Welcome

Sabtu, 23 April 2016

FREGOLI DELUSION (20)


Sambil agak berlari Yoomi membuka pintu ruangan itu, ruangan tempat Yunho berada saat ini. Dia kembali masuk rumah sakit karena gejala trauma kepalanya kembali muncul. Yoomi diminta Tn. Jung untuk menemani Yunho sementara ia harus mengurusi hal lain. Yoomi menatap wajah yang tertidur di ranjang besi itu dengan tatapan nanar, ia sudah sangat lama tidak berbicara dengan Yunho. Sebelum semua ini terjadi, tentu saja Yunho selalu menggodanya, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Kejadian itu memang tidak merenggut nyawa Yunho, tapi dapat dikatakan kejadian itu merenggut Yunho-nya yang dulu. Tidak bisa digambarkan betapa sakit hati dan kecewanya Yoomi saat Yunho terbangun dan menatapnya dengan ngeri, bahkan mungkin jijik. Tetapi hal itu sama sekali tidak membuatnya membenci Yunho, namun jujur saja ia sudah hampir akan menyerah untuk mempertahankan Yunho sebagai calon suaminya. Jika bukan karena Tuan dan Nyonya Jung, dan juga Jihae, maka Yoomi mungkin sudah memutuskan untuk pergi saja dan membiarkan Yunho hidup tenang tanpa keberadaannya.

Kini Yoomi mengusap jemari Yunho dengan sangat berhati-hati, seolah Yunho akan segera terbangun dan mengusirnya jika ia sampai membangunkannya dari tidur. Wajah Yunho tampak sangat damai saat ini, namun hati Yoomi tetap gusar. Ia takut kalau Yunho tanpa sengaja terbangun dan melihatnya, maka keadaan Yunho akan segera memburuk.

Sudah cukup lama memang Yunho melakukan terapi bersama tim ahli kedokteran jiwa. Dan pihak dokter sudah menginformasikan bahwa keadaan Yunho sudah berangsur-angsur membaik. Bahkan Yunho sudah sepenuhnya menerima beberapa orang, dan tidak menganggap bahwa semua orang adalah penculiknya yang sedang menyamar.

“Ugh…”

Yoomi tersentak oleh suara Yunho, ia melihat ke arah wajah tertidur Yunho yang sepertinya sedang dilanda mimpi buruk. Yoomi bermaksud untuk membangunkan Yunho, namun ia tidak berani. Apa yang sedang kau pikirkan Yunho?

***

Bayangan-bayangan itu semakin jelas terpampang dalam ingatannya. Yunho kembali bisa merasakan rasa sakitnya disiksa dengan benda tumpul, diikat di gedung kosong, tidak diberi makanan ataupun minuman selama lebih dari 24 jam. Ia samar-samar mengingat suara orang itu. Seseorang dengan hoodie, suaranya agak lirih setiap kali ia mengajak Yunho berbicara. Namun dalam suara itu terdengar pula nada marah dan sedih. Orang ini sepertinya sangat membenci Yunho. Sepertinya Yunho telah merebut sesuatu hal yang amat berharga baginya. Namun Yunho tidak bisa mengingat apa sebenarnya yang sudah ia rebut.

Semakin jelas ingatan itu saat ini. Ia mengingat orang itu menunjukkannya sebuah foto. Itu adalah foto keluarganya, dan juga Yoomi. Apakah orang itu mencemburui kehidupannya? Tapi apa yang telah ia renggut? Apakah Yoomi? Apakah itu adalah orang yang menginginkan Yoomi?

Sesaat kemudian Yunho terbayang wajah Yoomi yang manis. Ia mulai mengingat Yoomi lagi. Wanita yang sangat ia cintai. Ternyata Yoomi bukanlah penculiknya yang sedang me-nyamar. Yoomi adalah hidupnya. Lalu apakah orang itu ingin mengambil Yoomi darinya?

Cuplikan-cuplikan penuh hal traumatis itu kini sudah mulai menjadi nyata dalam ingatannya. Yunho melihat wajah penculiknya. Ya, itu dia. Seseorang dengan wajah dingin, bibirnya agak pucat namun sedikit merah muda… dan kaku. Matanya… Yunho ingat matanya. Sepasang mata yang sendu, teduh namun juga sangat tajam. Mata yang memandangnya penuh rasa dendam. Mata siapa itu? ya Tuhan… siapa orang itu?

Dan lagi, bayangan itu akhirnya sepenuhnya jelas. Yunho melihat wajah orang itu beberapa detik dalam ingatannya. Ia mengenalinya. Wajah itu. wajah yang sudah dilihatnya. Yunho bahkan bisa mendengar wajah dingin itu berbicara padanya.

 Aku hanya ingin mengambil semua yang telah kau rebut dariku.

***

Yoomi sudah tampak semakin khawatir. Sepertinya mimpi buruk itu sangat menyiksa Yunho. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Ia lalu menggenggam erat tangan Yunho. Pria yang kini terbaring di depannya tampak mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya. Yoomi merasa jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Ia bingung harus bagaimana. Apakah ia harus bersembunyi agar Yunho tidak melihatnya? Tetapi bagaimana kalau Yunho membutuhkan bantuan?

Belum sempat Yoomi memutuskan, tiba-tiba ia melihat Yunho membuka kedua matanya dengan amat pelan. Pandangan mereka bertautan untuk beberapa saat. Yoomi benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin setelah ini Yunho akan mengusirnya lagi.

“Yoomi…” suara letih Yunho berhasil membuat Yoomi tertegun.

Apakah ia mengingatku? Batin Yoomi. “Y-ya? Kau perlu aku panggilkan perawat?” tanya Yoomi sambil bermaksud melepaskan genggamannya. Namun ternyata Yunho justru mempererat genggaman itu. Jemari kekarnya menahan Yoomi menjauh.

“Tidak perlu. Aku perlu kau saat ini.”

“Yunho…” saat itu Yoomi merasa mungkin saja ia salah dengar.

Yunho kemudian tersenyum. Senyuman yang sudah lama dirindukan Yoomi. “Maafkan aku, Yoomi. Aku sudah tidak mempercayaimu selama ini.” Yunho berhenti sejenak, dan Yoomi hanya bisa memandang kekasihnya itu dengan perasaan tak tergambarkan. “Kau memang tidak mungkin berniat jahat padaku.”

“Yunho, aku sangat senang kau sudah kembali,” tangis Yoomi pun pecah, ia memeluk Yunho dan menuangkan semua kerinduannya. Ia sangat takut Yunho tidak akan pernah kembali. Yunho pun mengelus rambut panjangnya dengan pelan, membiarkannya menjadi sandaran Yoomi kali ini. Sungguh, ia benar-benar mencintai Yunho. “Ah, aku harus segera memberitahu semua orang mengenai kabar baik ini!” pekik Yoomi kemudian.

Bisa kau beritahu Yoochun juga? Aku sangat perlu bertemu dengannya.”

***

Yoochun baru saja melewati sebuah papan penunjuk jalan ketika berbelok kiri. Jalan yang ia lewati tidak seramai jalan utama. Ia menurunkan kecepatan mobil yang di kemudikannya, matanya mulai menyusuri setiap nama toko yang tertera di sepanjang jalan.

Saat ini ada dua hal yang perlu dilakukannya untuk mencari kebenaran dibalik kasus yang ditanganinya, yaitu mendapatkan memori ingatan Changmin yang hilang dan menelusuri bagaimana pelaku mendapatkan Janis Thorn. Yoochun ingat ketika Seulgi mengatakan bahwa obat itu harus dilaporkan stok maupun jumlah yang terjual kepada Korean Pharmaceutical Association –Asosiasi Farmasi Korea–  setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyalahgunaan obat.

Setelah makan siang, Yoochun menghubungi Asosiasi Farmasi Korea untuk meminta data. Pihak Asosiasi mengatakan bahwa Janis Thorn terjual di 2 apotek yang berbeda dalam kurun waktu 6 bulan, hal ini cocok dengan waktu kematian Kim Seokjin.

Salah satu dari 2 apotek itu berada di Daejeon dan di sinilah Yoochun saat ini.

Mobilnya berhenti ketika melihat tulisan “Olive Young” pada salah satu toko obat bercat putih. ia segera memarkirkan mobilnya.

Yoochun menatap wilayah disekitarnya, lokasi apotek ini cukup jauh dari KAIST ataupun Korean University. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk menemukan tempat ini.

“Selamat datang,” sapa penjaga apotek. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Park Yoochun,” kata Yoochun sambil menunjukkan lencana detektifnya, “Saya ingin meminta keterangan anda, Ahn Heeyeon.” Kata Yoochun saat membaca tanda pengenal yang dikenakan oleh apoteker yang saat ini menjaga toko.

Gadis yang dipanggil Ahn Heeyeon itu segera mempersilahkan Yoochun untuk masuk ke dalam kantor yang berada di sebelah ruangan apoteker. Tidak mungkin Heeyeon memberikan keterangan kepada detektif didepan semua konsumen yang berada di apotek. Ia meminta temannya untuk mengantikannya menjaga toko.

“Apa yang bisa saya bantu?” katanya ramah, ia tersenyum walaupun ada rasa penasaran mengapa seorang detektif datang ke apotek dan ingin meminta keterangannya.

“Saya mendapatkan informasi bahwa apotek ini menjual Janis Thorn 3 bulan yang lalu. Apakah anda ingat menjualnya kepada siapa?” kata Yoochun memulai meminta keterangannya. Ia meletakkan foto Junsu dan Jaejoong di meja. “Apakah salah satu diantara mereka?”

Heeyeon terdiam sebentar, berusaha mengingat-ingat. Matanya bergantian menatap wajah Junsu dan Jaejoong dalam foto, “Aku yang melayaninya pada saat itu, jadi tentu saja aku mengingatnya, karena Janis Thorn adalah obat yang jarang dibeli dan ada aturan ketat dalam penjualannya. Pria itu mengenakan topi pada saat datang kemari, tapi sepertinya pria ini yang membelinya.”

Bukti ini masih belum cukup kuat untuk menunjukan siapa pelakunya.

“Kau bilang ada aturan ketat dalam penjualannya, apakah kau memiliki salinan resep atau hal-hal yang berkaitan dengan itu?” tanya Yoochun.

“Tentu saja ada, tunggu sebentar,” kata Heeyeon seraya bangkit dari duduknya. Butuh waktu beberapa menit untuk mencari selembar kertas diantara tumpukan-tumpukan kertas lainnya, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam folder. “Kami menyalin informasi ke dalam bentuk digital. Tapi sepertinya ini akan lebih berguna. Ini resep yang digunakan pria itu saat membeli Janis Thorn.”

Yoochun membaca nama pasien dalam resep itu, pupil matanya melebar ketika membaca nama yang tertera dalam resep.

“Bisakah aku melihat cctv dari apotek ini?”

“Ah, maaf. Tapi apotek ini memiliki cctv yang sudah tua jadi kami menghapus rekaman cctv setiap sebulan sekali,” kata Heeyeon. “Tapi di depan toko ada cctv yang dipasang oleh perusahaan induk. Kau bisa meminta salinan copy dari sana.”

“Terima kasih atas kerja samanya,” kata Yoochun sambil membungkukkan badannya lalu pamit.

‘Kim Junsu, bagaimana lagi kau akan menyangkal bukti ini’ batin Yoochun


***

Yoochun baru saja memperoleh konfirmasi dari Dokter yang menuliskan resep itu. Dokter itu mengatakan memang benar bahwa Kim Junsu adalah salah satu pasiennya.

“Kim Junsu, dia adalah salah satu pasienku. Dia didiagnosa menderita Cluster Headche –sakit kepala cluster– sejak 4 tahun yang lalu. Sudah 2 tahun terakhir ini dia berhenti mengkonsumsi Janis Thorn, tetapi beberapa bulan yang lalu dia datang dan memintaku untuk menuliskan resep itu lagi, karena sakit kepalanya mulai muncul,” kata sang Dokter.

Dari kesaksian dokter itu dapat dipastikan bahwa Junsu akan menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Kim Seokjin.

“Detektif Park, surat penangkapan yang kau minta sudah terbit!” seru Kyuhyun.

***

Jihoon menatap Jaejoong yang duduk di hadapannya. Wajahnya sangat kurus dan dia terlihat sangat lesu, seperti sebagian harapan hidup telah direnggut darinya.

“Bersemangatlah sedikit,” saran Jihoon. “Setidaknya kau bisa berpura-pura bahagia, karena temanmu ini datang menjenguk.”

Jaejoong hanya menarik ujung bibirnya. Ia membalas tatapan Jihoon yang berusaha untuk tidak terlihat khawatir. Tapi bagaimanapun juga hanya Jihoon yang masih peduli kepadanya saat ini. Setelah kejadian di kamarnya waktu itu, ia yakin bahwa Junsu akan membencinya.

Menjadi hal yang biasa ketika Jaejoong ditinggal oleh temannya, sifatnya yang cuek dan terkesan dingin menyebabkan ia jarang memiliki teman dekat. Ia mulai berhenti menghitung orang yang hilang didalam kehidupannya sejak berumur 12 tahun.

Tiba-tiba sebuah kenangan muncul dalam pikirannya. Seperti sebuah film lama yang diputar ulang. Potongan-potongan gambar itu terasa begitu nyata. Sebuah kenangan pertama tentang kehilangan.

Jaejoong kecil sedang bermain mobil-mobilan di pemakaman. Ia tidak menyadari keadaan saat itu adalah awal dari perjalanan hidupnya yang pahit. Seorang wanita berjalan mendekat dan memeluknya. Dalam pelukan yang erat, wanita itu menangis menumpahkan segala kesedihan atas kehilangan orang yang disayanginya. Pada hari itu Jaejoong kehilangan Ayahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jihoon sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Jaejoong.

“Ya, tentu saja,” jawab Jaejoong berbohong. Ia memejamkan matanya beberapa saat untuk menghilangkan bayangan itu.

Diam sejenak.

“Aku tidak menyangka kau bisa menjadi tersangka dalam kasus yang berbelit seperti ini,” kata Jihoon, “tapi mereka sudah menemukan tersangka utama, kau akan segera dibebaskan.”

“Kau meretas database kepolisian?” tanya Jaejoong curiga.

“Pelankan suaramu, aku tidak ingin dipenjara hanya karena menembus pertahanan mereka yang lemah,” kata Jihoon sambil memperlihatkan deretan giginya. “Aku hanya melihat beberapa file yang tingkat rahasianya tidak terlalu tinggi. Tidak seperti seseorang yang kukenal.”

Jaejoong tersenyum, “aku hanya sedikit bersenang-senang.”

“Kau pikir aku akan percaya?”

“Terserah kau saja,” jawab Jaejoong tidak peduli

Raut wajah Jihoon kini mulai serius, ia memajukan badannya. “Kau sudah mememukan orang yang kau cari?”

Jaejoong menganggukkan kepalanya, “belum lama ini.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Jaejoong hanya kembali tersenyum.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar