Setumpuk data mengenai
ketiga kasus dan beberapa foto tersangka tampak memenuhi meja kerja Yoochun. Di
saat penyelidikannya sudah hampir menemukan titik terang, satu-satunya orang
yang bertemu langsung dengan si pelaku dan masih bertahan hidup kini tak bisa
mem-berikannya informasi. Yoochun baru saja mendapat kabar bahwa Yunho
mengalami kelainan dengan ingatannya. Hal itu jugalah yang membuatnya ketakutan
pada Yoochun saat tempo hari ia menjenguknya. Yoochun memandangi beberapa
tulisan tangan yang dibuat oleh orang-orang yang berpotensi sebagai tersangka.
Dari semua itu, tulisan Changmin adalah yang paling rapi. Bahkan tulisannya
mirip seperti font di komputer.
Korban terakhir yang
tewas yaitu Yoo Seungho telah mendatangkan banyak calon tersangka baru. Korban
adalah orang yang suka mendominasi, dan hal itu menyebabkan banyak orang yang
tidak menyukainya. Namun Kim Junsu yang saat ini sedang dalam pengawasan ketat
mengaku tidak mengenal korban. Kini kecurigaannya mulai terarah pada Kim
Jaejoong, karena dari hasil penyelidikan, tulisan tangan Kim Jaejoong adalah
yang paling mirip dengan bukti di TKP. Selain itu, dari seluruh tersangka yang
sudah ada sebelumnya, hanya Jaejoong yang berasal dari KAIST, meskipun ia tidak
mengenal korban. Namun posisinya sebagai tersangka juga tidak kuat, karena dia
tidak memiliki hubungan dengan Yoo Seungho.
Yoochun membaca hasil
penyelidikan dengan seksama, rupanya cctv yang mengarah ke kamar apartment
Seungho sudah dirusak oleh pelaku. Selain itu diketahui bahwa korban mengalami
keracunan Endosulfan dari makanan yang dipesannya dari restoran apartment. Koki
yang memasak sudah diperiksa dan dari rekaman cctv di dapur tidak ditemukan
bukti bahwa koki tersebut memasukkan suatu racun ke dalam makanan korban.
Diduga racun di-masukkan oleh pelaku dengan cara menyelinap terlebih dahulu ke
dalam kamar korban. Hal ini memperberat kecurigaan Yoochun pada Jaejoong yang
seorang programmer. Karena kunci agar
dapat masuk ke kamar itu adalah dengan menempelkan kartu yang sudah memiliki
kode tertentu. Seorang programmer
tentu tidak akan kesulitan untuk memodifikasi kode itu.
“Detektif, Yeon Junghoon
sudah mengkonfirmasi bahwa ia pernah melihat Shim Changmin.” Ucap Yoona yang
baru saja tiba.
“Apakah dia ingat kapan
Shim Changmin menaiki taksinya?”
“Itu dia masalahnya. Dia
tidak ingat kapan tepatnya bertemu dengan Shim Changmin.”
***
Tangan Jaejoong tampak
sibuk memasukkan snack ke dalam
mulutnya. Ia baru saja selesai membuat kerangka robotnya sendiri yang akan
dihadiahkan untuk ibunya. Kini ia sedang ber-ada di rumah Junsu, menonton tv
sambal bersantai di sofa. Jaejoong memandangi Changmin yang juga berada di
sana. Sosok tinggi kaku yang ada di depannya itu tidak bicara apa-apa sejak
sekitar 15 menit yang lalu. Junsu sedang mandi saat ini, jadi Jaejoong terpaksa
harus melewati saat-saat canggung bersama Changmin yang ia tahu bukan manusia.
“Hei,” tegur Jaejoong
iseng. Changmin hanya meliriknya tanpa menggerakkan kepala. “Kau tidak mau
makanan ini?” Jaejoong sengaja ingin mengetahui bagaimana reaksi Changmin. Jika
ia benar-benar robot, maka ia memang takkan pernah memakannya.
“Aku tidak lapar,” ucap
Changmin sambil tersenyum dingin.
Jaejoong mencoba mencari
ide lain. “Kau bisa melakukan ini?” tanyanya, ia memutar mata-nya sehingga
terlihat juling.
“Tidak bisa,” jawab
Changmin lagi.
“Kau akan ikut atau
tidak?” tanya Junsu yang baru muncul dari kamar. Ia sudah rapi dan wangi. Belum
pernah Jaejoong melihat Junsu berpakaian seperti itu.
“Menengok Yunho? Hmm
bagaimana ya.” Jaejoong berpikir sebentar. Ia sudah tahu Yunho adalah orang
yang paling dicemburui Junsu karena bisa mendapatkan Yoomi. Setelah pulang dari
pameran waktu itu, Junsu memberitahunya mengenai masa lalunya dengan Yoomi.
Baru kali itu Jaejoong merasa Junsu sungguh menyayangi seorang wanita.
“Cepatlah.” Tegur Junsu
yang sudah memakai sepatunya, Changmin pun kali ini akan ikut.
“Baiklah aku ikut.” Ucap
Jaejoong kemudian.
***
Tidak ada yang bisa
dilakukan Yoomi saat ini. Ia hanya bisa memandangi Yunho dari balik pintu kaca.
Yunho sedang ditemani Jihae karena Tuan dan Nyonya Jung baru akan menyusul
nanti malam untuk menggantikan menjaga Yunho. Sebenarnya Yoomi ingin sekali
menemani Yunho di sana. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena keberadaannya
hanya akan memperburuk kondisi Yunho. Selama beberapa hari Yoomi memikirkan ke
mana Yunho menghilang, dan kelegaannya tak tergambarkan saat Yunho akhirnya
ditemukan. Namun kenyataan berkata lain. Yunho nya yang dulu ternyata tidak
pernah kembali.
“Yoomi.” Sebuah suara
membuat Yoomi tersentak. Ia mengenali suara itu. Suara Junsu. Ditatapnya Junsu
yang berdiri sambil membawa sebuah parsel buah. Betapa ia ingin memeluk Junsu
saat itu dan menumpahkan semua kesedihannya. Namun apa haknya saat ini? Junsu
tak pernah mencintainya lebih dari seorang teman lama.
“Kau datang menjenguk
Yunho?” ucap Yoomi sangat pelan. Ia melongok pada kedua orang yang ternyata ada
di belakang Junsu. Salah satu di antara mereka serasa sudah dilihatnya.
“Aku datang bersama
Changmin dan Jaejoong.”
“Changmin?” gumam Yoomi.
Ia ingat bahwa Changmin adalah rekan kerja Yunho, sekaligus orang terakhir yang
bersama Yunho sebelum kejadian itu. Namun sepertinya ia tidak terlibat dalam
hal ini, karena polisi tak pernah membawa-bawa namanya lagi. Dan Jaejoong… pria
yang juga bersama Junsu saat di pameran robot.
“Boleh kami bertemu
Yunho?” tanya Junsu kemudian.
Yoomi berusaha menahan
air matanya. “Silakan, tapi jika dia tak ingin bertemu kalian, tolong jangan
dipaksakan.”
Junsu mengernyitkan
dahinya, tak paham dengan maksud Yoomi. Lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam
ruangan itu. Yoomi masih tetap menunggu di depan pintu dengan tidak tenang, ia
sangat khawatir Yunho akan mengamuk.
“Hai, Boss.” Ucap
Changmin saat berada di dalam ruangan itu. Jihae tampak membisikkan sesuatu ke
telinga Yunho, sepertinya membujuk agar Yunho tidak ketakutan.
“Bagaimana keadaanmu?”
tanya Jaejoong yang berdiri di sebelah Changmin. “Kau masih ingat padaku kan?”
Namun Yunho tidak
menjawab pertanyaan itu. Ia menatap mereka bertiga tanpa berkedip. Junsu sepertinya
tidak tertarik untuk bicara, ia masih membayangkan wajah sedih Yoomi. Namun
kemudian ia pun merasa ada yang aneh dengan Yunho, rahangnya seperti kaku
tiba-tiba. Apa yang terjadi? Dan kini Jihae sepertinya sudah bersiap memanggil
perawat kalau-kalau Yunho mengamuk lagi. Junsu menoleh sebentar pada Yoomi yang
mengintip dari luar kamar. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Baru saja Junsu
akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Yunho membuka suaranya.
“Aku akan membawamu ke
penjara.”
***
Jaejoong berjalan keluar dari
ruang kuliah sore itu. Pikirannya masih mengingat-ngingat kejadian kemarin saat
mereka menjenguk Yunho. Setelah Yunho meneriakan kalimat itu, seisi ruangan
mulai heboh. Jihae berusaha menenangkan Yunho dengan mengatakan kalau mereka
bukan orang jahat, lalu seorang perawat masuk dan meminta mereka untuk keluar
ruangan. Ia tidak menyangka bahwa Yunho akan mengatakan kalimat itu.
“What’s up, Bro?” Seru Jihoon yang entah muncul dari mana sambil
meletakan tangannya pada bahu Jaejoong.
“Kau belum makan malam kan? Ayo
aku traktir makan.” Ajak Jaejoong tanpa memperdulikan sapaan dari Jihoon sebelumnya.
Jihoon mengerutkan keningnya,
curiga. “Ada apa nih? Biasanya kalau tidak diminta, kau tak
pernah traktir.”
“Ya sudah kalau tidak mau.” Kata Jaejoong berniat pergi tetapi Jihoon menghentikannya sebelum itu terjadi.
“Siapa yang bilang tidak mau.
Ayo!”
Mereka berdua bergegas ke salah
satu tempat makan. Jam makan malam membuat tempat itu cukup ramai oleh orang-orang
yang kelaparan. Jaejoong mengeluarkan ponselnya, tapi ia tidak berniat untuk
menyalakan layar ponselnya. Ia menggunakannya sebagai cermin untuk melihat
orang dibelakangnya. Ia tersenyum tipis.
“Kau tidak mau makan?” tanya
Jihoon saat pesanan mereka tiba. Tetapi Jaejoong bahkan tidak menyadari itu.
Jaejoong menjawab kalimat pertanyaan itu dengan mengambil sumpit dan mulai
makan.
Mereka berdua terdiam. Hanya
terdengar suara-suara orang mengbrol dan dentingan ketika sendok menyentuh
piring. Setelah itu mereka berniat untuk pulang. Matahari telah terbenam sejak
beberapa jam yang lalu. Walaupun langit cerah tapi angin dingin mulai
menyerang. Bis yang mereka naiki berhenti di salah satu halte. Tinggal 2 belokan lagi sebelum mereka
sampai di kost.
“Apa yang kau inginkan?” kata
Jaejoong tiba-tiba berhenti. Jihoon yang berada disebelahnya terlihat bingung.
“Berhentilah mengikutiku!”
“Ya! kost kita sama, bagaimana
bisa kau bilang aku mengikutimu?” tanya Jihoon tak percaya. Ia menduga bahwa
Jaejoong saat ini sedang ngelindur.
“Aku bukan berkata padamu,
Jihoon.” Kata Jaejoong datar.
“Kau menyadarinya?” tanya
seseorang dari belakang.
Jihoon menoleh, tampak kaget. “Ah
Detektif yang waktu itu.” Sapanya sambil membungkuk hormat. “Selamat malam.”
Jaejoong segera membalikan
tubuhnya, menatap balik Yoochun. “Detektif Park.” Sapanya.
“Hei, Jaejoong. Kejahatan apa
yang telah kau perbuat hingga di awasi oleh seorang detektif?” tanya Jihoon
setengah berbisik. Tetapi Jaejoong yakin bahwa Yoochun juga mendengarnya. Jihoon
menepuk keningnya, “Astaga, apa yang kupikirkan. Kau bahkan tak sanggup melihat
kucing liar yang kelaparan.”
“Bisakah aku berbicara berdua saja
dengan Jaejoong?” tanya Yoochun.
“Ah, tentu saja Detektif Park.”
Jawab Jihoon, kemudian ia melirik Jaejoong. “Aku pulang duluan. Kalau kau butuh
sesuatu, kau bisa menghubungiku. Baiklah, sampai jumpa lagi!” lalu tubuh Jihoon
menghilang dibalik sudut jalan yang gelap.
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
tanya Jaejoong tak peduli. “Hari ini aku sedikit lelah. Jadi cepatlah!”
“Kau ingin minum?” tawar Yoochun.
“Bagaimana seorang detektif
sepertimu minum saat sedang bertugas.”
“Aku sedang tidak bertugas. Hanya
ingin berbicara padamu.”
Mereka berdua menuju kedai
pinggir jalan terdekat. Memesan sebotol soju dan camilan malam. Yoochun
menuangkan soju ke gelas Jaejoong dan gelasnya sendiri, lalu meminumnya sekali
teguk.
“Aku penasaran orang seperti apa
kau ini.” kata Yoochun membuka percakapan.
Jaejoong menatap Yoochun bingung.
“Maksudmu?”
“Aku sedang menyelidiki kasus
yang tak ada hubungannya denganmu. Tapi entah mengapa kau sedikit
mencurigakan.”
“Kau punya bukti bahwa aku
melakukan kejahatan?”
“Tidak.”
“Lalu mengapa kau mencurigaiku?”
Yoochun bergumam sebentar sebelum
menjawab, “Insting?”
“Kau pasti sudah gila,” ejek
Jaejoong. “Apa segelas alkohol sudah membuatmu sangat mabuk?”
Yoochun terdiam. Tim detektif
saat ini tidak hanya mencurigai Jaejoong, tapi juga Junsu dan Changmin.
Walaupun tersangka memiliki inisial ‘JK’ tapi jika dilihat dari pola
kejahatannya seperti bukan dilakukan oleh satu orang. Entah mengapa ketika 1
orang memiliki alibi pada kasus pertama selanjutnya pada kasus kedua ia tidak
memiliki alibi. Orang ke-2 yang tidak memiliki alibi pada kasus pertama tapi
memiliki alibi pada kasus kedua dan ketiga. Begitu seterusnya.
“Kau tidak berniat mencari orang
tuamu?” tanya Yoochun tiba-tiba membuat raut wajah Jaejoong berubah.
“Kau pasti sudah membaca profilku
Tuan detektif.” Sindir Jaejoong. “Tapi kita bukan teman. Jadi kita tak perlu
membahas masalah ini.”
“Maaf jika ucapanku
menyinggungmu.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar