Changmin POV
Sekali lagi aku menatap pantulan diriku dari cermin.
Dandanan seperti ini… memakai jas hitam, dengan dasi dan sepatu mengkilat yang
membuatku berpenampilan sangat formal. Aku melirik sebuah kertas yang
tergeletak di atas meja. Surat undangan pernikahan Jaejoong hyung. Hmm… benar.
Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya. Mungkin dua atau tiga tahun. Aku
bahkan hampir lupa kapan terakhir kali aku mendengar dia memanggil namaku.
Mungkin kalian pikir aku jahat. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Berpisah
dengan Jaejoong hyung, sudah membuatku tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih
tangguh dari yang sebelumnya.
“Kau yakin akan pergi?” tanya sebuah suara yang tak
asing. Aku menoleh untuk melihat Yunho hyung dengan kemejanya yang belum rapi.
“Tentu saja. Ini hari pernikahan Jaejoong hyung.”
Jawabku datar.
“Tapi kupikir, dia tidak terlalu membutuhkan kita di
sana.”
“Mana mungkin? Dia mengundang kita dan memasukkan kita
ke daftar tamu istimewa. Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa dia tidak
membutuhkan kita?” aku segera mengambil kado yang sudah kupersiapkan dan
membawanya ke ruang depan.
“Baiklah.” Yunho hyung mendesah. “Tunggu aku di
mobil.” Dan setelah itu dia kembali masuk ke kamar untuk menyelesaikan
persiapannya.
Aku tahu perasaan Yunho hyung. Perasaan cemas
kalau-kalau kami di sana malah seperti orang asing. Sebenarnya aku juga
merasakan hal yang sama. Tapi aku rindu pada Jaejoong hyung, Yoochun hyung, dan
Junsu hyung. Apapun yang terjadi, aku tetap harus menemui mereka. Sekalipun
mereka tidak mau mengakuiku, aku tetap tidak peduli. Hanya ini satu-satunya
cara yang bisa kulakukan untuk menyambung kembali persaudaraan kami yang telah
renggang sekian lamanya. Dan aku tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.
***
Author POV
“Hyung kau mau ke mana?” Kata Yoochun yang melihat
Jaejoong berdiri. Junsu juga terlihat sedikit khawatir dengan hyung-nya yang
satu ini.
“Aku mau keluar sebentar.” Jaejoong berdiri dan
berjalan untuk keluar.
TEK
Pintu terbuka, hal yang pertama dilihat Jaejoong
dibalik pintu itu adalah 2 orang yang sudah dinanti kehadirannya.
Changmin segera menurunkan tangannya dan dia terlihat
sangat canggung, begitu juga dengan Yunho. Yoochun dan Junsu berdiri, berjalan
ke arah Jaejoong, mereka bertiga juga terlihat salah tingkah.
Tak satupun di antara mereka yang mecahkan keheningan,
mereka semua terlihat sangat canggung, Jaejoong hanya menunduk menatap lantai
yang diinjaknya. Yoochun membuka mulutnya tetapi tidak ada suara yang keluar.
Hanya suara-suara disekitar mereka yang terdengar dengan jelas, bahkan Junsu
yakin dia bisa mendengar suara lalat yang terbang di sekitarnya.
***
Changmin POV
Sekarang aku sudah melihat Jaejoong hyung, Yoochun
hyung, dan Junsu hyung. Mereka terlihat sangat berbeda daripada 3 tahun yang
lalu. Kurasa kami semua tak berani memecahkan keheningan ini. 3 tahun adalah
waktu yang cukup lama dan membuat hubungan persahabatan kami sedikit renggang.
Aku tidak mau seperti ini, aku dan Yunho hyung sudah berada di sini, aku tidak
mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekarang, detik ini juga aku harus...
“Kami datang ke sini, untuk memberikan ucapan selamat
kepada hyung.” Aku sedikit canggung saat mengucapkan kata ‘hyung’ sudah lama
aku tak mengucapkan kata itu. Kulihat Yunho hyung juga sangat canggung.
“Ya, maaf jika kehadiran kami mengganggu kalian.”
Suara ini? Suara Yunho hyung? Aku tidak percaya. Aku memalingkan mukaku untuk
menatap wajah Yunho hyung, ya dia sedikit tertunduk. Entah apa yang sedang
dipikirkannya saat ini.
“Tidak tentu saja tidak.” Jaejoong hyung tersentak
mendengar pernyataan dari Yunho hyung.
“Tidak mungkin kalian mengganggu, ayo masuk.” Jaejoong
hyung mengajak kami masuk.
***
Author POV
Hana berjalan menuju altar dengan digandeng oleh
Appa-nya. semua mata tertuju padanya. Dengan menggunakan dress berwarna putih
gading, dia memandang ke depan. Di altar sudah berdiri seseorang pria dalam
balutan tuxedo yang akan menjadi suaminya nanti. Dia tersenyum memandang ke
arah Hana. Dengan perlahan dan pasti Hana melangkahkan kakinya menuju altar di
mana pria itu sedang menunggunya.
Pria itu adalah Kim Jaejoong, sebentar lagi Hana akan
menjadi Mrs. Kim. Jaejoong mengulurkan tangannya kepada Hana yang disambut
hangat oleh Hana. Pendeta telah berdiri di hadapan mereka untuk mengukuhkan
ikatan diantara mereka.
“Kim Jaejoong, apakah kau bersedia menerima wanita ini
Cho Hana sebagai istrimu baik dalam sehat maupun sakit, dalam senang maupun
duka, sampai maut memisahkan?” Pandeta membacakan ikrar janji itu, Hana menatap
wajah Jaejoong.
“Ya, aku bersedia.” Jaejoong mengatakan itu dengan
penuh keyakinan. Hana tersenyum.
“Cho Hana, apakah kau bersedia menerima pria ini Kim
Jaejoong sebagai suamimu baik dalam sehat maupun sakit, dalam senang maupun
duka, sampai maut memisahkan?” Pandeta membacakan ikrar janji yang sama kepada
Hana. Sekarang giliran Jaejoong yang menatap wajah Hana.
“Ya, aku sangat bersedia.” Hana berkata dengan tegas,
senyumnya mengembang sempurna di wajahnya.
“Kini kalian telah resmi menjadi sepasang suami
istri.” Ujar pendeta itu, yang di sambut tepukan tangan bahagia dari para tamu
undangan.
Jaejoong menyematkan sebuah cincin di jari manis milik
Hana, Jaejoong menggenggam erat tangan Hana dan menatapnya dengan lembut.
Jaejoong mendekatkan wajahnya ke arah Hana, menutup matanya dan menempelkan
bibirnya ke bibir Hana, mencium lembut wanita yang kini resmi menjadi miliknya.
“Aku mencintaimu.” Kata Hana, menatap Jaejoong dengan
penuh kebahagiaan.
“Aku juga mencintaimu.” Jaejoong memeluk Hana dengan
erat.
***
Changmin POV
Aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari kedua
mempelai yang kini duduk bersama. Sudah berubah. Jaejoong hyung sudah berubah.
Dia bukan hanya lebih dewasa, tapi juga lebih tampan. Dan Hana… dia adalah
pengantin wanita tercantik yang pernah kulihat. Dia sempurna menjadi mempelai
wanita bagi Jaejoong hyung. Wanita yang sederhana, tapi tetap cantik.
Aku mengalihkan pandangan pada Yoochun hyung yang
sedang berduaan dengan kekasihnya. Aku tidak kenal, kekasihnya Yoochun hyung
bukan orang Korea. Sepertinya, itu gadis Amerika. Dan Junsu hyung… dia sangat
berubah. Dulu aku sangat dekat dengannya. Kami selalu tertawa bersama, curhat
masalah pribadi, bahkan bertukar sikat gigi. Tapi sekarang, Junsu hyung berubah
menjadi orang yang tak kukenal. Dia bahkan tak menyapaku saat tadi kami saling
bersalaman. Apa yang terjadi dengan kalian… selama kita tidak bertemu?
“Kita pulang saja, ya?” ajak Yunho hyung.
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba ada suara yang kukenal.
Suara Jaejoong hyung. Entah bagaimana, tiba-tiba dia sudah ada di sebelahku.
“Kalian jangan pulang dulu.”
“Memangnya untuk apa lagi kami di sini? Sepertinya kau
tidak membutuhkan kami.” Ucap Yunho hyung dingin.
“Kenapa kau bicara seperti itu? Aku sangat senang
karena kalian mau datang ke sini, mana mungkin aku tidak membutuhkan kalian?”
Jaejoong hyung menatap kami dengan mata nanar. Dia masih yang dulu. Sikapnya
masih sama seperti dulu. Keras kepala. Tapi yang membuat-nya berbeda adalah…
ah, sudah. Lupakan saja.
Tanpa kuduga, tiba-tiba Yunho hyung memeluk tubuh
Jaejoong hyung dengan erat. Sebuah pelukan penuh kerinduan. Aku menatapnya
dengan perasaan tak tergambarkan. Semua orang saling berbisik-bisik
membicarakan. Sementara Hana yang duduk di kursi pengantin kini tersenyum manis
melihat pemandangan itu.
Aku bisa mendengar… walaupun samar… aku bisa
mendengar bahwa Yunho hyung… menangis.
Aku tidak pernah melihatnya menangis selama ini.
Bahkan saat Dong Bang Shin Ki harus berpisah, dia tak pernah meneteskan air
matanya sedikitpun. Tapi sekarang, dia benar-benar menangis. Dan Jaejoong hyung
tampak kebingungan dengan sikap itu. Aku menoleh ke arah Yoochun hyung dan
Junsu hyung yang juga tengah memandangi dari jauh. Mereka semua… apakah mereka
semua memiliki perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini?
Sebuah kerinduan yang amat dalam. Yang menusuk dan
meraja dalam setiap ingatan. Membawa bayang-bayang kenangan masa lalu yang
entah bagaimana kini menjadi sangat jelas. Semuanya… saat-saat kami masih
tergabung dalam grup yang sama… semua kenangan itu berputar-putar dalam otakku
seperti slide film yang diputar sangat cepat.
“Aku rindu padamu, Jaejoong…” ucap Yunho hyung di sela
tangisnya.
“Aku tahu…” Jaejoong hyung berbisik.
“Aku rindu padamu…”
Junsu hyung pergi meninggalkan pesta karena tak kuasa
melihat pemandangan itu. Aku merasakan tetes bening menggenang di pelupuk
mataku. Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh…
“Jangan cengeng begini, Yunho.” Ucap Jaejoong hyung
lagi. Ia melepaskan pelukan Yunho hyung dan menatap ke dalam bola matanya.
“Kita tidak akan pernah berpisah lagi. Kita harus membalaskan dendam pada SM…”
Di saat aku tengah tenggelam dalam lamunan, tiba-tiba
ada tangan dingin yang menyentuh bahuku. Aku menoleh, menatap wajah tersenyum
milik Yoochun hyung.
“Ah, hyung?” ucapku tanpa sadar.
“Semuanya sudah selesai, Changmin.”
“Eh?”
“JYJ sudah selesai. Dong Bang Shin Ki juga sudah
selesai. Jadi tak ada yang harus kau pikirkan lagi.”
***

Penggemarmu kembali lagi *\(^o^)/*
BalasHapusJadi pengen baca ini ff dari awal lagi deh. Semua FF yang gue tulis bareng elu. Wakaka
pas gue baca FF DBSK Comeback? gue malah ngakak loh, ga nyangka tulisan gue jelek banget T-T
Sekarang ge makin jelek dan ga nyambung.
Untung aja ada elu yang meluruskan *?*