi darinya?
Cuplikan-cuplikan penuh hal traumatis itu kini sudah mulai menjadi nyata
dalam ingatannya. Yunho melihat wajah penculiknya. Ya, itu dia. Seseorang
dengan wajah dingin, bibirnya agak pucat namun sedikit merah muda… dan kaku.
Matanya… Yunho ingat matanya. Sepasang mata yang sendu, teduh namun juga sangat
tajam. Mata yang memandangnya penuh rasa dendam. Mata siapa itu? ya Tuhan…
siapa orang itu?
Dan lagi, bayangan itu akhirnya sepenuhnya jelas. Yunho melihat wajah
orang itu beberapa detik dalam ingatannya. Ia mengenalinya. Wajah itu. wajah
yang sudah dilihatnya. Yunho bahkan bisa mendengar wajah dingin itu berbicara
padanya.
Aku hanya ingin mengambil semua yang telah kau
rebut dariku.
***
Yoomi sudah tampak semakin khawatir. Sepertinya mimpi buruk itu sangat
menyiksa Yunho. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Ia lalu menggenggam
erat tangan Yunho. Pria yang kini terbaring di depannya tampak mulai
menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya. Yoomi merasa jantungnya
berdetak jauh lebih cepat. Ia bingung harus bagaimana. Apakah ia harus
bersembunyi agar Yunho tidak melihatnya? Tetapi bagaimana kalau Yunho
membutuhkan bantuan?
Belum sempat Yoomi memutuskan, tiba-tiba ia melihat Yunho membuka kedua
matanya dengan amat pelan. Pandangan mereka bertautan untuk beberapa saat.
Yoomi benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin setelah ini Yunho
akan mengusirnya lagi.
“Yoomi…” suara letih Yunho berhasil membuat Yoomi tertegun.
Apakah ia mengingatku? Batin Yoomi. “Y-ya? Kau perlu aku panggilkan perawat?” tanya Yoomi
sambil bermaksud melepaskan genggamannya. Namun ternyata Yunho justru
mempererat genggaman itu. Jemari kekarnya menahan Yoomi menjauh.
“Tidak perlu. Aku perlu kau saat ini.”
“Yunho…” saat itu Yoomi merasa mungkin saja ia salah dengar.
Yunho kemudian tersenyum. Senyuman yang sudah lama dirindukan Yoomi.
“Maafkan aku, Yoomi. Aku sudah tidak mempercayaimu selama ini.” Yunho berhenti
sejenak, dan Yoomi hanya bisa memandang kekasihnya itu dengan perasaan tak
tergambarkan. “Kau memang tidak mungkin berniat jahat padaku.”
“Yunho, aku sangat senang kau sudah kembali,” tangis Yoomi pun pecah, ia
memeluk Yunho dan menuangkan semua kerinduannya. Ia sangat takut Yunho tidak
akan pernah kembali. Yunho pun mengelus rambut panjangnya dengan pelan,
membiarkannya menjadi sandaran Yoomi kali ini. Sungguh, ia benar-benar
mencintai Yunho. “Ah, aku harus segera memberitahu semua orang mengenai kabar
baik ini!” pekik Yoomi kemudian.
Bisa kau beritahu Yoochun juga? Aku sangat perlu bertemu dengannya.”
***
Yoochun baru saja
melewati sebuah papan penunjuk jalan ketika berbelok kiri. Jalan yang ia lewati
tidak seramai jalan utama. Ia menurunkan kecepatan mobil yang di kemudikannya,
matanya mulai menyusuri setiap nama toko yang tertera di sepanjang jalan.
Saat ini ada dua
hal yang perlu dilakukannya untuk mencari kebenaran dibalik kasus yang
ditanganinya, yaitu mendapatkan memori ingatan Changmin yang hilang dan
menelusuri bagaimana pelaku mendapatkan Janis
Thorn. Yoochun ingat ketika Seulgi mengatakan bahwa obat itu harus
dilaporkan stok maupun jumlah yang terjual kepada Korean Pharmaceutical Association –Asosiasi Farmasi Korea– setiap 6 bulan sekali untuk mencegah
penyalahgunaan obat.
