Welcome

Senin, 11 April 2016

FREGOLI DELUSION (11)



Detektif Taehyung segera menuju TKP setelah menerima laporan bahwa ada seseorang yang melaporkan melihat orang yang mencurigakan di sekitar gudang tempat lokasi di temukannya Yunho.

“Sebenarnya aku tidak tahu bahwa ada penyekapan dalam gudang itu. Seseorang berlari ke arahku dan mengatakan ia melihat ada orang yang berlumuran darah terikat dengan tali di dalam gudang. Dia mengatakan bahwa dia tidak membawa ponsel sehingga memintaku untuk menelpon polisi.” Kata seorang wanita paruh baya yang menjadi saksi dalam kasus ini. Ketika Taehyung menanyakan siapa yang menyuruhnya, wanita itu menjawab. “Saya tidak mengenalnya. Pria itu mengenakan topi dan saat itu saya tidak menggunakan kacamata sehingga saya tidak dapat melihat dengan jelas. Yang saya tahu dia adalah pria yang sangat tinggi. Tinggi saya hanya sebahunya.”

Taehyung mengingat percakapannya dengan saksi  itu. Ketika ia dibawa ke divisi pembuatan sketsa wajah hasilnya adalah nihil, karena ia tidak mampu mendeskrispsikan dengan tepat. Satu hal yang Taehyung tahu adalah pria itu memiliki tinggi sekitar 185 cm atau lebih.

Yunho ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri, mengalami dehidrasi hebat dan kelaparan. Kepalanya terluka dan tubuhnya terikat pada kursi besi. Segera setelah itu ia dibawa kerumah sakit terdekat.

Garis polisi sudah terpasang ketika Taehyung sampai di TKP. Tim forensik masih sibuk mencari jejak DNA, sidik jari atau apa saja yang bisa dijadikan petunjuk. Jungkook berjalan mendekati tumpukan besi tua yang berada 2 meter dari kursi di mana Yunho terikat. Matanya menangkap ada sebuah gulungan kertas yang tidak beraturan. Ia memanggil Taehyung untuk memeriksanya karena ia tidak menggunakan sarung tangan.

Taehyung segera mengambil gulungan kertas tersebut dan mencoba meluruskannya. Ia mendapati sebuah foto. Foto keluarga Yunho. Ia membalik foto tersebut dan mendapati tulisan kecil pada sudut kanan bawah. “JK” gumam Taehyung pelan.

“Sepertinya kasus ini akan ditangani oleh Detektif Park.” Ujar Jungkook.

***

Kedua orang tua Yunho kini tengah berada di ruangan Dokter. Sementara itu saat ini Yunho telah berada di ruang perawatan, dan dalam keadaan somnolen (penurunan kesadaran dengan respon psikomotor yang lambat). Dokter sudah melakukan serangkaian pemeriksaan fisik dan juga penunjang, dan saat ini sudah didapatkan hasil dari CT Scan Yunho.

“Ada lesi pada bagian otak kanannya.” Ucap dr. Son Yejin, dokter yang menangani Yunho. Ia menunjuk pada gambar yang ada di depannya. “Jung Yunho sepertinya mengalami trauma tumpul yang berulang. Kami perlu melakukan beberapa tes kejiwaan setelah pasien membaik.” Terangnya, ia melihat kedua orang tua Yunho justru semakin bingung. Bahkan kini Ny. Jung sudah tertunduk dengan tangisannya.

“Apakah keadaan Yunho saat ini sangat parah?” tanya Tn. Jung.

Dr. Son melepas kacamatanya. “Dapat dibilang traumanya cukup serius. Ia mengalami cedera kepala berat.”

***

Yoomi menggenggam erat tangan Yunho, saat ini perasaannya sedang tak jelas. Ia bahagia, sedih, takut, khawatir, semua itu hanya bisa diekspresikannya dengan cara menangis. Yunho ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan. Ia sepertinya tidak makan apa-apa selama dua hari, di sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar dan bahkan pada beberapa bagian sampai terjadi banyak perdarahan. Sejak sampai di Rumah Sakit, Yunho belum juga sadarkan diri. Namun ia sempat mengalami delirium ketika masih di ruang gawat darurat. Saat ini keadaan-nya sudah terkontrol, namun masih sulit untuk diajak berkomunikasi.

“Siapa yang tega melakukan ini semua padamu?” lirih Yoomi. Ia tahu memang beberapa rekan Yunho seringkali merasa iri karena kegemilangannya, namun mereka tidak sampai memusuhi Yunho. Dalam hatinya sempat terpikir apakah mungkin Junsu yang melakukan ini, namun ia sangat mengenal Junsu luar dan dalam. Junsu tidak mungkin melakukannya.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Jihae muncul dengan masih mengenakan seragamnya. Ia menatap Yoomi sebentar, lalu memeluk erat tubuh Yunho, menangis sekuatnya.

Yoomi hanya bisa mengelus punggung Jihae, ia tahu mereka semua sedih karena keadaan ini. Namun lihatlah, Yunho sudah kembali dan dia hidup. Bagi Yoomi, itu sudah cukup membuat hatinya jauh lebih lega.

“Oppa…” Jihae masih menangis sesenggukan. “Ada di mana oppa selama ini? Apa yang oppa lakukan? Kenapa oppa kembali dalam keadaan seperti ini?”

Namun wajah pucat Yunho tak menjawabnya, ia tertidur seperti baru saja kembali dari perjalanan panjang selama berbulan-bulan. Yoomi kini membiarkan Jihae memeluknya, dan mereka berdua sama-sama tidak bisa menyembunyikan tangisannya lagi.

“Unnie, lihat! Oppa bangun!” seru Jihae kemudian. Yoomi menoleh ke arah Yunho, ia melihat kedua bola mata Yunho mulai terbuka sangat pelan. Mereka berdua pun langsung mencoba mengajaknya berbicara.

“Yunho…” ucap Yoomi, ia menggenggam tangan Yunho lebih erat.

Beberapa saat Yunho hanya menatap kosong ke depan, lalu ia melirik Jihae yang berada di sebelah kirinya. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tenaga yang dimilikinya bahkan tidak cukup untuk mengucapkan sepatah kata pun. Lalu ia menoleh ke kanan, melihat wajah Yoomi yang memandangnya dengan penuh perasaan cemas. Seketika itu Yunho membelalakkan matanya, mulutnya ternganga. Yoomi dan Jihae yang melihat hal itu tentu menjadi terheran-heran.

“Oppa! Ada apa?” Jihae mencoba menggoyangkan bahu Yunho. Namun Yunho masih menatap Yoomi dengan lekat, dengan napas yang semakin cepat. Ia seperti melihat hantu. Yunho pun menggeleng-gelengkan kepalanya begitu kuat, dan ia melepaskan genggaman Yoomi. Kini kedua tangannya mencengkram kepalanya sendiri, ia tampak kesakitan.

“Jihae, cepat panggil perawat!” perintah Yoomi, setelah itu dia berusaha menenangkan Yunho. Namun sebelum Jihae menekan tombol untuk memanggil perawat, Yunho mendorong Yoomi begitu keras sampai terduduk jatuh ke lantai.

“Unnie!” Jihae menjerit, lalu ia menatap Yunho dengan tatapan tak percaya. Yunho tampak bringas dan kedua tangannya mengepal sangat keras. Tatapan matanya masih lekat ke arah Yoomi yang kini tengah berusaha untuk berdiri kembali. Lalu Yunho berteriak dengan kuat.

“Menjauhlah dariku!!!”

***

Sudah hampir 10 menit Junsu mondar-mandir di ruang tamunya. Sesekali ia duduk dan melamun, lalu berpikir sangat keras. Ia sepertinya sangat gelisah. Hari ini Changmin akan dipanggil kembali untuk diwawancarai mengenai kasus penculikan Yunho. Tentu saja Junsu akan sangat khawatir semua rahasianya akan terbongkar. Beberapa hari yang lalu Changmin sudah melakukan wawancara pertamanya, dan itupun Junsu sudah tidak bisa berhenti memikirkan keselamatan dirinya dan Changmin. Lalu kini Changmin harus melakukan wawancara lagi. Apa mereka sudah mulai mengerucutkan kecurigaannya pada Changmin?

Ditatapnya lagi Changmin yang terduduk kaku di sofa. Ia memiliki tatapan yang setajam mata elang, dan wajah yang dingin seperti pembunuh berantai. Betapa mencurigakannya. Junsu lalu memandangi jam dinding yang ia lihat setiap menit. Sebentar lagi polisi akan tiba di sana dan menjemput Changmin. Dan sudah tentu, detektif nanti akan menanyakan mengenai hubungan Changmin dengan Junsu. Terutama karena ternyata mereka tinggal di rumah yang sama. Hal ini baru diketahui karena pada saat dipanggil untuk wawancara pertama, Changmin dijemput dari kantornya. Memang Junsu sudah khawatir semua ini akan berimbas juga pada Changmin. Padahal ia sudah berusaha sekali agar Changmin tidak sampai ikut terbawa-bawa dalam urusan dengan polisi.

Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang terparkir di depan rumah Junsu. Ia mengintip melalui sudut jendela. Benar saja, para polisi itu sudah tiba. Lalu ia pun menghampiri Changmin dan membisikkan sesuatu.

“Jangan bertindak bodoh.”

***

Belum ada kemajuan dari kasus-kasus yang membelitnya, kini Yoochun sudah harus dipusing kan lagi dengan kasus penculikan Yunho yang diduga dilakukan juga oleh pelaku yang sama. Ia bahkan belum sempat menjenguk Yunho yang kini berada di Rumah Sakit. Namun ada kabar baik di balik ini semua. Ketika Yunho sudah cukup stabil untuk diwawancarai, maka Yoochun bisa lebih mudah menangkap pelaku seluruh kasus ini. Yunho pasti masih ingat bagaimana ciri-ciri fisik dari orang yang menculiknya.

Yoochun memandangi lagi perkembangan kasus yang pertama. Kasus ini benar-benar tidak dapat diapa-apakan. Semua saksi tidak mengetahui siapa yang berkemungkinan melakukan pembunuhan itu, dan bahkan jenis racun yang digunakan pun masih belum dapat disimpulkan oleh tim ahli. Diperkirakan racun itu sangat sulit didapatkan, dan penggunaannya pun sangat jarang. Sehingga sulit mengidentifikasinya dengan pemeriksaan biasa.

Kasus kedua, saat ini Yoochun masih mengawasi Kim Junsu dengan ketat. Dari hasil peng-geledahan yang sudah sempat dilakukan di rumah Junsu, tidak ditemukan hal yang mencuri-gakan. Sementara itu Yoochun sudah berhasil mengkonfirmasi bahwa pada hari kejadian, pukul 11:00-14.30 Kim Jaejoong memang berada di tempatnya bekerja. Teman dekatnya—Baek Jihoon—juga mengkonfirmasi bahwa sekitar pukul 3 sore Jaejoong sudah berada di kostnya. Namun pada pukul 18:00, Jihoon tidak berada di kost dan baru pulang sekitar pukul 1 dini hari karena ada acara di organisasinya. Dan saat ia pulang, ia mengatakan Jaejoong pun sepertinya ada di kamar dan sudah tertidur. Selama pukul 18:00 sampai pukul 01:00 itu, tidak ada saksi yang memerhatikan apakah Jaejoong benar-benar ada di kamarnya. Yoochun sudah menanyakan mengapa Jaejoong tidak keluar sore itu untuk membeli makan, dan Jaejoong menjawab bahwa ia membuat sendiri mie instan untuk makan malamnya. Namun Yoochun belum mendapatkan bukti bahwa Jaejoong tidak berbohong.

Sementara itu kasus ketiga, racun yang membunuh Yoo Seungho sudah teridentifikasi. Itu adalah Endosulfan, suatu insektisida yang sudah dilarang digunakan di pertanian karena potensi bahayanya. Seseorang dapat mengalami keracunan Endosulfan dari makanan, minuman, udara, bahkan tanah yang banyak mengandung Endosulfan. Sampai saat ini tim forensik menaruh kecurigaan bahwa racun masuk bersama makanan terakhir korban. Namun cara bagaimana racun itu bisa sampai ke makanan korban, sampai saat ini masih belum ada kejelasan. Kelanjutan penelusuran kasus ketiga masih dalam proses. Yoochun pun dibingungkan dengan racun-racun itu. Mengapa si pelaku menggunakan racun yang berbeda. Tentu akan lebih mudah jika ia menggunakan racun yang sama untuk semua korbannya.

“Detektif, Shim Changmin sudah tiba.” Ucap Yoona, membuat Yoochun kembali ke dunia nyata. Ia harus kembali melakukan wawancara yang ke sekian kalinya. Ada yang berbeda dengan kasus Yunho. Polanya tidak seperti ketiga kasus lainnya. Yunho hanya diculik dan dianiaya, tidak sampai dibunuh. Selain itu, Yunho memiliki latar belakang yang berbeda dengan ketiga korban. Motif si pelaku dalam hal ini sudah pasti juga berbeda.

Yoochun menemui Shim Changmin yang sudah lebih dulu berada di ruangan. Ia sudah diberitahu bahwa Shim Changmin memiliki hubungan saudara dengan Junsu. Sebenarnya Yoochun bermaksud untuk meminta hasil tes DNA antara mereka berdua, namun ia tak jadi mengusulkan karena hanya mengulur-ulur waktu.

Dari hasil wawancara sebelumnya, Yoochun mengambil kesimpulan bahwa Changmin memang memiliki motif untuk menganiaya Yunho. Selama mereka bekerjasama, banyak hal yang tidak berjalan dengan baik. Terutama, ada pegawai yang mendengar mereka bertengkar beberapa jam sebelum kejadian penculikan Yunho.

“Mengapa kau turun di lantai 1 waktu itu?” tanya Yoochun.

“Aku pulang menggunakan taksi.”

Yoochun tampak mencatat sesuatu. “Kau masih ingat nama sopir taksinya?”

“Yeon Junghoon.” Jawab Changmin cepat. Nama itu terekam jelas dalam memorinya. Yoochun terkesima, mengagumi ingatan Changmin yang luar biasa.

Sesaat kemudian Yoochun tertegun. Ia teringat tulisan “JK” yang kemungkinan tertuju pada si pelaku. Jika itu adalah inisial namanya, maka ini bertentangan dengan Shim Changmin. Tapi jika itu bukan inisial nama, maka Yoochun sudah membuang banyak waktu dengan mewawancarai orang dengan nama yang memiliki komponen JK. Ia juga merasa ada yang aneh dengan Changmin. Wajahnya tanpa ekspresi. Ia tidak menunjukkan rasa khawatir atau santai. Seharusnya ekspresinya lebih mudah terbaca ketika ia berbohong, namun sedari tadi wajahnya tetap datar seperti itu.

“Apakah kau memiliki dendam atau kesal pada Jung Yunho?” tanya Yoochun setelah jeda yang cukup panjang.

“Tidak.”

“Apa kau merasa dia menghambat pekerjaanmu?”

Changmin terdiam sejenak. “Pekerjaannya tidak bagus.”

Yoochun agak kesal dengan jawaban Changmin. Ia tahu betul Yunho adalah seorang arsitek yang cerdas dan berbakat. Bahkan Yunho tidak pernah gagal dalam mengerjakan proyek. Tapi Changmin dengan sombongnya mengatakan bahwa pekerjaannya tidak bagus. Tadinya ia hampir akan membela Yunho, namun ia harus bersikap profesional. Lalu Yoochun baru tersadar bahwa sedari tadi Changmin tidak menggerakkan jarinya sedikitpun, bahkan Yoochun merasa belum melihatnya berkedip. Benar-benar ada yang aneh.

“Baiklah, cukup untuk hari ini.” Ujar Yoochun. “Omong-omong, nama keluarga kalian tidak sama ya.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar