Welcome

Senin, 21 Mei 2012

The Gangster (part 14) -final


Semilir angin di atap sekolah dapat menyapu semua beban pikiran. Jaejoong terlentang menatap langit dengan menggunakan tangannya sebagai bantal. Dia sedang merindukan ibunya. Dia benar-benar rindu pada ibunya. Tapi kerinduan itu harus ia curahkan pada siapa? Ia tak mungkin menceritakan masalah ini pada mereka berempat. Mereka tidak akan pernah peduli. 

“Ke mana si anak Jepang itu? Aku tidak melihatnya dari tadi pagi.” Tanya Yoochun memecah keheningan di antara mereka.

“Loh? Kau tidak tahu? Dia kan sudah pulang ke Jepang.” Jawab Yunho.

Jaejoong langsung bereaksi, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

“Kapan dia pulang?” tanya Yoochun lagi.

“Hari ini.”

Seketika Jaejoong bangun dan bergegas pergi.

“Hei! Kau mau ke mana?” cegah Junsu.

“Bukankah perjanjian kita sudah selesai?” Jaejoong balik bertanya.

“Apa maksudmu?”

“Misuzawa sudah pulang ke Jepang, jadi tak ada lagi alasanku untuk tetap bertahan dalam geng ini.”

“Kau tidak bisa keluar begitu saja setelah bergabung dengan kami.” Yunho angkat bicara.

“Tentu saja aku bisa. Ini hidupku, dan ini pilihanku. Kalian sama sekali tidak berhak mengaturku.”

“Berani sekali kau bicara seperti itu.” Ucap Changmin.

“Memangnya kalian pikir, aku pernah merasa takut pada kalian berempat?” Jaejoong menatap mereka dengan tatapan menantang. Karena mereka berempatlah, ia tidak bisa melepas Nako di bandara. Mereka pasti sengaja tidak memberitahunya tentang hal itu agar ia tak bisa menemui Nako lagi. Mereka benar-benar tak punya perasaan!

“Lancang sekali bicaramu itu.” Desis Yunho sambil mendekati Jaejoong.

“Kau pikir kau tidak lancang? Seenaknya memaksaku bergabung dengan geng murahanmu ini.”

Duakk!!

Jaejoong tersungkur ke tanah. Ia bangun dengan susah payah untuk melihat siapa yang memukulnya. Yoochun berdiri tepat di sebelah Yunho dengan tangan masih terkepal. Matanya yang tajam menusuk ke dalam bola mata Jaejoong. Mereka saling bertatapan dalam diam.

“Kau tidak mengenal kami, jadi tolong jaga perkataanmu.” Ucap Yoochun kemudian. Jaejoong berdiri dan mengusap ujung bibirnya dengan menggunakan ibu jari.

“Kalian pikir, kalian mengenalku? Kenyataannya, kalian tidak tahu apapun tentang aku.”

Sebelum mereka sempat mengucapkan sesuatu lagi, Jaejoong segera melesat pergi meninggalkan mereka. Ia tidak akan menyesal pernah melakukan ini. Menjadi bagian dari gangster murahan itu, demi melindungi Nako dari kejahatan mereka. Dan jika kini Nako pergi, ia tahu ia akan merasa sangat kehilangan. Tapi ia juga ingat, Nako membutuhkan hidup yang lebih tenang di Jepang sana.

***

Tidak ada tempat yang ingin dikunjungi Jaejoong saat ini. Ia malas berada di panti asuhan, dan ia juga sudah tidak mungkin mengunjungi rumah Nako. Gadis itu tidak akan ada di sana. Satu-satunya sahabat yang bisa membuatnya merasa dihargai sudah pergi meninggalkannya. Dan tak ada yang tahu kapan dia bisa bertemu lagi dengan gadis itu. Jadi, Jaejoong melangkahkan kakinya ke sebuah tempat yang sudah begitu lama tidak dikunjunginya. Tempat di mana dulu dia mengadukan masalahnya. Dan tempat itu adalah… makam ibunya.

Jaejoong menatap batu nisan berlumut yang mengukir nama satu-satunya wanita yang amat sangat ia cintai. Wanita yang telah berjasa membesarkannya, merawatnya, dan melindunginya dari kekejaman sang ayah yang tak berperasaan. Ia rindu sekali pada ibunya. Sebuah kerinduan yang tak bisa diukur dengan apapun. Tapi saat ini, ia sudah tidak menangis lagi saat memandang nisan ibunya. Walau hatinya merasakan kesedihan yang luar biasa, namun ia menyadari menangis takkan ada gunanya.

“Umma…” ucap Jaejoong lirih. “Kenapa waktu itu laki-laki jahat itu tidak membunuhku juga? Aku lebih memilih mati bersamamu daripada harus hidup sendirian seperti ini. Aku kehilangan diriku sendiri saat umma pergi. Aku merasa semua orang membenciku. Sampai kapan mereka semua akan memanggilku sebagai seorang pembunuh? Bahkan sepertinya, sampai aku matipun mereka akan tetap beranggapan demikian. Aku lelah dengan hidup yang seperti ini, umma…”

Kedua bola mata Jaejoong yang sayu menatap dingin nama yang terukir di nisan itu. Terbayanglah wajah ibunya yang cantik dan penuh kasih sayang. Ia ingin Tuhan menciptakan satu lagi wanita seperti ibunya untuk kemudian ia nikahi. Pria yang seharusnya ia panggil ayah benar-benar orang yang tidak tahu diri. Jaejoong menganggap pria itu sebagai pria paling beruntung karena bisa mendapatkan isrti seperti ibunya. Tapi balasan yang ia berikan benar-benar tidak menunjukkan rasa bersyukur.

Jaejoong menutup matanya sejenak—memanjatkan doa. Setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan pemakaman itu. Tak peduli apa yang orang-orang katakan tentangnya, sekalipun mereka menyebutnya sebagai seorang pembunuh. Ia benar-benar sudah tak peduli. Karena yang terpenting baginya hanyalah, ibunya tahu bahwa anaknya bukan seorang pembunuh.

***

Langit sudah mendung, sepertinya hujan akan turun lagi. Jaejoong masih berjalan menapaki trotoar, menyeret tasnya seperti biasa. Ia bersumpah akan mengembalikan seragam ini pada Yunho besok. Ia akan memakai lagi seragamnya yang berlumuran cat. Apapun yang dikatakan gurunya nanti, ia sudah benar-benar tidak peduli.

Ckiit…

Jaejoong menghentikan langkahnya saat sebuah mobil hitam yang mewah dan mengkilat berhenti tepat di depannya. Ia mengerutkan alis saat ia sadar bahwa ia tak mengenal mobil tersebut. Seketika, dalam pikirannya terlintaslah sebuah kecurigaan. Jangan-jangan si empunya mobil adalah salah satu dari empat anggota geng yang merasa kesal atas sikapnya tadi di sekolah. Tapi Jaejoong sudah tidak merasa takut. Dia akan siap menghadapi apapun yang terjadi.

Pintu mobil perlahan-lahan terbuka. Seorang pria dengan kemeja putih berjalan keluar. Jaejoong memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Pria itu terus berjalan mendekatinya, dan kini Jaejoong sadar siapa orang yang ada di depannya saat itu. Seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. Pria brengsek yang telah membunuh ibunya. Ledakan kemarahan kini membumbung di kepalanya, siap untuk diledakkan.

“Hai, Nak.” Kata pria itu saat mereka berdua berhadapan. Jaejoong tidak mengeluarkan sepatah katapun. “Lama tak jumpa denganmu. Kau benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan.”

Jaejoong membuang wajahnya. Masih bisa-bisanya pria itu berbasa-basi tanpa merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tempo hari.

“Appa rindu padamu…” ucap pria itu lagi.

Tak ada respon apapun. Jaejoong segera melanjutkan langkahnya dan mengabaikan pria itu.

“Kim Jaejoong!” panggil pria itu sambil berbalik menatap tubuh Jaejoong yang kini membelakanginya.

“Jangan panggil namaku lagi! Aku tak sudi mendengarmu memanggil namaku!” teriak Jaejoong kesal.

“Appa ingin minta maaf…”

“…”

“Appa tahu maaf saja memang tak cukup untuk membayar semuanya. Appa tahu kesalahan appa sudah sangat besar. Jadi untuk membayar rasa bersalah appa, izinkan appa untuk merawatmu. Ikutlah dengan appa, kau tidak perlu menderita lagi.”

“Tidak usah mengasihaniku!” Jaejoong tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya. “Pulang saja sana! Dan jangan pernah muncul dalam hidupku lagi! Apa belum cukup selama ini kau sudah membuat hidupku seperti di neraka?!!”

“Appa tidak bermaksud seperti itu… maafkan appa…” ucap pria itu sambil berusaha meraih tangan putranya.

“Aku benci padamu!” ucap Jaejoong sambil berusaha melepaskan dirinya.

“Jangan bersikap seperti ini pada appa… izinkan appa memperbaiki semuanya…”

“Kau bukan appaku!!” Jaejoong mendorong tubuh pria itu dengan seluruh kekuatannya. Pria itupun tersungkur ke jalanan. Jaejoong belum sempat berpikir apa-apa saat tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat dan menabrak tubuh itu hingga terlempar sejauh 10 meter. Kejadian mengerikan itu terpampang dalam pandangan Jaejoong dalam sebuah gerakan lambat. Dan ia sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menghentikan kejadian itu.

Kini banyak orang yang berkerumun mengelilingi tubuh pria yang bersimbah darah itu. Jaejoong masih memaku di tempatnya berdiri. Bukankah ini yang sejak dulu diinginkannya? Ia ingin pria itu cepat mati, karena dengan begitu maka dendamnya terbalas sudah. Tapi saat keinginan itu tercapai, kenapa rasanya ternyata sakit? Ia menelan ludah berkali-kali saat akhirnya ia menyadari, ia benar-benar seorang pembunuh.

-end

3 komentar:

  1. FF favorite gue sepanjang masa. Wakakak
    Jaejoong cool pisan euy disini :9

    BalasHapus
  2. tapi ratingnya bagusan yang dbsk comeback itu ._.

    BalasHapus
  3. Taik nangis terus

    BalasHapus