Setelah makan
siang, Yoochun menghubungi Asosiasi Farmasi Korea untuk meminta data. Pihak
Asosiasi mengatakan bahwa Janis Thorn
terjual di 2 apotek yang berbeda dalam kurun waktu 6 bulan, hal ini cocok
dengan waktu kematian Kim Seokjin.
Salah satu dari 2
apotek itu berada di Daejeon dan di sinilah Yoochun
saat ini.
Mobilnya berhenti
ketika melihat tulisan “Olive Young” pada salah satu toko obat bercat putih. ia
segera memarkirkan mobilnya.
Yoochun menatap
wilayah disekitarnya, lokasi apotek ini cukup jauh dari KAIST ataupun Korean University. Butuh waktu sekitar
30 menit untuk menemukan tempat ini.
“Selamat datang,”
sapa penjaga apotek. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Park Yoochun,”
kata Yoochun sambil menunjukkan lencana detektifnya, “Saya ingin meminta
keterangan anda, Ahn Heeyeon.” Kata Yoochun saat membaca tanda pengenal yang
dikenakan oleh apoteker yang saat ini menjaga toko.
Gadis yang
dipanggil Ahn Heeyeon itu segera mempersilahkan Yoochun untuk masuk ke dalam kantor yang berada di sebelah ruangan apoteker. Tidak
mungkin Heeyeon memberikan keterangan kepada detektif didepan semua konsumen
yang berada di apotek. Ia meminta temannya untuk mengantikannya menjaga toko.
“Apa yang bisa saya
bantu?” katanya ramah, ia tersenyum walaupun ada rasa penasaran mengapa seorang
detektif datang ke apotek dan ingin meminta keterangannya.
“Saya mendapatkan
informasi bahwa apotek ini menjual Janis
Thorn 3 bulan yang lalu. Apakah anda ingat menjualnya kepada siapa?” kata
Yoochun memulai meminta keterangannya. Ia meletakkan
foto Junsu dan Jaejoong di meja. “Apakah salah satu diantara mereka?”
Heeyeon terdiam
sebentar, berusaha mengingat-ingat. Matanya bergantian menatap wajah Junsu dan
Jaejoong dalam foto, “Aku yang melayaninya pada saat itu, jadi tentu saja aku
mengingatnya, karena Janis Thorn
adalah obat yang jarang dibeli dan ada aturan ketat dalam penjualannya. Pria
itu mengenakan topi pada saat datang kemari, tapi sepertinya pria ini yang
membelinya.”
Bukti ini masih
belum cukup kuat untuk menunjukan siapa pelakunya.
“Kau bilang ada
aturan ketat dalam penjualannya, apakah kau memiliki salinan resep atau hal-hal
yang berkaitan dengan itu?” tanya Yoochun.
“Tentu saja ada, tunggu
sebentar,” kata Heeyeon seraya bangkit dari duduknya. Butuh waktu beberapa
menit untuk mencari selembar kertas diantara tumpukan-tumpukan kertas lainnya,
kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam folder. “Kami menyalin
informasi ke dalam bentuk digital. Tapi sepertinya ini akan lebih berguna. Ini
resep yang digunakan pria itu saat membeli Janis
Thorn.”
Yoochun membaca
nama pasien dalam resep itu, pupil matanya melebar ketika membaca nama yang
tertera dalam resep.
“Bisakah aku
melihat cctv dari apotek ini?”
“Ah, maaf. Tapi
apotek ini memiliki cctv yang sudah tua jadi kami menghapus rekaman cctv setiap
sebulan sekali,” kata Heeyeon. “Tapi di depan toko ada cctv yang dipasang oleh perusahaan
induk. Kau bisa meminta salinan copy dari sana.”
“Terima kasih atas kerja
samanya,” kata Yoochun sambil membungkukkan badannya lalu pamit.
‘Kim Junsu, bagaimana lagi kau
akan menyangkal bukti ini’ batin Yoochun
***
Yoochun baru saja
memperoleh konfirmasi dari Dokter yang menuliskan resep itu. Dokter itu
mengatakan memang benar bahwa Kim Junsu adalah salah satu pasiennya.
“Kim Junsu, dia adalah salah satu
pasienku. Dia didiagnosa menderita Cluster Headche –sakit kepala cluster– sejak
4 tahun yang lalu. Sudah 2 tahun terakhir ini dia berhenti mengkonsumsi Janis
Thorn, tetapi beberapa bulan yang lalu dia datang dan memintaku untuk
menuliskan resep itu lagi, karena sakit kepalanya mulai muncul,” kata sang
Dokter.
Dari kesaksian
dokter itu dapat dipastikan bahwa Junsu akan menjadi tersangka dalam kasus
pembunuhan Kim Seokjin.
“Detektif Park,
surat penangkapan yang kau minta sudah terbit!” seru Kyuhyun.
***
Jihoon menatap
Jaejoong yang duduk di hadapannya.
Wajahnya sangat kurus dan dia terlihat sangat lesu, seperti sebagian harapan
hidup telah direnggut darinya.
“Bersemangatlah
sedikit,” saran Jihoon. “Setidaknya kau bisa berpura-pura bahagia, karena
temanmu ini datang menjenguk.”
Jaejoong hanya
menarik ujung bibirnya. Ia membalas tatapan Jihoon yang berusaha untuk tidak
terlihat khawatir. Tapi bagaimanapun juga hanya Jihoon yang masih peduli
kepadanya saat ini. Setelah kejadian di kamarnya waktu itu,
ia yakin bahwa Junsu akan membencinya.
Menjadi hal yang
biasa ketika Jaejoong ditinggal oleh temannya, sifatnya yang cuek dan terkesan
dingin menyebabkan ia jarang memiliki teman dekat. Ia mulai berhenti menghitung
orang yang hilang didalam kehidupannya sejak berumur 12 tahun.
Tiba-tiba sebuah
kenangan muncul dalam pikirannya. Seperti sebuah film lama yang diputar ulang.
Potongan-potongan gambar itu terasa begitu nyata. Sebuah kenangan pertama
tentang kehilangan.
Jaejoong kecil sedang bermain
mobil-mobilan di pemakaman. Ia tidak menyadari keadaan saat itu adalah awal
dari perjalanan hidupnya yang pahit. Seorang wanita berjalan mendekat dan
memeluknya. Dalam pelukan yang erat, wanita itu menangis menumpahkan segala
kesedihan atas kehilangan orang yang disayanginya. Pada hari itu Jaejoong kehilangan
Ayahnya.
“Kau baik-baik
saja?” tanya Jihoon sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Jaejoong.
“Ya, tentu saja,”
jawab Jaejoong berbohong. Ia memejamkan matanya beberapa saat untuk
menghilangkan bayangan itu.
Diam sejenak.
“Aku tidak
menyangka kau bisa menjadi tersangka dalam kasus yang berbelit seperti ini,”
kata Jihoon, “tapi mereka sudah menemukan tersangka utama, kau akan segera
dibebaskan.”
“Kau meretas
database kepolisian?” tanya Jaejoong curiga.
“Pelankan suaramu,
aku tidak ingin dipenjara hanya karena menembus pertahanan mereka yang lemah,”
kata Jihoon sambil memperlihatkan deretan giginya. “Aku hanya melihat beberapa
file yang tingkat rahasianya tidak terlalu tinggi. Tidak seperti seseorang yang
kukenal.”
Jaejoong tersenyum,
“aku hanya sedikit bersenang-senang.”
“Kau pikir aku akan
percaya?”
“Terserah kau saja,”
jawab Jaejoong tidak peduli
Raut wajah Jihoon
kini mulai serius, ia memajukan badannya. “Kau sudah mememukan orang yang kau
cari?”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya, “belum lama ini.”
“Lalu apa yang akan
kau lakukan sekarang?”
Jaejoong hanya
kembali tersenyum.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar