Jawaban ibunya akan selalu begitu. Membela Junsu. Seakan-akan semua yang dilakukan Junsu tidak pernah salah. Yah, benar. Anak itu kan jenius, tak pernah salah. Karena setiap kesalahan itu pasti akan dilimpahkan pada Jaejoong. Dan si bungsu itu, akan selamanya menjadi yang paling benar.
***
“Waah, hebat sekali ya putramu ini. Dia bisa masuk sekolah favorit itu
dengan nilai terbaik. Anakku saja mencoba masuk di sana susah sekali,
padahal dia langganan juara kelas sejak SD.” Ucap Ny. Shin sambil
tersenyum kagum.
“Ah, bisa saja Ny. Shin ini. Aku juga bangga pada
puteraku. Dia anak yang rajin dan penurut.” Ucap Ny. Kim sambil mengusap
kepala Junsu. Yang dipuji hanya senyam-senyum merendah.
“Lalu bagaimana dengan si sulung itu? Dia tidak mencoba masuk sekolah yang sama, ya?” gantian Ny. Wung yang berbicara.
Kini semua yang ada di ruang tamu itu menatap ke arah Jaejoong yang
sedang sibuk mengotak-atik sebuah rubik tanpa menyadari ia sedang
diperhatikan.
“Ah, Jaejoong bilang dia tidak mau sekolah jauh-jauh, makanya dia tidak mendaftar di sekolah itu.” Ucap Ny. Kim beralasan.
“Oh ya? Aah... manja sekali si sulung itu. Adiknya saja berani.”
Gelak tawa terdengar mengiringi ucapan Ny. Wung. Jaejoong melirik
sejenak, ia baru menyadari bahwa mereka semua sedang mentertawakannya.
Bahkan tak terkecuali, Junsu dan ibunya sendiri. Karena merasa kesal,
akhirnya Jaejoong bangkit dan berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.
“Jaejoong! Kau mau ke mana? Jangan bersikap tidak sopan begitu!” teriak
ibunya. Namun Jaejoong sama sekali tak menggubris. Dia melangkah ke
pintu dan membantingnya keras-keras. Pasti anak itu akan kabur sampai
malam lagi.
“Maaf ya, semuanya, Jaejoong memang begitu. Sifatnya agak keras, berbeda
dengan Junsu yang sangat penurut.” Ucap Ny. Kim mencoba menjelaskan.
“Tidak apa-apa, Ny. Kim. Kami mengerti setiap anak karakternya berbeda-beda.” Ucap Ny. Shin pengertian.
Acara berbincang-bincang itu tetap berlanjut sampai beberapa jam. Junsu
melahap sejuta pujian dari para ibu-ibu yang memang sengaja diundang
datang ke sini untuk merayakan keberhasilan Junsu masuk SMA favorit.
***
Malam itu Junsu tengah duduk di depan layar komputer portablenya dan
sedang membuka-buka jejaring sosialnya. Banyak yang mengucapkan pujian
dan ucapan selamat padanya. Sebagian besar dari teman-teman dan
guru-gurunya saat SMP. Menjadi murid di St. Sanfierce, sekolah favorit
yang terkenal itu, memang telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi
siapapun. Junsu membalas semua ucapan itu dalam satu kiriman sekaligus.
Dia mengucapkan terimakasih pada mereka semua yang sudah menyempatkan
waktu untuk menyapanya dan memberinya pujian.
“Jaejoong!” tiba-tiba
keasyikan Junsu terganggu saat mendengar suara teriakan. Jelas sekali
bahwa itu adalah teriakan ibunya. Junsu memutar bola mata, pasti
hyungnya itu membuat masalah lagi.
Brak bruk brak bruk!
Suara
sepatu Jaejoong terdengar jelas saat menaiki tangga. Junsu tidak pernah
suka dengan suara kasar itu, dia lebih suka ketenangan.
Brakk!!
Terdengar suara pintu dibanting dengan keras, lalu kunci
yang diputar. Karena kamar Junsu ada di seberang kamar Jaejoong, ia bisa
mendengar suara bantingan pintu itu dengan jelas sekali.
***
Pagi itu seperti biasa keluarga Kim melewati sarapan mereka dengan
tenang. Ini hari pertama Junsu mengenakan seragam SMA. Dia terlihat
lebih tampan dan dewasa. Apalagi jika mengenakan seragam St. Sanfierce,
kecemerlangannya semakin terpancar. Sementara itu, kakaknya, yang kini
sudah menginjak kelas 3 SMA, tampak berpenampilan acuh saja. Dia bahkan
tidak menyisir rambut dan lengan kemejanya digulung sampai siku.
Jaejoong tak pernah memakai jas seragamnya, bahkan sampai dia sekolah di
sana selama 2 tahun, dia belum pernah sekalipun mengenakan jas seragam
itu kecuali di hari pertama saat penyambutan murid baru.
“Appa tunggu kau di mobil ya, Junsu.” Ucap Tn. Kim sambil melap mulutnya dan bergegas keluar menuju garasi.
“Tunggu! Junsu ke sekolah naik mobil? Apa aku tak boleh ikut?” tanya Jaejoong memprotes.
“Sekolahmu kan berlawanan arah dengan Junsu dan kantor ayahmu, lagipula
jarak dari sini ke sekolahmu kan dekat. Kau bisa jalan kaki saja untuk
mencapainya.” Jawab ibunya acuh.
Jaejoong tidak bicara lagi. Dia tahu ibunya tidak akan mengizinkannya pergi sekolah dengan mobil. Ya, ia memang anak tak berguna. Tidak
seperti Junsu yang bisa segalanya. Jadi wajar saja jika kedua orang
tuanya rajin sekali memanjakan dan memuji-muji sang adik.
“Aku berangkat dulu!” ucap Jaejoong sambil meletakkan sendoknya sembarangan dan segera pergi melesat sambil menyeret tasnya.
Junsu hanya memandangi kakaknya dengan tatapan iba. Dia sempat merasa
bersalah juga karena dia bisa membaca kecemburuan kakaknya. Jaejoong
pasti merasa dibeda-bedakan, didiskriminasi, dan mungkin tak dianggap.
Mungkin itu jugalah yang membuat sikap Jaejoong selalu dingin pada
Junsu. Tapi Junsu bisa berbuat apa? Dia juga tak mau sepenuhnya
disalahkan atas hal ini.
***
Beberapa hari kemudian…
Kelas masih tampak sepi pagi itu, Jaejoong langsung menghempaskan
tubuh di kursinya. Namun saat dia baru saja bermaksud untuk mengambil
ponsel dan bermain game, tiba-tiba seorang anak perempuan datang
menghampirinya. Jaejoong mengenali anak perempuan berkacamata itu
sebagai Jung Sooyeon.
“Aku dengar adikmu masuk sekolah khusus cendekiawan itu ya?” tanya Sooyeon.
“Iya.”
“Hebat sekali dia! Emh, Jaejoong, apa aku boleh bertemu dengannya? Aku
sudah dengar banyak cerita tentangnya dari tetanggaku. Soalnya
tetanggaku itu teman lesnya Kim Junsu.” Sooyeon tampak sedang
membayangkan sesuatu. Jaejoong menggeser posisi duduknya sedikit, entah
kenapa tiba-tiba dia merasa sangat tidak nyaman dengan permintaan
Sooyeon.
“Kau tahu alamat rumahku?” tanya Jaejoong kemudian. Sooyeon
menggeleng cepat. “Kalau begitu kau ikut pulang bersamaku saja. Tapi
kurasa, karena Junsu sekolah di tempat yang luar biasa bagus, jadi
jadwal pulangnya sekitar pukul tujuh malam. Apa kau bersedia
menunggunya?”
“Apa Junsu selalu pulang larut malam begitu?” tanya Sooyeon agak memprotes.
“Menurut jadwalnya sih begitu.” Jaejoong melipat tangannya di depan
dada, dia puas sekali dengan rekasi Sooyeon. Dengan begini, maka ia tak
perlu membawa wanita merepotkan ini ke rumahnya.
“Oh, begitu. Ya sudah, aku mau menunggunya saja deh!”
Jaejoong belum sempat kaget ketika tiba-tiba bel masuk berbunyi dan
Sooyeon langsung beranjak ke kursinya. Seorang guru memasuki kelas dan
ketua kelas pun memberi aba-aba untuk berdoa.
“Hari ini kita
ulangan. Siapkan alat tulis kalian di atas meja.” Perintah guru berambut
abu-abu itu. Jaejoong membelalakkan mata. Dia sama sekali tidak ingat
kalau hari ini akan ulangan geologi. Dan semalam dia hanya sibuk main
game online, tanpa sedikitpun pusing memikirkan bahwa hari ini akan ada
soal ulangan yang menghampirinya.
Ia tak sempat berpikir apa-apa dan
hanya mengeluarkan alat tulis. Ketika soal ulangan sampai di mejanya,
dia membaca soal itu perlahan-lahan. Tak ada satupun yang diingatnya
mengenai materi ini. Lempengan bumi? Lempengan benua? Akh, bahkan
Jaejoong tak bisa menangkap maksud dari pertanyaan itu. Dia menoleh
sekeliling, semua anak tampaknya sudah mulai mengerjakan. Apa hanya dia
saja yang melupakan ulangan ini? Dengan kesal Jaejoong mulai mengambil
pensil, menulis beberapa kalimat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia
mengisinya tanpa teori sedikitpun, hanya sesuka isi kepalanya saja. Ada
sekitar 15 soal yang harus dikerjakannya, dan semuanya adalah soal
uraian. Namun saat ia baru mengisi tiga soal, ia tak bisa memikirkan
jawaban lagi. Jaejoong berpikir untuk istirahat sejenak, mencari
pencerahan. Berharap salah satu dari teman-temannya bersedia menoleh
sebentar saja dan memberinya jawaban. Namun semua itu tak pernah
terjadi. Akhirnya Jaejoong menyembunyikan wajah di mejanya, memikirkan
jawaban, sampai tak terasa kantuk mulai merasukinya. Dan selama ulangan
geologi berlangsung, Jaejoong hanya mengerjakan 3 soal dengan jawaban
yang seratus persen asal.
Geplak!
“Lempengan tektonik saling
bergesekan…!” teriak Jaejoong antara sadar dan tidak. Ia mengerjap, lalu
mengucek matanya. Sebuah penghapus ada di mejanya, dan ia terlambat
menyadari rasa sakit di kepalanya akibat lemparan penghapus itu.
Ditatapnya sang guru mata pelajaran yang sedang berdiri di depan kelas. Semua teman sekelasnya yang tadi sibuk mengerjakan ulangan, kini tengah
menatap ke arahnya sambil tertawa cengengesan.
“Kau sudah selesai dengan ulanganmu, Kim Jaejoong?” tanya sang guru.
“Belum, Pak!”
“Kalau begitu kumpulkan ke sini kertas ulanganmu. Kapan-kapan saja kau selesaikan.”
Jaejoong menatap lembar jawabannya yang masih kosong. Hanya terisi tiga
soal! Dan itupun tak ada yang ia jawab dengan yakin. Tapi apa boleh
buat? Salahnya sendiri kenapa ia melupakan ulangan ini dan sampai
ketiduran segala. Ia pun membawa kertas ulangannya ke depan dan
menyerahkannya.
Setelah Jaejoong mengumpulkan lembar jawabannya,
sang guru langsung hengkang dari kelas. Jaejoong berjalan dengan lesu ke
kursinya. Ia yakin nilainya tidak akan bisa ia perlihatkan pada ayah
dan ibunya. Dan memang hampir semua ulangan yang Jaejoong sembunyikan
dari ayah dan ibunya karena nilainya sangat jelek. Tidak seperti Junsu,
yang tak harus repot-repot berbohong untuk menutupi nilai ulangan yang
jelek. Ya, tentu saja. Nilai ulangan Junsu nyaris selalu tertinggi di
kelas.
Jaejoong mengusap wajahnya dengan frustasi. “Kenapa aku tak bisa seperti Junsu?”
***
Sepulang
sekolah, Sooyeon mengikuti Jaejoong ke rumahnya. Ternyata rumah
Jaejoong tidak terlalu besar. Bentuknya sederhana, namun tata letaknya
sangat indah. Banyak pohon dan tanaman hias di halaman depan, sebuah
lingkungan rumah yang benar-benar asri. Sooyeon mengekor Jaejoong yang
sedang berjalan ke beranda, lalu Jaejoong merogoh kantong celananya,
mengeluarkan sebuah kunci. Jaejoong segera memasukkan kunci itu ke
lubang pintu, memutarnya, lalu mengajak Sooyeon masuk saat pintu telah
terbuka.
“Kau tunggu di sini ya? Aku ganti baju dulu.” Ucap Jaejoong
mempersilahkan gadis itu duduk di sofa ruang tamunya. Sooyeon hanya
mengangguk, pandangannya menyapu seluruh ruangan di sana. Dia terkesan
dengan foto-foto keluarga yang terpajang di ruang tamu itu. Junsu yang
berwibawa, dan Jaejoong yang tampak keren dengan jas abu-abu. Kedua
orang tua merekapun, tetap terlihat cantik dan tampan meski di umur yang
tak muda lagi.
“Sooyeon!” panggil Jaejoong kemudian. Sooyeon menoleh cepat. “Kau mau minum apa?”
“Apa saja yang penting dingin.” Jawabnya tanpa berpikir panjang. Ia
segera bisa melihat-lihat deretan foto-foto lain saat Jaejoong sudah
meninggalkan ruang tamu.
Setelah puas melihat-lihat deretan foto di
etalase dan dinding ruang tamu, pandangan Sooyeon beralih ke arah lemari
kaca yang diisi piala-piala indah. Ia bangun dari sofa, berjalan ke
sana dan membaca satu-persatu keterangan di piala itu.
Juara 1 olimpiade sempoa artimetika diberikan kepada KIM JUNSU
Juara 1 lomba berhitung cepat tingkat internasional diberikan kepada KIM JUNSU
Juara 1 lomba menyanyi lagu rohani tingkat nasional diberikan kepada KIM JUNSU
Sooyeon mengerutkan keningnya. “Kenapa semua piala ini milik Junsu? Tidak ada milik Jaejoong?”
“Ehm!” deheman Jaejoong membuat Sooyeon langsung berbalik dan
mengalihkan padangannya dari piala-piala itu. Jaejoong sudah duduk di
sofa. Ada dua minuman bersoda yang sudah diletakkan di atas meja.
Sooyeon nyengir kuda, lalu kembali duduk di sofa dan langsung meneguk
minuman di gelas berembun itu. Kerongkongannya sudah kering sejak tadi.
Capek sekali rasanya harus berjalan dari sekolah ke rumah ini. Sooyeon
bingung kenapa Jaejoong tidak naik sepeda saja.
“Adikmu berprestasi sekali.” Komentar Sooyeon setelah kerongkongannya terasa sejuk.
“Semua orang juga berkata begitu.” Ucap Jaejoong dengan wajah tidak ikhlas.
Sooyeon membaca ketidaknyamanan itu. Jaejoong pasti sebal karena
orang-orang hanya memuji Junsu dan seolah membanding-bandingkannya terus
dengan anak itu.
“Oh ya, ke mana orang tuamu? Kenapa kunci rumah sampai kau yang bawa?” tanya Sooyeon mengalihkan pembicaraan.
“Kami semua membawa kunci rumah. Aku, appa, umma, dan Junsu. Biasanya
appa dan umma akan pulang pukul enam nanti. Mereka sibuk bekerja.”
Sooyeon hanya mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi kita… hanya berdua saja di rumah?”
Giliran Jaejoong yang mengangguk. “Kenapa? Kau takut kuapa-apakan? Tenang saja. Aku juga tidak berminat denganmu.”
“Sial kau!” Sooyeon mempoutkan bibirnya dengan wajah kesal. “Kau kira
aku tertarik padamu? Maaf saja ya. Aku sudah lebih dulu tertarik pada
Kim Junsu!” dengan cepat Sooyeon menutup mulitnya. Pipinya bersemu
merah. Keceplosan bicara…
“Jadi kau tertarik pada Junsu? Benarkah?”
Jaejoong tertawa terpingkal-pingkal, bahkan sampai mengeluarkan air
mata. Sooyeon yang melihat tawa Jaejoong jadi malu bukan main. Kenapa
bisa-bisanya dia keceplosan begini? Kalau Jaejoong mengatakan pada Junsu
bagaimana? Bisa mati dia!
“Sudah! Jangan tertawakan aku lagi!” omel
Sooyeon. Namun Jaejoong malah semakin terbahak-bahak dan sampai
memegangi perutnya. “JAEJOOONG!!”
“Iya, iya, maaf. Aku tidak
bermaksud. Habisnya, ekspresimu tadi lucu sekali. Bwahahaha…” Jaejoong
kembali tertawa puas. Sooyeon pun merasa kesal, akhirnya dia melemparkan
bantal ke wajah Jaejoong.
“Ampun… ampun!” ucap Jaejoong berpura-pura
ketakutan. Tawanya mulai mereda.
“Kau janji ya jangan katakan ini pada Junsu.” Ucap Sooyeon dengan wajah memelas.
“Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada Junsu. Kau sendiri saja yang mengatakan padanya tentang perasaanmu.”
“Tapi…”
“Pilih mana? Aku yang mengatakan, atau kau sendiri yang mengatakan?”
“Apakah Junsu benar-benar harus tahu? Aku rasa dia tak perlu tahu
tentang perasaanku.” Sooyeon tertunduk. Dia hanya pengagum Junsu, tak
pernah terlintas dalam benaknya bahwa anak itu akan jadi pacarnya.
Lagipula, siapa dia di mata Junsu? Pasti Junsu butuh seorang wanita yang
sepadan dengannya. Sama-sama pintar, sama-sama berprestasi.
“Dia tak perlu tahu kalau memang kau tak menginginkannya.” ucap Jaejoong santai.
“Jadi kau setuju untuk merahasiakan ini?” wajah Sooyeon tampak cerah. Jaejoong mengangguk dengan tampang bijak.
Ia tak menyangka berurusan dengan Jaejoong ternyata tidak sesulit yang
ia bayangkan. Pria ini amat menghargai keputusan pribadi orang lain.
Berbeda sekali dengan penilaiannya saat pertama kali melihat Jaejoong.
***
“Ayo makan dulu, Sooyeon.” Ajak Ny. Kim sambil menata piring-piring di meja makan.
“Ah, tidak perlu repot-repot, ahjuma.” Ucap Sooyeon. Waktu sudah menunjuk pukul 19:30, tapi Junsu belum pulang juga.
“Ayo ke sini, Sooyeon! Kau sudah menunggu berjam-jam, pasti kau lapar!” ajak Jaejoong yang sudah duduk di meja makan.
Belum sempat Sooyeon menjawab ajakan itu, tiba-tiba seseorang masuk ke
ruang tamu. Sooyeon memandang sosok dengan jas seragam warna biru gelap
yang kini sedang melepas sepatunya. Saat Junsu sampai di ruang tamu,
pandangan mereka tak sengaja bertemu. Sooyeon menatap kedua mata
kecoklatan itu, mata yang tajam seperti elang. Mirip dengan mata
Jaejoong.
“Aku pulang!” teriak Junsu tanpa mempedulikan siapa yang dilihatnya di ruang tamu.
“Junsu! Kau sudah ditunggu nona Jung dari tadi!” teriak Ny. Kim dari
dapur. Junsu menoleh lagi ke arah sofa. Sooyeon langsung melempar senyum
malu-malu saat tatapan Junsu menyapu wajahnya.
“Nona Jung.” Ucap
Junsu menirukan panggilan ibunya. Sooyeon menahan napas sejenak. “Ada
keperluan apa kau ingin bertemu denganku?”
“A, aku… hanya…”
“Dia ingin mengobrol denganmu.” Jaejoong mewakili menjawab.
“Ah, maaf sekali. Aku sangat capek malam ini, rasanya tubuhku
pegal-pegal semua. Kalau libur saja kau kembali ya? Sekali lagi aku
minta maaf.” Junsu menunduk 900 dan setelah itu langsung berlalu
meninggalkan Sooyeon yang masih terpaku.
“Apa-apaan kau ini?!” tanya Jaejoong sambil menyetop langkah Junsu yang hendak menaiki tangga.
“Ada apa lagi sih, hyung? Aku sedang malas berdebat denganmu!”
“Dengar ya, Sooyeon sudah menunggumu sejak tadi sore. Dia hanya ingin
mengobrol denganmu, Junsu. Tidak akan sampai satu jam! Seenaknya saja
kau meninggalkannya seperti itu. Kau ini punya etika tidak sih?!”
“Aku kan sudah minta maaf, hyung! Lagipula dia sendiri tidak keberatan, kenapa jadi kau yang marah padaku?”
“Kau ini…!”
“Jaejoong!” suara Sooyeon membuat Jaejoong menahan ledakan emosinya.
“Tidak apa-apa. Kurasa Junsu benar. Dia pasti lelah dan butuh istirahat.
Sebaiknya aku pulang saja. Aku pamit dulu, ya. Dan terima kasih atas
minumannya. Terima kasih juga untuk ahjuma. Selamat malam!” Sooyeon
langsung melangkah pergi keluar dari rumah itu.
“Kau lihat sendiri kan? Dia saja tahu bahwa aku memang lelah. Sudah sana minggir! Aku mau naik!”
Jaejoong meminggirkan tubuhnya dan membiarkan Junsu menaiki tangga. Ia
pasti akan sangat malu pada Sooyeon besok atas sikap tidak sopan yang
ditunjukkan Junsu. Sebaiknya ia katakan pada gadis itu untuk melupakan
saja rasa cintanya pada orang seperti Junsu. Sekalipun Junsu memang
tampan dan pintar, namun anak itu tidak bisa menyaring kata-kata.
“Umma tidak memarahi Junsu karena sudah tak sopan begitu?!” protes Jaejoong pada ibunya yang masih anteng di dapur.
“Untuk apa marah? Kalau Junsu sudah lelah begitu, Sooyeon juga tidak akan nyaman ngobrol dengannya, kan?”
Jawaban ibunya akan selalu begitu. Membela Junsu. Seakan-akan semua
yang dilakukan Junsu tidak pernah salah. Yah, benar. Anak itu kan
jenius, tak pernah salah. Karena setiap kesalahan itu pasti akan
dilimpahkan pada Jaejoong. Dan si bungsu itu, akan selamanya menjadi
yang paling benar.
***
Saat istirahat Jaejoong mengunjungi tempat yang paling jarang diliriknya
selama ini. Tempat yang sebagian besar dikunjungi anak-anak
berkacamata. Perpustakaan. Dia datang ke sana bukan untuk melaksanakan
misi ulangan geologinya, tapi untuk mencari novel. Bosan sekali rasanya
tidak punya bacaan di jam istirahat. Jaejoong pun berputar-putar di
barisan rak yang berisikan novel. Dia sedang mencari novel yang bertema
horror. Banyak sekali pilihan yang bisa diambilnya, dia sampai bingung
mau membaca novel yang mana.
“Oups! Sorry!” ucap sebuah suara.
Jaejoong menoleh cepat pada orang yang baru saja menyenggol bahunya itu.
Seorang anak laki-laki tinggi yang lumayan tampan. “Sedang cari novel
juga ya?” tanya anak itu tanpa menatap wajah Jaejoong. Tangannya sibuk
memilih-milih judul buku.
“Iya.” Jawab Jaejoong seolah tak mau memperpanjang obrolan.
“Mau mencari novel yang seperti apa?” tanya anak itu lagi.
“Yang horror.”
“Kalau mau, coba baca yang ‘Goosebump’ ini. Aku sudah pernah
meminjamnya, dan ceritanya benar-benar seram!” anak itu mengasongkan
sebuah novel yang tadi memang sudah dilirik Jaejoong.
Untuk
menghargai tawaran anak itu, Jaejoong mengambil novel itu dan melihat
bagian sinopsisnya. Ia tidak begitu paham dengan apa yang dijelaskan
dalam synopsis. Tapi ia tak bisa menyalahkan orang yang sudah membuat
synopsis ini, karena ia merasa kesalahan terletak pada penalarannya
sendiri. Jaejoong menimbang-nimbang apakah ia akan meminjam buku ini
atau tidak.
“Ah iya. Perkenalkan, namaku Jung Yunho dari kelas 3-F.”
ucap anak itu sambil mengulurkan tangannya. Jaejoong melongo sebentar.
“Aku Kim Jaejoong dari kelas 3-G.”
“Senang berkenalan denganmu.” Ucap Yunho memamerkan senyum ramahnya.
Setelah itu mereka pun mengobrol akrab. Yunho ini ternyata memang
penggemar novel dan film horror. Hampir semua yang berbau horror sudah
diketahuinya. Jaejoong belum pernah mendapat teman mengobrol yang
seasyik ini. Dia bisa cepat akrab dengan anak itu.
“Yunho-ya, kau sudah ulangan geologi?” tanya Jaejoong saat ada kesempatan menanyakan hal itu.
“Sudah. Memangnya kau belum ulangan?”
“Tentu saja sudah. Tapi… nilai ulanganku jelek sekali, dan nanti aku harus remedial. Kalau boleh tahu, nilai ulanganmu berapa?”
“Tidak terlalu bagus, Jae. Hanya 90.” Jawab Yunho malu-malu.
“Itu bagus sekali!” Jaejoong memukul bahu Yunho dengan agak keras
sampai Yunho meringis kesakitan.
“Kau mau mengajariku tidak? Aku butuh
seorang guru privat.”
“Apa? A, aku tidak cocok jadi gurunya hyung. Lagipula aku tidak terlalu pintar…”
“Kau pintar, Yunho! Ayolah… setidaknya sampai ulangan remedial itu
saja. Aku sangat butuh bantuanmu, Yunho-yaa. Kau akan sangat berjasa
padaku.” Jaejoong memohon.
“Emm… bagaimana ya, Jae? Aku…”
“Hanya kau yang bisa menolongku!”
Yunho menatap wajah Jaejoong yang tampak penuh pengharapan. Ia sendiri
saja merasa belum mahir dalam pelajaran itu, sekarang ia malah disuruh
mengajari orang lain. Tapi melihat keseriusan di wajah Jaejoong…
“Baiklah, Jae. Kapan kau mau mulai belajar denganku?”
“Sepulang sekolah di rumahku! Bagaimana?” Jaejoong tampak bersemangat.
“Setuju.”
***
Kamar Jaejoong ternyata cukup luas dan dipenuhi poster-poster bergambar
dirinya sendiri. Narsis sekali anak ini. Yunho sampai terheran-heran
saat melihat tulisan, ‘Kim Jaejoong, the future idol.’ Dia tidak
menyangka anak slengean seperti Jaejoong ini ternyata memiliki rasa
percaya diri yang luar biasa. Selain itu, ada banyak alat musik yang
disimpan di sana. Seperti gitar, piano, harmonica, dan bahkan biola
sekalipun. Yunho sempat berpikir apakah Jaejoong ini ingin menjadi
musisi idola.
“Kau mau mandi dulu tidak?” tanya Jaejoong yang muncul setelah berganti pakaian.
“Ah, tidak perlu. Aku juga tidak bisa berlama-lama. Orang tuaku akan cemas.”
“Hm, baiklah. Supaya tidak buang-buang waktu, ayo kita mulai saja.”
Jaejoong mengeluarkan buku dan alat tulisnya, lalu Yunho turun dari
kasur dan segera duduk di depan Jaejoong.
Selama hampir satu jam
mereka belajar bersama. Jaejoong terlihat menyimak sekali apa yang
tengah diajarkan oleh Yunho. Dia merasa seperti benar-benar memiliki
guru privat, padahal dia baru saja mengenal Yunho tadi di perpustakaan.
Tapi entah mengapa, Jaejoong merasa sudah begitu lama mengenal anak ini.
Dia bahkan sama sekali tidak merasa canggung saat bersamanya.
Tak terasa, satu setengah jam sudah mereka berkutat dengan pelajaran geologi.
Jaejoong merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar, sementara Yunho meneguk minumannya sampai benar-benar habis.
“Capek juga ya mempelajari semua ini.” Ucap Jaejoong masih dengan tatapan lurus.
“Hm. Menurutku semangatmu yang tinggi itu membuat materi ini mudah kau serap.”
“Benarkah? Aku belum pernah memiliki semangat belajar yang setinggi ini
sebelumnya. Tapi karena sekarang aku mulai terganggu dengan prestasi
adikku, jadi aku ingin membuktikan pada appa dan umma bahwa aku juga
bisa sehebat dia.”
“Adikmu? Memangnya adikmu kenapa?” Yunho tampak mulai tertarik.
Jaejoong membuang napas perlahan-lahan, dia akan butuh waktu 24 jam
untuk mengupas habis semua rasa irinya pada Junsu. Yah, mungkin
sebaiknya ia ceritakan saja sedikit mengenai anak itu, lagipula ia
merasa nyaman bicara dengan Yunho.
“Sebenarnya, adikku itu adalah
anak yang sangat pintar. Dia selalu menjadi juara kelas, bahkan dia tak
hanya pintar secara akademik. Dia juga pintar dalam hal kesenian,
olahraga, dan speech contest. Dia adalah kebanggaan appa dan umma.
Sementara aku? Siapa aku? Hanya seorang anak yang bodoh yang sama sekali
tak pernah memiliki prestasi. Nilai ulangan saja jelek, tidak pernah
ikut lomba apa-apa. Aku juga tak pandai berolahraga. Yang kusukai hanya
alat-alat musik ini. Mereka selalu menemaniku saat aku kesepian. Tapi
kemampuan bermusik inipun, masih kalah dengan adikku.” Jaejoong
tertunduk lesu setelah bercerita panjang lebar. Yunho menatapnya dengan
iba. Dia bisa mengerti bagaimana rasanya didiskriminasi seperti itu.
“Jae, bukan hanya kau saja yang merasa diperlakukan tidak baik dalam
keluarga. Tapi… aku juga mengalami hal yang sama.” Ucap Yunho kemudian.
Jaejoong mengangkat kedua alisnya.
“Apa yang dilakukan keluargamu? Bukankah kau anak yang pintar? Kau juga tidak nakal sepertiku.”
Yunho tertunduk sejenak, sepertinya sedang menyusun kata-kata. “Ibuku
itu, selalu menuntut agar aku mendapat nilai yang bagus. Jika nilai
ulanganku di bawah 80, maka aku akan dipaksa belajar mati-matian. Ibuku
sendiri yang akan mengajariku, karena dia memang seorang professor,
semua mata pelajaran bisa dia ajarkan padaku. Kadang aku lelah dengan
semua itu, Jae. Aku tidak bisa selamanya menjadi yang terbaik, aku juga
bisa melakukan kesalahan.”
Kini Jaejoong mengerti kenapa dia merasa
begitu cepat akrab dengan Yunho. Karena mereka ternyata memiliki masalah
yang sama. Diperlakukan dengan tidak selayaknya, walaupun bentuknya
memang berbeda. Jaejoong tidak pernah menyukai tipe orang tua yang
seperti itu. Seenaknya saja menuntut ini dan itu pada anaknya. Dan dia
juga tidak menyukai tipe orang tua yang pilih kasih. Dia lelah menjadi
orang yang tidak dianggap seperti ini.
“Jae…” panggil Yunho memecah
kebekuan. Jaejoong menoleh dalam slow motion. “Sampai kapan kita harus
terperangkap dalam keadaan ini?
***
Saat
makan malam, Jaejoong merasakan kupingnya panas dan kepalanya serasa
ingin meledak saat harus mendengar Junsu berkicau mengenai sekolahnya
yang luar biasa bagus itu. Memang apa hebatnya bisa duduk di ruang kelas
penuh kamera cctv? Apa enaknya setiap kelas punya toilet masing-masing?
Jaejoong masih bisa berjalan sendiri ke toilet walaupun di kelasnya tak
ada toilet.
“Kau dengar kan, Jaejoong?” suara Ny. Kim mengusik
keasyikan Jaejoong yang sedang melamun. Jaejoong mengerjap kaget, ia
sama sekali tidak menyimak pembicaraan. “Junsu mendapat nilai terbaik
untuk ulangan matematika. Nilainya sempurna. Coba tunjukkan pada kami
berapa nilai ulangan matematikamu.”
“Aku belum ulangan matematika.” Ucap Jaejoong acuh sambil kembali melanjutkan makan malam.
“Lalu pelajaran apa saja yang sudah ulangan?” tanya Tn. Kim.
Jaejoong menggeleng. “Belum ulangan apa-apa.”
“Dia bohong. Aku sudah melihat ulangan geologinya, nilainya 15, bahkan
dia hanya menjawab 3 soal dan sisanya dikosongkan. Dan lebih buruknya, 3
soal itupun salah semua.” Junsu membeberkan semua itu sambil tertawa
cekikikan. Jaejoong melotot dengan amarah yang tak terbendung, dia tak
menyangka anak ingusan itu bisa menemukan kertas ulangan yang
disembunyikannya di bawah kasur. Kini ia sudah tak tahu lagi apa yang
harus dikatakannya di depan ayah dan ibunya.
“Apa yang dikatakan Junsu itu benar?” tanya Tn. Kim dengan geram.
“I, itu… aku bisa jelaskan…”
“Kau hanya perlu menjawab, benar atau tidak?!”
Akhirnya Jaejoong tak punya pilihan lagi. “Benar…”
“Keterlaluan kau ini! Apa saja yang kau lakukan sampai nilaimu hancur
seperti itu?! Kau tidak pernah belajar? Kau sibuk dengan rasa irimu pada
adikmu! Seharusnya kau berkaca diri siapa kau dan siapa Junsu! Dan
untuk hukuman atas hal ini, kau tidak boleh membawa uang jajan sampai
nilaimu bagus! Mulai besok, umma-mu yang akan membuatkamu bekal! Jadi
kau tak perlu membawa uang!”
“Tapi, appa…!”
“Tidak ada tapi-tapian! Kau turuti perintah ini atau kau keluar saja dari rumah!”
Kalau Tn. Kim sudah mengeluarkan ancaman itu, maka Jaejoong tidak bisa
berkutik lagi. Dia hanya bisa menggeram pasrah dan kembali memakan jatah
makan malamnya dengan emosi meluap-luap. Sementara si bungsu itu tampak
sama sekali tak merasa bersalah, seolah dia baru saja menjadi pahlawan
yang mengungkap kebenaran. Jaejoong ingin sekali membalas perbuatan
Junsu, tapi lagi-lagi ia sadar bahwa ia tak pernah memiliki kesempatan
untuk melakukan itu.
***
Sejak ayahnya menjatuhkan hukuman itu,
Jaejoong tidak pernah lagi main game. Di sekolah juga dia tak pernah
terlihat bersemangat. Yang dilakukannya hanya membaca buku, karena ia
ingin ayahnya melihat bahwa dia juga bisa rajin, bisa mendapat nilai
yang bagus. Sampai akhirnya, hari di mana dia harus melakukan remedial
geologi pun tiba.
Jaejoong menatap satu-persatu soal yang kini
terpampang di depannya. Ia membacanya baik-baik, sampai ia yakin untuk
menuliskan jawabannya. Ia merasa semua yang sudah dipelajarinya
benar-benar tak sia-sia. Ulangan ini terasa jauh lebih mudah
dibandingkan ulangan pertama minggu kemarin. Ya, tentu saja. Karena
kemarin ia sama sekali tidak ada persiapan untuk menyelesaikan ulangan.
Saat bel berbunyi, sang guru menyuruh semua murid yang terkena remedial
untuk mengumpulkan kertas ulangan mereka. Jaejoong membawa kertas
ulangannya dengan mantap. Ia sangat yakin kali ini dia akan berhasil
mencapai batas ketuntasan, bahkan mungkin lebih. Ah, semoga saja.
***
“Jaejoong! Jaejoong!” suara Ny. Kim membuat Jaejoong yang sedang anteng
tertidur. Ia pun segera bangun dan mengucek mata, menatap ibunya yang
sudah berkacak pinggang di ambang pintu.
“Ada apa, umma?” tanya Jaejoong dengan mata yang masih terasa berat.
“Kau jemput Junsu di sekolahnya sekarang! Dia lupa membawa dompet, dan
ayahmu belum pulang! Jadi kau yang harus menjemputnya.” Ucap Ny. Kim
dengan wajah cemas. Jaejoong benci sekali jika disuruh mengurusi anak
itu. Dia lelah, tadi di sekolah pelajaran olahraganya benar-benar
membuat seluruh badan terasa pegal. Tapi kalau ia membantah perintah
ibunya, bisa-bisa dia akan semakin disalah-salahkan.
“Aku masih ngantuk, umma…” ucap Jaejoong sambil kembali melekat pada bantalnya.
“Eeeh…! Ayo cepat bangun! Kasihan Junsu menunggu di sekolahnya!”
“Lima menit lagi ya, umma? Aku benar-benar masih ngantuk.”
“Jaejoong!”
“Iya, iya, baiklah, aku bangun.” Jaejoong akhirnya menyerah. Dia segera
mengambil sweaternya dan berjalan keluar menuju sepeda. Meski dengan
tampang terpaksa dan malas-malasan, pada akhirnya Jaejoong mengayuh
sepedanya juga menuju sekolah Junsu. Padahal jarak dari rumahnya ke
sekolah Junsu hampir 8 km. Bukan jarak yang normal bagi siapapun untuk
melakukan perjalanan dengan menaiki sepeda. Ditambah lagi, Jaejoong
harus menempuh perjalanan bolak-balik. Jadi total jarak yang harus
ditempuhnya adalah 16 km.
Dengan tubuh penuh keringat dan napas
ngos-ngosan, akhirnya Jaejoong sampai juga di gerbang sekolah megah itu.
Ia melihat Junsu tengah berdiri di sana, memeluk buku, dan tampak
gelisah sekali menunggu kedatangannya.
“Junsu!” teriak Jaejoong
tanpa membawa sepedanya ke depan Junsu. Anak berkacamata itu lalu
menoleh, mendapati kakaknya yang tengah duduk di atas sadel sepeda.
“Hyung! Kenapa lama sekali?” protes Junsu sambil berlari menghampiri Jaejoong.
“Sudah, jangan cerewet! Aku mau menjemputmu ke sini saja sudah untung!”
omel Jaejoong sambil bergegas mengayuh sepedanya menuju rumah. Junsu
hanya mengerucutkan bibir, dia tak berkutik kalau diomeli Jaejoong tanpa
ada ayah dan ibunya.
Setelah Jaejoong mengayuh sepedanya hampir 1
km dari sekolah Junsu, tiba-tiba sekelompok preman menghalangi jalan
mereka. Kebetulan, waktu itu mereka memang sedang melewati jalanan yang
sepi dan jauh dari keramaian.
Shit!! Jaejoong mengumpat dalam hati. Dia baru berpikir seharusnya dia tidak melewati jalan ini.
“Mau pulang ya, anak-anak?” tanya salah satu dari tujuh preman sangar itu.
“Heh! Minggir kalian! Kami mau lewat!” teriak Junsu. Jaejoong
menghembuskan napas kesal, dia merutuk kenapa Junsu harus seenak
dengkulnya bicara seperti itu di depan para preman. Tidakkah dia
berpikir bahwa hal itu akan membuat urusan mereka semakin bertambah
panjang?
“Wah, wah, anak ini sudah berani melawan rupanya. Boleh juga nyalinya.” Sahut salah seorang lagi.
“Aku bilang cepat minggir!!” Junsu naik darah.
“Berani sekali bicaramu itu!” seorang pria bertato hendak memukul Junsu, tapi dengan cepat Jaejoong menahan pukulan pria itu.
“Heii… anak ini berani melawan juga.” Ucap pria itu. Dia menggerakkan
tangannya lebih kasar, hingga membuat Jaejoong terpaksa harus turun dari
sepedanya. Jaejoong melayangkan tinjunya ke wajah pria itu, dan tepat
mengenai bibirnya. Pria itupun oleng, namun keenam temannya yang lain
tentu saja tidak tinggal diam. Mereka segera mengeroyok Jaejoong,
memukul, bahkan menjambaki rambut Jaejoong. Melihat hal itu, Junsu tentu
saja tak tinggal diam. Dia menyadari tak ada orang yang bisa ia mintai
tolong di sekitar sana, jadi dia mengangkat sepeda dan memukulkannya
kepada orang-orang yang sedang mengeroyok Jaejoong itu. Alhasil, para
preman itu mengerang kesakitan.
“Ayo bangun, hyung!” ucap Junsu sambil membantu Jaejoong berdiri. “Kau masih bisa berlari tidak?”
“Aku…” Jaejoong kesulitan bicara karena rahangnya terasa sakit sekali.
“Cepat naik ke punggungku, hyung! Sebelum mereka bangun lagi!” perintah
Junsu. Tak ada lagi pilihan lain untuk menyelamatkan diri selain
mengikuti perintah itu. Jaejoong pun segera naik ke punggung Junsu. Dan
setelah itu Junsu segera menggendongnya sambil berlari. Para preman itu
tentu saja tak tinggal diam, mereka segera mengejar mangsanya yang
bermaksud kabur itu. Namun saat sampai di daerah yang ramai, para preman
itu segera mundur dan membiarkan mereka pergi.
***
“Aish…
sakit, umma! Pelan-pelan saja!” protes Jaejoong saat ibunya sedang
berusaha membersihkan luka di wajahnya. Junsu yang sama sekali tidak
terluka hanya duduk diam di sofa sebelah Jaejoong.
“Untung adikmu tidak kenapa-kenapa.” Ucap Ny. Kim.
“Tapi aku yang dipukuli!” bantah Jaejoong kesal. Dia merasa seolah-olah
dirinya sama sekali tak berharga, bahkan di mata ibunya sendiri.
“Itu kan kesalahanmu sendiri, hyung. Siapa suruh kau cari masalah dengan mereka?” sela Junsu.
“Kenapa kau malah menyalahkanku?! Bukankah kau sendiri yang cari masalah?!”
“Enak saja! Kau yang cari masalah!” Junsu membela diri.
“Sudah, sudah, jangan berkelahi. Jaejoong, lain kali kau harus bisa
menjaga adikmu. Jangan lewat jalan sepi seperti itu, banyak orang jahat.
Sekarang kau istirahat saja, setelah itu baru makan.” Ny. Kim segera
beranjak meninggalkannya di ruang tamu. Junsu pun mengekor ibunya, dan
Jaejoong hanya bisa mendengus kesal. Lagi-lagi ia disalahkan. Bahkan
setelah seluruh tubuhnya babak belur begini, tetap saja ia dianggap tak
bisa menjaga Junsu. Padahal anak itu kan sama sekali tidak terluka.
***
Hasil ulangan remedial geologi sudah dibagikan. Jaejoong menatap
kertasnya dengan senyum cerah. Angka 80 terpampang di sana. Ahh… hidup
rasanya indah sekali. Dia tak percaya akhirnya dia bisa mendapatkan
nilai itu. Dia harus berterima kasih pada Yunho yang telah mengajarinya
kemarin.
Saat pulang sekolah, secara tak sengaja Jaejoong melihat
Yunho tengah berdiri mematung sendirian di depan gerbang. Wajahnya
tampak gelisah, dan seperti mencemaskan sesuatu. Jaejoong segera
menghampiri sang pahlawannya itu.
“Yunho…!” seru Jaejoong sambil menepuk bahu Yunho.
“Ah, Jae! Ada apa?”
“Aku ingin berterima kasih padamu karena kau sudah mengajariku.
Lihatlah, nilaiku bagus, kan?” Jaejoong memamerkan kertas ulangannya
dengan bangga. Yunho menatap nilai itu beberapa saat, lalu ia tersenyum
hangat pada Jaejoong.
“Bagus, Jae. Aku senang akhirnya yang kuajarkan tidak sia-sia.”
“Kenapa kau tidak pulang, Yunho-ah…?” tanya Jaejoong setelah melipat kertas ulangannya lagi.
“A, aku… aku takut pulang, Jae.” Jawab Yunho ragu-ragu.
“Takut pulang? Memangnya ada apa?”
“Ulanganku jelek. Pasti ummaku akan marah besar.”
“Memangnya kau dapat nilai berapa?”
Yunho tidak menjawab pertanyaan itu, dia lantas mengeluarkan sebuah
kertas dari kantongnya dan menunjukkannya pada Jaejoong. Ada nilai 80
yang tertera di sana. Alis Jaejoong terangkat.
“Ini yang kau bilang
sebagai nilai jelek?!” tanya Jaejoong seolah tak bisa terima. Yunho
hanya bisa mengangguk pasrah. “Ya ampun… mau dapat berapa lagi? Apa
harus nilai sempurna lalu ibumu akan mengatakan bahwa itu nilai yang
bagus?”
Yunho hanya tertunduk, dia terlihat hampir menangis.
“Sudah, Yunho, kau tidak perlu takut. Kalau kau tidak mau pulang, kau ikut saja ke rumahku.”
“Ah, tidak usah, Jae.”
“Lalu mau sampai kapan kau berdiri di sini?”
“Ng…”
“Apa susahnya sih ikut ke rumahku? Ayolah…”
“Tidak usah, Jae. Sungguh…”
Baru saja Jaejoong bermaksud membujuk Yunho lagi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari ibunya.
“Yoboseyo?” sapa Jaejoong.
“Cepat ke rumah sakit! Junsu kecelakaan!”
“APA?!” Jaejoong melotot tak percaya. Ia masih menempelkan ponsel di
telinganya walau hubungan telpon sudah terputus. Anak yang sangat
dibencinya itu… adiknya yang menyebalkan… dia…
“Apa yang terjadi, Jae?” tanya Yunho saat menyadari perubahan ekspresi di wajah Jaejoong.
“Ti, tidak apa-apa. Aku pergi dulu ya, Yun? Ada urusan yang harus
kuselesaikan!” Jaejoong segera melesat pergi dan mencari taksi menuju
rumah sakit. Ada yang aneh dengan perasaannya.
Bukankah dia sangat
membenci anak itu? Bukankah bagus jika anak itu mati? Dia tidak akan
punya saingan lagi kalau Junsu mati. Dia bisa bebas. Dia tidak perlu
disalah-salahkan lagi. Tapi entah kenapa sekarang dia justru merasa
cemas. Hatinya seolah tak mengizinkan jika Junsu terluka. Walau selama
ini dia memang terlihat tak menyukai Junsu, tapi mungkin, selama ini ia
tak menyadari bahwa ia ternyata sangat menyayangi anak itu. Ia sangat
menyayangi adiknya.
***
Sesampainya
di rumah sakit, Jaejoong langsung menuju kamar Junsu yang sudah
ditunjukkan oleh suster. Ada ayah dan ibunya di sana. Junsu sedang
terbaring lemah tak berdaya. Kedua matanya diperban. Jaejoong mendekat
ke sana, ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Bagaimana keadaan Junsu, umma?” tanya Jaejoong dengan suara gemetar.
“Dia sudah melewati masa kritisnya, tapi…” ummanya tak sanggup
melanjutkan dan hanya menangis sambil memegangi jemari tangan Junsu.
Melihat hal itu, Jaejoong semakin merasa gusar. Jantungnya berdetak dua
kali lebih cepat, dan perasaan takut menguasainya.
“Tapi apa, umma?” tanya Jaejoong di puncak ketakutannya.
“Tapi Junsu kehilangan penglihatannya, Jaejoong. Dia buta.” Jawab ayahnya mewakili.
Seketika itu, lutut Jaejoong terasa lemas. Dia terduduk jatuh ke
lantai, pandangannya kosong, tak ada satupun hal yang terlintas di
otaknya saat ini. Junsu adalah anak yang pintar, sayang sekali kalau
sampai dia tak bisa melihat. Jaejoong akhirnya membiarkan tetes bening
jatuh, menggantung sesaat di pelupuk matanya, lalu meluruh ke pipi. Ia
tidak menyangka semua ini bisa terjadi pada Junsu.
***
Langit
sudah gelap, biasanya pada jam-jam seperti ini Jaejoong sudah anteng
main game di kamar. Tapi hari ini beda dari biasanya. Ia masih duduk di
kursi yang menghadap ke ranjang Junsu. Ibunya sedang keluar untuk
membeli makanan, dan ayahnya tampak sedang merenung di sofa kamar rawat
inap ini sambil memijat-mijat keningnya.
“Appa…” ucap Jaejoong
berhati-hati. Tn. Kim tidak merespon, bahkan sepertinya tidak mendengar
putera sulungnya itu tengah bicara padanya. “Bagaimana semua ini bisa
terjadi?”
“Tadi Junsu pulang naik mobil bersama salah satu temannya.
Tapi terjadi tabrakan antara mobil itu dengan sebuah bus. Sekarang
teman Junsu sedang dirawat di ICU dan masih dalam kondisi kritis.” Jelas
Tn. Kim. Jaejoong tidak bicara lagi, dia mengalihkan pandangannya ke
wajah tertidur Junsu yang tampak sangat lelah.
Kenapa ia begitu
terlambat menyadari bahwa Junsu sangat membutuhkan perhatiannya? Selama
ini anak itu selalu menyebalkan, mungkin, untuk meraih perhatian
Jaejoong. Karena jika tidak begitu, Jaejoong tidak akan punya waktu
untuk memperhatikan Junsu. Padahal Jaejoong sudah tahu, setiap hari
Sabtu, jadwal pulangnya sama dengan Junsu, pukul 16:00. Ibunya sudah
memintanya untuk menjemput Junsu sepulang sekolah. Tapi ia menolak hal
itu dengan keras kepala. Coba saja jika tadi dia tidak sibuk makan dulu
saat bel pulang berbunyi, coba saja dari dulu dia menuruti perintah
ibunya untuk menjemput Junsu setiap Sabtu. Mungkin semua ini tak perlu
terjadi. Mungkin Junsu masih bisa melihat.
“Junsu…” ucap Jaejoong
sambil menatap kosong ke arah wajah tertidur Junsu. “Maafkan hyung, ya?
Hyung memang bodoh, tidak sepintar kau. Hyung juga memang kakak yang
kurang ajar. Tidak bisa menjaga adiknya, tidak pernah mengajarkanmu
apa-apa, tidak berguna…”
Hening sejenak, sampai akhirnya Jaejoong teringat akan sesuatu.
“Appa.” Panggilnya kemudian. Tn. Kim menatap puteranya dengan tatapan
kosong. “Apa sudah tidak ada cara agar Junsu bisa melihat lagi?”
“Ada.” Jawab Tn. Kim pelan. Jaejoong mengangkat alisnya tak sabar.
“Satu-satunya cara agar Junsu bisa melihat lagi adalah, dengan
mendapatkan donor mata.”
***
Esoknya sepulang sekolah, Jaejoong
tidak langsung ke rumah sakit melainkan pulang dulu ke rumah untuk
membantu ibunya membawakan pakaian ganti untuk Junsu. Tentang ulangan
bernilai 80 itu sudah dilupakan Jaejoong, padahal tadinya dia berencana
untuk memamerkannya saat makan malam. Setelah memberesi pakaian, mereka
pun segera menaiki mobil menuju rumah sakit.
Sesekali Jaejoong
menoleh ke arah ibunya yang sedang konsentrasi dengan jalanan. Ada
sesuatu yang ingin sekali ditanyakannya. Tapi ia ragu, ia takut ibunya
akan marah.
“Umma…” ucap Jaejoong antara yakin dan tidak.
“Ada apa?” tanya ibunya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
“Aku bersedia mendonorkan mataku agar Junsu bisa melihat lagi…”
Seketika itu, Ny. Kim menghentikan mobil dan meminggirkannya. Ia
menatap wajah puteranya lekat-lekat. Jaejoong seperti ingin menangis,
namun Ny. Kim tahu anak itu tidak akan menangis lagi. Dia mengenal watak
putera sulungnya. Seorang anak laki-laki yang sok tegar.
“Jaejoong, kita semua memang menginginkan Junsu dapat melihat lagi, tapi bukan dengan jalan kau mendonorkan matamu.”
“Umma, aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Junsu itu anak yang
pintar, mataku akan lebih berguna jika digunakan olehnya. Aku tidak
keberatan melakukan ini, umma. Lagipula, aku kan hanya anak bodoh. Sekalipun aku dapat melihat normal seperti ini, tetap saja…”
“Cukup!” Ny. Kim memandang Jaejoong dengan kesal. “Umma tak mau dengar
kau bicara seperti itu lagi!” dan setelah itu Ny. Kim segera menginjak
gas mobilnya. Jaejoong tak berkata-kata lagi.
***
Sesampainya
di kamar rumah sakit, Jaejoong melihat Junsu tengah tersandar di
ranjang dengan mata tetap dibalut perban. Ia merasa begitu iba melihat
keadaan Junsu seperti ini. Ia tahu mungkin dulu ia ingin sekali melihat
Junsu merasakan semua sakit hati yang dirasakannya. Tapi tak mengira hal
ini akan menimpa Junsu. Jika saja ada sesuatu yang bisa ia lakukan
untuk membayar rasa bersalahnya, apapun itu, ia akan melakukannya.
“Umma!” seru Junsu saat mendengar langkah kaki memasuki kamarnya.
“Kau sudah makan, Junsu?” tanya Ny. Kim sambil meletakkan baju-baju yang dibawanya ke lemari kecil di kamar itu.
“Aku ingin disuapi umma. Bagaimana aku bisa makan dengan benar kalau mataku ditutup begini?”
Ny. Kim dan Jaejoong saling berpandangan mendengar ucapan Junsu. Ya,
anak itu memang belum tahu bahwa ia sudah tak bisa melihat.
“Hyungmu saja yang menyuapi, ya? Umma harus ketemu dokter.”
“Hyung? Memangnya Jaejoong hyung ada di sini?”
“Ya, aku ada di sini.” Ucap Jaejoong dengan nada jutek seperti biasa.
“Aku tidak mau disuapi hyung, ah! Hyung kan galak padaku. Aku mau dengan umma saja!” rengek Junsu.
“Tidak, kok. Hyung tidak galak, dia sudah mau menyuapimu. Umma harus
ketemu dokter, Junchan sayang. Sekali-sekali kau percayalah pada
hyungmu, dia juga sayang padamu.” Bujuk Ny. Kim sambil membelai rambut
hitam lembut di kepala Junsu.
“Aku tidak percaya!”
“Sudah, umma,
jangan hiraukan anak manja itu. Biar aku saja yang urusi dia, umma
segera temui dokter. Aku yakin dokter sudah menunggu.” Jaejoong menyela.
“Baiklah, umma ke ruangan dokter dulu. Nanti umma kembali lagi,
Junchan.” Ny. Kim mencium pucuk kepala Junsu sebelum akhirnya melangkah
keluar dari kamar itu. Setelah pintu ditutup, barulah Jaejoong mengambil
mangkuk makanan dan mulai duduk di kursi yang menghadap ranjang Junsu.
“Ayo buka mulutmu!” perintah Jaejoong sambil megasongkan suapan pertama.
“Aku tidak mau makan kalau hyung yang menyuapi!”
“Junsu, kau kira aku juga mau menyuapimu? Tapi sadarlah, sekarang ini
kau sedang sakit dan kau perlu makan. Umma dan appa sedang sibuk!!”
“Tuh kan hyung membentakku lagi! Hyung jahat padaku!”
Jaejoong menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Kalau saja
Junsu tidak sedang sakit, sudah dari tadi dia pukul kepala anak itu
dengan mangkuk di tangannya.
“Baiklah, baiklah, hyung tidak akan kasar lagi. Sekarang ayo buka mulutmu, Junsu-yaa…” Jaejoong menyodorkan kembali suapannya.
“Benar hyung tidak galak lagi?”
“Iya, benar.” Jaejoong hampir hilang kesabaran. Namun akhirnya Junsu mau membuka mulutnya, dan melahap suapan itu dengan cepat.
“Hyung…” ucap Junsu sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Sebenarnya
kenapa sih mataku harus ditutup begini? Aku tidak betah, hyung. Aku
pusing kalau gelap begini.”
Jaejoong menelan ludah beberapa kali,
dia merangkai-rangkai kata untuk menjawab pertanyaan polos itu. Yang
disesalkannya adalah, kenapa Junsu harus menanyakan hal itu di saat tak
ada ayah dan ibu di sebelahnya? Jaejoong sama sekali tidak tahu harus
menjawab apa.
“Ka, kalau masalah itu… aku juga tidak tahu. Itu
perintah langsung dari dokter.” jawab Jaejoong sambil kembali
mengasongkan suapan berikutnya.
“Apa sesuatu terjadi dengan mataku, hyung? Aku masih bisa melihat, kan?”
***
Pertanyaan Junsu kemarin membuat Jaejoong tak bisa tidur, tak napsu
makan, dan jadi merasa tak berani untuk menemui Junsu lagi di rumah
sakit. Untung saja kemarin ayahnya langsung datang, jadi pertanyaan itu
tak perlu dijawabnya. Jaejoong mengaduk makanannya lagi, ia sama sekali
tak ada niat untuk memakan sayuran hijau di depannya itu. Dia hanya
sedang berpikir bagaimana perasaan Junsu jika anak itu tahu keadaannya
yang sebenarnya.
“Hei! Melamun saja dari tadi!” sebuah suara lembut
menyadarkannya. Jaejoong menatap Sooyeon yang tersenyum lebar padanya.
“Boleh aku duduk di sini?”
“Duduk saja.” Ucap Jaejoong dan segera kembali pada lamunannya.
“Kau ini kenapa sih? Akhir-akhir ini kulihat kau tidak seperti
biasanya. Padahal ulangan geologimu bagus, kan? Apa kau sedang ada
masalah lagi dengan Junsu?” tanya Sooyeon penasaran.
“Tidak apa-apa, kok. Aku hanya sedang bad mood akhir-akhir ini.”
“Cerita sajalah. Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak. Sungguh, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu mencemaskan apapun
tentangku.” Jaejoong tersenyum getir, lalu melahap sayuran hijau itu
untuk mengalihkan perhatian Sooyeon. Gadis itu hanya mengangguk-angguk,
dia tahu Jaejoong sedang menyembunyikan sesuatu, tapi dia juga tak bisa
memaksa jika Jaejoong tidak mau bercerita padanya.
“Ah iya, hari ini aku main ke rumahmu lagi, ya? Aku jadi rindu ingin melihat Junsu.” Pinta Sooyeon.
“Mm bagaimana ya? Pulang sekolah nanti kami sekeluarga ada acara, jadi
tidak bisa menerima tamu. Mungkin lain kali saja kau bisa mampir.” Ucap
Jaejoong berbohong.
“Junsu ikut pergi juga?”
Jaejoong mengangguk kuat-kuat.
“Hmm… ya sudahlah, lain kali saja aku main.”
Jaejoong hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Dia tak tahu harus
bercerita pada siapa. Sejak tadi dia ingin bicara dengan Yoochun, tapi
anak itu tak juga ia temui. Ia merasa tidak nyaman jika harus
menceritakan masalah ini pada Sooyeon. Mengingat gadis itu sangat
terobsesi dengan Junsu, tentu saja Jaejoong tak ingin menghancurkan
perasaan Sooyeon dengan mengatakan bahwa Junsu sudah tidak bisa melihat
lagi. Ia ingin adiknya kembali normal. Jika nanti Junsu sembuh, ia
berjanji tidak akan iri lagi, ia akan menerima kekalahannya dengan
lapang dada. Ia ingin memulai semuanya dari awal lagi. Menunjukkan pada
Junsu betapa ia sangat menyayanginya.
***
Sekali
lagi Jaejoong menoleh ke kanan, berharap mobil yang ditunggunya sudah
terlihat. Namun rupanya benda itu tak juga muncul. Ayahnya berjanji akan
menjemput di sekolah tepat pukul 16:00, tapi sekarang sudah pukul
16:35, dan sang ayah belum juga datang. Jaejoong mengutuk ponselnya yang
tidak bisa dinyalakan karena belum dicharger. Padahal kalau saja
ponselnya bisa dinyalakan, dia sudah menelpon ayahnya dari tadi.
Suara klakson mobil menghentikan penantian Jaejoong. Ia menoleh ke
seberang jalan sana, melihat sebuah mobil hitam mengkilap yang
dikenalnya.
“Akhirnya datang juga.” Ucap Jaejoong lega. Ia pun
lantas menyebrangi jalan untuk menuju ke sana. Namun sialnya, Jaejoong
belum sempat berada di seberang jalan saat sebuah mobil jeep melaju
kencang dan menghantam tubuhnya hingga terlempar sejauh 10 meter. Semua
orang yang melihat kejadian itu langsung menjerit dan berlarian
menghampiri tubuh Jaejoong yang sudah berlumuran darah. Kepalanya
berguling di jalanan dan membentur trotoar, sekujur tubuhnya dipenuhi
darah karena bergesekan dengan aspal yang kasar.
“Jaejoong!” teriak
Tn. Kim sambil keluar dan membanting pintu mobil. Ia menerobos kerumunan
teman-teman sekolah Jaejoong yang sedang berkumpul mengelilingi tubuh
penuh darah itu. Tangan Tn. Kim meraih kepala puteranya dan menatap
wajah Jaejoong yang dipenuhi bercak darah.
“Appa…” ucap Jaejoong
dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Tn. Kim merasakan sesuatu yang
hangat mengalir di pipinya. Ia menangis. Kenapa musibah besar ini harus
bertubi-tubi menimpa keluarganya?
“Ka..lau…aku…ma..ti..
beri..kan..ma..ta..ku..pada..Jun..su.” ucap Jaejoong terbata-bata.
“Kau jangan bicara begitu, Jaejoong. Siapa bilang kau akan mati? Kau
pasti akan selamat. Ayo lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!”
ayahnya bermaksud untuk menggendong tubuh Jaejoong, namun Jaejoong
segera mengisyaratkan bahwa dia tak ingin dibawa ke mana-mana.
“A…ku..sayang…appa…um..ma…da..n..Junsu…” ucap Jaejoong lagi. Setelah itu
ia memejamkan matanya, diiringi tangis haru dari semua orang yang
mengelilingi mereka berdua. Tn. Kim terpaku beberapa saat. Menatap wajah
puteranya yang sudah pucat.
“Appa juga menyayangimu, Jaejoong.
Sangat menyayangimu…” bisik Tn. Kim, setelah itu dia mencium pucuk
kepala Jaejoong dan menggendong tubuh puteranya ke dalam mobil. Tuhan
pasti menyimpan suatu rahasia di balik cobaan yang bertubi-tubi ini.
Tn. Kim berharap ia masih sempat menyelamatkan puteranya. Ia ingin
memperbaiki sikapnya pada Jaejoong yang selama ini terlalu keras. Ia
terlalu membanggakan Junsu, sehingga ia lupa bahwa ada Jaejoong yang
juga membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Jika nanti Jaejoong
selamat, ia berjanji akan memperlakukan dan membanggakan Jaejoong
seperti yang selama ini dilakukannya terhadap Junsu.
***
Taburan
bunga warna-warni menghiasi makam yang masih baru itu. Ini sudah
seminggu semenjak kematian Jaejoong. Dan kini ayahnya, ibunya, dan
Junsu, datang ke makam itu dengan membawa sebuket bunga. Junsu sudah
selesai dioperasi, dia mendapatkan kembali penglihatannya dengan donor
mata dari Jaejoong. Itu adalah pesan terakhir dari Jaejoong, dan pesan
itu sudah dijalankan sesuai keinginannya. Kini si sulung itu sudah
pergi, tanpa rasa iri lagi pada adiknya.
“Hyung…” ucap Junsu sambil
mengelus nisan Jaejoong. “Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan jasa
besarmu ini. Aku akan belajar lebih giat agar kau bangga padaku.
Walaupun aku selalu menyebalkan dan membuatmu kesal, tapi semua itu
kulakukan agar kau mau memperhatikanku. Aku hanya ingin hyung mengajakku
main bersama, tapi sejak dulu, hyung tak pernah melakukan itu. Aku
ingin hyung tahu bahwa aku sangat menyayangi hyung.”
Setelah
mengucapkan hal itu, Junsu meletakkan buket bunganya di samping nisan
Jaejoong. Kini giliran Ny. Kim yang bersimpuh di depan nisan bertuliskan
nama putera sulungnya.
“Jaejoong sayang…” ucap Ny. Kim berbisik.
“Maafkan umma, ya, karena selama ini umma selalu bersikap tak adil
padamu. Tapi di balik semua itu, sebenarnya umma sangat menyayangimu.
Umma sangat merasa bersalah karena tidak mendapat kesempatan untuk
memperbaiki semuanya…” Ny. Kim terisak-isak sambil memeluk nisan
Jaejoong.
“Sudah, umma…” Junsu berusaha meredakan tangis ummanya dan membantunya berdiri.
“Jaejoong…” ucap Tn. Kim tanpa berlutut di depan nisan puteranya. Dia
hanya berdiri sambil menatap nama yang terukir di batu nisan itu dengan
tatapan nanar. “Appa memang tak pernah bisa menjadi ayah yang baik
untukmu. Appa telah gagal memberi teladan padamu. Dan appa juga sudah
terlambat menyelamatkanmu dari kecelakaan itu. Maafkan appa, ya,
Jaejoong? Apapun yang terjadi, kau tetap putera appa yang tampan dan
hebat. Appa selalu bangga padamu, walau selama ini appa tak pernah
menunjukkannya.”
Mereka bertiga menatap makam itu dengan penuh
penyesalan. Sudah terlambat untuk mengulang semuanya lagi. Kini Jaejoong
sudah pergi. Dia pergi tanpa membawa dendam sedikitpun atas sikap tak
baik yang ditunjukkan keluarganya selama ini. Setidaknya dia juga sempat
mengatakan, di detik-detik terakhirnya, bahwa ia juga mencintai mereka.
-end

nice story~
BalasHapusaku sampai nangis baca fanfic ini
makasih udah mau baca :)
HapusAstagaaa sejuta kali fanfic ini dibaca tetep aja bikin nangis T.T heraaann, ceritanya luar biasa banget. Daebaaakk~
BalasHapusIjin repost di wattpad boleh ya... saya cantumkan creditsnya lengkap :)
BalasHapusboleh silakan :D
Hapus