Secangkir
kopi menemani kebingungan Yoochun malam itu. Waktu sudah menunjuk pukul 10
malam, dan kantornya sudah mulai sepi. Ia masih belum bisa pulang karena kasus
yang baru-baru ini muncul telah mempersulit pekerjaannya. Park Yoochun tidak
pernah gagal menangkap pelaku. Dipandanginya lagi sederet nama yang kini sudah
dicurigai sebagai ter-sangka. Sebetulnya dari semua tersangka itu Yoochun belum
menemukan motif yang jelas sehingga pelaku sampai membunuh korban. Nama-nama yang kini ada di
layar komputernya juga diambil dari nama mahasiswa dan staff Korea University yang
memiliki unsur huruf J dan K. Kemungkinan
besar pelaku adalah anggota Korea University, dan memiliki kecemburuan dengan
keberhasilan para korban. Terutama karena kedua korban adalah mahasiswa dengan
reputasi yang sangat baik. Namun tetap saja, motif pembunuhan tidak bisa
Yoochun sendiri yang memperkirakan.
“Jisoo adalah anak yang mudah bergaul, dia biasanya
pergi dengan beberapa teman yang berbeda. Namun jarang sekali ia membawa teman
ke asrama ini.”
Itu
adalah keterangan pemilik asrama tempat Song Jisoo tinggal yang didengarkan
Yoochun dari sebuah rekaman. Yoochun mengerutkan alisnya sambil berpikir keras.
Anak yang cerdas, berprestasi, banyak teman dan tidak mempunyai musuh. Sulit
menemukan orang yang benar-benar memiliki motif yang kuat untuk membunuhnya.
Korban juga memiliki reputasi yang baik dan masa depan cerah, sungguh tidak ada
alasan untuk melakukan bunuh diri.
Ia
menatap sekali lagi deretan nama di layar komputernya. Bagaimana jika pelakunya bukan berasal dari Korea University? Hasil
otopsi menunjukkan kedua korban tewas akibat racun yang berbeda. Bagaimana cara
memperoleh semua racun itu? Pelakunya tentulah memiliki pengetahuan yang cukup
mengenai bahan-bahan kimia. Yoochun mulai khawatir pelaku di balik semua ini
bukan hanya satu orang. Jika pelakunya tertangkap, ia akan dijatuhi hukuman
yang sangat berat, bahkan mungkin hukuman mati, karena orang ini sangat
berbahaya. Sejak terjadinya kasus pertama yang juga menimpa mahasiswa Korea
University, kepolisian sudah mewanti-wanti untuk berhati-hati, bahkan keamanan
di Korea University sudah diperketat. Namun pelaku yang cerdas ini selalu
menemukan cara untuk sampai pada korbannya. Dia seolah-olah selalu mengetahui
korban sedang berada di mana.
Yoochun
meneguk kopinya yang terakhir. Song Jisoo diracuni Arsen dari makanan terakhir-nya,
dan Yoochun sudah membaca hasil penyelidikan bahwa korban memesan makanan cepat
saji dari sebuah restoran. Di kamar korban memang ada sisa dari makanan itu,
dan dikatakan bahwa korban sempat mengalami diare hebat dan muntah-muntah.
Tetapi menurut kepala restoran yang bersangkutan, tukang makanan yang saat itu
bertugas mengantar makanan pada korban tidak pernah kembali. Ia menghilang pada
hari yang sama saat korban tewas. Namun kendaraan yang dipakai untuk
mengantarkan makanan itu ditemukan terparkir pada sebuah taman yang sudah lama
ditutup. Ada dua kemungkinan dalam kasus ini, pelaku adalah orang yang dikenal
korban dan menyamar menjadi pengantar makanan, atau pelaku memang benar-benar
bukan orang yang dikenal korban.
Drrrtt…
drrtt…
Ponsel
Yoochun tiba-tiba berbunyi memecah lamunannya.
“Ya,
Kyuhyun?” ujar Yoochun berharap Kyuhyun akan memberinya pencerahan.
“Detektif! Orang terakhir yang bersama korban adalah
Kim Junsu dan Jun Jihyun.”
***
Hari ini Yoochun
akan menemui orang yang bernama Kim Junsu dan Jun Jihyun untuk meminta
keterangan dari mereka berdua. Jun Jihyun telah dimintai keterangannya pagi
tadi dan Kim Junsu akan memenuhi panggilan nanti sore. Dia tidak mungkin langsung
mengeluarkan surat penangkapan saat itu juga. Karena belum tentu mereka adalah
tersangka. Saat ini status kedua orang tersebut masih menjadi saksi.
“Ku dengar kau
akan segera menikah.” Kata Yoochun sambil menyesap cappucino yang dipesannya.
“Yah, dalam waktu
dekat ini. Tapi kami belum menentukan tanggalnya.” Jawab Yunho. “Aku harus
menunggu dia lulus terlebih dahulu.”
Kedua pria
tersebut kembali terdiam, sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini.
Kesibukan masing-masing menjadi alasan mereka jarang bertemu. Dalam setahun
mungkin dapat dihitung dengan jari mereka bertemu, padahal dulu mereka hampir
selalu bertemu setiap minggu. Yoochun telah mengenal Yunho sejak SMA. Mereka
adalah teman satu SMA.
“Bagaimana kencan
buta yang kau ikuti akhir minggu lalu?” tanya Yunho.
“Tsk.” Yoochun
mendesis kesal, “Kau tahu
itu tak akan berhasil.”
“Kau masih mengingat
mantanmu itu?” ujar Yunho. “Mau sampai kapan kau hidup di bawah bayang-bayangnya.
Lebih baik kau segera melupakannya.”
“Sudahlah. Kita di sini bukan untuk membahas
ini.”
Yunho mengangguk
pelan. “Kasus yang kau tangani saat ini, apa terlalu berat?”
“Tidak juga, hanya
sedikit membingungkan. Kau tau mencari motif di balik pembunuhan itu
sulit jika tidak ada tersangka.” Ucap Yoochun. Dia tidak mungkin menceritakan
detail dari kasus yang ditanganinya saat ini. Karena itu akan melanggar
peraturan. Yunho sudah memahami pekerjaan Yoochun, sehingga tidak bertanya
lebih lanjut.
“Jangan terlalu
diambil pusing.” Saran Yunho, “Aku percaya kau bisa menyelesaikan kasus ini
seperti kasus-kasus lainnya.”
“Aku akan
berusaha.” Balas Yoochun.
Seseorang wanita
memasuki cafè dan berjalan menuju salah satu meja di sudut ruangan.
“Hai.” Sapanya
saat tiba di meja tersebut dan mengambil tempat duduk di sebelah Yoochun.
“Hai Yoona.” Balas
Yunho. “Sudah lama tidak melihatmu.”
“Kau saja yang
terlalu sibuk. Ah! Kudengar kau memenangkan tender dalam proyek pembangunan
apartment di Busan?”
“Ya seperti itu.”
“Itu adalah proyek
yang sangat besar. Kau beruntung sekali. Selamat ya!”
“Terima kasih.”
Kata Yunho tersenyum, “Jarang sekali aku melihat kalian berdua seperti ini.”
“Ah, Yoochun
mengajakku mencari hadiah untuk Kyuhyun.” Ujar Yoona. “Kalau kau sempat kita
harus makan malam bersama. Aku akan mentraktirmu sebagai ucapan selamat.”
“Itu bisa diatur.”
Yunho berpikir sebentar, kemudian melanjutkan, “Aku khawatir tidak sempat kalau malam ini, karena aku
ada janji untuk bertemu rekan kerjaku
nanti sore. Mungkin lain kali, Yoona”
***
Yunho turun dari
mobilnya dan bergegas menuju salah satu ruang pertemuan. Sudah lewat 30 menit
dari waktu yang telah disepakati. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tadi sore
membuat keadaan lalu lintas sedikit kacau.
“Maaf, saya
terlambat.” Kata Yunho sesaat setelah memasuki ruangan dan mengambil duduk di depan rekan kerja
barunya.
Pertemuan ini
merupakan pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya. Shim Changmin, rekan
kerja barunya ini meminta untuk bertemu dan mengatakan ada hal yang harus
didiskusikan dengannya.
Changmin hanya
tersenyum. Walaupun itu bukan sebuah senyuman, yang dia lakukan hanya menarik
kedua ujung bibirnya.
Yunho mengerutkan
alisnya, ada yang aneh dengan rekan kerjanya ini. Terlalu tanpa-ekspresi untuk ukuran manusia. Bukankah seharusnya Changmin
menunjukan perasaan kesal karena dia terlambat. Dalam dunia bisnis waktu adalah
uang. Dengan kedatangan dia yang terlambat berarti dia telah membuang-buang
waktunya.
Jika
dilihat-lihat, dia merasa tidak asing dengan pria yang duduk didepannya.
Mungkin wajah bisa terlupakan, tapi siapa yang akan lupa jika bertemu dengan
pria yang tingginya mencapai 190 cm.
“Jadi ada
keperluan apa?” Yunho mulai menagih.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar