Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (7)



Jam tangannya menunjukkan pukul 20:50, Yoomi membuka pintu apartemennya dengan tak sabar dan segera melepaskan sepatunya. Ia begitu lelah hari ini, setumpuk tugas akhir telah membuatnya jarang pula bertemu dengan Yunho. Sebenarnya Yoomi ingin sekali langsung menghempaskan dirinya di tempat tidur dan beristirahat, namun deadline membuatnya masih harus terjaga sampai tengah malam nanti.

Ia pun melepaskan seluruh pakaiannya dan mulai berendam air hangat di bath tub. Tubuhnya merasa lelah walaupun ia tidak melakukan pekerjaan berat. Yoomi memejamkan matanya, sejenak melupakan kepusingannya mengenai berbagai urusan kuliah. Namun tiba-tiba dalam lamunannya ia teringat Junsu—teman pertamanya. Bagaimana kabarnya dia? Yoomi teringat saat pertemuannya dengan Junsu di pameran robot. Ia sangat khawatir Junsu akan memaki-makinya di depan Yunho. Namun ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Junsu masih begitu baik dan peduli padanya, walaupun Yoomi tahu rasa kecewa itu pasti ada dalam hati Junsu. Ia pun diam-diam merindukan sosok Junsu, dan diakui atau tidak, Yoomi tidak pernah benar-benar melupakannya. Pria yang mungkin saja adalah teman sekaligus cinta pertamanya.

Setelah selesai mandi, Yoomi segera memakai pakaian tidurnya. Ia merasa matanya tidak bekerjasama untuk tetap terjaga. Namun jika ia mengikuti keinginan tubuhnya untuk tidur, maka semua tugas yang menumpuk akan menjadi berantakan. Jadi Yoomi mengambil sebuah permen kopi dan mulai mengulumnya, setidaknya itu akan mengurangi sedikit kantuknya. Ia lalu mengaktifkan ponselnya yang sudah mati sejak masih di jalan karena kehabisan baterai. Betapa kagetnya Yoomi saat melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari kedua orangtua Yunho dan juga Jihae. Apa yang terjadi?

Dengan khawatir Yoomi mulai menekan nomor Jihae, ia tidak berani menelpon kedua orang tua Yunho karena waktu sudah cukup malam.

“Unnie!” jerit Jihae di ujung sana.

“Ada apa, Jihae? Maafkan unnie, ya. Sejak tadi sore ponselnya kehabisan baterai.”

“Apakah Yunho oppa bersama unnie?” serang Jihae tak peduli dengan ucapan maaf Yoomi.

Pertanyaan Jihae membuat perut Yoomi bereaksi. “Tidak… hari ini kami tidak bertemu. Ada apa?” Yoomie tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Yunho oppa tidak bisa dihubungi, kami sudah menanyakan ke kantornya dan katanya dia sudah pulang sekitar jam 6 sore . Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, jika akan pulang telat pun dia pasti memberi kabar. Makanya aku kira mungkin saja dia bersamamu.” Jihae berhenti sejenak. Samar-samar Yoomi mendengar bahwa Jihae menangis. “Unnie, kita harus mencari Yunho oppa…”

“Kapan terakhir kali kau menghubunginya? Kau sudah mencoba menghubungi semua teman-nya? Siapa tahu ponselnya rusak dan kendarannya mogok.” Yoomi mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang mulai muncul dalam kepalanya.

Jihae kembali terisak. “Aku mencoba menelponnya setiap menit… appa dan umma pun sudah mencoba bertanya pada beberapa temannya. Namun mereka sebagian besar menjawab tidak bertemu Yunho oppa hari ini.”

Tangis Yoomi pun jatuh begitu saja, kini ketakutannya mulai memuncak. “Jihae, kau tenang dulu yah, unnie akan mencoba menghubungi Yunho dan bertanya ke teman-temannya yang unnie kenal.”

Jihae pun mengiyakannya, lalu Yoomi menghentikan obrolan itu dengan alasan Jihae harus segera beristirahat. Namun sebenarnya ia menutup telepon karena tak bisa lagi menahan tangisannya, dan ia tak boleh menangis di depan Jihae karena akan membuat Jihae semakin khawatir. Yoomi lalu menekan nomor Yunho dengan tangan gemetar, ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri saat menunggu jawaban dari Yunho. Tetapi suara operator di ujung sana mematahkan harapannya dengan menjelaskan bahwa nomor itu tidak aktif. Berapa kalipun Yoomi mencoba, hasilnya tetap sama. Wajahnya kini benar-benar dipenuhi air mata, lalu ia membuka kembali SMS terakhir yang dikirim Yunho.

16:25 Aku harus menemui rekan kerjaku yang baru.

Lalu Yoomi membalasnya.

16:32 Baiklah, hari ini aku juga ada jadwal sampai sore.

Setelah itu Yunho tidak membalas lagi. Ia tidak terlalu mempermasalahkannya tadi sore karena memang banyak hal yang harus ia kerjakan di kampus. Yoomi merasakan dadanya berdebar lebih keras. Siapa rekan kerja Yunho yang baru?

***

Daftar nama tersangka yang sudah dibuat tempo hari kini sudah mulai memendek. Yoochun sudah menghapus nama beberapa orang dari daftar itu karena terbukti tidak terlibat. Kini ia dan tim-nya masih mengawasi Kim Junsu, kedudukannya sebagai saksi dapat berubah menjadi tersangka kapanpun kepolisian berhasil menemukan bukti. Kim Junsu menghentikan wawancara secara sepihak kemarin, dan hal ini justru membuat dirinya semakin dicurigai. Kini mejanya sudah tampak semakin berantakan dengan kertas-kertas dan hasil pemeriksaan para korban. Ia merasa sakit kepala akhir-akhir ini karena memikirkan kasus pembunuhan yang sepertinya tanpa motif. Ia sangat khawatir dalam waktu dekat akan terjadi kasus baru yang serupa. Sementara zat racun yang digunakan untuk membunuh korban yang pertama sampai saat ini masih belum teridentifikasi.

“Detektif, kami sudah mendapatkan gambarnya.” Kyuhyun masuk dengan sebuah kertas sketsa di tangannya. Yoochun memang memerintahkannya untuk kembali mendatangi pemilik asrama tempat tinggal Jisoo, dan menanyakan orang terakhir yang diajak Jisoo ke kamar asramanya. Kim Junsu dan Jun Jihyun memang menemui Jisoo pada hari itu, namun pemilik asrama mengatakan mereka berdua tidak datang ke asrama Jisoo. Dikatakan pula bahwa Jisoo sempat mengajak seseorang ke kamarnya 3 hari sebelum kejadian.

Yoochun menerima sketsa itu dan menatapnya. Wajah dalam gambar itu cukup tampan, dan tidak tampak mencurigakan sedikitpun. Ia menatap lagi gambar sederhana yang telah dibuat oleh saksi. Wajah itu tidak asing. Ia yakin ia pernah melihatnya di suatu tempat. Namun ia tak ingat kapan dan di mana. Yoochun memijit-mijit kepalanya yang menjadi semakin pusing. Ia meneguk lagi minumannya dan mencoba menenangkan pikirannya sejenak. Saat ia mulai memejamkan matanya, ia teringat akan seseorang.

“Pria itu...” katanya sambil tetap berpikir. “Dia yang pernah menumpang mobilku.” Gumam Yoochun dengan tetap berusaha mengingat-ingat. Kejadian itu belum lama, saat ia tak sengaja menyerempet sebuah sepeda motor, dan akhirnya mengantarkan pria itu pulang karena ada kerusakan pada sepeda motornya.

“Maaf, detektif?” Kyuhyun mengerutkan alisnya, ia tidak terlalu mendengar ucapan Yoochun tadi. Namun Yoochun tampak masih melamun beberapa saat.

“Kyuhyun, apakah nyonya pemilik asrama tahu sudah berapa kali orang ini datang?”

“Baru sekali, dan itupun tidak terlalu lama.”

Yoochun tampak tengah berpikir, lalu ia segera mengambil mantel dan kunci mobilnya.

“Tolong kau gantikan aku untuk wawancara saksi lain hari ini. Aku ada urusan penting.”

***

Jalanan tampak sepi saat Yoochun mengendarai mobilnya menuju pinggiran kota. Ia berusaha mengingat-ingat ke mana dulu ia mengantarkan pria itu. Rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan satu-persatu ia amati dengan seksama, ia agak ragu pernah melewati jalanan ini. Daerah ini tidak terlalu padat, lebih banyak kebun-kebun yang tampak dari jalan utama. Yoochun lalu memutuskan untuk bertanya pada orang-orang yang sedang melintas. Tetapi setelah 3 orang yang ia tanyai, semuanya menjawab tidak pernah melihat pria dalam sketsa itu. Yoochun mulai menyangka bahwa pria itu sengaja turun di tempat yang jauh dari kediamannya. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada satu orang lagi, jika orang ini pun tidak tahu, maka ia akan kembali ke kantor. Yoochun menghampiri seorang wanita setengah baya yang sedang berjalan dengan sebuah tas besar.

“Permisi, Bu.” Sapa Yoochun sambil membungkuk sopan. “Saya ingin bertanya, apa Ibu pernah melihat orang ini?” ia menyodorkan sketsa itu, lalu wanita di depannya tampak mengamati gambar itu beberapa saat.

“Saya tahu!” ujar wanita itu, membangkitkan harapan Yoochun yang sudah hampir lenyap. “Itu Jaejoong.”

“Nama lengkapnya?” Yoochun bertanya spontan, membuat wanita itu sedikit curiga. “Ah, maaf saya hanya memastikan.” Tambah Yoochun.

Wanita itupun tampak memikirkan sesuatu. “Kim Jaejoong sepertinya. Saya tidak yakin.”

“Dari mana Ibu mengenalnya?”

“Saya punya sebuah kedai makan di dekat sini, Jaejoong sering mampir.”

“Ibu tahu di mana dia tinggal?” tanya Yoochun lagi.

Ia pun mengangguk, lalu menunjukkan arah menuju ke sana. Yoochun sangat berharap wanita ini tidak membohonginya.

Lalu Yoochun menunjukkan sebuah lencana pada wanita itu. “Saya dari kepolisian, tolong jangan katakan pada Jaejoong bahwa saya menanyakannya padamu. Kau bisa berurusan dengan hukum jika itu terjadi.” Ucapan Yoochun membuat wanita itu terkejut, namun kemudian ia mengangguk menyetujuinya. “Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuanmu,” Yoochun menambahkan. Setelah itu ia kembali ke mobilnya dan mulai menyalakan mesin.

Yoochun terpaksa memberikan ancaman itu karena dia khawatir wanita itu akan menceritakan pada Jaejoong bahwa seseorang mencarinya. Jika Jaejoong adalah pelaku pembunuhan, maka bisa saja ia melarikan diri karena sudah tahu bahwa polisi akan menangkapnya. Kecuali jika ia memang sengaja ingin tertangkap. Yoochun menghela napas, menyadari bahwa pelaku pembunuhan ini sepertinya ingin menantang polisi. Tidak ada pelaku yang meninggalkan kode di TKP kecuali pelakunya ingin ditemukan, atau paling tidak, ada yang ingin ia sampaikan pada polisi melalui kode itu. Tugas penyidik lah untuk menerjemahkan apa makna dari kode-kode itu. Sejauh ini, tim penyidik mencurigai tanda “JK” yang selalu ada di kedua TKP adalah menyangkut inisial pelaku.

Beberapa rumah di pinggir jalanan itu membuatnya teringat kembali bahwa memang ini jalan yang dulu ia lewati. Saat sebuah rumah tampak di depan matanya, dengan tak sabar ia segera memarkir mobilnya. Jika mengikuti petunjuk wanita tadi, maka inilah kediaman Jaejoong. Tempat ini memang kost pria. Ia mengamati halaman depan rumah yang dihiasi tanaman-tanaman hias. Suasananya begitu menenangkan, dengan beberapa pohon rindang dan sebuah pancuran air sederhana di tengahnya. Namun sepertinya rumah kost itu sedang sepi, tidak tampak orang-orang yang berlalu lalang. Yoochun memarkir mobilnya di tempat yang tidak mudah terlihat jika ada orang yang bermaksud masuk ke dalam rumah itu, namun dalam posisinya saat ini ia tetap bisa memantau siapa saja yang keluar-masuk di sana.

Dengan sabar Yoochun menunggu dan berharap Jaejoong akan muncul. Namun setelah hampir satu jam ia di sana, tak ada tanda-tanda keberadaan Jaejoong. Memang ada beberapa pria yang keluar-masuk rumah itu, namun Yoochun yakin betul tidak ada Jaejoong di antara mereka. Ia masih cukup hafal sosok Jaejoong. Kantornya sudah beberapa kali menelpon dan menanyakan kapan ia kembali, tapi Yoochun masih penasaran dengan Jaejoong. Ia pun memutuskan untuk menunggu 10 menit lagi, jika Jaejoong belum juga muncul, maka ia akan kembali lagi besok. Mungkin saja Jaejoong sedang berada di dalam sana ketika Yoochun tiba, sehingga dia tidak keluar rumah. Sedangkan Yoochun tidak ada waktu untuk menunggu terlalu lama karena pekerjaannya yang lain harus ia selesaikan. Tadinya Yoochun masih berharap Jaejoong mungkin akan keluar untuk membeli makan, tapi bisa saja ia memilih untuk memesan makanan, sebab dari tadi sudah 2 kali pengantar makanan datang ke rumah itu.

Yoochun memandang jam tangannya lagi. Sudah hampir 10 menit. Tetapi kemudian sebuah cahaya lampu membuat harapannya kembali muncul. Ia memerhatikan sepeda motor yang baru saja memasuki gerbang rumah itu. Yoochun memicingkan matanya untuk memastikan apakah itu benar-benar Jaejoong. Ia datang bersama seorang temannya dan sudah mulai berjalan masuk ke rumah setelah memarkir motor. Mereka berdua terlihat sedang mengobrol.

Kemudian ia memandangi lagi sketsa wajah di tangannya. Pria di sana benar-benar Jaejoong.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar