Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (2)



Suara TV tampak terdengar di seluruh rumah, waktu menunjukkan pukul 9 pagi namun belum ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Tak lama kemudian seorang pria muda keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk, dia menguap sebentar lalu menatap jam dinding. Sudah siang rupanya, renungnya dalam hati. Pria itu nampaknya hanya tinggal sendiri bersama dengan banyak pakaian yang tergeletak di sofa ruang tamu. Namun hal itu sama sekali tak mengganggunya, ia membuat sebuah sereal dan duduk di sofa bersama pakaian-pakaian yang berserakan. Sambil menyantap sereal kesukaannya, ia menonton tayangan kartun di TV tua itu. Acara TV di minggu pagi. Sungguh menyenangkan.

“Junsu!” sebuah suara teriakan datang bersamaan dengan ketukan keras di pintu rumahnya yang terbuat dari kayu usang. Junsu tidak perlu melihat ke luar untuk mengenali siapa yang ada di balik pintu, dia sudah hapal betul dengan suara itu.

Dengan malas Junsu membukakan pintu, didapatinya seraut wajah sendu dengan kedua bola matanya yang berwarna coklat madu tengah menatapnya dengan senyum tulus.

“Masuklah.” Ujar Junsu singkat, dia kembali duduk di posisinya dan menyantap serealnya.

“Apa kau tidak pernah diajarkan untuk membereskan rumah?” ujar Kim Jaejoong, dia hampir tak percaya Junsu memiliki pakaian bersih setelah melihat kondisi ruang tamunya yang dipenuhi pakaian kotor. Jaejoong bertemu dengan Junsu pada suatu kejuaraan Robot internasional. Saat itu Jaejoong mengikuti kejuaraan hanya untuk coba-coba, dia memang sangat minat untuk membuat robot. Namun ilmunya dalam bidang itu memang masih sangat kurang, sehingga ia tak mampu bertahan lama dalam kejuaraan itu. Namun selama ia mengikuti pelatihan, ia bertemu dengan Junsu yang menurutnya sangat mahir dalam membuat robot. Hal itu terbukti karena Junsu berhasil sampai ke 10 besar dan pulang dengan hadiah yang cukup fantastis.

“Aku belum ada waktu.” Ujar Junsu tak peduli. “Ada keperluan apa pagi ini?”

Jaejoong tersenyum ragu. “Aku… sebenarnya ingin minta tolong sesuatu.” Dia melirik wajah Junsu untuk melihat responnya. Junsu hanya diam dan mengerutkan alis, meminta Jaejoong melanjutkan ucapannya. “Aku ingin kau mengajariku membuat robot. Aku dengar kau mengambil mata kuliah itu kan?”

“Kau harus berhati-hati jika ingin membuat robot. Dia bisa saja menjadi lebih pintar daripada kau dan justru dia yang akan mengendalikanmu.”

“Karena itulah aku ingin minta bantuanmu. Aku tahu kau sudah mahir.”

Sebenarnya ia ingin sekali mengajak Jaejoong ke laboratoriumnya dan mengajarinya membuat robot. Namun ia belum sempat membereskannya dan masih tertinggal data-data mengenai robot Changmin di sana. Ia tak mau Jaejoong tahu bahwa ia menciptakan robot itu. Ia tak mau ada orang lain yang tahu bahwa Changmin adalah hasil karyanya.

“Kapan kau ingin memulainya?” tanya Junsu setelah menimbang-nimbang.

Jaejoong tersenyum sumringah, ia sudah sangat khawatir Junsu akan menolaknya. “Kapan saja kau bisa.” Jawabnya senang.

“Baiklah, bisa malam ini kita melakukannya. Tapi, kau sudah ada alat-alatnya?”

“Sudah sebagian, nanti aku akan melengkapinya.”

Junsu menghabiskan suapan terakhir serealnya. “Kalau boleh tahu, kenapa kau tertarik untuk membuat robot?”

Pertanyaan itu membuat Jaejoong tertegun. Raut wajahnya seketika berubah, dan matanya mulai tampak berkaca-kaca. Junsu menangkap dengan jelas perubahan itu, dia bertanya-tanya apakah pertanyaannya tadi terlalu pribadi sehingga Jaejoong seperti tak ingin menjawabnya.

“Untuk ibuku.” Jawab Jaejoong kemudian, ia mengucek matanya sebelum bulir bening itu jatuh berurai. Junsu mengangguk dengan mencoba memberikan empati. Dia sebenarnya tidak begitu mengerti mengapa Jaejoong tiba-tiba merasa sedih.

“Ibumu pasti senang sekali.” Junsu mencoba tersenyum dan menghibur. Ia sama sekali tak berani menanyakan mengenai perubahan mood Jaejoong.

Kini sebuah senyum tipis dan getir tampak terukir di bibirnya. “Semoga saja.”

***

Malam itu meja makan keluarga Jung tampak dipenuhi berbagai jenis makanan. Mereka memang akan menggelar makan malam bersama dengan calon anggota baru keluarga ini—Yoomi. Tuan dan Nyonya Jung sudah menanti dengan senang saat Yunho menggandeng gadis itu masuk ke rumahnya. Sementara itu, Jihae—adik Yunho, yang baru berusia 15 tahun juga ikut menyambut calon kakak iparnya. Mereka memang biasa mengadakan acara makan malam bersama, terutama jika mereka sedang sama-sama tidak sibuk. Yunho pun sudah beberapa kali makan malam bersama keluarga Yoomi. Hubungan mereka sudah tidak main-main. Memang rencananya setelah Yoomi lulus dari kuliahnya dan mulai bekerja, Yunho akan langsung meresmikan Yoomi sebagai istrinya.

“Yoomi makin cantik saja yah.” Puji Ny. Jung saat mereka semua sudah duduk di meja makan. Sementara yang dipuji jadi tersenyum salah tingkah, pipinya tampak merona. Ny. Jung adalah ibu tiri Yunho, yang dinikahi ayahnya saat usia Yunho 10 tahun. Ibu kandung Yunho memang sudah lama meninggalkan dia dan ayahnya karena masalah rumah tangga. Kini Yunho tidak tahu di mana keberadaan ibu kandungnya.

“Terimakasih, ahjumma.” Ucap Yoomi malu-malu.

“Oh iya, bagaimana dengan kuliahmu, Yoomi?” tanya Tn. Jung. Ia adalah seorang pengacara yang cukup handal dan terbilang sukses.

“Baik-baik saja…” Yoomi kembali tersenyum. “Saya sedang mengerjakan thesis.”

“Wah hebat sebentar lagi lulus yaa, unnie!” Jihae tampak bersemangat. Yoomi hanya mengangguk dengan senyum ramah. Jihae adalah satu-satunya saudara yang dimiliki Yunho. Bisa dibilang hubungan Yoomi dan Jihae cukup dekat, mereka sering jalan bersama dan kadang Yoomi bahkan membantu Jihae mengerjakan tugas sekolah.

“Itu artinya sebentar lagi Yoomi akan menjadi bagian dari keluarga kita.” Yunho nyengir, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya saat mengatakan hal itu. Kedua orang tua dan adiknya hanya tertawa pertanda mereka memberikan dukungan penuh akan niat baik Yunho untuk menikahi Yoomi. “Apa kalian tahu? Yoomi adalah cinta pertamaku, dan aku juga cinta pertamanya. Pernikahan kami akan menjadi yang paling romantis sepanjang masa. Benar kan, Yoomi?”

Ya, memang benar dia sangat mencintai Yunho. Memang Yunho adalah satu-satunya pria yang dia butuhkan saat ini. Namun, mengenai cinta pertama, seingatnya dia belum pernah membahas mengenai hal itu dengan Yunho. Dengan cemas dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah benar Yunho adalah cinta pertamanya?

***

Ada yang berbeda hari ini, Junsu tampak terburu-buru mandi dan berpakaian. Dia tidak akan pergi kuliah karena sudah diinfokan bahwa dosennya hari ini tidak bisa hadir. Namun Junsu memiliki rencana lain hari ini, dia akan pergi ke pameran robotic bersama Jaejoong. Pameran ini sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Tadinya jika pagi itu ada kuliah, Junsu akan pergi ke pameran itu pada sore hari. Namun pada sore hari dipastikan sudah sangat banyak orang di sana, dan Junsu tidak menyukai keramaian. Nampaknya pagi ini keberuntungan berpihak padanya. Dia meneguk susu kotaknya dan mengunyah sebuah roti sebelum akhirnya mencari sepedanya dan berangkat menuju pameran itu.

Sesampainya di sana, Jaejoong sudah menunggu dengan penuh semangat. Mereka pun mulai berputar-putar menikmati pameran itu. Minatnya dalam hal membuat robot sangat besar, sama seperti Jaejoong. Dengan sabar Junsu harus menjelaskan setiap kali Jaejoong bertanya mengenai ini dan itu. Dia sudah mulai mengajari Jaejoong membuat robot, dan nampaknya Jaejoong sangat cerdas. Tak ada hal yang perlu ia jelaskan dua kali selama mengajari Jaejoong. Malah bisa dibilang dalam waktu dekat Jaejoong mungkin akan menyamai keahlian nya dalam membuat robot, atau justru mengunggulinya.

“Kau tidak mengajariku cara membuat yang seperti ini!” omel Jaejoong saat mereka melihat salah satu robot. Junsu tertawa pelan.

“Mana bisa kau berhitung kalau belum mengenal semua angka.” Sahut Junsu sambil meng-geleng-gelengkan kepala. Jaejoong hanya terkekeh, paham dengan maksud Junsu.

Di saat mereka sedang sibuk melihat-lihat, tiba-tiba keseruan Junsu teralihkan saat matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Ia menatap sosok di seberangnya itu dengan lekat, dan ia sangat yakin bahwa itu adalah Yoomi. Itu adalah satu-satunya orang yang ia miliki dan saat ini sudah menjadi milik orang lain.

Ia menarik napas berat, mengamati betapa mesranya pria itu menggandeng tanyan Yoomi. Mereka tampaknya sangat bahagia. Junsu pernah melihat Yoomi memandangnya secerah ia memandang pria itu. Saat itu juga semua ingatan masa lalunya berputar-putar dalam kepalanya. Ingatan saat ia masih merasakan hidup yang sempurna, hingga hanya Yoomi yang ia miliki. Juga ingatan saat satu-satunya orang yang ia miliki pun akhirnya pergi dengan orang lain. Yoomi meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, Yoomi melupakannya.

Namun entah bagaimana Junsu tak bisa mencegah dirinya untuk tidak menghampiri wanita itu. Dalam hatinya sudah bercampur semua rasa kecewa, rindu, bahkan marah dan benci.

“Yoomi.” Lidahnya terasa kelu saat memanggil nama itu. Sudah begitu lama dia tidak bertemu dengan Yoomi, sudah sangat lama dia tidak memanggil nama itu.

Yoomi tampak sangat terkejut melihat Junsu di sana, dan begitu pun dengan Yunho. Kedua bibir Yoomi sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun tak ada kata-kata yang keluar.

Sebenarnya ada jutaan pertanyaan yang ingin dia limpahkan saat itu juga kepada Yoomi. Mengapa kau melupakan aku? Apakah kau tahu betapa aku sangat merindukanmu? Kau pergi tanpa memikirkan perasaanku! Namun nyatanya, yang bisa ia katakan hanyalah…

“Apa kabar?” suara Junsu jelas terdengar seperti menahan marah.

“Kabar baik…” jawab Yoomi. “Bagaimana denganmu?”

Junsu tidak menjawab pertanyaan itu, dia sendiri tidak tahu bahagimana kabarnya saat ini.

Sementara Jaejoong sedari tadi hanya terpana dengan situasi ini. Ia memandangi sepasang kekasih yang berdiri di depannya. Mereka memang serasi, tampan dan cantik.

“Ini teman lamaku. Kim Junsu.” Ucap Yoomi, ia mengerti kebingungan Yunho saat itu.

“Ah, aku Jung Yunho.” Ucap Yunho sambil mengulurkan tangan.

Aku sudah tahu, ucap Junsu dalam hati. Namun dia tak berkata apa-apa dan hanya menyambut uluran tangan Yunho, menarik bibirnya sedikit untuk menciptakan senyuman.

“Dan ini…” Yunho bermaksud untuk mengulurkan tangan pada Jaejoong.

“Kim Jaejoong.”

Yunho tersenyum pada Jaejoong, dan ia merasakan tangan Jaejoong begitu dingin.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar