Hana POV
Aku benar-benar tidak bisa menelan satu suap nasipun. Bahkan
saat aku berhasil memakan sesendok bubur, aku memuntahkannya lagi di wastafel.
Tubuhku begitu lemas. Benar-benar lemas dan sudah tak ada tenaga lagi bahkan
untuk bicara dalam waktu lama. Appaku sudah tidur di sofa, dan umma masih
menemani di sampingku. Mengelus kepalaku dan menyuruhku agar segera tidur.
Dengan tidur, maka aku akan berhenti merasa mual.
“Di mana oppa?” tanyaku dengan sisa tenaga yang masih
kumiliki.
“Dia belum kembali dari menjenguk Yunho.” Jawab umma
pelan.
Entah kenapa, aku merasa sangat khawatir. Perasaanku
tidak enak. Aku takut terjadi apa-apa dengan Jaejoong oppa. terlebih lagi,
akhir-akhir ini dia agak sulit mengendalikan emosinya. Aku benar-benar ingin
dia ada di sini. Hanya dengan berada di dekatnyalah aku bisa merasa lebih baik.
Hanya dengan merasakan sentuhan lembutnya aku bisa melupakan semua rasa
sakitku. Tapi kini oppa ada di mana? Kenapa oppa lama sekali?
“Permisi.” Seseorang membuka pintu kamar. Aku menatap
sosok yang berdiri di sana. “Aku dengar kau sakit.” Ucap Yoochun oppa sambil
berjalan mendekat. Aku menyambutnya dengan senyuman. “Halo, ajuma.” Yoochun
oppa menyapa ummaku.
“Ah, kau Yoochun, kan? Kau mau menjenguk Hana? Ayo,
silakan.” Umma bangun dari kursi dan mempersilahkan Yoochun oppa untuk duduk.
“Aku hanya sebentar, ajuma. Tidak perlu repot-repot.”
Katanya dengan ramah. “Bagaimana keadaanmu? Aku penasaran sebenarnya kau sakit
apa?”
“Aku tidak sakit, oppa. aku hanya… emm…” aku
benar-benar merasa canggung untuk mengatakannya. Aku juga tidak mengerti kenapa
muncul perasaan seperti itu. Kulihat Yoochun oppa menantiku melanjutkan kalimat
yang belum selesai. “Aku hanya mual saja.” Jawabku.
“Mual?” Yoochun oppa mengerutkan kening. Aku
mengangguk.
“Hana sedang hamil, jadi dia mual-mual seperti ini.”
Umma mengatakan hal itu dengan mudahnya. Yoochun oppa menatapku dengan
terkejut.
“A, apa?! Hamil? Se, selamat, ya? Aku… aku tidak
menyangka bisa secepat ini…”
Aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku malu. Sungguh. Aku
juga tidak tahu kenapa perasaan itu yang muncul saat aku mendengar kalimat
terakhir Yoochun hyung.
“Ah iya, kenapa kau tidak bersama Jaejoong? Di mana
dia?” tanya ummaku.
“Jaejoong hyung… emm… tadi dia keluar sebentar bersama
Changmin. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali.” Jawab Yoochun hyung.
Aku merasakan perutku tiba-tiba sakit. Rasa sakit yang
tidak biasa. Aku mengerang sambil memegangi perutku. Umma langsung panik dan
membangunkan appa.
“Hana? Kau baik-baik saja?” tanya Yoochun hyung sambil
menyentuh perutku. Aku tidak bisa menjawab. Rasa sakit ini… benar-benar tak
tertahankan. Aku masih sempat mendengar appa berteriak memanggil suster dan
umma mencoba menenangkanku.
Aku butuh Jaejoong oppa…
Kau ada di mana, oppa? aku ingin kau ada di sini. Kau bilang kau akan selalu ada di sampingku. Kau bohong… kau membohongiku, oppa. kenapa kau membohongiku…?
***
Changmin POV
Aku mencoba pasrah, saat security ini menarik paksa tubuhnya. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku lelah. Aku sudah tidak punya kekuatan untuk melawan.
Aku lelah jika harus melawan semua ini, aku lelah menghadapi kerasnya dunia, aku lelah berusaha mengejar mimpiku.
Sudah berapa banyak yang terluka dengan masalah ini? Sudah berapa banyak wajah yang kupukul karena masalah ini? Sudah berapa banyak air mata yang kukeluarkan karena masalah ini.
Aku menatap Jaejoong hyung, dia masih meronta-ronta minta di lepaskan. Tapi aku? Aku lelah memohon, aku lelah meminta, aku lelah.
“Lepaskan aku!” Jaejoong hyung berteriak, meronta-ronta “Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri!”
Security itu memegang bahu Jaejoong hyung semakin keras, dan Jaejoong hyung semakin gigih meminta di lepaskan.
Aku mengikuti kemana langkah security ini membawaku, terserah jika mereka ingin membawaku keluar gedung rumah sakit atau mereka mau membawaku kantor polisi. Aku sudah tidak peduli.
Aku lelah dengan semua ini, jika Tuhan tidak menyetujui kembalinya sebuah group dengan formasi yang utuh? aku terima. Jika Tuhan berkata bahwa sudah saatnya aku berhenti nyanyi? aku terima. Jika Tuhan berkata bahwa sudah saatnya aku berhenti mengisi nada tinggi pada setiap lagu? aku terima. Tetapi jika Tuhan berkata bahwa aku harus kehilangan keempat hyung-ku? aku tidak bisa menerimanya.
Sekarang kami sudah berasa di luar gedung rumah sakit. Aku menarik nafas panjang, menghirup sebanyak mungkin udara segar, seakan-akan besok aku tak dapat lagi menghirup udara segar. Aku melirik ke arah Jaejoong hyung dia masih meminta dilepaskan, walaupun tidak meronta-ronta seperti tadi.
Kami sampai disebuah ruangan yang tidak terlalu besar, ini adalah ruangan security. Kedua security ini melepaskan kami.
“Kami harap kalian tidak membuat keributan di rumah sakit. Atau kalian tidak akan bisa masuk kerumah sakit ini lagi!” Salah seorang diantara mereka memberi peringatan kepada kami.
Mereka berjalan keluar, meninggalkan aku dan Jaejoong hyung berdua. Aku dan Jaejoong hyung masih diam seribu bahasa, tak ada satupun diantara kami yang mengucapkan sepatah kata. aku merebahkan badanku, aku merasa beban yang harus kutanggung sedikit berkurang.
Aku menatap wajahnya Jaejoong hyung, dia terlihat sedikit…. berbeda.. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi wajahnya saat ini. padahal saat kami sedang berada di depan pintu kamar Yunho hyung dia masih bisa menyunggingkan senyum bahagia, tetapi entah mengapa sekarang dia terlihat begitu murung.
Kurasa Jaejoong hyung tidak menyadari jika aku sedang menatap wajahnya. aku memaling-kan wajahku, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Apakah yang dikatakan Jaejoong hyung benar? Aku terlalu egois? Aku menyadari itu, mungkin aku sedikit egois. Sedikit? Sedikit? Ohh mungkin bukan sedikit. Ya, aku memang egois, tapi aku egois karena aku begitu berharap selama ini.
Selama tiga tahun, selama tiga tahun ini aku berharap bahwa kami bisa bersatu kembali. Aku bisa menjadi bagian dalam sebuah group. Aku bisa kembali menjadi magnae.
Apa keinginanku itu salah? Apa keinginanku itu terlalu berlebihan? Apa aku terlalu memaksakan?
7 tahun kami bersama, 7 tahun kami tinggal dibawaah 1 atap, 7 tahun kami menghirup udara dalam ruangan yang sama. Apa 7 tahun itu waktu yang sebentar?
Aku mulai berpikir, mungkin seharusnya nama Dong Bang Shin Ki beristirahat dan melupa-kan masa-masa gemilangnya. Sudah cukup kami berkarya di dunia music, sudah cukup kami menerima penghargaan, sudah cukup kami menerima senyuman manis dari Cassiopeia, sudah cukup kami menerima itu semua.
Buat apa nama Dong Bang Shin Ki kembali bersinar, jika dalamnya sangat rentan oleh kehancuran. Buat apa DBSK berdiri, jika kami seperti ini?.
Aku hanya menginginkan DBSK kembali utuh, bukan kehancuran seperti ini. 3 tahun kami tidak saling bertemu, 3 tahun aku menyimpan rasa rindu kepada tiga orang yang aku anggap sebagai kakakku.
Aku kembali menatap wajah Jaejoong hyung. Kurasa aku harus meminta maaf kepadanya. Saat itu juga seseorang masuk kedalam ruangan ini, aku menoleh kerahnya, Yunho hyung?
“Jaejoong hyung?” Aku memanggilnya, dia masih tidak menoleh kearahku, wajahnya masih menatap lurus.
“Hmmmm?”
“Aku minta maaf.” Kataku lirih. “Tak seharusnya aku bersikap seperti ini.”
“Baru sekarang kau menyadarinya?!” Dia menatapku sinis. “Setelah semua ini terjadi?!”
“Aku….” Aku berusaha agar tidak terbawa emosi. “Aku minta maaf.” Aku menatap Yunho hyung, dia tersenyum. Senyuman bijaksana seperti biasanya. Menganggguk pelan, mungkin dia menyetujui jika aku meminta maaf pada Jaejoong hyung.
“Hanya permintaan maaf?!” Dia mengulanginya. “Jika kata MAAF ada gunanya, buat apa ada hukum dan polisi?!”
“Jaejoong!” Yunho hyung memperingati Jaejoong hyung. “Changmin sudah mengesamping-kan egonya dan meminta maaf padamu. Bisakah kau menghargainya?!”
“Kenapa kau membela anak ini?!” Jaejoong hyung berdiri, dia berkata tepat di depan wajah Yunho hyung.
“Setelah apa yang dia lakukan terhadapmu?!”
“Hyung.” Aku menahan air mataku agar tidak mengalir.
“APA?!!” Jaejoong hyung membentakku. “Kau ini tidak lebih dari seorang anak kecil yang hanya memikirnya ego-nya sendiri!”
Kata-kata itu, terasa sangat menusuk. Apa ini watak Jaejoong hyung sebenarnya? Selama 7 tahun kami bersama dia tidak pernah membentakku, bahkan mengucapkan kata yang membuatku terluka.
“Sudah cukup Jaejoong!” Yunho hyung menegaskankan. “Tak bisakah kau juga menge-sampingkan egomu dan memaafkannya?!”
“Buat apa?!” Jaejoong hyung berkata sambil melemparkan tatapan sinis kearahku. “Sudahlah aku lelah dengan kalian semua! Kukira 3 tahun bisa membuat kalian menjadi lebih dewasa, tetapi kalian masih saja bersikap kekanak-kanakan! Terutama KAU Shim Changmin!”
“Kenapa hyung begitu marah padaku?” Aku menangis. “Aku tau sifatku ini egois, aku tau aku bersikap kekanak-kanakan, aku tau aku salah. Tapi tak bisakah kau memaafkannku?”
“Kau pikir dengan kau marah-marah, kau bisa mengembalikan semuanya sepeti semula?!” Yunho hyung terlihat marah kepada Jaejoong hyung. “Kau kira sifatmu juga tidak kekanak-kanakan?! Kau kira kau lebih tau dari siapapun?!”
“Sudah cukup!!!” Aku berteriak, aku merasakan suaraku bergema, memenuhi ruangan ini.
“Kau pikir kau ini raja?!” Yunho kembali berteriak. “Aku tak menyangka kau seperti ini!”
“Sekarang kau menyalahkanku atas semua ini?!” Jaejoong hyung berteriak, tepat didepan wajah Yunho hyung.
“Jika harus ada yang disalahkan!” Sebelum Yunho hyung menyelasaikan kalimatnya, Jaejoong hyung memotong.
“Siapa?! Changmin? Junsu? Yoochun? Kau? Aku?!”
“Orang itu bukan salah satu diantara kita!” Yunho hyung menarik nafas panjang. “Yang harus disalahkan atas semua ini adalah SM!!”
***
Junsu POV
Mungkin saat ini mereka berempat tengah membenciku. Sangat membenciku. Tapi memang itulah tujuanku pergi meninggalkan mereka. agar mereka membenciku, dan mereka bisa membentuk kembali DBSK tanpa aku. Untuk apa aku bergabung lagi dengan SM? aku merasa tidak dibutuhkan. Kalaupun DBSK memang harus benar-benar terbentuk, yang jelas itu bukan di bawah management SM.
Aku menyewa sebuah kondominium yang tidak terlalu mahal. Aku hanya akan tinggal dua hari di sini, dan setelah itu aku akan pulang kembali ke rumah ibuku.
Dan kini aku tengah duduk di sebuah kafe untuk menikmati makan malam. Walaupun terasa begitu hampa harus duduk sendirian, tapi aku tetap berusaha tidak menunjukkan kegelisahan-ku. Yunho hyung… apa kau baik-baik saja? Aku merasa sangat bersalah padanya atas sikapku tadi. Aku juga tidak mengerti kenapa Changmin tiba-tiba menjadi sangat emosional, dan dia membuat emosiku menjadi tak terkendali. Jika ada yang harus disalahkan dalam kasus ini, itu hanya aku. Gara-gara penolakanku, mereka berempat jadi tak bisa membentuk kembali grup itu. Padahal aku tahu, mereka berempat sudah sama-sama setuju. Dan sebenar-nya akupun setuju. Hanya saja, aku tak mau kami harus tergabung kembali dalam SM. aku benar-benar sudah trauma.
“Kim Junsu?” suara seseorang membuat lamunanku terpecah. Aku mendongak untuk melihat sesosok pria yang kira-kira berusia 30 tahun berdiri di hadapanku.
“Siapa?” tanyaku sambil mencoba seramah mungkin.
“Kau tidak ingat aku? Kita pernah bertemu di Bangkok. Kau ingat? Aku yang menjadi wardrobe untuk aksi panggung kalian.” Pria itu mencoba mengingatkanku. Aku menatap wajahnya dengan seksama. Dan entah kenapa, saat dia menyebut kata “kalian”, aku merasa hatiku terenyuh.
“Maaf, aku lupa.” Jawabku sambil tersenyum getir. Pria itu menggelengkan kepala dan segera duduk di kursi sebelahku.
“Aku Lee Junki. Masa kau lupa?” dia mencoba mengingatkanku lagi.
Aku memutar otak, mencari memori yang mungkin masih tersimpan. Tapi saat aku meng-ingat kenanganku saat di Thailand, hatiku terasa begitu sakit. Saat-saat di mana kami masih berada dalam formasi yang sempurna. Kami bernyanyi untuk para Cassiopeia. Aku menik-mati menjadi bagian dari grup bernama Dong Bang Shin Ki itu. Aku rindu semua yang pernah kulakukan bersama keempat rekanku yang sangat hebat. Haruskah aku… membuang egoku dan menerima tawaran produser gila itu? Haruskah…?
“Aku ingat.” Ucapku datar. Pria di depanku tersenyum cerah. “Aku tak mengira bisa bertemu lagi denganmu di sini, Tuan wardrobe.”
“Aku hanya tak sengaja lewat saja. Oh iya, aku sudah mendengar kalau kalian berlima berpisah. Kau tergabung dalam grup hebat bernama JYJ kan?” Tn. Lee berkata tanpa dosa.
Aku hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan ucapannya. “Lalu kenapa akhir-akhir ini aku jarang mendengar kabar tentang JYJ? Apa kalian vakum?”
“JYJ sudah selesai, Tuan.” Aku menjawab dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Kulihat Tn. Lee menutup mulutnya dengan ekspresi menyesal.
“Jadi sekarang, kau sudah tidak terikat kontrak dengan C-jes lagi?”
Aku menggeleng.
“Bagus.” Dia mengucapkan satu kata yang membuatku terpaku. Jadi dia senang kalau kami sudah tidak tergabung dalam JYJ lagi? “Aku punya penawaran untukmu. Bagaimana kalau kau kujadikan penyanyi solo dalam managementku?”
Aku tercekat. Penyanyi solo?
“Kau setuju?”
Aku tidak pernah berkarir sebagai penyanyi solo. Dan aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi penyanyi solo.
“Memangnya kau punya perusahaan rekaman?” tanyaku mencoba tenang.
“Kau tidak tahu, ya? Selain wardrobe, aku juga merupakan eksekutif produser di sebuah management terbesar di Asia. Jadi bagaimana? Apa kau mau menerima penawaranku?”
Belum selesai… belum selesai aku dikejutkan dengan penawaran SM yang tiba-tiba, kini aku harus dikejutkan lagi dengan penawaran sebagai penyanyi solo. Apakah aku terima saja tawaran itu agar aku tak perlu memikirkan SM lagi? Atau… aku tolak saja?
“Aku jamin kau tidak akan pernah menyesal jika menerima tawaranku.” Katanya lagi.
“Berapa lama aku harus menjalani kontrak?”
“Mungkin tiga sampai empat tahun.”
Aku merenung sejenak. Tiga sampai empat tahun? sebagai penyanyi solo? Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Aku sungguh-sungguh terkejut. Dan aku merasa… aku seperti dipermainkan oleh kedua management ini.
“Kim Junsu?” Tn. Lee bertanya lagi. Aku menatap wajahnya dan tersenyum.
“Baik, aku setuju.”
***
Wakakaka, ff duet kita yang paling panjaaaaaaaaaaaaaaaang ini :D
BalasHapusSuka deh liat Hana sama Jae yang so sweat :9