Welcome

Senin, 11 April 2016

FREGOLI DELUSION (12)



(Flashback pada saat terjadi kasus pertama)

“Kemarilah, ada yang ingin kuperlihatkan.” Kata Kim Seokjin saat seseorang memasuki salah satu laboratorium. “Sepertinya percobaanku yang ini telah berhasil.”

Pria itu –yang baru saja masuk– berjalan mendekati meja. Ia mengamati apa yang dimaksud oleh Seokjin. Terdapat sebuah robot berbentuk cairan berwarna perak setinggi 50 cm yang dapat berubah bentuk. “A-50” tulisan pada tubuh robot itu. Robot itu terlihat ‘sangat hidup’ di mata kedua orang itu.

“Wow,” kata pria itu kagum. “Kau bisa membuatnya berubah bentuk menjadi manusia?”

“Belum. Aku telah mencobanya tetapi bentuknya tidak bagus. Selain itu kecerdasan buatan yang ia miliki hanya setara dengan anak umur 4 tahun.” Jelas Seokjin.

Kim Seokjin merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir yang sering mengikuti kejuaraan robotik. Ia adalah orang yang terkenal pintar dan sedikit aneh. Tak banyak orang yang ia ajak bicara. Bahkan ia tak pernah terlihat berlama-lama berbicara dengan seseorang. Kebanyakan waktunya dihabiskan di perpustakaan atau laboratorium.

“Aku ingin sekali membuat robot berbentuk manusia.” Kata pria itu. “Tapi sepertinya kemampuanku tak cukup bahkan untuk menciptakan robot seperti A-50.”

“Hei kawan, perjalanan kita masih panjang. Aku akan membantumu mewujudkan impian-mu.” Seokjin berusaha membesarkan hati temannya itu. “Kemampuanmu saat ini sedang ku butuhkan untuk mengembangkan kecerdasan buatan yang lebih tinggi. Tenang saja.”

Pria itu mengangguk pelan, “Tetapi aku sudah banyak belajar darimu.”

Seokjin tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria itu. Ia masih sibuk dengan A-50 yang sedang berubah bentuk menjadi tabung berwarna perak dan kembali lagi. Ia terduduk pada kursi terdekat dan menyentuh kepalanya sejenak. Sudah beberapa hari ini dia merasa pusing akibat terlalu banyak pikiran ditambah lagi dia sering begadang untuk menyelesaikan robot A-50 ini.

“Apakah semuanya baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat.” Kata pria itu khawatir.

“Entahlah. Aku merasa sedikit pusing.”

“Aku membeli beberapa paracetamol saat perjalanan kemari. Kau mau?” pria itu mengeluar-kan satu bungkus obat penghilang rasa sakit. “Obat ini sangat manjur untukku.”

Seokjin meraih bungkusan obat itu dan meminumnya. Kepalanya terasa lebih ringan saat ini. “Terima kasih,” ucapnya.

Pria itu mengecek jam yang berada di dinding. Jarum jam menunjukan waktu 20.50. laboratorium akan ditutup dalam waktu 10 menit. “Kau mau kuantar pulang?”

“Tidak usah. Aku baik-baik saja.” Tolak Seokjin

“Kau yakin?”

Seokjin mengangguk mantap. “Kau pulanglah terlebih dahulu. Aku akan disini sebentar lagi.”

“Hei..” panggil pria itu saat berada di ambang pintu. “Kau selalu mengingatkanku pada seseorang.” Kemudian ia menghilang dibalik pintu. Seokjin hanya tertegun mendengarnya.

10 menit kemudian Seokjin keluar dari laboratorium. Tenggorokannya terasa kering sehingga ia berhenti di depan mesin pejual minuman, membeli sekaleng soda dan meminumnya. Tiba-tiba kaleng soda yang dipegangnya terjatuh. Dadanya terasa sesak, ia tak dapat bernafas seolah-olah seluruh oksigen di sekitarnya telah menghilang. Setelah itu tubuh Seokjin mengalami kejang dan dalam sekejap diam tak bergerak.

Pria itu menatap cctv yang berada pada sudut lorong. Ia berdiri tanpa ada rasa takut bahwa dirinya akan terekam melalui kamera pengawas tersebut. Bibirnya bergerak mengucapkan kalimat tanpa suara “seseorang yang kubenci.”

(Flashback end)

***

Keadaan Yunho saat ini jauh lebih baik daripada saat pertama kali ditemukan. Ia sudah mulai bisa diajak berkomunikasi. Hanya Jihae yang diperbolehkan untuk tetap berada di samping Yunho.

Jihae masih terus berada disebah Yunho. Sesekali mereka berdua tertawa karena lelucon yang dilontarkan oleh Jihae.

“Yunho. Ada seseorang yang datang menjengukmu,” kata Yoomi lembut sambil membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan masuk. “Kuharap kau tidak terlalu terkejut. Aku akan menunggu di luar.” Kalimat terakhir yang dilontarkan Yoomi bukan ditujukan untuk Yunho tetapi untuk tamu yang baru saja masuk. Yoomi tidak bisa terlalu lama berada di ruangan itu karena jika Yunho melihatnya, ia akan mulai berteriak histeris lagi.

“Hei, bagaimana keadaanmu?” tanya Yoochun sambil memberikan rangkaian bunga yang diterima oleh Jihae.

Sesaat wajah Yunho mulai berubah, tawa dan senyuman tadi telah digantikan oleh rasa takut dan waspada. Ia mencengkram tangan selimut lebih erat dari yang diperlukan.

“Oppa..” panggil Jihae. “Kau baik-baik saja?”

Yunho segera meraih bahu Jihae dan menatapnya nanar, “Jihae kau tidak aman di sini. Kau harus segera bersembunyi. Dia orang yang berbahaya. Kau harus pergi menemui ayah atau ibu.”

Jihae tampak terkejut, “Tapi, dia adalah Yoochun Oppa, temanmu. Kau lupa?”

Yoona yang ikut untuk menjenguk Yunho saat ini sama terkejutnya dengan Yoochun. Bagaimana Yunho melihat Yoochun sama seperti ia melihat Yoomi. Yoona menatap Yoochun meminta penjelasan tapi Yoochun hanya menggeleng tidak tahu.

“Jihae, apa yang terjadi dengan Oppa-mu?” tanya Yoochun khawatir.

“Tidak tahu, ia sudah seperti ini sejak sadar pertama kali. Ketika Yoomi unnie mendekatinya dia akan berteriak histeris. Hanya aku yang bisa mendekatinya.” Jelas Jihae.

“Kupikir kita tak seharusnya di sini, sebagai teman atau penyidik.” Ujar Yoona. “Aku takut keadaannya menjadi lebih buruk.”

Yoochun menyetujui apa yang dikatakan oleh Yoona. Ia tidak habis pikir kenapa Yunho takut padanya dan menganggapnya orang lain. Apa trauma kepala yang dideritanya sangat parah? Batin Yoochun.

Dokter mengatakan kondisinya sudah stabil dan boleh dimintai keterangan untuk penyelidikan, tetapi melihat kondisi Yunho yang seperti ini, sepertinya penyelidikan akan terasa sulit.

“Lebih baik kami permisi,” pamit Yoona sambil menarik tangan Yoochun untuk keluar dari ruangan. 

“Semoga Yunho lekas sembuh.”

Sesaat setelah kedua orang itu keluar. Yunho kembali menatap Jihae. “Dengar baik-baik Jihae. Mereka itu bukan orang yang baik, sama seperti wanita itu.”

***

Hasil tes kejiwaan sudah ada di tangan dr. Son Yejin. Ia sudah mempelajari hasil tes itu dengan serius, dan saat ini kedua orang tua Yunho dan juga Yoomi sudah berada di depannya untuk mendapat penjelasan.

“Kondisi fisik Yunho sudah mulai pulih saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap dr. Son. Ia memberi jeda sejenak dan melihat keluarga Yunho tampak sangat lega.

“Lalu kapan Yunho boleh pulang?” tanya Ny. Jung. “Kami ingin merawatnya di rumah.”

“Begitu cedera kepalanya pulih, Yunho akan segera pulang,” dr. Son lagi-lagi terdiam beberapa saat, lalu ia melanjutkan. “Tetapi ada yang harus saya sampaikan.”

Kalimat itu membuat kelegaan di wajah mereka bertiga seketika hilang. Memang sejak awal Yunho sadarkan diri, sikapnya sangat aneh. Dia ketakutan pada setiap orang, bahkan pada ayah dan ibunya. Hanya Jihae yang tidak ditakutinya. Tuan dan Nyonya Jung sudah sering menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada putra mereka, dan kini dr. Son sudah mengerti apa yang menyebabkan trauma Yunho menjadi separah itu.

“Apa yang terjadi dengan putra kami?” desak Tn. Jung tak sabar.

“Jung Yunho mengalami trauma yang cukup hebat pada kepalanya, dan traumanya ini ter-nyata mengenai bagian otak yang mengatur memori visual. Setelah kami melakukan beberapa tes kejiwaan, dikatakan Jung Yunho mengalami suatu gangguan identifikasi delusional yang disebut Fregoli Delusion.”

Ketiga pasang mata yang duduk di hadapannya tampak terheran-heran mendengar berita itu. Mereka sepertinya masih belum sepenuhnya menerima informasi yang diberikan dr. Son.

“Maksudnya anak kami sekarang gila?” tanya Ny. Jung hampir menangis.

“Bukan begitu, Bu.” Ucap dr. Son. Ia melirik Yoomi sebentar, wanita itu sepertinya sudah pasrah dengan keadaan. “Fregoli Delusion adalah kelainan delusional yang menyebabkan penderitanya meyakini beberapa orang yang ia lihat dalam kehidupannya adalah satu orang yang sama, yang menyamar untuk mencelakainya. Hal ini bisa disebabkan oleh trauma fisik ataupun cedera otak. Itulah sebabnya Yunho selalu merasa ketakutan setiap melihat orang, karena baginya, orang-orang di sekitarnya adalah si penculik yang sedang menyamar.”

Ny. Jung tampak sudah mulai menangis, dan Yoomi memeluknya dengan wajah putus asa. Ia bahkan sudah tidak menangis. Mungkin hal itu justru karena ia merasa begitu terpukul.

Beberapa saat suasana di sana hening, dr. Son dapat mengerti betapa kecewanya mereka dengan berita ini. Yunho bahkan baru sedikit dapat menerima kedua orang tuanya, dan ia sama sekali tidak dapat menerima Yoomi. Wanita yang sebelumnya paling ia cintai.

“Apakah Yunho bisa disembuhkan?” suara Tn. Jung memecah keheningan.

“Kami akan berusaha. Namun ini tidak mudah, dan memerlukan waktu yang lama, juga kerjasama dari Anda semua. Mulai saat ini Yunho akan ditangani juga oleh ahli kejiwaan.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar