(Flashback pada saat terjadi kasus pertama)
“Kemarilah, ada
yang ingin kuperlihatkan.” Kata Kim Seokjin saat seseorang memasuki salah satu
laboratorium. “Sepertinya percobaanku yang ini telah berhasil.”
Pria itu –yang
baru saja masuk– berjalan mendekati meja. Ia mengamati apa yang dimaksud oleh
Seokjin. Terdapat sebuah robot berbentuk cairan berwarna perak setinggi 50 cm
yang dapat berubah bentuk. “A-50” tulisan
pada tubuh robot itu. Robot itu terlihat ‘sangat
hidup’ di mata
kedua orang itu.
“Wow,” kata pria
itu kagum. “Kau bisa membuatnya berubah bentuk menjadi manusia?”
“Belum. Aku telah
mencobanya tetapi bentuknya tidak bagus. Selain itu kecerdasan buatan yang ia
miliki hanya setara dengan anak umur 4 tahun.” Jelas Seokjin.
Kim Seokjin
merupakan seorang mahasiswa tingkat
akhir yang sering mengikuti kejuaraan robotik.
Ia adalah orang yang
terkenal pintar dan sedikit aneh. Tak banyak orang yang ia ajak bicara. Bahkan ia tak pernah
terlihat berlama-lama berbicara dengan
seseorang. Kebanyakan waktunya dihabiskan di
perpustakaan atau laboratorium.
“Aku ingin sekali
membuat robot berbentuk manusia.” Kata pria itu. “Tapi sepertinya kemampuanku
tak cukup bahkan untuk menciptakan robot seperti A-50.”
“Hei kawan, perjalanan kita masih
panjang. Aku akan membantumu mewujudkan impian-mu.” Seokjin
berusaha membesarkan hati temannya itu. “Kemampuanmu saat ini sedang ku
butuhkan untuk mengembangkan kecerdasan buatan yang lebih tinggi. Tenang saja.”
Pria itu mengangguk pelan, “Tetapi aku sudah banyak belajar darimu.”
Seokjin tidak mendengarkan apa
yang dikatakan oleh pria itu. Ia masih sibuk dengan A-50 yang sedang berubah bentuk menjadi tabung berwarna perak dan
kembali lagi. Ia terduduk pada kursi terdekat dan menyentuh kepalanya sejenak.
Sudah beberapa hari ini dia merasa pusing akibat terlalu banyak pikiran
ditambah lagi dia sering begadang untuk menyelesaikan robot A-50 ini.
“Apakah semuanya baik-baik saja?
Kau terlihat sangat pucat.” Kata pria itu khawatir.
“Entahlah. Aku merasa sedikit
pusing.”
“Aku membeli beberapa paracetamol saat perjalanan kemari. Kau
mau?” pria itu mengeluar-kan satu bungkus obat
penghilang rasa sakit. “Obat ini sangat manjur untukku.”
Seokjin meraih bungkusan obat itu
dan meminumnya. Kepalanya terasa lebih ringan saat ini. “Terima kasih,” ucapnya.
Pria itu mengecek jam yang berada
di dinding. Jarum jam menunjukan waktu 20.50. laboratorium akan ditutup dalam
waktu 10 menit. “Kau mau kuantar pulang?”
“Tidak usah. Aku baik-baik saja.”
Tolak Seokjin
“Kau yakin?”
Seokjin mengangguk mantap. “Kau
pulanglah terlebih dahulu. Aku akan disini sebentar lagi.”
“Hei..” panggil pria itu saat
berada di ambang pintu. “Kau selalu mengingatkanku pada seseorang.” Kemudian ia menghilang dibalik pintu. Seokjin hanya tertegun
mendengarnya.
10 menit kemudian Seokjin keluar
dari laboratorium. Tenggorokannya terasa kering sehingga ia berhenti di depan
mesin pejual minuman, membeli sekaleng soda dan meminumnya. Tiba-tiba kaleng
soda yang dipegangnya terjatuh. Dadanya terasa sesak, ia tak dapat bernafas
seolah-olah seluruh oksigen di sekitarnya telah
menghilang. Setelah itu tubuh Seokjin mengalami kejang dan dalam sekejap diam
tak bergerak.
Pria itu menatap cctv yang berada
pada sudut lorong. Ia berdiri tanpa ada rasa takut bahwa dirinya akan terekam
melalui kamera pengawas tersebut. Bibirnya bergerak mengucapkan kalimat tanpa
suara “seseorang yang kubenci.”
(Flashback end)
***
Keadaan Yunho saat ini jauh lebih
baik daripada saat pertama kali ditemukan. Ia sudah mulai bisa diajak
berkomunikasi. Hanya Jihae yang diperbolehkan untuk tetap berada di samping
Yunho.
Jihae masih terus berada disebah
Yunho. Sesekali mereka berdua tertawa karena lelucon yang dilontarkan oleh
Jihae.
“Yunho. Ada seseorang yang datang
menjengukmu,” kata Yoomi lembut sambil membuka pintu lebih lebar,
mempersilahkan masuk. “Kuharap kau tidak terlalu terkejut. Aku akan menunggu di luar.” Kalimat terakhir yang dilontarkan Yoomi bukan
ditujukan untuk Yunho tetapi untuk tamu yang baru saja masuk. Yoomi tidak bisa
terlalu lama berada di ruangan itu karena jika Yunho melihatnya, ia akan mulai
berteriak histeris lagi.
“Hei, bagaimana keadaanmu?” tanya
Yoochun sambil memberikan rangkaian bunga yang diterima oleh Jihae.
Sesaat wajah Yunho mulai berubah,
tawa dan senyuman tadi telah digantikan oleh rasa takut dan waspada. Ia
mencengkram tangan selimut lebih erat dari yang diperlukan.
“Oppa..” panggil Jihae. “Kau
baik-baik saja?”
Yunho segera meraih bahu Jihae
dan menatapnya nanar, “Jihae kau tidak aman di sini. Kau harus segera bersembunyi. Dia orang yang
berbahaya. Kau harus pergi menemui ayah atau ibu.”
Jihae tampak terkejut, “Tapi, dia
adalah Yoochun Oppa, temanmu. Kau lupa?”
Yoona yang ikut untuk menjenguk
Yunho saat ini sama terkejutnya dengan Yoochun. Bagaimana Yunho melihat Yoochun
sama seperti ia melihat Yoomi. Yoona menatap Yoochun meminta penjelasan
tapi Yoochun hanya menggeleng tidak tahu.
“Jihae, apa yang terjadi dengan
Oppa-mu?” tanya Yoochun khawatir.
“Tidak tahu, ia sudah seperti ini
sejak sadar pertama kali. Ketika Yoomi unnie mendekatinya dia akan berteriak
histeris. Hanya aku yang bisa mendekatinya.” Jelas Jihae.
“Kupikir kita tak seharusnya di sini, sebagai teman atau penyidik.” Ujar Yoona. “Aku takut
keadaannya menjadi lebih buruk.”
Yoochun menyetujui apa yang
dikatakan oleh Yoona. Ia tidak habis pikir kenapa Yunho takut padanya dan
menganggapnya orang lain. Apa trauma
kepala yang dideritanya sangat parah? Batin Yoochun.
Dokter mengatakan kondisinya
sudah stabil dan boleh dimintai keterangan untuk penyelidikan, tetapi melihat
kondisi Yunho yang seperti ini, sepertinya penyelidikan akan terasa sulit.
“Lebih baik kami permisi,” pamit
Yoona sambil menarik tangan Yoochun untuk keluar dari ruangan.
“Semoga Yunho
lekas sembuh.”
Sesaat setelah kedua orang itu
keluar. Yunho kembali menatap Jihae. “Dengar baik-baik Jihae. Mereka itu bukan
orang yang baik, sama seperti
wanita itu.”
***
Hasil tes kejiwaan sudah
ada di tangan dr. Son Yejin. Ia sudah mempelajari hasil tes itu dengan serius,
dan saat ini kedua orang tua Yunho dan juga Yoomi sudah berada di depannya
untuk mendapat penjelasan.
“Kondisi fisik Yunho
sudah mulai pulih saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap dr. Son.
Ia memberi jeda sejenak dan melihat keluarga Yunho tampak sangat lega.
“Lalu kapan Yunho boleh
pulang?” tanya Ny. Jung. “Kami ingin merawatnya di rumah.”
“Begitu cedera kepalanya
pulih, Yunho akan segera pulang,” dr. Son lagi-lagi terdiam beberapa saat, lalu
ia melanjutkan. “Tetapi ada yang harus saya sampaikan.”
Kalimat itu membuat
kelegaan di wajah mereka bertiga seketika hilang. Memang sejak awal Yunho sadarkan
diri, sikapnya sangat aneh. Dia ketakutan pada setiap orang, bahkan pada ayah
dan ibunya. Hanya Jihae yang tidak ditakutinya. Tuan dan Nyonya Jung sudah
sering menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada putra mereka, dan kini dr.
Son sudah mengerti apa yang menyebabkan trauma Yunho menjadi separah itu.
“Apa yang terjadi dengan
putra kami?” desak Tn. Jung tak sabar.
“Jung Yunho mengalami
trauma yang cukup hebat pada kepalanya, dan traumanya ini ter-nyata mengenai
bagian otak yang mengatur memori visual. Setelah kami melakukan beberapa tes
kejiwaan, dikatakan Jung Yunho mengalami suatu gangguan identifikasi delusional
yang disebut Fregoli Delusion.”
Ketiga pasang mata yang
duduk di hadapannya tampak terheran-heran mendengar berita itu. Mereka
sepertinya masih belum sepenuhnya menerima informasi yang diberikan dr. Son.
“Maksudnya anak kami
sekarang gila?” tanya Ny. Jung hampir menangis.
“Bukan begitu, Bu.” Ucap
dr. Son. Ia melirik Yoomi sebentar, wanita itu sepertinya sudah pasrah dengan
keadaan. “Fregoli Delusion adalah
kelainan delusional yang menyebabkan penderitanya meyakini beberapa orang yang
ia lihat dalam kehidupannya adalah satu orang yang sama, yang menyamar untuk
mencelakainya. Hal ini bisa disebabkan oleh trauma fisik ataupun cedera otak.
Itulah sebabnya Yunho selalu merasa ketakutan setiap melihat orang, karena
baginya, orang-orang di sekitarnya adalah si penculik yang sedang menyamar.”
Ny. Jung tampak sudah
mulai menangis, dan Yoomi memeluknya dengan wajah putus asa. Ia bahkan sudah
tidak menangis. Mungkin hal itu justru karena ia merasa begitu terpukul.
Beberapa saat suasana di
sana hening, dr. Son dapat mengerti betapa kecewanya mereka dengan berita ini.
Yunho bahkan baru sedikit dapat menerima kedua orang tuanya, dan ia sama sekali
tidak dapat menerima Yoomi. Wanita yang sebelumnya paling ia cintai.
“Apakah Yunho bisa
disembuhkan?” suara Tn. Jung memecah keheningan.
“Kami akan berusaha.
Namun ini tidak mudah, dan memerlukan waktu yang lama, juga kerjasama dari Anda
semua. Mulai saat ini Yunho akan ditangani juga oleh ahli kejiwaan.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar