Suara
TV tampak terdengar di seluruh rumah, waktu menunjukkan pukul 9 pagi namun
belum ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Tak lama kemudian seorang pria
muda keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk, dia menguap sebentar lalu
menatap jam dinding. Sudah siang rupanya,
renungnya dalam hati. Pria itu nampaknya hanya tinggal sendiri bersama
dengan banyak pakaian yang tergeletak di sofa ruang tamu. Namun hal itu sama
sekali tak mengganggunya, ia membuat sebuah sereal dan duduk di sofa bersama
pakaian-pakaian yang berserakan. Sambil menyantap sereal kesukaannya, ia
menonton tayangan kartun di TV tua itu. Acara TV di minggu pagi. Sungguh
menyenangkan.
“Junsu!”
sebuah suara teriakan datang bersamaan dengan ketukan keras di pintu rumahnya
yang terbuat dari kayu usang. Junsu tidak perlu melihat ke luar untuk mengenali
siapa yang ada di balik pintu, dia sudah hapal betul dengan suara itu.
Dengan
malas Junsu membukakan pintu, didapatinya seraut wajah sendu dengan kedua bola
matanya yang berwarna coklat madu tengah menatapnya dengan senyum tulus.
“Masuklah.”
Ujar Junsu singkat, dia kembali duduk di posisinya dan menyantap serealnya.
“Apa
kau tidak pernah diajarkan untuk membereskan rumah?” ujar Kim Jaejoong, dia
hampir tak percaya Junsu memiliki pakaian bersih setelah melihat kondisi ruang
tamunya yang dipenuhi pakaian kotor. Jaejoong bertemu dengan Junsu pada suatu
kejuaraan Robot internasional. Saat itu Jaejoong mengikuti kejuaraan hanya
untuk coba-coba, dia memang sangat minat untuk membuat robot. Namun ilmunya
dalam bidang itu memang masih sangat kurang, sehingga ia tak mampu bertahan
lama dalam kejuaraan itu. Namun selama ia mengikuti pelatihan, ia bertemu
dengan Junsu yang menurutnya sangat mahir dalam membuat robot. Hal itu terbukti
karena Junsu berhasil sampai ke 10 besar dan pulang dengan hadiah yang cukup
fantastis.
“Aku
belum ada waktu.” Ujar Junsu tak peduli. “Ada keperluan apa pagi ini?”
Jaejoong
tersenyum ragu. “Aku… sebenarnya ingin minta tolong sesuatu.” Dia melirik wajah
Junsu untuk melihat responnya. Junsu hanya diam dan mengerutkan alis, meminta
Jaejoong melanjutkan ucapannya. “Aku ingin kau mengajariku membuat robot. Aku
dengar kau mengambil mata kuliah itu kan?”
“Kau harus
berhati-hati jika ingin membuat robot. Dia bisa saja menjadi lebih pintar
daripada kau dan justru dia yang akan mengendalikanmu.”
“Karena itulah aku
ingin minta bantuanmu. Aku tahu kau sudah mahir.”
Sebenarnya ia
ingin sekali mengajak Jaejoong ke laboratoriumnya dan mengajarinya membuat
robot. Namun ia belum sempat membereskannya dan masih tertinggal data-data
mengenai robot Changmin di sana. Ia tak mau Jaejoong tahu bahwa ia menciptakan
robot itu. Ia tak mau ada orang lain yang tahu bahwa Changmin adalah hasil
karyanya.
“Kapan kau ingin
memulainya?” tanya Junsu setelah
menimbang-nimbang.
Jaejoong
tersenyum sumringah, ia sudah sangat khawatir Junsu akan menolaknya. “Kapan
saja kau bisa.” Jawabnya senang.
“Baiklah,
bisa malam ini kita melakukannya. Tapi, kau sudah ada alat-alatnya?”
“Sudah
sebagian, nanti aku akan melengkapinya.”
Junsu
menghabiskan suapan terakhir serealnya. “Kalau boleh tahu, kenapa kau tertarik
untuk membuat robot?”
Pertanyaan
itu membuat Jaejoong tertegun. Raut wajahnya seketika berubah, dan matanya
mulai tampak berkaca-kaca. Junsu menangkap dengan jelas perubahan itu, dia
bertanya-tanya apakah pertanyaannya tadi terlalu pribadi sehingga Jaejoong
seperti tak ingin menjawabnya.
“Untuk
ibuku.” Jawab Jaejoong kemudian, ia mengucek matanya sebelum bulir bening itu
jatuh berurai. Junsu mengangguk dengan mencoba memberikan empati. Dia
sebenarnya tidak begitu mengerti mengapa Jaejoong tiba-tiba merasa sedih.
“Ibumu
pasti senang sekali.” Junsu mencoba tersenyum dan menghibur. Ia sama sekali tak
berani menanyakan mengenai perubahan mood
Jaejoong.
Kini
sebuah senyum tipis dan getir tampak terukir di bibirnya. “Semoga saja.”
***
Malam
itu meja makan keluarga Jung tampak dipenuhi berbagai jenis makanan. Mereka
memang akan menggelar makan malam bersama dengan calon anggota baru keluarga
ini—Yoomi. Tuan dan Nyonya Jung sudah menanti dengan senang saat Yunho
menggandeng gadis itu masuk ke rumahnya. Sementara itu, Jihae—adik Yunho, yang
baru berusia 15 tahun juga ikut menyambut calon kakak iparnya. Mereka memang
biasa mengadakan acara makan malam bersama, terutama jika mereka sedang
sama-sama tidak sibuk. Yunho pun sudah beberapa kali makan malam bersama
keluarga Yoomi. Hubungan mereka sudah tidak main-main. Memang rencananya
setelah Yoomi lulus dari kuliahnya dan mulai bekerja, Yunho akan langsung
meresmikan Yoomi sebagai istrinya.
“Yoomi
makin cantik saja yah.” Puji Ny. Jung saat mereka semua sudah duduk di meja
makan. Sementara yang dipuji jadi tersenyum salah tingkah, pipinya tampak
merona. Ny. Jung adalah ibu tiri Yunho, yang dinikahi ayahnya saat usia Yunho
10 tahun. Ibu kandung Yunho memang sudah lama meninggalkan dia dan ayahnya
karena masalah rumah tangga. Kini Yunho tidak tahu di mana keberadaan ibu
kandungnya.
“Terimakasih,
ahjumma.” Ucap Yoomi malu-malu.
“Oh
iya, bagaimana dengan kuliahmu, Yoomi?” tanya Tn. Jung. Ia adalah seorang
pengacara yang cukup handal dan terbilang sukses.
“Baik-baik
saja…” Yoomi kembali tersenyum. “Saya sedang mengerjakan thesis.”
“Wah
hebat sebentar lagi lulus yaa, unnie!” Jihae tampak bersemangat. Yoomi hanya
mengangguk dengan senyum ramah. Jihae adalah satu-satunya saudara yang dimiliki
Yunho. Bisa dibilang hubungan Yoomi dan Jihae cukup dekat, mereka sering jalan
bersama dan kadang Yoomi bahkan membantu Jihae mengerjakan tugas sekolah.
“Itu
artinya sebentar lagi Yoomi akan menjadi bagian dari keluarga kita.” Yunho
nyengir, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya saat mengatakan hal
itu. Kedua orang tua dan adiknya hanya tertawa pertanda mereka memberikan
dukungan penuh akan niat baik Yunho untuk menikahi Yoomi. “Apa kalian tahu?
Yoomi adalah cinta pertamaku, dan aku juga cinta pertamanya. Pernikahan kami
akan menjadi yang paling romantis sepanjang masa. Benar kan, Yoomi?”
Ya,
memang benar dia sangat mencintai Yunho. Memang Yunho adalah satu-satunya pria
yang dia butuhkan
saat ini. Namun, mengenai cinta pertama, seingatnya dia belum pernah membahas
mengenai hal itu dengan Yunho. Dengan cemas dia bertanya pada dirinya sendiri,
apakah benar Yunho adalah cinta pertamanya?
***
Ada
yang berbeda hari ini, Junsu tampak terburu-buru mandi dan berpakaian. Dia
tidak akan pergi kuliah karena sudah diinfokan bahwa dosennya hari ini tidak
bisa hadir. Namun Junsu memiliki rencana lain hari ini, dia akan pergi ke
pameran robotic bersama Jaejoong.
Pameran ini sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Tadinya jika pagi itu ada
kuliah, Junsu akan pergi ke pameran itu pada sore hari. Namun pada sore hari
dipastikan sudah sangat banyak orang di sana, dan Junsu tidak menyukai
keramaian. Nampaknya pagi ini keberuntungan berpihak padanya. Dia meneguk susu
kotaknya dan mengunyah sebuah roti sebelum akhirnya mencari sepedanya dan
berangkat menuju pameran itu.
Sesampainya
di sana, Jaejoong sudah menunggu dengan penuh semangat. Mereka pun mulai
berputar-putar menikmati pameran itu. Minatnya dalam hal membuat robot sangat
besar, sama seperti Jaejoong. Dengan sabar Junsu harus menjelaskan setiap kali
Jaejoong bertanya mengenai ini dan itu. Dia sudah mulai mengajari Jaejoong
membuat robot, dan nampaknya Jaejoong sangat cerdas. Tak ada hal yang perlu ia
jelaskan dua kali selama mengajari Jaejoong. Malah bisa dibilang dalam waktu
dekat Jaejoong mungkin akan menyamai keahlian nya dalam membuat robot, atau
justru mengunggulinya.
“Kau
tidak mengajariku cara membuat yang seperti ini!” omel Jaejoong saat mereka melihat
salah satu robot. Junsu tertawa pelan.
“Mana
bisa kau berhitung kalau belum mengenal semua angka.” Sahut Junsu sambil
meng-geleng-gelengkan kepala. Jaejoong hanya terkekeh, paham dengan maksud
Junsu.
Di
saat mereka sedang sibuk melihat-lihat, tiba-tiba keseruan Junsu teralihkan
saat matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Ia menatap sosok di
seberangnya itu dengan lekat, dan ia sangat yakin bahwa itu adalah Yoomi. Itu
adalah satu-satunya orang yang ia miliki dan saat ini sudah menjadi milik orang
lain.
Ia
menarik napas berat, mengamati betapa mesranya pria itu menggandeng tanyan
Yoomi. Mereka tampaknya sangat bahagia. Junsu pernah melihat Yoomi memandangnya
secerah ia memandang pria itu. Saat itu juga semua ingatan masa lalunya
berputar-putar dalam kepalanya. Ingatan saat ia masih merasakan hidup yang
sempurna, hingga hanya Yoomi yang ia miliki. Juga ingatan saat satu-satunya
orang yang ia miliki pun akhirnya pergi dengan orang lain. Yoomi
meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, Yoomi melupakannya.
Namun
entah bagaimana Junsu tak bisa mencegah dirinya untuk tidak menghampiri wanita
itu. Dalam hatinya sudah bercampur semua rasa kecewa, rindu, bahkan marah dan
benci.
“Yoomi.”
Lidahnya terasa kelu saat memanggil nama itu. Sudah begitu lama dia tidak
bertemu dengan Yoomi, sudah sangat lama dia tidak memanggil nama itu.
Yoomi
tampak sangat terkejut melihat Junsu di sana, dan begitu pun dengan Yunho.
Kedua bibir Yoomi sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun tak ada kata-kata
yang keluar.
Sebenarnya
ada jutaan pertanyaan yang ingin dia limpahkan saat itu juga kepada Yoomi. Mengapa kau melupakan aku? Apakah kau tahu
betapa aku sangat merindukanmu? Kau pergi tanpa memikirkan perasaanku! Namun
nyatanya, yang bisa ia katakan hanyalah…
“Apa
kabar?” suara Junsu jelas terdengar seperti menahan marah.
“Kabar
baik…” jawab Yoomi. “Bagaimana denganmu?”
Junsu
tidak menjawab pertanyaan itu, dia sendiri tidak tahu bahagimana kabarnya saat
ini.
Sementara
Jaejoong sedari tadi hanya terpana dengan situasi ini. Ia memandangi sepasang
kekasih yang berdiri di depannya. Mereka memang serasi, tampan dan cantik.
“Ini
teman lamaku. Kim Junsu.” Ucap Yoomi, ia mengerti kebingungan Yunho saat itu.
“Ah,
aku Jung Yunho.” Ucap Yunho sambil mengulurkan tangan.
Aku sudah tahu, ucap Junsu dalam hati. Namun dia tak berkata apa-apa dan hanya menyambut
uluran tangan Yunho, menarik bibirnya sedikit untuk menciptakan senyuman.
“Dan
ini…” Yunho bermaksud untuk mengulurkan tangan pada Jaejoong.
“Kim
Jaejoong.”
Yunho
tersenyum pada Jaejoong, dan ia merasakan tangan Jaejoong begitu dingin.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar