Welcome

Minggu, 10 April 2016

FREGOLI DELUSION (5)



Secangkir kopi menemani kebingungan Yoochun malam itu. Waktu sudah menunjuk pukul 10 malam, dan kantornya sudah mulai sepi. Ia masih belum bisa pulang karena kasus yang baru-baru ini muncul telah mempersulit pekerjaannya. Park Yoochun tidak pernah gagal menangkap pelaku. Dipandanginya lagi sederet nama yang kini sudah dicurigai sebagai ter-sangka. Sebetulnya dari semua tersangka itu Yoochun belum menemukan motif yang jelas sehingga pelaku sampai membunuh korban. Nama-nama yang kini ada di layar komputernya juga diambil dari nama mahasiswa dan staff Korea University yang memiliki unsur huruf J dan K. Kemungkinan besar pelaku adalah anggota Korea University, dan memiliki kecemburuan dengan keberhasilan para korban. Terutama karena kedua korban adalah mahasiswa dengan reputasi yang sangat baik. Namun tetap saja, motif pembunuhan tidak bisa Yoochun sendiri yang memperkirakan.

“Jisoo adalah anak yang mudah bergaul, dia biasanya pergi dengan beberapa teman yang berbeda. Namun jarang sekali ia membawa teman ke asrama ini.”

Itu adalah keterangan pemilik asrama tempat Song Jisoo tinggal yang didengarkan Yoochun dari sebuah rekaman. Yoochun mengerutkan alisnya sambil berpikir keras. Anak yang cerdas, berprestasi, banyak teman dan tidak mempunyai musuh. Sulit menemukan orang yang benar-benar memiliki motif yang kuat untuk membunuhnya. Korban juga memiliki reputasi yang baik dan masa depan cerah, sungguh tidak ada alasan untuk melakukan bunuh diri.

Ia menatap sekali lagi deretan nama di layar komputernya. Bagaimana jika pelakunya bukan berasal dari Korea University? Hasil otopsi menunjukkan kedua korban tewas akibat racun yang berbeda. Bagaimana cara memperoleh semua racun itu? Pelakunya tentulah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahan-bahan kimia. Yoochun mulai khawatir pelaku di balik semua ini bukan hanya satu orang. Jika pelakunya tertangkap, ia akan dijatuhi hukuman yang sangat berat, bahkan mungkin hukuman mati, karena orang ini sangat berbahaya. Sejak terjadinya kasus pertama yang juga menimpa mahasiswa Korea University, kepolisian sudah mewanti-wanti untuk berhati-hati, bahkan keamanan di Korea University sudah diperketat. Namun pelaku yang cerdas ini selalu menemukan cara untuk sampai pada korbannya. Dia seolah-olah selalu mengetahui korban sedang berada di mana.

Yoochun meneguk kopinya yang terakhir. Song Jisoo diracuni Arsen dari makanan terakhir-nya, dan Yoochun sudah membaca hasil penyelidikan bahwa korban memesan makanan cepat saji dari sebuah restoran. Di kamar korban memang ada sisa dari makanan itu, dan dikatakan bahwa korban sempat mengalami diare hebat dan muntah-muntah. Tetapi menurut kepala restoran yang bersangkutan, tukang makanan yang saat itu bertugas mengantar makanan pada korban tidak pernah kembali. Ia menghilang pada hari yang sama saat korban tewas. Namun kendaraan yang dipakai untuk mengantarkan makanan itu ditemukan terparkir pada sebuah taman yang sudah lama ditutup. Ada dua kemungkinan dalam kasus ini, pelaku adalah orang yang dikenal korban dan menyamar menjadi pengantar makanan, atau pelaku memang benar-benar bukan orang yang dikenal korban.

Drrrtt… drrtt…

Ponsel Yoochun tiba-tiba berbunyi memecah lamunannya.

“Ya, Kyuhyun?” ujar Yoochun berharap Kyuhyun akan memberinya pencerahan.

“Detektif! Orang terakhir yang bersama korban adalah Kim Junsu dan Jun Jihyun.”

***

Hari ini Yoochun akan menemui orang yang bernama Kim Junsu dan Jun Jihyun untuk meminta keterangan dari mereka berdua. Jun Jihyun telah dimintai keterangannya pagi tadi dan Kim Junsu akan memenuhi panggilan nanti sore. Dia tidak mungkin langsung mengeluarkan surat penangkapan saat itu juga. Karena belum tentu mereka adalah tersangka. Saat ini status kedua orang tersebut masih menjadi saksi.

“Ku dengar kau akan segera menikah.” Kata Yoochun sambil menyesap cappucino yang dipesannya.

“Yah, dalam waktu dekat ini. Tapi kami belum menentukan tanggalnya.” Jawab Yunho. “Aku harus menunggu dia lulus terlebih dahulu.”

Kedua pria tersebut kembali terdiam, sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini. Kesibukan masing-masing menjadi alasan mereka jarang bertemu. Dalam setahun mungkin dapat dihitung dengan jari mereka bertemu, padahal dulu mereka hampir selalu bertemu setiap minggu. Yoochun telah mengenal Yunho sejak SMA. Mereka adalah teman satu SMA.

“Bagaimana kencan buta yang kau ikuti akhir minggu lalu?” tanya Yunho.

“Tsk.” Yoochun mendesis kesal, “Kau tahu itu tak akan berhasil.”

“Kau masih mengingat mantanmu itu?” ujar Yunho. “Mau sampai kapan kau hidup di bawah bayang-bayangnya. Lebih baik kau segera melupakannya.”

“Sudahlah. Kita di sini bukan untuk membahas ini.”

Yunho mengangguk pelan. “Kasus yang kau tangani saat ini, apa terlalu berat?”

“Tidak juga, hanya sedikit membingungkan. Kau tau mencari motif di balik pembunuhan itu sulit jika tidak ada tersangka.” Ucap Yoochun. Dia tidak mungkin menceritakan detail dari kasus yang ditanganinya saat ini. Karena itu akan melanggar peraturan. Yunho sudah memahami pekerjaan Yoochun, sehingga tidak bertanya lebih lanjut.

“Jangan terlalu diambil pusing.” Saran Yunho, “Aku percaya kau bisa menyelesaikan kasus ini seperti kasus-kasus lainnya.”

“Aku akan berusaha.” Balas Yoochun.

Seseorang wanita memasuki cafè dan berjalan menuju salah satu meja di sudut ruangan.

“Hai.” Sapanya saat tiba di meja tersebut dan mengambil tempat duduk di sebelah Yoochun.

“Hai Yoona.” Balas Yunho. “Sudah lama tidak melihatmu.”

“Kau saja yang terlalu sibuk. Ah! Kudengar kau memenangkan tender dalam proyek pembangunan apartment di Busan?”

“Ya seperti itu.”

“Itu adalah proyek yang sangat besar. Kau beruntung sekali. Selamat ya!”

“Terima kasih.” Kata Yunho tersenyum, “Jarang sekali aku melihat kalian berdua seperti ini.”

“Ah, Yoochun mengajakku mencari hadiah untuk Kyuhyun.” Ujar Yoona. “Kalau kau sempat kita harus makan malam bersama. Aku akan mentraktirmu sebagai ucapan selamat.”

“Itu bisa diatur.” Yunho berpikir sebentar, kemudian melanjutkan, “Aku khawatir tidak sempat kalau malam ini, karena aku ada janji untuk bertemu rekan kerjaku nanti sore. Mungkin lain kali, Yoona”

***

Yunho turun dari mobilnya dan bergegas menuju salah satu ruang pertemuan. Sudah lewat 30 menit dari waktu yang telah disepakati. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tadi sore membuat keadaan lalu lintas sedikit kacau.

“Maaf, saya terlambat.” Kata Yunho sesaat setelah memasuki ruangan dan mengambil duduk di depan rekan kerja barunya.

Pertemuan ini merupakan pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya. Shim Changmin, rekan kerja barunya ini meminta untuk bertemu dan mengatakan ada hal yang harus didiskusikan dengannya.

Changmin hanya tersenyum. Walaupun itu bukan sebuah senyuman, yang dia lakukan hanya menarik kedua ujung bibirnya.

Yunho mengerutkan alisnya, ada yang aneh dengan rekan kerjanya ini. Terlalu tanpa-ekspresi untuk ukuran manusia. Bukankah seharusnya Changmin menunjukan perasaan kesal karena dia terlambat. Dalam dunia bisnis waktu adalah uang. Dengan kedatangan dia yang terlambat berarti dia telah membuang-buang waktunya.

Jika dilihat-lihat, dia merasa tidak asing dengan pria yang duduk didepannya. Mungkin wajah bisa terlupakan, tapi siapa yang akan lupa jika bertemu dengan pria yang tingginya mencapai 190 cm.

“Jadi ada keperluan apa?” Yunho mulai menagih.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar