Detektif Taehyung segera
menuju TKP setelah menerima laporan bahwa ada seseorang yang melaporkan melihat
orang yang mencurigakan di sekitar
gudang tempat lokasi di temukannya Yunho.
“Sebenarnya aku tidak tahu bahwa ada penyekapan dalam
gudang itu. Seseorang berlari ke arahku
dan mengatakan ia melihat ada orang yang berlumuran darah terikat dengan tali
di dalam
gudang. Dia mengatakan bahwa dia tidak membawa ponsel sehingga memintaku untuk
menelpon polisi.” Kata seorang wanita paruh baya yang menjadi saksi dalam kasus
ini. Ketika Taehyung menanyakan siapa yang menyuruhnya, wanita itu menjawab.
“Saya tidak mengenalnya. Pria itu mengenakan topi dan saat itu saya tidak
menggunakan kacamata sehingga saya tidak dapat melihat dengan jelas. Yang saya
tahu dia adalah pria yang sangat tinggi. Tinggi saya hanya sebahunya.”
Taehyung mengingat
percakapannya dengan saksi itu. Ketika
ia dibawa ke divisi pembuatan sketsa wajah hasilnya adalah nihil, karena ia
tidak mampu mendeskrispsikan dengan tepat. Satu hal yang Taehyung tahu adalah
pria itu memiliki tinggi sekitar 185 cm atau lebih.
Yunho ditemukan
dalam keadaan tidak sadarkan diri, mengalami dehidrasi hebat dan kelaparan.
Kepalanya terluka dan tubuhnya terikat pada kursi besi. Segera setelah itu ia
dibawa kerumah sakit terdekat.
Garis polisi sudah
terpasang ketika Taehyung sampai di TKP. Tim forensik masih sibuk mencari jejak
DNA, sidik jari atau apa saja yang bisa dijadikan petunjuk. Jungkook berjalan
mendekati tumpukan besi tua yang berada 2 meter dari kursi di mana Yunho terikat.
Matanya menangkap ada sebuah gulungan kertas yang tidak beraturan. Ia memanggil
Taehyung untuk memeriksanya karena ia tidak menggunakan sarung tangan.
Taehyung segera
mengambil gulungan kertas tersebut dan mencoba meluruskannya. Ia mendapati
sebuah foto. Foto keluarga Yunho. Ia membalik foto tersebut dan mendapati
tulisan kecil pada sudut kanan bawah. “JK” gumam Taehyung pelan.
“Sepertinya kasus
ini akan ditangani oleh Detektif Park.” Ujar Jungkook.
***
Kedua
orang tua Yunho kini tengah berada di ruangan Dokter. Sementara itu saat ini
Yunho telah berada di ruang perawatan, dan dalam keadaan somnolen (penurunan
kesadaran dengan respon psikomotor yang lambat). Dokter sudah melakukan
serangkaian pemeriksaan fisik dan juga penunjang, dan saat ini sudah didapatkan
hasil dari CT Scan Yunho.
“Ada
lesi pada bagian otak kanannya.” Ucap dr. Son Yejin, dokter yang menangani
Yunho. Ia menunjuk pada gambar yang ada di depannya. “Jung Yunho sepertinya
mengalami trauma tumpul yang berulang. Kami perlu melakukan beberapa tes kejiwaan
setelah pasien membaik.” Terangnya, ia melihat kedua orang tua Yunho justru
semakin bingung. Bahkan kini Ny. Jung sudah tertunduk dengan tangisannya.
“Apakah
keadaan Yunho saat ini sangat parah?” tanya Tn. Jung.
Dr.
Son melepas kacamatanya. “Dapat dibilang traumanya cukup serius. Ia mengalami
cedera kepala berat.”
***
Yoomi
menggenggam erat tangan Yunho, saat ini perasaannya sedang tak jelas. Ia
bahagia, sedih, takut, khawatir, semua itu hanya bisa diekspresikannya dengan
cara menangis. Yunho ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan. Ia sepertinya
tidak makan apa-apa selama dua hari, di sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar
dan bahkan pada beberapa bagian sampai terjadi banyak perdarahan. Sejak sampai
di Rumah Sakit, Yunho belum juga sadarkan diri. Namun ia sempat mengalami
delirium ketika masih di ruang gawat darurat. Saat ini keadaan-nya sudah
terkontrol, namun masih sulit untuk diajak berkomunikasi.
“Siapa
yang tega melakukan ini semua padamu?” lirih Yoomi. Ia tahu memang beberapa
rekan Yunho seringkali merasa iri karena kegemilangannya, namun mereka tidak
sampai memusuhi Yunho. Dalam hatinya sempat terpikir apakah mungkin Junsu yang
melakukan ini, namun ia sangat mengenal Junsu luar dan dalam. Junsu tidak
mungkin melakukannya.
Tiba-tiba
pintu ruangan terbuka, Jihae muncul dengan masih mengenakan seragamnya. Ia menatap
Yoomi sebentar, lalu memeluk erat tubuh Yunho, menangis sekuatnya.
Yoomi
hanya bisa mengelus punggung Jihae, ia tahu mereka semua sedih karena keadaan
ini. Namun lihatlah, Yunho sudah kembali dan dia hidup. Bagi Yoomi, itu sudah
cukup membuat hatinya jauh lebih lega.
“Oppa…”
Jihae masih menangis sesenggukan. “Ada di mana oppa selama ini? Apa yang oppa
lakukan? Kenapa oppa kembali dalam keadaan seperti ini?”
Namun
wajah pucat Yunho tak menjawabnya, ia tertidur seperti baru saja kembali dari
perjalanan panjang selama berbulan-bulan. Yoomi kini membiarkan Jihae
memeluknya, dan mereka berdua sama-sama tidak bisa menyembunyikan tangisannya
lagi.
“Unnie,
lihat! Oppa bangun!” seru Jihae kemudian. Yoomi menoleh ke arah Yunho, ia
melihat kedua bola mata Yunho mulai terbuka sangat pelan. Mereka berdua pun
langsung mencoba mengajaknya berbicara.
“Yunho…”
ucap Yoomi, ia menggenggam tangan Yunho lebih erat.
Beberapa
saat Yunho hanya menatap kosong ke depan, lalu ia melirik Jihae yang berada di
sebelah kirinya. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tenaga yang
dimilikinya bahkan tidak cukup untuk mengucapkan sepatah kata pun. Lalu ia
menoleh ke kanan, melihat wajah Yoomi yang memandangnya dengan penuh perasaan
cemas. Seketika itu Yunho membelalakkan matanya, mulutnya ternganga. Yoomi dan
Jihae yang melihat hal itu tentu menjadi terheran-heran.
“Oppa!
Ada apa?” Jihae mencoba menggoyangkan bahu Yunho. Namun Yunho masih menatap
Yoomi dengan lekat, dengan napas yang semakin cepat. Ia seperti melihat hantu.
Yunho pun menggeleng-gelengkan kepalanya begitu kuat, dan ia melepaskan
genggaman Yoomi. Kini kedua tangannya mencengkram kepalanya sendiri, ia tampak
kesakitan.
“Jihae,
cepat panggil perawat!” perintah Yoomi, setelah itu dia berusaha menenangkan
Yunho. Namun sebelum Jihae menekan tombol untuk memanggil perawat, Yunho
mendorong Yoomi begitu keras sampai terduduk jatuh ke lantai.
“Unnie!”
Jihae menjerit, lalu ia menatap Yunho dengan tatapan tak percaya. Yunho tampak
bringas dan kedua tangannya mengepal sangat keras. Tatapan matanya masih lekat
ke arah Yoomi yang kini tengah berusaha untuk berdiri kembali. Lalu Yunho
berteriak dengan kuat.
“Menjauhlah
dariku!!!”
***
Sudah
hampir 10 menit Junsu mondar-mandir di ruang tamunya. Sesekali ia duduk dan
melamun, lalu berpikir sangat keras. Ia sepertinya sangat gelisah. Hari ini
Changmin akan dipanggil kembali untuk diwawancarai mengenai kasus penculikan
Yunho. Tentu saja Junsu akan sangat khawatir semua rahasianya akan terbongkar.
Beberapa hari yang lalu Changmin sudah melakukan wawancara pertamanya, dan
itupun Junsu sudah tidak bisa berhenti memikirkan keselamatan dirinya dan
Changmin. Lalu kini Changmin harus melakukan wawancara lagi. Apa mereka sudah
mulai mengerucutkan kecurigaannya pada Changmin?
Ditatapnya
lagi Changmin yang terduduk kaku di sofa. Ia memiliki tatapan yang setajam mata
elang, dan wajah yang dingin seperti pembunuh berantai. Betapa mencurigakannya.
Junsu lalu memandangi jam dinding yang ia lihat setiap menit. Sebentar lagi
polisi akan tiba di sana dan menjemput Changmin. Dan sudah tentu, detektif
nanti akan menanyakan mengenai hubungan Changmin dengan Junsu. Terutama karena
ternyata mereka tinggal di rumah yang sama. Hal ini baru diketahui karena pada
saat dipanggil untuk wawancara pertama, Changmin dijemput dari kantornya.
Memang Junsu sudah khawatir semua ini akan berimbas juga pada Changmin. Padahal
ia sudah berusaha sekali agar Changmin tidak sampai ikut terbawa-bawa dalam
urusan dengan polisi.
Tak
lama kemudian terdengar suara mobil yang terparkir di depan rumah Junsu. Ia
mengintip melalui sudut jendela. Benar saja, para polisi itu sudah tiba. Lalu
ia pun menghampiri Changmin dan membisikkan sesuatu.
“Jangan
bertindak bodoh.”
***
Belum
ada kemajuan dari kasus-kasus yang membelitnya, kini Yoochun sudah harus
dipusing kan lagi dengan kasus penculikan Yunho yang diduga dilakukan juga oleh
pelaku yang sama. Ia bahkan belum sempat menjenguk Yunho yang kini berada di
Rumah Sakit. Namun ada kabar baik di balik ini semua. Ketika Yunho sudah cukup
stabil untuk diwawancarai, maka Yoochun bisa lebih mudah menangkap pelaku
seluruh kasus ini. Yunho pasti masih ingat bagaimana ciri-ciri fisik dari orang
yang menculiknya.
Yoochun
memandangi lagi perkembangan kasus yang pertama. Kasus ini benar-benar tidak
dapat diapa-apakan. Semua saksi tidak mengetahui siapa yang berkemungkinan
melakukan pembunuhan itu, dan bahkan jenis racun yang digunakan pun masih belum
dapat disimpulkan oleh tim ahli. Diperkirakan racun itu sangat sulit
didapatkan, dan penggunaannya pun sangat jarang. Sehingga sulit
mengidentifikasinya dengan pemeriksaan biasa.
Kasus
kedua, saat ini Yoochun masih mengawasi Kim Junsu dengan ketat. Dari hasil
peng-geledahan yang sudah sempat dilakukan di rumah Junsu, tidak ditemukan hal
yang mencuri-gakan. Sementara itu Yoochun sudah berhasil mengkonfirmasi bahwa
pada hari kejadian, pukul 11:00-14.30 Kim Jaejoong memang berada di tempatnya
bekerja. Teman dekatnya—Baek Jihoon—juga mengkonfirmasi bahwa sekitar pukul 3
sore Jaejoong sudah berada di kostnya. Namun pada pukul 18:00, Jihoon tidak
berada di kost dan baru pulang sekitar pukul 1 dini hari karena ada acara di organisasinya.
Dan saat ia pulang, ia mengatakan Jaejoong pun sepertinya ada di kamar dan
sudah tertidur. Selama pukul 18:00 sampai pukul 01:00 itu, tidak ada saksi yang
memerhatikan apakah Jaejoong benar-benar ada di kamarnya. Yoochun sudah
menanyakan mengapa Jaejoong tidak keluar sore itu untuk membeli makan, dan
Jaejoong menjawab bahwa ia membuat sendiri mie instan untuk makan malamnya. Namun
Yoochun belum mendapatkan bukti bahwa Jaejoong tidak berbohong.
Sementara
itu kasus ketiga, racun yang membunuh Yoo Seungho sudah teridentifikasi. Itu
adalah Endosulfan, suatu insektisida yang sudah dilarang digunakan di pertanian
karena potensi bahayanya. Seseorang dapat mengalami keracunan Endosulfan dari
makanan, minuman, udara, bahkan tanah yang banyak mengandung Endosulfan. Sampai
saat ini tim forensik menaruh kecurigaan bahwa racun masuk bersama makanan
terakhir korban. Namun cara bagaimana racun itu bisa sampai ke makanan korban,
sampai saat ini masih belum ada kejelasan. Kelanjutan penelusuran kasus ketiga
masih dalam proses. Yoochun pun dibingungkan dengan racun-racun itu. Mengapa si
pelaku menggunakan racun yang berbeda. Tentu akan lebih mudah jika ia
menggunakan racun yang sama untuk semua korbannya.
“Detektif,
Shim Changmin sudah tiba.” Ucap Yoona, membuat Yoochun kembali ke dunia nyata.
Ia harus kembali melakukan wawancara yang ke sekian kalinya. Ada yang berbeda
dengan kasus Yunho. Polanya tidak seperti ketiga kasus lainnya. Yunho hanya
diculik dan dianiaya, tidak sampai dibunuh. Selain itu, Yunho memiliki latar
belakang yang berbeda dengan ketiga korban. Motif si pelaku dalam hal ini sudah
pasti juga berbeda.
Yoochun
menemui Shim Changmin yang sudah lebih dulu berada di ruangan. Ia sudah
diberitahu bahwa Shim Changmin memiliki hubungan saudara dengan Junsu.
Sebenarnya Yoochun bermaksud untuk meminta hasil tes DNA antara mereka berdua,
namun ia tak jadi mengusulkan karena hanya mengulur-ulur waktu.
Dari
hasil wawancara sebelumnya, Yoochun mengambil kesimpulan bahwa Changmin memang
memiliki motif untuk menganiaya Yunho. Selama mereka bekerjasama, banyak hal
yang tidak berjalan dengan baik. Terutama, ada pegawai yang mendengar mereka
bertengkar beberapa jam sebelum kejadian penculikan Yunho.
“Mengapa
kau turun di lantai 1 waktu itu?” tanya Yoochun.
“Aku
pulang menggunakan taksi.”
Yoochun
tampak mencatat sesuatu. “Kau masih ingat nama sopir taksinya?”
“Yeon
Junghoon.” Jawab Changmin cepat. Nama itu terekam jelas dalam memorinya.
Yoochun terkesima, mengagumi ingatan Changmin yang luar biasa.
Sesaat
kemudian Yoochun tertegun. Ia teringat tulisan “JK” yang kemungkinan tertuju
pada si pelaku. Jika itu adalah inisial namanya, maka ini bertentangan dengan
Shim Changmin. Tapi jika itu bukan inisial nama, maka Yoochun sudah membuang
banyak waktu dengan mewawancarai orang dengan nama yang memiliki komponen JK.
Ia juga merasa ada yang aneh dengan Changmin. Wajahnya tanpa ekspresi. Ia tidak
menunjukkan rasa khawatir atau santai. Seharusnya ekspresinya lebih mudah
terbaca ketika ia berbohong, namun sedari tadi wajahnya tetap datar seperti
itu.
“Apakah
kau memiliki dendam atau kesal pada Jung Yunho?” tanya Yoochun setelah jeda
yang cukup panjang.
“Tidak.”
“Apa
kau merasa dia menghambat pekerjaanmu?”
Changmin
terdiam sejenak. “Pekerjaannya tidak bagus.”
Yoochun
agak kesal dengan jawaban Changmin. Ia tahu betul Yunho adalah seorang arsitek
yang cerdas dan berbakat. Bahkan Yunho tidak pernah gagal dalam mengerjakan
proyek. Tapi Changmin dengan sombongnya mengatakan bahwa pekerjaannya tidak
bagus. Tadinya ia hampir akan membela Yunho, namun ia harus bersikap
profesional. Lalu Yoochun baru tersadar bahwa sedari tadi Changmin tidak
menggerakkan jarinya sedikitpun, bahkan Yoochun merasa belum melihatnya
berkedip. Benar-benar ada yang aneh.
“Baiklah,
cukup untuk hari ini.” Ujar Yoochun. “Omong-omong, nama
keluarga kalian tidak sama ya.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar